Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Beberapa Bulan Kemudian


Beberapa bulan kemudian, pernikahan Aliyah dan Bima berjalan dengan baik. Ya biarpun Aliyah menikahi seorang duda anak satu tapi ia cukup dewasa dalam menghadapi semuanya, bahkan ia merawat Ayuna seperti anak kandung sendiri dan begitu menyayangi Ayuna.


Setiap malam Aliyah juga selalu menjadi istri yang baik dan melayani Bima dengan baik.


S


etiap pulang kerja pasti Bima selalu minta jatah kikuk-kikuk dan dengan senang hati aku selalu memberikan hak suamiku, lagian enak kok jadi aku suka saat Mas Bima minta jatah padaku.


Pagi yang cerah seperti biasanya Aliyah bangun lebih dulu dari suaminya untuk menyiapkan baju kerjanya suaminya dan sarapan untuk suami dan anaknya, ya Aliyah menjadi istri yang sangat baik dan patuh sekali dengan sang suami.


"Hoek...hoek...."


Saat sedang menyiapkan baju kerja suaminya tiba-tiba Aliyah merasa mual, perutnya rasanya tidak enak.


"Hoek...hoek..."


Aliyah bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk muntah, rasanya sudah tidak tahan sekali ingin muntah.


Bima yang mendengar suara istrinya muntah-muntah ia bangun dari tidurnya, lalu langsung turun dari ranjang tempat tidur dan menyusul Aliyah masuk ke dalam kamar mandi.


Saat melihat Aliyah tampak pucat, ia bergegas membawa Aliyah ke atas tempat tidur dan segera memanggil Dokter pribadi keluarga untuk segera datang ke rumah.


"Sayang, kamu pasti telat makan," kata Bima penuh rasa kawatir.


"Mas aku mual sekali," kata Aliyah dengan suara cukup lemas.


Beberapa lama kemudian Dokter Yun akhirnya datang, lalu ia segera memeriksa keadaan Aliyah dengan baik.


Setelah selesai memeriksa Aliyah tidak lupa Dokter Yun memberikan resep obat untuk Bima beli.


"Istri saya sakit apa, Dok?" tanya Bima pada sang Dokter.


"Nyonya Muda sedang hamil, usia kandungannya sudah masuk 3 bulan," jelas sang Dokter dan Bima langsung tersenyum bahagia.


"Sayang, kamu hamil," kata Bima sambil memeluk istrinya dengan bahagia.


"Aku hamil Mas," sahut Aliyah bahagia.


Wajar sih kalau aku cepat hamil, soalnya suamiku ini rajin sekali membuat adonan capek pulang kerja juga tetap saja di garap, apalagi saat libur kerja aku sering kali tidak boleh keluar kamar dan apalagi memakai baju suka tidak boleh, jadi di atas ranjang harus telanjang dan kapanpun dia mau ya aku harus siap.


Akhirnya Aliyah hamil dan itu adalah kabar bahagia untuk Bima, terutama Ayuna yang memang menginginkan seorang adik kecil yang lucu.


Setelah selesai meriksa Aliyah, Dokter Yun langsung berpamitan pulang dan setelah Dokter Yun pulang. Ayuna tiba-tiba masuk ke dalam kamar Bima dan Aliyah.


"Papa, Mama sakit ya? Kok ada Dokter Yun datang ke rumah," tanya Ayuna dengan nada lembut.


"Mama hamil Nak, kamu akan segera punya adik kecil yang lucu," kata Bima pada Ayuna dan Ayuna langsung tersenyum bahagia, lalu memeluk Aliyah dengan penuh kasih sayang.


***


Beberapa hari kemudian, Aliyah masih terus muntah-muntah membuat Bima sangat kawatir, ya mungkin Bima ini bukan pertama kalinya menghadapi wanita hamil, tapi kehamilan Aliyah menurutnya jauh lebih parah dari mantan istri pertamanya dulu.


Saat pagi hari Aliyah muntah-muntah, Aliyah bukannya ingin jauh-jauh dari suaminya tapi ia malah ingin terus berada di dekat suaminya, sampai akhirnya Aliyah harus ikut ke kantor karena sangking tidak mau jauh-jauh dari Bima.


Hari ini juga Ayuna sedang ada acara berenang dengan teman-temanya, ada suster juga yang menjaga Ayuna biasanya Aliyah juga ikut menjaga putri kecilnya itu tapi semenjak Aliyah hamil dan mabuk parah, akhirnya Aliyah lebih sering di rumah dan hari ini adalah pertama kalinya ia ikut kerja ke kantor suaminya. Ya anak yang ada di dalam kandungannya memang sangat manja sekali pada Papanya, sungguh Mamanya hanya bisa menurut.


***


Di kantor Bima.


Aliyah hanya berbaring di sofa yang ada di ruangan kerja suaminya, menunggu suaminya sedang meeting dengan para klien.


Bima yang baru saja selesai meeting ia buru-buru masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Sayang," tidak lupa Bima mengunci pintu ruangan kerjanya.


"Mas, dari tadi benih Mas rewel, mungkin dia pingin di tengokin sama Papanya," ujar Aliyah pada suaminya.


Aliyah tidak mengidam aneh-aneh tapi ia cenderung manja dan sering kali minta jatah tanpa lihat tempat, ya contoh ini sedang di kantor dan terakhir waktu itu ia meminta jatah di dapur di malam hari untung saja penghuni rumah sudah pada tidur jadi saat itu tenang.


"Sayang, ini di kantor. Tunggu pulang dari kantor ya!" titah Bima dengan nada lembut.


"Mas, tapi ini Dede yang di dalam perut yang minta," kata Aliyah dan kalau sudah mendengar kata-kata seperti ini Bima tidak bisa berkutik dan harus nurut.


Akhirnya biarpun di dalam ruangan kerjanya, Bima langsung menggarap istrinya sesuai kemauan sang istri, ya entah itu istrinya yang mau atau adek kecil yang penting keduanya anteng dan sehat.


Dengan posisi berbaring di atas sofa, Bima berada di atas tubuh Aliyah. Kali ini keduanya tidak sama-sama telanjang, Bima hanya membuka celananya saja, rok Aliyah juga hanya di singkap ke atas yang penting ucoknya bisa masuk dan istri berserta bayi yang sedang di kandung bahagia.


Mungkin aku adalah salah satu dari laki-laki yang beruntung, karena istrinya hamil tapi malah suka sekali di garap, jarang adakan biasanya lebih ke rewel dan tidak mau dekat dengan suami.


Erangan manja terdengar dari mulut keduanya, Aliyah tampak bahagia menikmati permainan sang suami yang begitu hebat.


Aduh Aliyah sungguh hamilmu itu membuat Bima harus semakin bekerja keras.


Setelah beberapa lama akhirnya kegiatan panas ini selesai juga, setelah itu Aliyah malah meminta di belikan rujak mangga muda oleh Bima, Sabar Mas Bima!


Ya dengan senang hati Bima pergi mencarikan rujak mangga muda yang istrinya inginkan itu.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia