
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 62
**Permainan**
Leon menatap intens gadis yang tengah tertidur di pangkuannya. Dengan lembut pria itu menyibak rambut ikal yang menutupi dahi Aila. Sesungging senyum tercipta di sudut bibirnya, melihat ekspresi wanita yang tengah tertidur pulas di pangkuannya tersebut. Sesekali gadis itu terlihat menautkan kedua alis dan menggerakkan bibir bawahnya yang tebal. Dalam keadaan tidur pun Aila tetap tampak lucu di mata Leon.
Pelan ia menggerakkan jarinya menyentuh bulu mata Aila yang panjang dan tidak berbentuk itu. Menurutnya, bulu mata Aila lebih terlihat seperti sapu lidi.
Leon tidak habis pikir, bagaima bisa Aila tertidur pulas setelah ia mencumbunya dengan begitu panas? ia sendiri bahkan masih sulit menentralkan perasaannya meski aktifitas itu telah lewat lebih dari dua jam.
Ya, Aila tertidur hampir dua jam. Gadis itu bahkan tidak tahu sudah sampai Jakarta dan sekarang mereka sedang perjalanan menuju kastil.
Leon bisa menduga, jika semalam Aila pasti tidak tidur, karena membereskan rumah Nita.
Merasa terganggu karena sentuhan Leon, Aila terbangun. Gadis itu terlihat mengerjap untuk sesaat lalu menatap langit-langit atap mobil. Setelah nyawanya kembali terkumpul, ia baru menyadari jika dirinya tertidur di pangkuan Leon. Seketika gadis itu langsung bangun kemudian duduk. Wajahnya terlihat seperti orang bingung, sembari menatap suasana di luar jendela mobil.
"Sudah bangun?" tanya Leon.
"Apa kita belum sampai bandara tuan?" tanya Aila tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kita sudah turun dari pesawat dan sekarang sedang menuju kastil." jawab Leon santai.
"Kenapa anda tidak bangunkan saya, tuan?" tanya Aila yang menyadari jika tidurnya sudah terlalu lama.
"Aku sudah membangunkanmu, kau tidak ingat? kau tidak sadar aku terus menggendongmu kesana-kemari?" tanya Leon bohong. Sejujurnya, ia sengaja tidak membangunkan Aila, karena gadis itu terlihat begitu pulas membuatnya tidak tega untuk membangunkannya.
Aila tersenyum canggung, sembari menggeleng. " Tidak, tuan"
"Ya, tentu saja. Kau tidur seperti orang mati." gerutu Leon.
Aila nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf," ucap Aila.
"Ya, kau memang harus minta maaf. Tanganku pegal, pahaku juga pegal. Kau harus memijatku setelah sampai." ucap Leon pura-pura kesal. Padahal sebenarnya ia sangat menikmatinya. Selama Aila tidur, ia sudah mencuri ciuman gadis itu hingga beberapa kali. Entah kenapa, Leon gemas melihat bibir mungil itu.
Aila diam. Gadis itu terlihat menyesali kebodohannya, bisa-bisanya ia tertidur dengan begitu pulas saat perjalanan.
Bersamaan dengan itu, gerimis mulai turu dan tidak lama setelahnya berubah menjadi rintik hujan. Bias air yang membasahi kaca jendela menarik perhatian Aila. Entah karena cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi dingin atau karena saking antusiasnya, gadis itu menaikkan kakinya yang hanya memakai kaus kaki itu, kemudian mendekat kearah jendela mobil dan menempelkan tangannya.
Menciptakan embun berbentuk telapak tangan dengan jari-jari mungilnya. Membuat seulas senyum dari bibir mungilnya.
Leon menggelengkan kepala melihatnya. Aila tidak berubah, gadis itu selalu tertarik dengan hal-hal kecil.
Melihat posisi Aila yang bisa menaikkan kaki sembari memeluk lutut di atas kursi mobil yang begitu sempit, Leon jadi ingin mencobanya. Setelah ia mencoba, rasanya benar-benar aneh dan tidak nyaman. Bagaimana bisa Aila terlihat begitu nyaman? Ah, ia lupa, gadisnya itu bisa meringkuk di mana saja tanpa memakan tempat, mengingat tubuhnya yang mungil.
Gemas, melihat Aila larut dengan kesenangannya, Leon beringsut mendekat. Ia menaruh dagunya di atas kepala Aila sembari memeluk gadis itu dari belakang.
Aila tidak berontak, namun gadis itu menghentikan kegiatannya membuat cap telapak tangan pada kaca jendela mobil.
"Anda ingin mencobanya tuan? ini menyenangkan." ucap Aila tanpa berbalik.
"Gak, itu kegiatan anak-anak." cibir Leon.
Aila tidak menjawab cibiran Leon dan hanya menggerakkan bahu sesaat.
Namun, tidak lama setelah itu, Leon melakukan seperti apa yang Aila lakukan. Menempelkan telapak tangan kekarnya pada kaca jendela, membuat Aila tersenyum geli. Ia hapal kebiasaan Leon, Pria itu selalu mencibir di awal dan melakukannya di akhir.
Leon menarik telapak tangannya dan meninggalkan jejak yang ukurannya dua kali lipat dari tangan Aila.
"Waw! tanganmu besar, tuan." ucap Aila takjub. Manik mata kopi susu itu membulat sempurna diikuti mulut yang terbuka mendongak menatap sang singa.
"Tanganmu yang terlalu kecil, bodoh!" cibir Leon sembari menoyor kepala Aila dengan telunjuknya.
Aila mendengus sembari melihat telapak tangannya sendiri yang ia rasa biasa saja. Gadis itu berpikir, tangan Leonlah yang terlalu besar.
"Dasar, raksasa!" gumam Aila pelan.
"Kau bilang apa, hem?" tanya Leon sembari menyeringai.
"E__engak ada, tuan." ucap Aila mengoreksi.
"Awas jika kau berani mengejekku, kau akan rasakan hukumannya nanti malam!" bisik Leon sembari menggigit kecil telinga Aila.
Aila mengeliat karena geli.
"Seperti telapak tanganku, punyaku juga dua kali lebih besar dan akan membuatmu kesakitan. Jadi bersiaplah!" lanjut Leon dengan senyum nakalnya, membuat Aila langsung melotot dan salah tingkah.
"Anda mesum, tuan!"
Leon terkekeh, "Aku serius sayang, jadi jangan menangis jika dia datang."
Aila memalingkan muka, mendengar ucapan mesum dari Leon membuat telinga dan wajahnya merah seketika. Namun sedetik kemudian, ia bergidik ngeri sendiri, jika membayangkan Leon akan menerkamnya. Dulu ia pernah memegang senjata milik suaminya yang besar itu dan ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya jika benda itu memasukinya.
Melihat seberapa panas cumbuan Leon terhadapnya tiga hari ini, tidak dipungkiri jika hal itu akan segera terjadi.
Leon menarik dagu Aila untuk menghadapnya, lalu menatap manik mata gadis itu lekat.
"Aku pengen, yang. Boleh kan?" tanya Leon.
Aila diam, kemudian menunduk.
"Malam ini, boleh kan?" kejar Leon.
"Aku takut, ditinggal lagi seperti waktu itu." jawab Aila sendu.
Leon meraih dagu gadisnya kembali, kemudian mengecup keningnya singkat.
"Tidak akan lagi. Aku janji." ucap Leon serius.
"Waktu itu, anda juga juga berjanji akan segera kembali, tapi..."
"Akan kubuang ponselku malam ini, ok?" potong Leon cepat.
Aila diam, hatinya masih terasa begitu perih mengingat malam pertama mereka yang gagal total.
Jujur ia ingin percaya sepenuhnya, namun ada beberapa hal yang masih membuatnya meragu.
"Kalo perlu kita pergi ketempat dumana tidak ada seorangpun, agar tidak ada yang mengganggu." lanjut Leon.
Meski tiga tahun lalu ia juga sangat serius, namun kali ini, ia akan melakukan apapun agar Aila kembali percaya padanya.
Aila masih diam sebelum akhirnya ia kembali mengangkat wajah dan menatap prianya lekat.
"Boleh aku bertanya, tuan?" ucap Aila.
Leon menghela napas, menanti datangnya sebuah tanya yang mungkin akan sulit ia jawab.
"Tanyalah,"
"Aku dengar Alea masih disini, lalu kenapa anda menginginkanku?" tanya Aila, ia ingin sebuah kepastian saat ini juga.
"Menurutmu?"
Aila diam, gadis itu terlihat berpikir. Helaan napas berat dari mulutnya sudah cukup menjadi jawaban. Seberapa lama ia mencoba berpikir dan mencari jawaban, toh ia tidak menemukannya, selain...
"Jika anda menginginkan kami berdua, berarti anda serakah." ucap Aila akhirnya.
Leon menggeleng sembari tersenyum getir, Aila ternyata tidak memahami dirinya.
"Serakah?...aku memang lelaki brengsek, suka bermain wanita. Tapi aku tidak menanam benihku di sembarang tempat. Kau tau kenapa?" Leon terlihat menarik napas dalam, "Karena aku hanya ingin satu wanita yang menjadi ibu dari anak-anakku. Kau tau siapa dia? dia itu kamu!" ucapnya tegas.
Hati Aila terasa disiram ribuan ton air es. Dingin, tapi juga membekukan mulutnya untuk sekedar berkata-kata.
"Aku tau, aku pernah melakukan kesalahan, tapi..."
Belum selesai ucapan Leon, Aila sudah membungkamnya dengan tangannya. Gadis itu terlihat menggeleng dengan tirta-tirta bening yang berdesakan di pelupuk mata, kemudian memeluk Leon erat.
"Aku mengerti, maaf aku hanya memastikan." ucapnya yang disertai isak kecil.
Leon menarik napas dalam lalu membelai dan mengecup kepala gadisnya lembut.
"Aku tau, kita akan temui dia segera." ucapnya.
******
Tidak terasa, mobil yang membawa mereka sudah sampai di depan gerbang utama kastil.
"Aku ingin turun disini," ucap Aila sembari mengurai pelukannya.
Leon menautkan kedua alis, " Disini? untuk apa?" Leon tidak paham maksud Aila.
"Aku ingin jalan kaki menuju kastil, boleh?" tanya Aila.
"Dari sini masih jauh sayang!" jawab Leon keberatan. Jarak gerbang utama dan kastil masih sekitar lima belas menit jika jalan kaki.
"Tidak masalah, boleh kaaan?" tanya Aila sembari memasang wajah sok imutnya.
"Tidak!"
"Aku mohon," Aila terus merengek.
"Masih jauh sayang,"
"Tak apa, boleh ya?"
Leon menghela napas, menyerah.
"Berhenti disini! nona kalian ingin jalan kaki." ucap Leon pada bodyguard yang sedang mengemudi.
"Baik, tuan."
Seketika mobil berhenti yang langsung disambut senyum ceria dari wajah Aila. Gadis itu langsung membuka pintu mobil namun sebelum turun ia berbalik dan mencium bibir Leon singkat kemudian keluar dengan tawa kegirangan. Meninggalkan Leon yang melongo demi melihat tingkah gadisnya. Entah apa yang di pikirkan mainannya itu, hingga ngotot ingin jalan kaki menuju kastil, padahal ia sendiri tidak pakai alas kaki.
Meski enggan, Leon akhirnya ikut keluar juga demi menyusul gadisnya. Aila terlihat berlari kecil menyusuri jalan yang setengah basah karena air hujan. Di sekitar jalan memang hanya terdapat pepohonan. Berbagai pohon besar di tanam di sana, seperti pohon trembesi, mahoni dan bahkan tabebuya pun ada. Di musim hujan pohon-pohon itu tidak berbunga, namun tetap saja terlihat asri jika di lihat. Sekitar kastil sengaja dibuat hutan buatan, orang yang tidak paham, akan mengira tidak ada bangunan megah di dalamnya, karena tertutup oleh pohon-pohon yang tinggi dan rapat.
Melihat tuan dan nona muda mereka turun, seketika puluhan bodyguard pun ikut turun dan berjalan di belakang.
Tentu saja kecuali yang sedang pegang kendali kemudi. Mereka menjalankan mobilnya dengan pelan. Tidak terkecuali Davin pun segera ikut turun, meninggalkan Nita sendiri di bangku belakang.
Namun tidak dengan Alex, pria berkaca mata itu lebih memilih melanjutkan tidurnya dari pada mengikuti kekonyolan Aila.
Melihat sang nona tersenyum gembira sembari berlari kecil dan wajah cerah bossnya, ia tidak perlu bertanya kenapa mereka turun.
"Lihat Davin? dia seperti anak umur lima tahun yang sedang diajak tamasya." ucap Leon kearah Davin, ketika pria itu sudah berada tepat di belakangnya. Tidak henti-hentinya pria itu menggeleng heran melihat tingkah Aila.
Davin hanya menganguk tanpa menjawab.
Di tengah- tengah pepohonan yang rapat dan sunyi, bunyi gelang kaki Aila terdengar bergema, seperti mengusik ketenangan yang ada.
Mendengar lonceng itu, Leon segera berlari menyusulnya, namun belum juga mencapai Aila, Leon melihat gadis itu tetiba berhenti sembari mendongakkan wajah dengan mata terpejam. Membuat surai ikalnya tergerai sempurna.
Tidak ingin membuang kesempatan, Leon segera mengeluarkan ponsel dan memotretnya. Satu pose tertangkap di kamera.
"Cantik," gumamnya tanpa sengaja.
Leon segera mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan, hem?"
"Membuat kenangan yang indah." ucap Aila sembari tersenyum manis.
"Kenangan?"
"Ya, kenangan. Aku ingin membuat kenangan di setiap jengkal istana anda tuan." ucap Aila sembari melangkah. Sesekali gadis itu melompat menghindari genangan air hujan.
Leon memiringkan kepalanya. Aila gadis yang cerdas, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah isyarat, dan Leon hapal akan hal itu.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Jadi jangan membuat semua tempat penuh dengan jejak kakimu." sindir Leon. Ah, tidak ada yang tahu saja kenapa selama tiga tahun ini ia menutup kastil kedua. Tentu saja alasannya Karena setiap jengkal tempat itu mengingatkannya pada Aila dan itu membuatnya gila. Setiap penghujung kesunyian malam, hanya gelang kaki Aila yang terdengar di telinganya dan untuk melupakan semua itu, ia butuh minuman. Minuman yang pada akhirnya harus menjadi candu baginya. Hingga ia lebih memilih tinggal di apartemen ketimbang disana.
Aila menoleh, menatap Leon untuk sesaat dengan tatapan yang sulit di artikan, lalu berjalan mendekat kemudian naik diatas kedua sepatu prianya sembari melingkarkan tangan pada pinggang.
"Kalau begitu kenapa harus takut untuk membuat kenangan bersama?" ucapnya kemudian seraya mendongakkan kepalanya.
"Kenangan apa?" tanya Leon tidak mengerti. Namun ia tau pasti, gadisnya sedang mengajaknya bermain.
"Ciuman mungkin?" tantang Aila dengan nada menggoda.
Leon tergelak seketika mendengar ucapan Aila.
Entah apa kegilaan yang akan di mulai istrinya itu, namun ia siap untuk meladeninya.
Seringai terukir di bibir Leon, ia lalu menarik pinggang Aila merapat.
"Siapa yang memulainya? dan berapa lama?" tantang Leon balik. Jiwa arogannya seketika meronta, karena di tantang gadisnya.
"Anda tuan, tapi dengan satu syarat." ucap Aila.
Lagi-lagi Leon tergelak, kali ini lebih keras, membuat Davin dan puluhan bodyguardnya berhenti seketika.
"Baiklah, apa syarat dan taruhannya?" Leon semakin tertantang. Jika sebelumnya ia meremehkan gadis mungilnya itu, kini ia harus berhati-hati. Aila lebih licik ketimbang musuhnya sekalipun.
"Syaratnya HANYA CIUMAN, tidak boleh pegang yang lain, tidak boleh mencium yang lain, hanya BIBIR! dan taruhannya, aku mau kastil anda." ucap Aila penuh penekanan.
"Hanya ciuman?" Leon berdecak, " Itu sulit sayang!"
Aila benar-benar tahu kelemahannya sekarang.
Aila mengerdikkan bahu sekilas "Menolak berarti kalah." ucapnya santai.
"Hei! seorang Leon tidak pernah kalah sebelum berperang." sahut Leon tersinggung.
"Lalu?"
"Ok, ayo lakukan! jika kau menggigit akan ku beri hukuman yang mengerikan." ucap Leo sembari menyeringai tajam.
"Hukuman? apa?" Aila merasa kecolongan sekarang.
"Selama seminggu, kau tidak boleh berpakaian dan hanya berada di dalam kamar. Bagaimana?" ucap Leon tidak kalah licik.
Aila langsung melotot dan mencubit perut suaminya.
"Aww!" Leon meringis namun tetap pada sikap mesumnya.
"Bagaimana?" lanjutnya bertanya.
Aila terlihat diam berpikir, sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Baik, ayo kita lakukan!"
Leon menarik salah satu sudut bibirnya, tanpa Aila tahu, kastil itu memang sejak awal hanya untukknya. Namun, mengikuti permainan gila istrinya tentu tidak ada salahnya.
Bersambung....