
Aliyah menangis di pelukan Bima, di saat ia ingin memberikan kabar pernikahannya pada Paman dan Bibinya tapi malah hal yang begitu menyakitkan harus ia dengar secara jelas, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Kenapa kamu melaporkan kami pada polisi?" tanya Rita, tidak tahu malu masih bertanya pada Bima kenapa?
Jelas-jelas dia dan suaminya adalah dalang dari meninggalnya kedua orang tua Aliyah. Aku tidak akan diam saja sebagai calon suaminya Aliyah, apalagi saat Aliyah menangis di pelukanku aku tahu hatinya saat ini sangat hancur. Paman dan Bibinya yang begitu ia percaya selama ini, tega melakukan hal keji pada kedua orang tuanya.
"Kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang kalian lakukan! Penjara pantas untuk kalian," ujar Bima dengan tegas.
"Hey kamu itu cuma calon suaminya Aliyah, lagian kami tidak akan merestui pernikahanmu dan Aliyah, enak saja Aliyah itu sudah kami jodohkan dengan pengusaha muda yang mapan, lalu kamu itu tidak cocok untuk Aliyah," ujar Rita pada Bima.
Bima tersenyum kecil, sekaya apapun calon jodohnya Aliyah tetap saja aku lah yang menang mendapatkan hatinya Aliyah. Bibinya Aliyah tidak tahu saja, aku juga dulunya pengusaha muda yang sukses dan sekarang sudah tidak mudah lagi karena sudah duda anak satu.
"Kami tidak perlu restu dari Paman dan Bibi!" seru Aliyah dengan suara menggema.
"Kalian sudah membunuh kedua orang tuaku, lalu kalian berharap aku akan patuh pada kalian, tidak akan!" sergah Aliyah dengan lantang.
"Aliyah kamu berani melawan Bibi," geram sekali Rita pada Aliyah.
"Tok...tok...!"
"Masuk!!" kata Bima, ia tahu polisi yang datang.
Kedua polisi langsung masuk ke dalam rumahnya Rita dan Regi.
"Kami mendapatkan laporan tentang pembunuhan," kata polisi pada Bima.
"Tangkap mereka Pak!" Bima menunjuk pada Rita dan Regi.
Kedua manusia iblis itu langsung di borgol dan siap di bawa ke kantor polisi.
"Ikut kami!"
"Lepaskan kami....!"
"Aku bisa jelaskan semuanya pada Pak Polisi," kata Rita sambil meronta-ronta tapi tak di gubris oleh kedua polisi itu.
"Iya Pak kamu bisa jelaskan."
"Kalian bisa jelaskan di kantor polisi," kata kedua polisi itu dengan tegas.
Bibi dan Pamannya Aliyah di bawa ke kantor polisi, Bima dan Aliyah juga ikut ke kantor polisi untuk menjadi saksi.
Rita dan Regi juga mengakui semuanya akan kejahatan mereka.
***
Bima membawa Aliyah pulang ke rumahnya, mereka berada di kamarnya Bima. Ini adalah pertama kalinya Aliyah masuk ke dalam kamar seorang laki-laki dan itu adalah calon suaminya.
Aliyah masih menangis, mengingat dari kecil ia sudah menjadi yatim piatu dan itu semua karena keserakahan Paman dan Bibinya.
"Jangan menangis, nanti Papa mertuaku dan Mama mertuaku sedih di surga sana," kata Bima dengan nada lembut, di usaplah air mata yang mengalir deras membasahi pipi mulus Aliyah.
"Mas aku..."
"Bagaimana kalau kita pergi ke makam kedua orang tua kamu? Sekalian Mas minta restu pada mereka," kata Bima berharap Aliyah tidak sedih lagi.
Aliyah menganggukkan kepalanya, lalu tanpa menunggu lama Bima langsung membawa Aliyah pergi ke makam kedua orang tuanya. Biarpun sedang nangis, tapi Aliyah menunjukkan jalan ke makam kedua orang tuanya dengan baik.
***
Sesampainya di makam kedua orang tuanya, Aliyah dan Bima sama-sama duduk saat itu tangis Aliyah semakin pecah.
"Mama, Papa, Aliyah tidak menyangka yang membuat kalian meninggal itu Paman dan Bibi, mereka begitu kejam Ma, Pa. Bahkan mereka juga mengharapkan Aliyah meninggal juga di saat itu tapi Tuhan baik dan memberikan panjang umur pada Aliyah. Hingga akhirnya kejahatan Paman dan Bibi sudah terbongkar Ma, Pa. Mereka saat ini sudah berada di kantor polisi dan mengakui kesalahan mereka," ujar Aliyah di atas pusaran kedua orang tuanya.
Sekilas Aliyah melihat bayangan kedua orang tuanya yang sedang sama-sama tersenyum, mungkin mereka bahagia karena kejahatan Paman dan Bibi sudah terungkap dan bahagia karena akhirnya aku sudah dewasa dan datang membawa calon suami.
"Oh iya Ma, Pa, ini Mas Bima calon suaminya Aliyah. Dan kami akan menikah minggu depan," kata Aliyah pada pusaran kedua orang tuanya.
"Mama mertua, Papa mertua, aku janji akan selalu menjaga Aliyah dan menyayangi Aliyah setiap hari tanpa mengenal waktu," kata Bima di atas pusaran kedua orang tuanya Aliyah.
Aliyah tersenyum bahagia, terimakasih karena telah memberikan calon suami yang baik seperti Mas Bima, biarpun duda tidak masalah yang penting bucinnya bikin cenat-cenut.
Setelah meminta restu pada kedua orang tuanya Aliyah. Bima langsung mengajak Aliyah pulang karena Aliyah biar istirahat, pasti hari ini lelah sekali.
Tidak sabar rasanya menunggu pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia