Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Jangan panggil aku Tuan


"Itu siapa sih Al?" tanya Ivan penasaran.


Bima berjalan nyamperin Aliyah, tatapan Ivan tampak tidak suka pada Bima.


Entah apa yang akan terjadi di antara mereka?


"Aliyah, kamu sudah mau pulang?" tanya Bima dengan nada lembut, tatapan matanya terlihat tidak suka pada Ivan.


"Iya Tu..."


"Pulang bareng yuk, kebetulan aku lewat depan sekolahan kamu, jadi aku berhenti," potong Bima dengan cepat, jangan sampai dia memanggil aku Tuan Bima.


Bima hanya membuat alasan saja, padahal mah dia memang ingin bertemu dengan Aliyah tapi malu untuk mengakuinya.


"Boleh, ayo....!!" Aliyah dengan senang menerima tawaran Bima, daripada meladeni Ivan yang super playboy.


"Al, kamu belum menjawab pertanyaanku, laki-laki itu siapa kamu?" Ivan menatap Aliyah dengan sorot mata ingin tahu.


"Dia kekasihku, kenapa kamu mau kenalan?" jawab Aliyah mantap.


"Serius, kamu pacaran dengan laki-laki yang usianya lebih tua darimu?" Ivan menatap tak percaya.


"Apa salahnya Van? Bukannya yang sudah matang lebih baik, lebih bisa mendidik kita daripada pacaran sama kamu yang tidak jelas sehari sama ini, hari besoknya lagi sama itu, punya hubungan tidak pernah jelas," ujar Aliyah panjang lebar. Ivan melirik Aliyah kesal, dasar gadis sombong.


"Kamu bilang aku tidak jelas, Al aku serius menyukaimu sudah lama, apa kamu tidak ada niat membalas cintaku?" Ivan kembali bertanya, saat Ivan hendak memegang tangan Aliyah dengan cepat Bima lebih dulu memegang tangan Aliyah.


Dari tatapan Aliyah pada laki-laki yang bernama Ivan ini memang terlihat Aliyah tidak menyukai laki-laki yang ada di hadapannya ini, jadi Bima berani untuk melakukan hal yang menurutnya benar.


"Aliyah tidak punya waktu membalas perasaan anak ingusan sepertimu. Kamu tidak dengar kalau Aliyah lebih suka yang sudah matang, jadi kamu mundur saja dengan teratur!" pungkas Bima pada Ivan dengan tegas.


Ivan sangat marah ia hampir saja melayangkan pukulan pada Bima tapi dengan satu tangannya Bima menepis tangan Ivan.


"Jangan pernah menyentuhku!" titah Bima dengan tegas, lalu mengibaskan tangan Ivan dengan kuat.


"Dasar brengsek!" pekik Ivan kasar.


"Anak ingusan, kamu urusin saja sekolahmu yang benar dulu, baru cinta-cintaan!" titah Bima dengan nada tegas, membuat Ivan mencebik kesal.


Bima mengajak Aliyah berlalu pergi dari hadapannya Ivan, mereka tak perduli dengan Ivan bahkan Aliyah juga enggan mengurusi Ivan.


Bima dan Aliyah langsung naik mobil, lalu Bima melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


Di dalam mobil kini terasa hening, mereka terdiam karena rasanya canggung.


"Al, kok kamu tidak bareng sama teman kamu. Biasanya kalian selalu bersama-sama," tanya Bima membuka obrolan agar suasana menjadi cair.


"Emm Arumi sedang pergi liburan, Tuan. Jadi aku sendirian hari ini," jawab Aliyah begitu canggung.


"Al, jangan panggil aku Tuan, rasanya tidak enak di dengar," protes Bima sambil menyetir. Jika di panggil Tuan, itu rasanya seperti majikan dan Art saja.


Aliyah malah terdiam karena bingung, jika tidak memanggil Tuan, lalu aku harus memanggilnya apa? Apakah sayang? Itu sangat tidak mungkin, memang aku siapanya Duda Tampan ini? Aliyah memang koplak otaknya juga gesrek seperti Author.


"Lalu aku manggil Tuan dengan sebutan Tuan apa?" tanya Aliyah kebingungan.


"Bagaimana kalau panggil Mas saja!" titah Bima pada Aliyah.


Aliyah kembali terdiam, Mas aduh Mas Bima, pasti akan terdengar lebih akrab.


"Baiklah aku panggil Mas Bima," celetuk Aliyah dengan nada menggemaskan.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh dari sekolahan Aliyah, akhirnya Aliyah dan Bima sampai di depan rumah mereka.


Hari ini Ayuna tidak menunggunya pulang seperti biasanya, mungkin Ayuna sedang tidur siang.


Akhirnya Aliyah mengucapkan terimakasih kepada Bima, lalu berpamitan masuk ke dalam rumahnya.


Melihat Aliyah melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya, Bima sekilas tersenyum melihat gadis cantik bertubuh mungil itu.


Setelah Aliyah sudah masuk ke dalam rumahnya, akhirnya Bima juga masuk ke dalam rumahnya.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia