
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 57
**Insiden**
Cinta terkadang datang dengan membawa luka,
Namun, luka itulah yang akan membuatmu dewasa.
****
Entah sudah berapa lama, Aila berada dalam pelukan Lelaki yang teramat di cintainya itu. Yang ia tahu, Leon terus menciumi kepalanya sembari terus memeluknya dengan erat. Meski luka hatinya belum sembuh sepenuhnya, namun melihat lelakinya begitu rapuh, membuat egonya luruh seketika.
Aila sadar, tidak ada seorang pun di dunia ini yang luput dari kesalahan, tidak juga dirinya. Akan sangat egois jika ia terus menghukum seseorang, sedang orang tersebut telah menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Bukankah setiap orang berhak diberikan kesempatan kedua?
Namun bukan itu masalahnya, sudah sangat lama Aila memaafkan kesalahan Leon yang melukai hatinya, hanya saja ia yang masih belum bisa membuka hati dan menyembuhkan luka itu sendiri. Trauma yang memang sudah sejak kecil ada di dalam dirinya, luka karena dibuang oleh orang tuanya, harus ia rasakan lagi karena Leon juga membuangnya.
Membuat Aila kini lebih sulit untuk membuka hati pada siapapun, meski tidak di pungkiri, hanya ada Leon dihatinya. Namun perasaan akan traumanya mengalahkan segalanya.
"Tuan?" ucapnya lirih.
Leon tidak menjawab, lengan kekarnya masih melingkar kuat pada kepalanya. Ia bahkan bisa mendengar dan merasakan detak jantung pria itu berdegup begitu keras dan kencang.
"Aku tidak bisa bernapas." lanjut Aila.
Seketika Leon mengurai pelukannya.
Untuk sesaat mereka saling menatap dalam diam.
Namun, tiba-tiba Aila menarik tangan dari dada Leon dan kembali menunduk.
Seperti tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Aila, Leon kemudian meraih dagunya, hingga mereka kembali bertatapan. Manik mata kopi susu itu, kini menatapnya sendu.
"Apa yang harus ku lakukan agar kau kembali, hem?"
Aila memalingkan muka lalu menarik napas panjang.
"A__aku hanya takut terbuang." ucapnya, kemudian menunduk.
Leon tercenung untuk sesaat, sebelum pria itu menegakkan tubuhnya kembali dan mengusap wajahnya kasar.
Jangan kata-kata itu lagi!
"Dengar! aku..."
"Aku tidak mau kembali di buang untuk yang ketiga kali, aku takut...aku.."
Aila tidak mampu meneruskan kata-katanya, dadanya terlalu sesak bahkan untuk sekedar bersuara. Tepat saat itu Leon kembali memeluknya dengan erat.
"Aku tidak pernah dan tidak akan pernah membuangmu, meski itu, tiga tahun yang lalu." ucap Leon parau, hatinya begitu sakit karena Aila menganggap jika dirinya telah membuangnya. Jika saja Aila, tau bagaimana ia menjalani hidup selama tiga tahun ini.
"Jangan pernah katakan itu lagi!"
Aila terdiam dalam isaknya, haruskah ia kembali percaya pada singanya?
"A__aku butuh waktu." ucap Aila di sela isaknya.
"Aku tau,"
Leon mengurai pelukannya dan mencium keningnya dalam.
Tiba-Tiba Leon mengangkat dan menggendong Aila seperti kanguru. Sontak Aila menjerit kecil, dan mengalungkan tangannya pada leher Leon karena kaget. Mereka saling menatap untuk sesaat. Sebelum..
Cup!
Leon mencium pipi Aila yang sudah basah oleh air mata.
Untuk sesaat Aila diam, karena tidak tahu harus berbuat apa. Matanya terlihat mengerjap beberapa kali saat Leon terus menatapnya, membuat wajahnya yang memerah menjadi semakin terlihat lucu.
Cup!
Lagi, Leon kembali mencium pipi Aila yang lain.
Aila terlihat ingin mengucapkan sesuatu, namun Leon lagi-lagi mencium pipinya, tidak hanya itu, ia mencium keningnya, hidungnya, kedua matanya berulang-ulang tanpa memberi kesempatan Aila untuk berbicara.
Aila memalingkan wajahnya, namun tangan Leon mencengkram tengkuknya dengan kuat. Akhirnya Aila pasrah dan membiarkan pria itu menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajah.
Leon terus melakukannya hingga beberapa saat, persis seperti seorang ayah yang gemas melihat bayinya, begitu kira-kira keadaan mereka.
Kesal karena Leon tidak juga berhenti, ia kemudian menggigit ujung hidung pria itu. Itu sangat mudah untuk di lakukan, mengingat hidung Leon yang tinggi menjulang.
Seketika Leon menyudahi kegiatannya dan menjauhkan wajahnya.
"Sakit, yang!" ucapnya sembari meringis, ingin sekali ia meraba hidungnya, namun kedua tangannya sedang memegang Aila, ia tak mau melepas gadis itu barang semenit.
"Salah sendiri, kenapa terus mengendusku!" ucap Aila kesal.
Sedang Leon malah tertawa mendengar ucapan aneh Aila.
"Turun," Pinta Aila.
"Tidak sayang,"
"Turun!"
"Tidak!"
Aila mendengus kesal, sedang Leon terkekeh karenanya.
"Cium!" perintah Leon.
"Gak,"
"Cium!"
"Gak!
" Cium!"
"Gak!"
"Mau turun?"
"Gak! __eh?"
Leon kembali tertawa,
"Iya," Aila mengoreksi.
Leon menggeleng sembari tertawa kecil. Kemudian ia menatap Lekat pada wajah gadisnya. Sudah begitu lama ia tidak melihat wajah itu sedekat ini.
Ingin sekali meraup dan mencumbunya hingga tidak tersisa sesenti pun dari mulutnya, namun apa daya, ia masih harus bersabar. Bukan itu yang terpenting, ia harus mendapatkan hatinya terlebih dahulu. Bukankah wanita akan menyerahkan segalanya jika hatinya sudah lebih dulu di dapatkan?
Melihat cara Leon menatapnya, Aila hapal apa yang sedang diinginkan pria itu. Ia segera memalingkan muka, menghindari bertemu tatap. Aila belum siap terhayut dalam tatapan memabukkan itu.
Terdengar Leon menghela napas, mungkin ia kecewa? entahlah..
"Kau tidak ingin tahu kabar oma?"
Seketika jantungnya berdegup kencang mendengar kata oma disebut. Nama yang paling ingi ia temui lebih dari siapapun, namun ia belum siap untuk menampakkan wajahnya di depan wanita itu.
"Oma se.."
Aila langsung membekap mulut Leon dengan telapak tangannya.
"Jangan gunakan nama oma, untuk menipuku!" ucap Aila.
Leon terhenyak dengan tindakan Aila, tiba-tiba saja ia mendapat ide. Kenapa tidak terpikir olehnya? jika oma bisa menjadi senjata pamungkas?
Leon tersenyum licik, ketika Aila mulai melepas tangannya.
"Aku hanya memberi tahumu sayang, jika oma.."
Lagi lagi Aila membekap mulutnya sembari melotot.
Leon yang gemas dengan sikapnya, menggigit kecil telapak tangan Aila, membuat gadis itu seketika menarik tasngan dan mengaduh.
"Sakit!"
"Salah sendiri, makanya dengarkan orang bicara..."
"Gak!"
Leon menyeringai, "Kenapa? kau merasa bersalah karena meninggalkannya begitu saja?"
Aila diam.
"Setelah kau meninggalkanya, oma..."
Kali ini, Aila tidak membekapnya dengan telapak tangan namun dengan ciuman. Entah dapat ide gila dari mana, Aila malah melakukan hal yang paling ingin ia hindari dengan Leon.
Tidak ingin membuang kesempatan, Leon mengeratkan pelukannya dan cengkraman pada tengkuk Aila, ia membalas ciuman itu dengan panas, tepat saat Aila akan menarik bibirnya.
Aila terdiam dan terhayut untuk sesaat, merasakan betapa Leon membelai mesra lidah dan menyapu seluruh inci rongga mulutnya dengan lembut.
Ia tidak hanya terhayut, namun juga ingin tenggelam menikmatinya.
Aila tersadar saat pria itu mulai meremas pinggulnya, dengan cepat ia menggigit bibir Leon, membuat pria itu menghentikan kegiatan panasnya.
Namun, ketika Aila melepasnya Leon kembali menyerbu bibirnya tanpa ampun. Tidak punya pilihan, meski berontak ia tetap kalah tenaga, akhirnya ia kembali menggigit bibir Leon sekali lagi. Pria itu memang berhenti, namun ketika Aila melepasnya, ia kembali melakukannya. Menciumnya!
Merasa kesal karena di permainkan, Aila membalas ciuman Leon dengan lebih panas.
Akhirnya apa yang terjadi, sudah bisa dintebak. Mereka saling *******, memagut, membelai menumpahkan kerinduan yang memuncak selama tiga tahun dengan panas.
Namun tepat saat itu, suara tembakan terdengar menggelegar di dalam hotel, membuat Aila dan Leon menghentikan olah raga panas itu. Mereka terlihat saling menatap karena terkejut, hingga tembakan kedua kembali terdengar. Leon buru-buru menurunkan Aila dan mengambil senjatanya dari laci nakas.
Namun Aila lebih dulu menarik kemeja Leon, ketika pria itu hampir melangkah.
"Aku ikut,"
"Bahaya, sayang!"
"Aku takut,"
Leon diam sejenak, terlihat berpikir, sebelum akhirnya menarik lengan Aila.
"Janji, tetap di belakangku!" perintahnya.
Aila mengangguk. Mereka akhirnya keluar dari kamar, tepat saat itu Davin dan beberapa bodyguardnya terlihat berlari kearahnya.
"Ada apa?!" tanya Leon.
"Maaf, tuan. Terjadi keributan di lantai satu."
"Apa molek?" tanya Leon.
Molek adalah sebutan rahasia untuk semua musuh mereka.
Aila mengerutkan kening, siapa molek?
"Tidak tuan, tidak ada hubungannya dengan kita."
"Lalu?"
"Buronan narkoba yang kebetulan menginap di hotel kita. Tapi polisi sudah menanganinya, tuan."
Leon berdecak kesal, "Menganggu saja!" ucap Leon sembari melangkah menuju lantai satu. Sedang Aila hanya diam dan mengekor dari belakang.
Sampai di ujung tangga Leon berhenti, ia lebih memilih menjadi penonton disana. Terlihat sang buronan sudah terkepung, namun sepertinya polisi kesulitan untuk langsung membekuknya, karena ia merangkul seorang pegawai hotel sebagai sandra.
"Apa yang akan kita lakukan, tuan?" tanya Davin.
"Apa lagi? kita cukup jadi penonton Davin." ucap Leon.
Leon adalah tipe orang yang tidak mau ikut campur dalam bisnis orang lain, entah itu halal maupun haram, yang terpenting tidak mengganggu dan menyentuh bisnisnya.
"Ayolah, Davin. Kapan lagi kita melihat tontonan sebagus ini? lihatlah si tengik itu juga ada disana, kita lihat seberapa hebat polisi-polisi itu." ucap Leon santai yang langsung mendapat pelototan dari mata Aila.
Bagaimana bisa nyawa manusia menjadi tontonan bagi Leon?
"Apa sayang?" ucap Leon sembari tersenyum jahil kearah Aila. Ah, ia jadi teringat ciuman panas mereka.
Aila tidak menjawab, namun tatapannya tajam, setajam silet.
Leon mengerdikkan bahu, cuek.
"Jangan kemanapun, dan tetap di belakangku!" perintah Leon kembali mengingatkan.
Aila tidak menjawab dan malah mengerucutkan bibirnya, membuat Leon gemas.
Namun ia hanya bisa sabar, untuk kembali menerkamnya. Semuanya gegara insiden sialan itu.
Mereka terlibat negoisasi yang alot, sang buronan memberi penawaran akan melepaskan sandra jika ia di bebaskan keluar, sedang itu tidak mungkin bagi polisi. Saat sang buronan lengah, karena sandra menggigit tangannya, saat itu pula polisi langsung menembak kaki sang buronan, membuat ia tersunggkur dan dengan cepat polisi bisa membekuknya
Leon tertawa kecil,
"Kau lihat, Davin?"
"Ya, tuan."
"Dimana?"
"Arah jam 9, jam 3 dan jam 6." ucap Davin.
"Shit! matamu masih jeli, Davin!"
Davin diam.
"Kita taruhan?"
Davin masih diam, siap mendengarkan kegilaan bossnya.
"Arah jam 9, sasaran terkunci. Aku yakin positif. jika tidak, saham 40% kita di Royyal petrolium, mutlak milikmu." ucap Leon.
Davin tetap diam, jika jawaban sang boss positif berarti mau tidak mau ia harus negatif, meski ia tidak sependapat. Itu sudah menjadi aturan mutlak.
Davin hanya bisa mengiyakan saja, agar sang boss senang.
Sasaran arah jam 9, jelas Adimas, namun ia dan semua polisi di bawah sepertinya tidak menyadari jika sang buronan membawa tiga pegawal yang menyamar menjadi pengunjung hotel.
Sebagai seorang pembunuh bayaran yang bekerja bahkan sebelum lulus SMA, membuat Leon dan Davin, hapal di luar kepala, setiap gerik bahasa tubuh seseorang yang tidak beres.
Tepat saat sang buronan di bekuk oleh beberapa polisi, tepat dari arah jam 9, menembak tepat kearah Adimas yang sedang fokus pada proses penangkapan di depannya.
Door!
Satu tembakan tepat mengenai sasaran.
Namun bukan Adimas yang terkena tembakan, melainkan Nita. Gadis itu menyadari Adimas akan menjadi sasaran dan seketika langsung berlari memasang badan untuk melindungi Adimas.
Tubuh Nita tersungkur dengan darah mengucur. Ia terkena tembakan tepat pada bahu kanan bagian atas. Tubuh limbungnya langsung ditangkap oleh Adimas.
"MBAAAAK! MBAK NITAAAA!" Aila berteriak histeris melihat Nita tersungkur, lututnya lemas seketika. Ia ingin berlari kearah dimana tubuh Nita berada, namun Leon menahannya.
Aila terus meronta dan meneriakkan nama Nita. Namun Leon tidak peduli, baginya keselamatan Aila lebih penting.
Melihat Aila begitu histeris, mau tidak mau Leon harus turut campur. Ia sendiri tidak menduga jika Nita mau menggadaikan nyawanya untuk Adimas.
Wanita, benar-benar merepotkan!
Suasana ruangan menjadi semakin mencekam sekarang.
"Pegang nonamu, Davin! jangan biarkan turun apapun yang terjadi!" perintah Leon.
Davin mengangguk, sembari memegang kuat tubuh Aila, agar tidak berlari kebawah.
Leon kemudian menuruni tangga dengan kesal.
Sudah mengganggu olah raga panasnya, sekarang harus membuatnya bertambah kesal karena ia terpaksa harus turun tangan karena para polisi yang lambat bergerak.
"Aku tidak suka ikut campur urusan orang Lain, tapi kalian sudah membuat hotelku berantakan dan melukai kariyawanku." ucapnya tajam sembari mengacungkan senjatanya dan...
Dor! Dor!
Satu, dua, tiga sasaran yang tidak lain adalah pengawal sang buronan, tersungkur dengan senjata api terlempar tidak jauh dari tubuhnya, karena tembakan Leon.
Tenang, mereka tidak mati. Leon hanya melumpuhkan kaki dan tangannya saja. Ia tahu harus melakukan apa, ia tidak mau terlibat apapun dengan polisi desa, akan menjadi sangat merepotkan baginya nanti.
Semua polisi tidak terkecuali Adimas menatap takjub kearah Leon, bagamana bisa, pria itu menembak dengan santai bahkan dengan posisi berjalan?
"Kalian tidak tau? mereka semua adalah komplotannya!" ucap Leon sembari menunjuk ketiga orang yang baru saja ia tembak, membuat polisi bergerak cepat menangkap ketiganya.
"Kalian payah dan lambat!" cibir Leon kearah Adimas.
Adimas tidak menanggapi cibiran Leon, ia lebih fokus terhadap keadaan Nita di pangkuannya.
Setelah semua buronan dibawa keluar, Davin melepaskan Aila. Seketika gadis itu berlari kearah Nita yang masih belum kehilangan kesadarannya.
Aila mengusap wajah Nita dengan lembut, "Mbak bertahan ya, kita akan bawa kerumah sakit." ucap Aila.
"Rumah sakit terlalu jauh sayang, dia bisa mati kehilangan banyak darah sebelum sampai kesana." ucap Leon santai.
Aila terlihat berpikir, apa yang dikatakan Leon memang benar adanya. Mereka berada di tempat terpencil, bahkan jarak satu desa dengan desa yang lain pun berjauhan. Jika pun ada fasilitas kesehatan itu hanya sebuah klinik yang tidak memiliki peralatan yang memadai, lagi pula kebanyakan hanya ada bidan desa dan dokter jaga yang tidak setiap hari ada.
Aila berdiri kemudian mendekat kearah Leon.
"Tuan, tolong selamatkan mbak Nita. Aku mohon," ucap Aila memohon.
Ia tahu Leon punya banyak cara untuk menyelamatkan nyawa Nita.
Leon menyeringai, satu ide terlintas di kepalanya.
"Ayolah sayang, tempat ini terpencil. Apa yang..."
"Saya mohon, saya akan lakukan apapun asal mbak Nita selamat." ucap Aila memelas, sembari meraih tangan Leon.
"Benar? kau akan lakukan apapun?"
Aila mengangguk mantap. Urusan dengan Leon belakangan, yang penting Nita selamat.
"Ikut dengan ku ke Jakarta?"
Aila menghela napas, mencoba tetap sabar. Sedang ada orang sekarat tapi pria itu malah melakukan tawar menawar.
"Ya, tuan."
"Gadis, pintar!" Leon tersenyum sembari menjitak kening Aila, puas.
Sedang Aila hanya bisa meraba keningnya sembari mengurut dada. Sabar!
Bersambung....
Gess, Leon emang gitu dari orok_nye.
Gila, arogan, mau menang sendiri pantang mengaku salah, itu lah Leon.
Kalo berubah jadi lembut, jujur, baik hati, suka menabung dan tidak sombong, jadinya bukan Leon, tapi Bambang!
Bambang?
Iyes, noh anaknya pak sabar, kampung sebelah.