
Sesampainya di rumah Ayuna langsung masuk ke dalam rumah karena rasa ngantuknya sudah sangat berat, sedangkan Bima pergi mengantarkan Aliyah, padahal rumahnya cukup dekat tapi biasalah Bima takut Aliyah jatuh terus tidak ada yang menangkap kan sayang kalau itu terjadi, ada baiknya jatuh ke pelukannya. Dasar Bima nakal selalu saja berpikiran kalau Aliyah akan jatuh, memangnya Aliyah anak kecil apa?
"Aku bisa pulang sendiri Mas," kata Aliyah dengan nada lembut.
"Jangan nanti kamu jatuh!" kilah Bima dengan nada menggoda.
Dasar duda nakal, Bima yang biasanya kalem, Alergi sama perempuan semenjak menjadi duda lah ini malah kepincut sama ABG bau kencur.
Setelah mengantarkan Aliyah ke rumahnya, Bima langsung pulang.
***
Saat malam mulai datang, hembusan angin yang cukup dingin menyusup masuk ke dalam tulang, Aliyah menarik selimut tebal untuk menyelimuti tubuh mungilnya.
"Ini cuacanya yang dingin, apa aku yang butuh kehangatan?" terukir senyum nakal di sudut bibir Aliyah, dasar ABG tapi otaknya suka traveling jauh-jauh.
Dasar Aliyah, sepertinya Aliyah harus cepat-cepat di nikahkan dengan duda tampan pujuan hatinya deh, daripada dia lama-lama menjadi gila.
"Tubuh kekarnya, ingin rasanya aku menggerayanginya, sungguh tidak tahan rasanya ingin merasakan keperkasaannya haha," otak Aliyah traveling terlalu jauh, ini semua efek suka nonton film dewasa. Ya adegan panas-panas bikin gerah gitu, dasar Aliyah nakal.
Aliyah tersenyum, namun saat dia teringat akan Arumi dan Azka yang pacarannya melebihi batas, buru-buru Aliyah menepis pikirannya yang sudah traveling terlalu jauh itu. "Aliyah, ingat kesucian itu sangat berharga!" batinnya dalam hati.
Sebelum otaknya semakin jauh dengan pikiran kotornya buru-buru Aliyah memejamkan matanya agar segera tidur. "Jangan sampai aku mimpiin duda tampan pujuan hatiku itu, apalagi sampai mimpi jorok, sungguh tidak bisa aku bayangkan jika itu sampai terjadi," batin Aliyah dalam hatinya.
***
Di saat Aliyah sedang sibuk dengan pikirannya yang sudah traveling jauh. Di sisi lain, Bima malah gulang-guling di atas tempat tidur karena malam ini tidak bisa tidur, entah kenapa?
Bima beranjak dari tempat tidur, lalu ia turun dari atas ranjang dan berjalan menuju ke dekat jendela, Bima membuka sedikit tirai jendela lalu kedua matanya tertuju ke rumah Aliyah yang memang letaknya tepat di depan rumahnya.
"Sudah gelap, apa bocah itu sudah tidur?" tanyanya pada dirinya sendiri. Bima tiba-tiba ingin bertemu dengan Aliyah, tapi ia tahu ini sangat tidak mungkin karena sudah malam juga.
"Bocah ingusan itu, kenapa membuatku jadi gila? Aku bahkan mulai memikirkannya, Bima aku rasa hati dan perasaanku sudah tidak baik-baik saja, haruskah aku bawa diriku sendiri ini ke Dokter?" Bima malah senyam-senyum sembari memikirkan Aliyah yang imut itu.
Duda duda, dia mau ke Dokter untuk periksa? Lah kalau nanti Dokter tanya keluhannya apa? Masa iya di jawabnya hatiku cenat-cenut Dok, karena seorang bocah ingusan di depan rumahku, yang ada bukannya di periksa sama Dokter, malah Dokternya ngakak duluan.
Ternyata seorang duda yang sudah lama tidak jatuh cinta, dia bisa merasakan perasaan yang meresahkan ini.
"Pingin cepat-cepat pagi, biar aku bisa melihat wajah cantiknya itu," sudah tidak bisa di kondisikan keadaan Bima, tingkat kegilaannya semakin menjadi-jadi.
***
Pagi yang di nanti akhirnya datang juga, Bima sudah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, lalu ia sarapan, pagi ini ia sarapan sendirian karena Ayuna masih tidur.
Setelah selesai sarapan Bima melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya, ia tahu sekali kalau jam-jam segini pasti Aliyah sudah keluar untuk berangkat ke sekolah. Aish, rasanya tidak sabar bertemu dengan bocah ingusan itu.
Kedua mata Bima terbelalak hebat saat melihat seorang laki-laki yang sepantaran dengan Aliyah, ya Bima tahu karena laki-laki itu juga memakai seragam sekolah.
"Itu bocah siapa?" tanyanya pada diri sendiri, geram saat melihat bocah laki-laki itu begitu akrab ngobrol dengan Aliyah.
Aliyah dan teman laki-lakinya itu tampak saling tertawa, entah apa yang di obrolin mereka? Bima juga sebenarnya sangat penasaran.
Dengan kasar Bima membuka pintu mobilnya, lalu dia masuk ke dalam sana.
Bima menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya sengaja lewat depan rumahnya Aliyah.
"Titttt!!"
Klaksonnya tiba-tiba di bunyikan sangat kencang membuat laki-laki kaget dan Aliyah juga kaget.
"Minggir! Ini jalanan umum," Bima membuka sedikit jendela mobilnya, lalu bicara dengan bocah laki-laki yang sedang ngobrol dengan Aliyah itu.
Bocah laki-laki itu menatap Aliyah bingung, membuat Aliyah malah tersenyum kecil.
"Perasaan kita ngobrol sudah di pinggiran ya Al," kata Martin pada Aliyah.
"Sudahlah! Ayo kita berangkat," ajak Aliyah dan langsung naik ke motor milik Martin.
Aliyah hanya senyam-senyum, dasar duda tampan kamu seperti anak kecil saja.
Sambil menyetir Bima masih saja penasaran dengan bocah laki-laki yang mengobrol dengan Aliyah tadi. "Siapa sih dia?" batin Bima dalam hatinya.
Entahlah siapa?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia