
Rindu yang kau cipta, kian menyesakkan dada.
Harus bagaimana?
Ada ribuan bintang, jarak di antara kita.
Namun aku sudah tidak bisa menahanya.
Jadi ku lepas saja, berharap akan sampai kepada pemiliknya.
Kamu!
Ya, kamu. Bisakah kau sambut rinduku?
Ting!
Terdengar bunyi pesan masuk dari WA di Hp Aila, namun sang pemilik gawai tidak terlalu memperdulikanya. Matanya seperti tersihir oleh rasa kantuk yang teramat sangat.
Baru satu jam gadis itu tertidur.
Ekor mata gadis itu melirik sebentar kearah jam weker diatas meja.
Ah, masih pukul empat pagi. Gadis itu kembali melanjutkan untuk merajut mimpi.
Ting! Ting! Ting!
Lagi lagi terdengar notifikasi pesan masuk dari WAnya, namun kali ini terdengar lebih beruntun.
Siapa yang mengirim pesan di pagi buta seperti ini?
karena penasaran, mau tidak mau Aila harus membuka matanya, untuk melihat siapa gerangan sang pengirim pesan.
Aila mengerutkan keningnya, hingga terlihat bertautlah kedua alis gadis itu.
Heran.
Nomor yang tidak dikenal.
Penasaran, Aila membuka isi pesan dengan perlahan.
Netra coklat gadis itu, seketika terlihat membulat sempurna. Gawai yang sedang ia pegang jatuh begitu saja, karena kedua tangan telah beralih menutup mulutnya.
Jelas terlihat raut kaget dari wajah Aila. Entah gambar apa yang sedang ia lihat dari layar gawainya. Tiba tiba saja pipinya telah basah oleh air mata.
Tidak menyerah,
Dengan menguatkan hati, gadis itu terus membaca pesan demi pesan yang tertulis sesudahnya.
Sakit...
Aila menekan dadanya sekuat mungkin, berharap rasa nyeri yang tiba tiba hinggap sedikit mengurai sesak.
Di pagi buta yang dingin, gadis itu terisak pilu sendirian.
************
Aila menyeret kakinya menuju ruang kelas. Matanya yang sembab masih terlihat jelas.
Ujian yang tinggal sehari lagi akan rampung, membuatnya harus tetap pergi kesekolah. Meskipun pikiranya sedang melayang entah kemana.
Di pojok ruang kelas, terdengar kasak kusuk dari segerombolan para cewek.
" Tuh kan, gue bilang juga apa? yang kemaren itu cuma adeknya or sepupunya kali." Ucap salah seorang dari mereka.
" Masa sama sepupu gitu banget? mau dong gue. Ha ha ha. "
" Biasa kali, gue sama abang gue juga gitu sih. "
" Iya juga sih, gak cocok aja gitu. Tapi kalo sama Mbak Clara cocok deh, tingginya juga pas. " Timpal yang Lain.
Mendengar nama Clara disebut, Aila menajamkan pendengaranya. Karena penasaran Aila mencoba bertanya kepada salah satu temenya.
" Apaan sih heboh banget? " Tanya Aila.
" Elo pegang buku terus sih Ai, jadi gak updet kan."
Aila nyengir sembari menggaruk tengkukknya yang tidak gatal
" Ini lho...."
Tiba tiba Meli menarik tangan Aila dari belakang.
" Kasih tau gue, kisi kisi ujian nanti. " Ucap Meli terlihat masih kesal.
Aila tersenyum. Walaupun bahasa Meli terdengar memerintah, entah kenapa Aila malah senang. Ya, itu berarti Meli sudah mulai memaafkanya.
Aila kemudian memeluk sahabatnya itu.
" Apaan sih? minggir gak, engap gue. " Usir Meli sembari mengurai pelukan Aila.
Namun Aila malah semakin mempererat pelukanya.
" Aiiiiii. Sesek gue. " Teriak meli sok kesal.
Aila terkekeh. " Makasih ya, udah maafin gue. " Ucap Aila tulus.
" Mau gimana lagi, gue gak bisa benci sama Elo. " Ucap Meli acuh, tentu saja masih dengan gaya kesalnya.
Jauh didalam hatinya, Meli lega, Aila tidak tau berita yang lagi heboh antara Leon dan sang model internasional Clara monika. Meli gak mau sahabatnya itu kecewa jika melihatnya.
Aila lagi lagi terkekeh, namun hatinya lega kini. Meski masalah hubunganya dengan Leon banyak cobaan, namun hadirnya Meli membuatnya semangat kembali.
" Gila ya kak Leon? Baru kemaren heboh terlihat sama cewek, ee sekarang udah gandeng model cantik lagi. Emang dasar orang ganteng ya. " Ucap Cecil Tiba tiba.
Aila kaget mendengar ucapan Cecil.
Sedang Meli langsung nabok lengan sahabatnya itu. Emang dasar mulut ember gak pernah bisa diem
" Apasih? sakit tau. " Ucap Cecil kearah Meli.
Meli menempelkan telujuk pada bibirnya, menyuruh Cecil untuk diam.
" Apaan sih? " Cecil semakin tidak mengerti maksud Meli.
Aila tersenyum. Ia tau, Meli sahabatnya itu sedang menutupi sesuatu darinya.
" Kak Leon kenapa? " Tanya Aila kearah Cecil.
" Ini nih, udah gandeng cewek cantik aja. " Ucap Cecil sembari memperlihatkan sebuah artikel beserta foto foto Leon dan Clara dengan berbagai pose kepada Aila.
Meli hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Cecil emang gak peka, tapi bukan salah Cecil juga. Cewek itu emang gak tau kalo Aila pacaran sama Leon.
Aila terus menggeser foto foto tersebut kebawah, banyak dan berbagai pose. Namun, masih terlihat wajar lah. Aila menarik napas lega, setidaknya tidak ada foto yang seperti seseorang kirimkan ke WA nya di pagi dini hari tadi.
Foto Leon yang hanya memakai handuk dan sedang mengendong Clara dengan berbalut handuk pula.
Ah, lagi lagi perih di relung hatinya kembali terbuka.
Aila kemudian memeluk meli kembali.
" Tenang aja gue gak papa kok. " Ucap Aila.
Meli hanya bisa menghela napas lega, sembari mengusap punggung Aila.
Leon emang brengsek!
************
Di lantai 29 gedung GLOBAL CONSTRUCTION ENGGENERING, Leon sedang melakukan meeting dengan para pemegang saham.
Namun mata pria itu lebih fokus menatap layar Gawainya ketimbang materi meeting.
Sudah empat hari Leon berada di Shanghai, namun Aila tidak juga menghubunginya. Kenyataan bahwa Aila tidak merindukan dirinya, membuat Leon sangat kesal dan uring uringan sendiri.
Leon terlihat mengerutkan keningnya sesaat, ketika tanpa sengaja tanganya memencet tombol daftar panggilan masuk. Ada nama Aila disana. Gadis yang sebulan terakhir ini begitu menyiksa hatinya.
" Rapat selesai! bubar bubar! " Teriak Leon, sembari melangkah keluar dari ruang rapat.
Para pemegang saham saling bertatapan, sebelum akhirnya menarik napas lega. Tidak biasanya Leon mengakhiri rapat dengan begitu cepat, tapi itu baik buat mereka. Rapat semenit saja dengan CEO dingin seperti Leon membuat mereka sesak napas.
Leon kembali menatap layar gawainya dengan lebih teliti, pria itu kembali mengingat waktu ketika Aila melakukan panggilan.
Ketemu!
Itu adalah hari dan waktu ketika dirinya dengan para kru mengadakan makan bersama untuk merayakan keberhasilan syuting mereka.
Gawainya tidak pernah lepas dari tanganya, tapi kenapa ia tidak pernah tau jika Aila menelepon?
Ah, Leon ingat. Ia pernah menaruh Gawainya sesaat ketika hendak mengambil wine, dan saat itu hanya ada Clara. Apa Clara yang mengangkatnya? tapi untuk apa?
Panik. Leon kemudian menelepon balik Aila.
" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. "
Tidak menyerah Leon kembali melakukan panggilan, namun lagi lagi jawaban dari operator seluler yang ia dengar.
Kemana gadis itu? kenapa Hpnya dimatikan?
Entah kenapa, perasaan Leon tiba tiba saja menjadi tidak enak.
" Vin! Daviiiin! " teriak Leon memanggil sekertarianya.
" Iya tuan? " Jawab Davin, yang ternyata sudah dibelakangnya sejak tadi.
Gak usah teriak tuan, saya gak budek.
" Siapkan tiket penerbangan ke jakarta pagi ini. Kamu juga ikut saya. " Perintah Leon.
" Saya juga ikut tuan? "
" Iya, kamu ikut saya. "
" Terus siapa yang ngurus perusahaan tuan? "
" Hanya seminggu Davin! " Ucap Leon tegas.
" Baik Tuan. " Jawab Davin pasrah.
*************
Setelah keluar dari bandara, Leon segera menuju ketempat biasa ia latihan basket.
" Kita sudah sampai tuan. " Ucap Davin.
" tunggu disini sebentar, aku segera kembali. "
" Baik tuan. "
Leon kemudian melangkah masuk menuju tempat latihan.
Matanya menyapu seluruh ruaangan mencari sosok Niko.
Pria itu sedang beristirahat dipojok lapangan bersama anak anak yang lain. Sepertinya mereka baru saja selesai katihan.
" Udah selesai latihan loe? " Sapa Leon kearah Niko.
" Kemana aja sih loe? hampir dua minggu ngilang gitu aja. Dihubungin juga gak diangkat. " Tanya Niko kesal.
" Loe ikut gue sekarang. " Ucap leon sembari menarik baju Niko.
" kemana sih? "
" Ikut saja! " Perintah Leon.
" Gue ganti baju dulu kali. "
" Gak perlu. Cepetan. "
" Iya, iya." Niko menyeret kakinya dengan kesal mengikuti Leon dari belakang. Sahabatnya itu seperti punya magnet yang membuat semua orang mau menuruti perintahnya.
" Ayo jalan. " Perintah Leon kepada Davin ketika sampai di depan mobilnya.
Davin mengangguk. " Baik tuan. "
" Pakai bodyguard, loe sekarang? "
Leon tidak menjawab pertanyaan Niko.
" Hai Vin, lama gak ketemu loe. " Sapa Niko. Ya, Niko sudah tau kalo Davin adalah tangan kanan Leon.
Davin mengangguk hormat. " Senang bertemu dengan anda tuan. " Jawab Davin sopan.
" Loe masih kaku aja Vin. Heran, bos sama bawahan karakternya sama. Sama sama kaku. " Sindir Niko.
Pria itu kemudian masuk kedalam mobil mengikuti Leon. Mereka duduk di bangku belakang.
Davin tidak menanggapi ucapan Niko, wajahnya tetap datar seperti biasa.
Pria itu kemudian melajukan mobilnya.
" Loe kemana aja sih? tiba tiba ngilang gitu aja setelah buat kehebohan. " Ucap Niko.
Leon mengerutkan keningnya, tidak mengerti. " Kehebohan? maksud loe? "
Niko berdecak. " Jangan pura pura gak tau deh loe. belum juga hilang kehebohan tentang foto foto loe sama Aila, eh udah muncul aja foto foto loe sama Clara...."
Leon terperanjat, raut wajahnya jelas menyiratkan ketidak tauan. Pria itu kemudian menatap Davin lewat kaca spion dalam.
" Saya tidak tau tuan. " Ucap Davin yang tau maksud tuanya.
" Serius loe gak tau? " Tanya Niko.
Leon menggeleng.
Pria itu kemudian mengambil gawainya dan mencari berita seperti yang Niko bilang. Walaupun Leon sangat terkenal tapi pria itu jarang membuka medsos. Membaca gosip membuatmya sakit kepala. Pekerjaanya sebagai CEO dan pemain basket sudah membuatnya tidak punya waktu untuk sekedar berselanjar di jagat medsos.
Niko menggelengkan kepalanya heran. Beritanya udah sebegitu heboh, e si empunya berita malah gak tau?
Leon meletakkan gawainya, pria itu terlihat sedang memijit pelipisnya. Mencoba mengurangi pening yang tiba tiba datang menghampiri kepalanya.
" Terus kita mau kemana nih? " Tanya Niko.
" Ke Pelita Bangsa. " Jawab Leon santai.
" Ngapain? mau sekolah lagi loe? " Kekeh Niko.
Leon diam tidak bergeming.
" Jangan bilang loe mau ketemu Aila? " Selidik Niko.
" Dia gak angkat telepon gue. " Ucap Leon sembari memalingkan muka.
" Loe galau? " Ucap Niko menyelidik.
" Gak."
" Alah ngaku aja loe. "
" Ngapain gue galau? gue tuh kaya, ganteng, terkenal lagi. Ngapain gue galau hanya karena cewek pendek itu. " Ucap Leon gengsi.
Niko terbahak, tapi raut wajah malah menyiratkan hal yang sebaliknya.
*******
Mobil yang di tumpangi Leon sampai di depan gerbang sekolah Pelita Bangsa. Sekolah Elit yang juga tempat ia dulu dan sahabatnya sekolah.
" Turun Loe. " Perintah Leon sembari membuka pintu mobilnya.
" Males gue, entar dikerubungin anak anak SMA. "
" Terserah, kalo loe gak mau F12 Berlinetta. " Leon menyebutkan salah satu seri ferarri terbaru.
" Serius loe? " Ucap Niko antusias, kemudian buru buru keluar dari mobil mengikuti Leon memasuki gerbang sekolah.
Leon berjalan masuk kearah lapangan basket dimana banyak anak sedang berkumpul untuk melihat teman mereka bermain basket.
Salah satu siswa cewek yang mengenali Leon, segera berteriak.
" Hei lihat, itu kak Leon. Kak Leon ada disekolah kita. "
Tiba tiba saja satu sekolah menjadi begitu heboh karena kedatangan Niko dan Leon yang terkenal sebagai bintang basket tersebut.
Leon tidak memperdulikan mereka, matanya menyapu seluruh sudut sekolah. Aila tidak ada.
Gadis itu pasti ada didalam kelasnya.
Leon terus melangkah kearah kelas hingga matanya menangkap sosok Meli yang sedang duduk di bangku taman sekolah. Leon segera menghampiri gadis itu.
Melihat kedatangan Leon, Meli jelas terkejut. Gadis itu tau maksud kedatangan bintang basket tersebut.
" Mana Aila? " Tanya Leon to the point.
" Tauk. Gak masuk dia, sakit mungkin. Sakit hati. " Ucap Meli ketus.
Leon menghela napas, mencoba sabar.
Sejak Meli tau kalo dirinya dengan Aila pacaran, gadis itu memang terlihat tidak senang. Ditambah lagi sekarang sepertinya ia sudah membuat sahabatnya itu sedih, jadi ia harus tetap bersabar.
Leon tidak percaya begitu saja dengan ucapan Meli, Lelaki itu kemudian menatap kearah lantai dua dimana kelas Aila berada. Dari lantai dua sudah banyak Cewek yang menatapnya dari atas, Leon tidak peduli. Pria itu tetap nekat naik keatas walaupun disambut dengan teriakan histeris anak anak perempuan disana.
Aila bingung, kenapa mendadak sekolahnya begitu heboh. Gadis itu kemudian keluar dari kelasnya. Teman temanya pada menatap kearah lapangan di yang berada bawah.
" Ada apa sih? " Tanya Aila pada salah seorang temanya.
" Kak Leon dan kak Niko datang Aila, mereka kesini. " Ucap salah seorang temanya antusias.
Aila langsung membeku mendengar ucapan temanya. Gawainya sudah 3 hari ia non aktifkan. Jadi ia tidak tau jika lelaki itu sudah kembali. Tapi kenapa kesekolahnya? bukanya ia sudah tidur dengan Clara?
Setidaknya itulah yang Aila lihat dari foto foto yang dikirimkan kepadanya.
Benar saja Leon tengah menatapnya dari ujung lorong lantai dua. Tatapanya terlihat sangat dingin. Aila tau Lelaki itu jelas tengah marah. Tapi kenapa? bukankah seharusnya dia yang marah?
Tidak mau membuat kehebohan, Aila segera berlari kearah tangga untuk turun kebawah dan keluar dari sekolahnya.
Leon tidak tinggal diam, ia segera menyusul gadisnya itu turun kebawah.
Niko yang melihat Aila berlari keluar sekolah heran.
" Ai, tunggu! " Ucap Niko.
Namun Aila tidak mengindahkan panggilan Niko. Gadis itu terus berlari keluar dari sekolahnya.
" Cepat kejar gadis itu Davin. " Perintah Leon setelah sampai didalam mobilnya.
Tidak mau ditinggal, Niko segera menyusul Leon masuk kedalam mobil.
" Gadis yang mana tuan? " Tanya Davin tidak mengerti. Pasalnya banyak gadis yang bersliweran sejak tadi didepanya.
" Yang barusan lari Davin! " Ucap Leon kesal.
" Cewek yang gue panggil tadi Vin. " Niko berusaha menjelaskan.
Davin manggut manggut mengerti.
Jadi bosnya mengajaknya pulang ke indo hanya untuk menangkap seorang gadis SMA? apes banget lah!
tapi siapa gadis itu?
" Apa perlu saya panggilkan yang lain untuk mencari gadis itu tuan? " Tanya Davin.
" Gak perlu, kakinya pendek dia pasti belum jauh dari sini. "
Davin mengerutkan kemingnya tidak mengerti maksud tuanya. Tapi pria itu tetap menuruti perintah bosnya.
" Baik tuan. "
Niko hanya terkekeh melihat muka Leon yang terlihat begitu kesal.
Sejak kapan seorang Leon mengejar ngejar seorang gadis?
" Loe emang hebat Ai. " Gumam Niko menarik salah satu sudut bibirnya.
bersambung....