
mata mata itu kini menatap kosong ke arah Lin Feng dan yang lainnya , terlihat jelas jika saat ini tidak ada lagi semangat hidup yang terlihat dari sorot matanya yang nampak sudah memutih karena sudah putus asa , karena saat ini nasibnya sudah di tentukan sejak ia ketahuan berkhianat sebelum nya , apalagi setelah melihat kematian kedua temannya yang menurut nya sangatlah mengerikan semakin membuat dirinya putus asa dan menyesali semua nya , karena ia terlalu serakah dengan iming iming hadiah yang di janjikan oleh patriak sakte Bulan Suci yang mengutus nya , padahal jika dirinya bisa berpikir jernih pastinya ia takkan berada di situasi seperti saat ini, mengingat kebaikan sakte 2 naga pada dirinya selama berada di sakte ini , tapi sekarang mau bagaimana lagi , nasi sudah menjadi bubur
"Ayo keluar , paman dan bibi sudah selesai dengan Kultivasi nya , begitu juga dengan para tetua , biarkan dia disini , karena dengan kondisi nya saat ini dia tidak akan bisa melakukan apapun" Lin Feng mengajak semuanya untuk keluar menemui Zen Yan dan yang lainnya yang saat ini sudah selesai berkultivasi di halaman , meninggalkan mata mata itu tergelatak dengan masih menampilkan tatapan kosongnya
"Tap Tap Tap"
Mereka bertujuh tiba di halaman sakte , yang saat ini terlihat masih sama seperti sebelumnya Dimana semua murid masih fokus berkultivasi di sana , sementara Zen Yan dan yang lainnya kini sudah berdiri dan melihat ke arah rombongan Lin Feng yang baru saja tiba
"Apakah sudah selesai.?" tanya Zen Yan pada Lin Feng melalui telepati karena takut menganggu para murid yang masih fokus dengan Kultivasi nya
"Sudah paman , sebaiknya paman dan yang lainnya segera masuk untuk membahas ini , dan satu lagi aku menyisakan satu mata mata di dalam terserah paman mau di apakan " balas Lin Feng juga dengan telepati
"Ayo kita masuk ،" ajak Zen Yan pada sang istri juga pada ketujuh tetua sakte yang berada di samping nya
setelah itu ia bersama sang istri memimpin jalan menuju Lin Feng dan rombongan nya yang memang berada tak jauh dari posisi nya , dimana saat ini mereka berada tak jauh dari pintu masuk ,
ketujuh tetua yang mengikuti Zen Yan dari belakang saat ini pandangan mereka mengarah pada ketujuh sosok yang tengah di tengah berada tak jauh darinya ,yang memang mereka belum tau siapa mereka semua yang saat ini menggunakan pakaian serba hitam dan serba putih yang lengkap dengan Topeng nya ,mereka semua hanya menyimpan rasa penasaran nya di hati , karena mereka takut di sangka lancang jika langsung mengajukan pertanyaan mengenai itu , jadi mereka bertujuh memutuskan untuk diam dan berharap sang patriak nanti akan memperkenalkan mereka bertujuh pada mereka saat di dalam
Zen Yan langsung memimpin mereka semua ke aula utama , tempat mereka biasa berkumpul , kemudian Zen Yan duduk di kursi kebesaran nya yang di dampingi oleh sang istri di samping nya , sedangkan Lin Feng dan kelompok nya duduk saling berhadapan dengan ketujuh tetua sakte
"Pasti kalian semua sangat penasaran siapa mereka bertujuh , mengapa aku bisa bersama mereka saat ini , juga kalian pasti penasaran dengan perubahan tiba tiba yang terjadi pada sakte sebelumnya,"
Zen Yan sengaja menjeda kata katanya untuk memancing respon ketujuh Tetua sakte nya , setelah melihat wajah tegang dan penasaran darai ketujuh orang itu Zen Yan pun melanjutkan ucapan nya
" Sekarang kalian dengarkan baik baik , Mereka bertujuh adalah , para tuan muda dan nona muda sakte ini , Meraka berlima adalah Yan Zi, Fan Zhu ,Yun Ning , Hun Yi , Ho Jun, dan untuk kedua orang yang berada tak jauh dari posisiku ini adalah Putra dan putri dari junjungan kita semua , Mereka berdua adalah Pangeran Lin Feng dan putri Zen Ling Ling , keturunan langsung dari Dewa Agung Xhuhan dan Dewi agung Qingzhu , dan untuk putri Zen Ling Ling kalian pasti sudah tau , karena ada marga Zen di depan nya , Yap benar , beliau adalah Putri Dari Dewa agung Zen Tian dan Permaisuri Zen Yun'er , pendiri Klan Zen dan juga pendiri dari sakte ini " Zen Yan , menunjuk mereka bertujuh memperkenalkan satu persatu pada tetua sakte , setelah Zen Yan selesai berbicara , tiba tiba tempat itu di penuhi dengan suara tabrakan lutut pada lantai
"Brugh"
"Brugh"
"Brugh"
.
.
.
"Terimakasih atas penghormatan nya , tapi aku harap ini menjadi yang terakhir bagi kalian samua berlutut dihadapan ku , ataupun pada yang lainnya , selain para guru dan orang tua kalian , silahkan kalian semua kembali duduk ke tempat kalian masing masing " Lin Feng bangun datar duduknya sedikit membungkuk kan badan nya untuk membalas penghormatan yang di berikan pada nya sebelum nya ,
melihat sikap sopan yang di tunjukkan oleh putera dewa junjungan mereka itu , ketujuh tetua itu langusng merasa hangat di hatinya , karena sifat itu yang membuat dirinya dulu bisa tertarik untuk mengikuti Zentian , dan seluruh keluarganya , karena keluarga itu tidak pernah memperlakukan para bawahan nya dengan kasar justru sebaliknya
"Saudara Zhu , tolong bawa orang itu kemari , biarkan paman dan para tetua yang memutuskan nasib nya " Lin Feng menoleh ke arah Fan Zhu untuk meminta bantuannya untuk membawa mata mata yang sebelumnya sudah mereka interogasi
setelah kepergian Fan Zhu , Zen Yan langsung melihat ke arah Lin Feng untuk menginformasi apa yang ada di pikiran nya
menyadari Zen Yan yang melihat ke arah nya , Lin Feng hanya tersenyum di balik Topengnya kemudian membuka mulut nya untuk untuk mengatakan sesuatu
"Apa yang di pikiran paman saat ini tidak salah , orang yang aku minta untuk di bawa kemari sebelum nya adalah salah satu dari mata mata itu "
Bukan hanya Zen Yan yang terpuaskan rasa penasaran nya setelah mendengar ucapan Lin Feng itu , istrinya dan juga para tetua sakte yang ada di sana juga penasaran dengan sosok yang sebelumnya Lin Feng minta untuk di bawa oleh Fan Zhu
" Tuk Tuk Tuk "
terdengar langkah kaki menuju ke tempat itu , dimana nampak saat ini Fan Zhu dengan santainya menenteng mata mata yang nampaknya masih pingsan itu layaknya Mambawa sampah ,
"Brak"
Tanpa belas kasihan Fan Zhu langsung melemparkan orang yang di bawanya itu dengan sembarangan hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring saat membentur lantai, membuat mata mata yang menggunakan pakaian murid elite tersebut langusng terbangun dari pingsannya
Tatapan tajam langsung di arahkan pada murid yang menjadi mata mata itu oleh ketujuh tetua itu , terutama tetua pertama, kedua dan tetua ketiga , yang mengurusi murid elite , mereka
merasa malu pada yang lainnya karena sudah kecolongan seperti ini ,
mereka bertiga memiliki pikiran seperti itu karena mereka pikir hanya satu orang saja yang telah di tangkap , karena memang Lin Feng tidak menyebutkan pada Mereka berapa jumlah mata mata yang berhasil di temukan oleh nya , saat mengabari Zen Yan dan para tetua sakte saat mereka berkumpul di lapangan sebelum nya,