DKYB: SEPASANG PEMBANTAI

DKYB: SEPASANG PEMBANTAI
.Marah Boleh, Bodoh Jangan


Melihat apa yang di lakukan oleh patriak Mo Cang , membuat Lin Mo geram dan langsung mengeluarkan aura maha dewa bumi 🌟 7 nya untuk menekan balik , dan seketika aura tersebut lenyap dan penonton kembali bernafas lega , sementara patriak Mo Cang kini jatuh berlutut di tempat nya , setelah menerima serangan balik dari Lin Mo


"Apakah kau mau mengacau di sini patraik Cang .?"tanya Lin Mo dengan tatapan dingin


"Maaf atas kelancangan saya tuan Lin, "ucap patriak Mo Cang , dia tidak bodoh untuk memprovokasi seorang Lin Mo , karena dia tau identitas keluarga Lin mo sangat misterius , bahkan banyak yang menduga jika Lin Mo merupakan keturunan dari Pendekar yang terkenal itu, yang sudah mencapai ranah Maha dewa langit 🌟 9,


tapi Kemabali lagi semua itu hanyalah asumsi dari orang bisa juga benar dan bisa juga salah


setelah itu Lin mo langusng terbang menuju arena untuk melihat keadaan Mo Sang, apakah bisa melanjutkan atau tidak,


setelah di cek ternyata mo sang sudah pingsan dan kindisi wajahnya sangat bengkak akibat tamparan yang xhuhan berikan sebelumnya


"Baiklah, pemenang pertandingan kali ini Xhuhan , dan akan menunggu untuk melawan pemenang antara nomor 3 dan bomo 5 ," ucap Lin mo mengumumkan


"woaaahhh... woaaahhh...."


banyak pujian pujian yang xhuhan dapatkan stelah mengalahkan Mo sang hanya dengan tamparan biasa , tapi Xhuhan hanya cuek dan tidak menghiraukan itu dan lebih memilih duduk dan mengobrol dengan Long Zen ,


"Bagaimana dengan jurus yang aku ciptakan sebelum nya.?"tanya Xhuhan pada long Zen tiba di kursi tempat nya duduk


"uhuuukkk...."


Long Zen yang mendapat pertanyaan tersebut langsung mengingat kembali nama jurus konyol tersebut dan tak bisa lagi menahan tawanya , sehingga langsung pecah dan menjadi tontonan bagi orang orang di sana , sebab long Zen tertawa dengan sangat keras sambil memegangi perutnya


"Cukup, bodoh, apakah kamu tidak malu saat ini menjadi tontonan mereka"ucap Xhuhan mengentikan tawa Long Zen dengan menunjuk ke arah penonton yang mengarahkan pandangan nya ke arah mereka berdua


sementara Long Zen hanya acuh tak acuh , bahkan masih terus tertawa meskipun tidak se nyaring sebelum nya


"Maaf tuan muda, tapi sungguh jurus yang tuan muda ciptakan sebelum nya sangat konyol "ucap long Zen yang kini wajahnya sudah memerah karena puas tertawa


Xhuhan yang mendengar ucapan long Zen hanya tersenyum , karena dia memang berniat untuk mempermalukan tuan muda sakte aliran hitam tersebut dengan menyebut kan jurus aneh, nyatanya Xhuhan hanya mengunakan kekuatan fisik saja saat menampar Mo sang sebelum nya


saat ini di Arena sudah ada , dua peserta yang akan bertanding , mereka adalah Jin He dari sakte Kelabang hitam dan Lian Wei dari sakte angin timur ,


"lebih baik kau menyerah saja Lian Wei, dengan begitu aku tidak perlu repot repot memukul mu keluar dari arena ini "ucap Jin He sombong


"Kau terlalu meremehkan ku Jin He, apakah kamu kira hanya dirimu yang sudah berada di ranah maha dewa hitam 🌟 8 hah, aku juga "ucap Lian Wei sambil melepaskan aura kekuatannya dari tubuhnya


tapi ekspresi jin hei bukannya kaget malah tersenyum meremehkan ,


"Apakah aku pernah bilang jika aku hanya berada di ranah maha dewa hitam 🌟 8, kau yang terlalu memandang tinggi dirimu sendiri "ucap Jin he seraya melepaskan aura maha dewa hitam 🌟 9 dari tubuhnya, dan dari auranya saja terlihat jika sebenarnya jin he sudah di ambang batas menerobos ke ranah maha dewa giok 🌟 1 sama seperti Mo sang


"Tidak mungkin, sejak kapan kau memiliki kekuatan ini, bukankah beberapa bulan lalu kau masih sama dengan ku "ucap Lian Wei dengan perasaan yang mulai ragu dengan keadaan saat ini


"Tidak usah banyak bicara , sekarang keluarlah dari arena ini dengan tenang "


"tapak kematian" wush.....muncul aura hitam mengelilingi telapak tangan jin he , kemudian dia bergerak menuju tempat Lian Wei dan melepaskan tapak kematian nya mengarah ke dada Lian Wei


"Gawat " segera Lian Wei membuat pertahanan di Depan dadanya untuk menghalau serangsn jin he yang sebentar lagi akan masuk ke arah dadanya


.....Booomm.....


Benturan dua energi tercipta saat serangan milik Jin he mengenai pertahanan yang di buat oleh Lian wei


terlihat sekarang Arena tempatt mereka bertarung di penuhi debu menutupi pandangan penonton , tapi tak lama setelah debu menghilang terlihat ada seorang yang masih berdiri di tempatnya , sementara satu orang yang lainnya jatuh di pinggir Arwan dengan mulut mengeluarkan darah ,


Ya , orang yang masih berdiri tersebut tak lain adalah Jin He , sedangakn Lian Wei kini kondisi nya sudah sangat buruk , dengan luka dalam yang di derita setelah gagal menghalau serangsn yang datang padanya , bagaimana pun kekuatan Mereka tidaklah sama , alhasil Lian Wei terhempas jatuh ke pinggir Arena saat benturan kedua energi tersebut ,


setelah itu Lian Wei si bawa turun untuk di obati , sedangkan Jin He berjalan turun dengan angkuh dari arena, dan sengaja berjalan melewati tempat Xhuhan dan long Zen , dan mengucapkan kalimat merendah kan untuk Xhuhan


"Selanjutnya adalah giliran mu, bersiaplah untuk kekalahan mu "ucap Jin hei kemudian pergi ke tempat duduknya , dan langsung menghampiri Mo sang yang kini kondisi nya lumayan sehat setelah di berikan pil pemilih energi olah sang ayah


"Kamu tenang saja saudara Sang, aku yang akan membalaskan dendam mu pada bocah bertopeng itu, akan ku tampar wajahnya hingga wajahnya tidak berbentuk lagi "ucap Jin hei berbicara ke pada Mo sang.


"Kau harus hati hati dengan nya saudara He, Dia tidak selemah yang kau bayangkan , tapi kau tetap harus menghancurkan orang itu untukku "ucap Mo sang dengan tatapan benci melihat ke arah xhuhan ,


memang betul kata orang , jika dendam sudah menguasai hati, maka kebenaran yang sudah di depan mata tidak akan mereka lihat,


bukankah sudah jelas , jika Mo sang yang memiliki kekuatan Di ranah Maha dewa giok saja di hajar , lalu sekarang jin he dengan angkuhnya mengatakan akan menampar Xhuhan di Arena, sedangkan dirinya memiliki kekuatan di bawah Mo sang , yang sebelumnya bahkan sudah di permalukan oleh Xhuhan


seperti kata kata yang sering author dengar 'Marah Boleh , Bodoh Jangan'


mungkin inilah ungkapan yang pas untuk kedua orang ini


"Kau percayakan masalah ini padaku saudara sang, aku akan mempermalukan dia untukmu "ucap Jin he , kemudian keduanya tertawa , entah apa yang mereka tertawakan


sementara xhuhan dan Long Zen kini asik dengan dunia mereka sendiri, bahkan mereka terlihat bercanda dan tertawa di tempat duduknya , mengabaikan tatapan tatapan dari sekitar nya .


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung


Note:


pembaca teraktif Minggu ini



😊😊😊😊Terimakasih 😊😊😊😊