Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Gadis bau kencur


"Apa ada urusan?" tanya Bima, penasaran.


"Iya mas tadi aku habis bertemu...."


"Bertemu dengan siapa?"


Saat ini Bima cukup kepo, sekilas ia melirik Aliyah dengan harapan menemukan jawaban dari raut wajah cantik, tapi ternyata tidak menemukannya dan di raut wajah cantik Aliyah hanya ada kesedihan saja, itu yang Bima lihat.


Aliyah malah terdiam cukup lama seperti orang yang sedang sibuk dengan pikirannya.


"Kenapa? Apa kamu ada masalah?" tanya Bima, sangat penuh perhatian.


"Tidak Mas, hanya saja Tante dan Paman aku, mereka berniat menjodohkanku dengan rekan bisnis mereka," jawab Aliyah tidak bahagia.


Bima yang sedang menyetir mobilnya, tiba-tiba hatinya merasa gusar. Apaan? Jaman sekarang di jodohkan, ini jaman sudah modern bukan jaman Siti Nurbaya lagi dan jodoh itu bisa di pilih dengan sendirinya tapi Aliyah mau di jodohkan gadis masih bau kencur seperti itu. Dasar Tante dan Pamannya itu tidak punya otak, kasian dia jadi sedih.


"Kakak Cantik, apa itu berarti Kakak Cantik mau menikah? Lalu Ayuna nanti bagaimana?" tanya Ayuna tiba-tiba dengan tatapan yang cukup polos seolah-olah ia tidak rela jika Aliyah menikah.


"Ayuna, Kakak Cantik masih belum cukup umur Nak jadi dia belum boleh menikah," timpal Bima menasehati putri kecilnya. Saat Aliyah menikah nanti pasti Ayuna akan sedih.


"Yuna, benar kata Papa Kakak belum cukup umur untuk menikah jadi Kakak harus selesai sekolah dulu," sambung Aliyah dengan nada lembut.


Ayuna memeluk Aliyah penuh kasih sayang, Aliyah membalas pelukan Ayuna dengan erat.


"Kakak jangan menikah, nanti Ayuna tidak ada teman bermainnya," kata Ayuna pada Aliyah dan Aliyah mengusap punggung Ayuna dengan lembut.


Bima terus melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, sesampainya di depan rumahnya, Ayuna tertidur di pangkuan Aliyah. Bima turun lebih dulu dari mobilnya, lalu ia membuka pintu mobilnya dan mengambil Ayuna yang sudah tidur nyenyak dari pangkuan Aliyah.


Ayuna sudah berada di gendongan Bima, Aliyah juga sudah turun dari dalam mobil Bima.


"Mas, terimakasih ya, aku pulang dulu," pamit Aliyah pada Bima dengan sopan.


"Sama-sama, mau aku anterin?" tawar Bima dengan nada lembut.


"Tidak usah aku kan bukan anak TK," tolak Aliyah dan langsung berlalu pergi dari hadapan Bima.


Saat Aliyah sudah sampai di depan rumahnya, tiba-tiba ia melihat Bima di samperin oleh wanita cantik, entah itu siapa? Aliyah saja tidak kenal.


"Siapa wanita itu? Seksi sekali," gumam Aliyah terlihat tatapan cukup kesal. Siapa yang tidak kesal wanita itu berdiri cukup dekat dengan Mas Bima, bahkan wanita itu terlihat genit, pakainnya juga kurang bahan, apa dia tidak punya baju yang benar?


Bima dan wanita itu sudah tidak terlihat, Aliyah dengan lesu masuk ke dalam rumahnya, ia langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh mungilnya di atas kasur sana.


"Apa dia kekasihnya Mas Bima?"


"Apa dia saudaranya Mas Bima?"


"Atau dia calon istrinya Mas Bima?"


Pikiran Aliyah tidak tenang, ia tampak gusar dan terus memikirkan Bima.


"Bagaimana jika dia wanita sewaan? Mas Bima akan meniduri dia, apalagi Ayuna sedang tidur, ini tidak boleh terjadi!" pekik Aliyah dan langsung buru-buru bangun dari rebahannya.


Aliyah langsung berganti pakaian dengan dress cantik warna merah, lalu ia memoles sedikit wajah cantiknya dengan riasan yang begitu natural.


"Tidak bisa aku biarkan, aku harus kesana! Pura-pura saja mengantarkan apa gitu? Atau meminjam sesuatu, iya seperti itu!" Aliyah sangat sibuk dengan pikirannya. Hatinya saat ini sedang di kuasai rasa cemburu yang berlebihan.


Aliyah keluar dari kamarnya, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya Bima.


Sesampainya di depan rumahnya Bima, ia mengetuk pintu rumahnya Bima dengan hati-hati. "Aku sudah cantik dan anggun, saatnya kita berperang, aku tidak rela jika Mas Bima dengan wanita lain," batin Aliyah dalam hatinya.


"Tokk..tok...!!"


Mendengar suara ketukan pintu, Salah satu Art di rumahnya Bima membukakan pintu.


"Nona Aliyah, silahkan masuk!"


Aliyah mengangguk, lalu ia masuk ke dalam rumahnya Bima dan matanya terus mencari-cari sosok Bima dan wanita itu.


"Mas Bima nya ada, Bi?" tanya Aliyah.


"Tuan Bima ada di ruangan kerjanya," jawabnya.


Seketika Aliyah terdiam, di ruang kerjanya, apa mereka sengaja ke ruang kerja? Agar Ayuna tidak curiga dan mereka melakukan sesuatu di dalam sana, itu tidak boleh terjadi!


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia