Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 84


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 84


**Siapa dia?**


Orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Leon akhirnya muncul juga. Lucas datang membawa hampir seluruh bodyguardnya. Lucas adalah salah satu leader yang kemampuannya tidak diragukan lagi dikalangan anggota Black Stone. Ia adalah teman sekaligus sahabat lama Leon. Jauh sebelum bertemu dengan Davin, Serkan dan yang lainnya, Mereka sudah menjadi sahabat baik. Hanya saja, Lucas yang lebih memilih bekerja di Eropa, ketimbang didaerah Timur tangah, menjadikan mereka jarang bertemu.


"Kau jauh lebih sukses dari yang ku kira ternyata," komentar Lucas kala melihat istana megah milik Leon beserta fasilitas canggihnya.


"Begitulah," jawab Leon singkat, lalu menatap sahabat lamanya itu, "Karena itu bekerjalah padaku, ketimbang keluyuran tidak jelas," lanjut Leon.


Lucas tertawa kecil mendengar komentar Leon, "Aku sedang menikmati hidup, Leon..."


"Ayolah, kau sudah terlalu tua untuk bersenang-senang," cibir Leon.


Lucas tidak menanggapi ucapan Leon, Pria itu hanya tertawa seperti biasa.


Mau bagaimana lagi, tragedi kelam yang terjadi dalam hidupnya di masa lalu membuatnya enggan untuk memulai sebuah keluarga.


Lucas mengambil tempat duduk tepat didepan meja bar dilantai dua. "Sejak kapan kau menikah?" tanya Lucas mengalihkan pembicaraan.


Leon tidak segera menjawab, karena tepat saat itu seorang bartender menyerahkan vodca kearah mereka. Leon menyerahkan gelas tersebut pada Lucas. Sedang gelasnya sendiri ia singgkirkan sedikit menjauh. Ia sudah berjanji pada istrinya untuk sembuh dari candunya. Meskipun jika meminum sedikit tidak menjadi masalah, tapi entahlah, ia sedang tidak ingin minum saat ini.


Melihat tingkah Leon, Lucas hanya melirik sesaat. Meskipun sikapnya yang seperti menghindari minuman keras menarik perhatiannya, tapi ia lebih tertarik untuk menanyakan hal lain sekarang.


"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku," tegur Lucas, karena Leon seperti menghindari pertanyaannya.


Benar saja, sedetik kemudian Leon terdengar mendesah. Pria itu malas jika mendengar pertanyaan tentang pernikahannya, karena hal itu hanya akan mengingatkan pada kesalahan konyo yang pernah ia perbuat.


"Tiga tahun lalu," jawab Leon singkat.


Lucas terkejut mendengar jawaban Leon, "Tiga tahun lalu? dan selama itu, kau idak mengabariku? kau keterlaluan," protes Lucas. Ia mengira jika Leon baru saja menikah.


Leon mengangkat bahu, "Kau tidak tahu saja, banyak hal yang terjadi setelah itu," ucap Leon. Ia malas jika harus menjelaskan kesalahannya sendiri terkait hal itu.


"Istrinya menghilang selama tiga tahun," Sahut Serkan tiba-tiba dari belakang. Entah sejak kapan pria itu memasuki bar.


Mendengar ucapan Serkan, Lucas langsung berhenti menyesap minumannya lalu memandang kearah Leon. Tapi pria itu bergeming yang secara tidak langsung mengiyakan ucapan Serkan.


"Ada juga wanita yang berani bermain-bermain denganmu," ucap Lucas lalu terbahak setelahnya.


Leon tidak menjawab, namun jelas ia terlihat malas dengan obrolan yang hanya akan membuka aibnya itu.


Leon kemudian berdiri, "Habiskan minumanmu, ada yang ingin ku bicarakan segera," Setelah mengucapkan itu, Leon kemudian keluar dari bar.


"Mau kemana kau?" tanya Lucas setelah tawanya reda.


"Aku tunggu di ruanganku," sahut Leon sebelum hilang di balik pintu.


Lucas menatap kearah Serkan yang sedang meminum alkohol dari gelas milik Leon. "Aku penasaran, seperti apa wanita yang bisa membuatnya gila," ucap Lucas.


Serkan tidak menjawab, pria itu kembali menyesap vodca ditangannya.


Sementara itu, Aila tengah bersiap untuk keluar dari ruang perawatan bersama Alex. Tentu saja dengan bantuan kursi roda. Gadis itu terus merengek meminta jalan-jalan karena bosan. Berada di ruang perawatan selama dua hari tanpa melakukan apapun, memang sangat membosankan untuk gadis selincah Aila. Ia terbiasa melakukan banyak hal di hari biasanya, sehingga Aila merasa jenuh jika harus berdiam diri didalam ruangan tanpa melakukan apapun.


Alex sengaja membawanya ke taman belakang kastil, agar Aila bisa menikmati senja bersama bunga-bunga kesukaannya.


"Besok, kakak akan tetap menikah 'kan?" tanya Aila memulai pembicaraan.


"Tentu saja, kenapa memang?" Alex balik bertanya. Ia tahu jika Aila sedang menghawatirkan rencana pernikahannya besok pagi.


Aila tersenyum, "Baguslah," sahutnya lega.


"Jangan mengkhawatirkan apapun, fokus saja untuk sembuh.." ucap Alex memberi nasehat.


Aila tidak menjawab. gadis itu terlihat menikmati semilir angin beraroma mawar yang menerpa wajahnya. Namun, sedetik kemudian gadis itu terlihat murung.


"Anakku," Aila mengusap perutnya, "Apa bisa jika membiarkannya untuk tetap hidup?" tanya Aila.


Alex tidak langsung menjawab, pria itu mengamati wajah Aila yang tertutup anak rambut karena terpaan angin sore, lalu mendudukkan diri pada kursi taman di samping Aila.


"Aku tidak yakin, tapi keadaamu jelas tidak mendukung.." jawab Alex. Jujur saja, kehamilan Aila terlalu rumit. Rahim gadis itu terluka parah, dan sekarang ada janin yang terus tumbuh menjadi besar setiap detiknya. Rahimnya belum siap untuk di huni sorang bayi. Itulah kenapa Aila masih mengalami pendarahan hingga saat ini. Yah, tentu saja Leon tidak mengetahui hal itu.


Awalnya ia mengira janin yang berada di dalam kandungan Aila akan gugur dengan sendirinya, jika mengingat luka yang dialami janin itu. Tidak disangka, janin dalam kandungan Aila betahan dengan baik hingga hari ini.


"Apapun caranya selamatkan anakku, biarkan dia hidup, aku mohon..." ucap Aila memohon.


Alex mendesah, lalu mengalihkan pandangan dari Aila. Aila jelas tahu resiko dari mempertahankan janinnya. Kemungkinan besar luka pada rahimnya akan kembali terbuka seiring dengan berkembangnya sang janin, dan itu akan membahayakan dirinya sendiri.


"Leon tidak akan suka, jika tahu kau memaksakan diri," jawab Alex. Ia tahu benar jika Leon tidak bisa kehilangan Aila apapun alasannya. Ia yakin sahabatnya itu akan memilih nyawa Aila ketimbang jabang bayinya.


"Tapi dia ingin tetap hidup," Aila menjeda ucapannya untuk sekedar menghalau sesak dalam dadanya. Jika Tuhan mentakdirkan janinnya meninggal, bukankah sejak awal janinnya sudah gugur? tapi calon bayinya tetap bertahan hingga saat ini. "Lagi pula Oma sudah menantikannya begitu lama," lanjut Aila.


Alex menghela napas dan menatap pada mata Aila, "Percayalah, bagi mereka nyawamu lebih penting," sahut Alex.


Ia paham apa yang sedang dirasakan oleh Aila, jika harus memilih antara hidupnya atau janinnya, Aila pasti akan memilih jabang bayinya, tapi tidak dengan Leon. Baginya tidak ada yang lebih penting ketimbang keselamatan istrinya.


Aila diam. Bagaimana mungkin ia harus membunuh jabang bayinya sendiri, hanya demi hidupnya? Ia pasti menjadi seorang ibu yang sangat egois.


Ditengah keheningan, tiba-toiba terdengar langkah seseorang mendekat kearah mereka. jika Alex langsung menoleh, tapi tidak dengan Aila. Gadis itu memejam sembari menyambut terpaan angin sore yang menerpa tubuhnya. Berharap angin tersebut ikut membawa serta dilema yang sedang dirasakannya.


Langkah tersebut milik Serkan dan Lucas. Melihat Lucas, Alex langsung bangkit dari duduknya dan memnyambut pria itu. Terlihat mereka saling menyapa dan berbalas pelukan.


Serkan terkejut melihat Aila tidak jauh dari mereka. "Kenapa kau bawa kesini?" tanya Serkan Pada Alex setelah keduanya selesai bertukar kabar.


"Dia bosan di dalam ruangan," jawab Alex. Meskipun jawaban sesungguhnya bukan hal itu. Ia tahu benar jika Aila meminta keluar hanya ingin mengobrol secara pribadi dengannya. Lambat laun ia mulai memahami isi kepala Aila.


Serkan segera mendekat kerah Aila yang tengah menikmati senja.Pria itu melepas jaketnya lalu ia kenakan pada pundak Aila. Perbuatannya tentu saja membuat gadis itu menoleh.


"Disini dingin, kenapa tidak masuk?"


Aila tidak menjawab, hanya mengulas senyum dan membiarkan Serkan memakaikan jaket padanya.


Liucas mengernyit ketika matanya melihat Aila, "siapa?" tanyanya pada Alex.


"Dialah alasan kenapa kau kemari," jawab Alex.


Lucas kembali menatap Aila, namun kali ini, ia menatapnya dengan lebih intens. Meskipun Aila duduk di kursi roda, Lucas bisa melihat jika Aila mempunyai tubuh yang mungil. Berpenampilan sederhana. Hanya saja gadis itu terlihat manis dan hangat saat tanpa sengaja ia melihatnya tersenyum kala Serkan menggodanya.


"Dua hari yang lalu dia diculik," ucap Alex.


Lucas mendengarkan ucapan Alex, hanya saja matanya masih tertuju pada Aila. Gadis yang mempunyai senyum yang sama dengan seseorang yang pernah ia kenal.


Ah, kenapa Leon harus kembali mengulang kesalahannya? mencintai gadis yang lemah dan rapuh.


Tanpa sadar, Lucas mendekat kearah Aila dan mengambil posisi tepat di depannya. Gadis itu terlihat terkejut sesaat namun ia tidak mengatakan apapun. Hingga Serkan memperkenalkan Lucas sebagai sahabat lama suaminya. Namun Lucas tetap diam dan hanya menatap pada mata Aila. Meskipun tidak paham dengan kelakuan pria didepannya itu, Aila tetap nampak tenang. Entah kenapa ia bisa melihat ada kisah kelam di dalam pandangan matanya. Pria itu seperti tengah menatap orang lain didalam dirinya.


Hingga suara langkah kaki seseorang menyadarkan Lucas dari sikapnya.


"Dia pasti akan membunuhku!" bisik Alex pada Aila.


Aila tidak menjawab. Ia melihat tatapan suaminya yang tajam seperti ingin menguliti siapa saja yang sedang ditatapnya.


Sebelum suaminya mendekat, Aila sudah lebih dulu menjalankan kursi rodanya kearah Leon. Ia tidak mau Alex terkena damprat suaminya karena lupa memberi tahu. Bagaimanapun, keluar dari ruang perawatan adalah keinginannya.


"Tuan mencariku?" tanya Aila basa-basi.


"Menurutmu?" Leon balik bertanya dengan nada kesal. Ia kemudian melangkah kearah Alex, namun Aila menahannya dengan memegang ujung kemeja suaminya, membuat langkah pria itu terhenti. Leon memang berbalik tapi hanya untuk melepas tangan Aila bukan untuk berhenti. Setelah tangan Aila lepas dari kemejanya, pria itu kembali melanjutkan langkah menuju Alex. Hatinya belum puas, jika belum memberi Alex pelajaran.


Alex tidak tahu saja bagaimana bingung dan khawatirnya dirinya ketika melihat Aila tidak ada. Namun, gerakan Leon ketika melepas tangan Aila tanpa sengaja malah membuat selimut yang menutupi kaki istrinya itu melorot dan jatuh, hingga membuat luka lebam di sekujur kakinya terlihat.


Leon menghela napas dalam lalu memutar tubuh. Pria itu mengusap kasar wajahnya sebelum akhirnya berjongkok untuk mengambil selimut dan kembali menutupkannya pada kaki Aila.


"Aku yang memaksanya tuan, jadi jangan marah padanya.." pinta Aila memohon.


Leon kembali menghela napas lalu menatap manik mata istrinya dalam. "Kenapa meninggalkan kamar?"


"Aku bosan didalam ruagan terus tuan," jawab Aila jujur.


Leon kembali mendesah, "Jangan lakukan lagi!"


Aila mengangguk paham. Leon kemudian melayangkan tatapan membunuh ke arah Alex, namun pria itu hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahu.


"Kita kembali sekarang," ucap Leon lalu mengangkat tubuh istrnya kembali menuju ruang perawatan. Meskipun Aila tidak mengerti kenapa Leon mengangkatnya dan tidak mendorongnya, Aila diam tidak bertanya. Ia tahu benar suaminya sedang kesal.


"Kenapa dia malah mengendongnya?" gumam Alex tidak mengerti. "Bukankah dia bisa mendorongnya?' lanjut Alex.


Serkan dan Lucas diam dan hanya memandangi punggung Leon menjauh.


"Cepat kemari Alex atau aku akan benar-benar membunuhmu!" teriak Leon.


Alex mendesah, "Dia benar-benar membuatku gila," gumamnya.


ia kemudian berlari menyusul Leon sembari berteriak, "Hei, tunggu aku!"


Sepeninggal Alex, Lucas duduk di kursi taman bersama Serkan. Kedua pria itu saling diam beberapa saat, hingga Lucas menawarkan sebatang rokok pada serkan untuk dihisap.


"Semakin besar ketakutan seseorang untuk kehilangan, maka Peluang terjadinya kehilangan itu akan semakin besar," ucap Lucas disela kepulan asap yang yang keluar dari mulutnya.


Serkan menoleh, "Apa maksudmu?" tanya Serkan tidak mengerti.


Lucas tidak menjawab dan kembali menghisap rokoknya.


********


Hari yang dinantikan semua orang akhirnya tiba. Hari dimana akan menjadi saksi dua pasang anak manusia mengucap janji suci mereka untuk memulai kehidupan yang baru.


Meskipun Aila masih belum boleh turun dari ranjangnya, namun gadis itu bersikeras untuk ikut menyaksikan kakak angkatnya menikah. Dengan terpaksa Alex menyetujuinya meskipun ia yakin itu bukan ide yang bagus, jika mengingat kondisi Aila masih lemah. Tapi, siapa yang bisa tahan jika mendengar Aila merengek terus menerus seperti itu.


Tidak kalah dengan Nita dan Miranda yang mengenakan gaun pengantin putih yang indah, Aila pun mengenakan dress putih berenda yang cantik. Dengan memakai mahkota bunga yang melinkar di kepalanya, Aila tampak berbeda dari biasanya.


Memakaikan mahkota dan Dress putih pada Aila memang ide dari Oma, mengingat gadis itu tidak pernah menjalani sebuah pernikan yang seperti seharusnya.


Melihat Istrinya berbalut gaun putih, Leon terpesona untuk sesaat. Entah kenapa ada rasa penyesalan di hatinya sekarang. Ia menyesal karena belum bisa memberikan pernikahan yang selayaknya pada Aila.


"Kita sudah menikah, Kenapa berpenampilan seperti itu," ucap Leon pura-pura tidak suka.


"Kenapa? apa tampak jelek?" tanya Aila sembari melihat penampilannya sendiri. Sebenarnya ia merasa aneh, namun Oma bilang ia harus mengenakan pakaian itu jika ingin menjadi pengiring pengantin.


"Ya, kau terlihat sangat aneh," cibir Leon.


"Benarkah?" Aila mulai meragukan penampilannya sendiri sekarang. "Harusnya, aku tidak menuruti oma tadi," gumamnya.


Leon mengulas senyum sebelah, meskipun jauh di dalam hatinya, istrinya terlihat cantik. Sangat cantik malah.


Saat sedang asyik mengomentari penampilan Aila, Lucas memanggil Leon untuk membicarakan tentang sesuatu. Pria itu segera menuju kedalam ruangan dimana Lucas berada.


Aila yang menunggu di luar sendirian, merasa gatal untuk tidak menyentuh mawar yang berada di taman tidak jauh dari tempatnya berada. Gadis itu segera memencet tombol otomatis pada kursi rodanya agar berjalan dan membawanya kearah bunga-bunga itu berada. Dua hari tidak bertemu dan menyapa mawar-mawarnya membuat Aila merasa kangen dengan bunga berduri itu. Meskipun terdengar aneh, tapi Aila memperlakukan semua bunga yang ia tanam seperti seorang teman yang bisa diajak berbicara.


Saat tengah menyapa bunga-bunga mawarnya, Ia melihat seorang pria berjas abu-abu tengah memetik mawarnya tanpa seijin darinya. Jika dilihat dari penampilannya, pria itu terlihat seperti seorang tamu undangan. Tapi kenapa bisa masuk kedalam kastil kedua? bukankah pesta pernikahan berada di kastil utama?


Aila merasa Pria tersebut mencurigakan, Ia pun segera menjalankan kursi rodanya berbalik menuju ruangan dimana suaminya berada. Namun, aila mengurungkan niat saat lelaki itu mengambil lebih banyak bunga mawar dengan kasar. Mengabaikan rasa takutnya, Aila mendekat kearah pria tersebut.


"Hentikan itu!" teriak Aila yang membuat pria berjas Abu-abu tersebut menoleh.


"Apa yang anda lakukan? Anda menyakiti mawar-mawarku tuan," protes Aila tidak suka. Pria itu memetik asal mawarnya bahkan yang masih kuncup dan muda sekalipun.


Pria berjas Abu-abu itu menoleh dan nampak sangat terkejut melihat Aila. Saking terkejutnya, pria itu sampai menjatuhkan tangkai-tangkai mawar yang di petiknya. Dengan langkah lambat, Pria itu terlihat mendekat kearah Aila. Setelah benar-benar dekat, pria itu membungkuk dan mengamati wajah Aila lebih dekat.


"Kau..." ucapnya dengan nada bergetar lalu menyentuh pipi Aila.


Aila yang kaget dengan kelakuan kurang ajar pria itu, langsung menepis kasar tangannya. Anehnya, pria tersebut tidak merasa tersingung ataupun kaget, ia malah tersenyum.


"Akhirnya, aku menemukanmu!" la melanjutkan ucapan sembari menatap kedalam mata Aila. Tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


Karena gerakan pria itu, selimut yang menutupi pangkuan Aila melorot.


Wajah pria itu terlihat terkejut melihat kaki dan betis Aila penuh dengan luka lebam. Menyadari tatapan pria itu, Aila segera membungkuk untuk mengambil selimutnya yang terjatuh, namun pria itu sudah lebih dulu mengambilkannya untuk Aila. Ia bahkan meletakkannya dengan hati-hati ditempat semula.


Tepat saat itu, Jimy dan beberapa bodyguard lain datang mendekat, membuat Pria berjas abu-abu itu segera membenarkan posisinya.


"Anda tersesat?" tanya Jimy dengan nada dingin.


"Yah, begitulah.." jawab pria tersebut dengan santai.


"Silahkan kembali keruang pesta atau kami terpaksa membawa anda," ucap Jimy memperingatkan.


Pria itu tertawa kecil, "Tenanglah Tuan, aku akan kembali, lagi pula aku hanya tersesat," ucapnya, kemudian berbalik melangkah menuju kastil utama. Namun sebelum berbalik, pria itu sempat menatap Aila dan tersenyum padanya.


"Anda tidak papa nona?" tanya Jimy setelah pria berjas abu-abu itu pergi.


Aila mengangguk, "aku baik kak, jangan khawatir.." jawab Aila menenangkan Jimy.


"Anda tidak boleh keluar sendiri nona, jika tuan tahu hal ini, saya pasti akan langsung ditembak," Jimy mendorong kursi roda Aila sembari terus mengomel, sementara Aila malah menanggapinya dengan kekehan.


Sejak kejadian itu, Aila terus kepikiran dengan sikap pria yang ditemuinya tadi. Entahlah, ia merasa pria itu tidak asing. Seperti ia pernah melihatnya disuatu tempat, tapi dimana?


Bersambung....


Makasih banget buat kalian yang masih mau baca cerita ini. Bukan ingin curhat, tapi asal kalian tahu, tetap menulis cerita ini sangat berat buatku. Butuh mood yang benar-benar bagus untuk melanjutkannya. Karena seperti yang kalian tahu, aku masih berduka dengan kepergian suamiku.


Yang merasa semakin lama cerita ini semakin membingungkan, jan diterusin gaes, entar pusing. Hahahaha


Untuk semua yang sudah kasih semangat, aku sangat menghargainya, Tulus dari hatiku yang terdalam, semoga kalian tetap bahagia.


Love u gaess..