Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 32


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 32


** Hadiah **


Aila diam, membiarkan tubuhnya diangkat keatas meja makan oleh Leon.


Gadis itu menunduk, menyembunyikan matanya yang sembab dan hidung yang memerah karena habis menangis.


Leon membungkukkan badannya hingga wajahnya tepat di atas kepala Aila. Ia meletakkan kedua tangan diatas meja, mengapit tubuh Aila sekaligus menjadi tumpuan badannya.


"Dengar! semua yang ku lakukan, demi kebaikanmu sayang!"


Aila mengangguk.


"Bagus, jika kau mengerti!"


Leon kembali menegakkan tubuhnya.


"Lihat lenganmu,"


Aila mengangkat lengan kirinya yang lebam.


Leon menyentuh lengannya dengan hati-hati.


"Sakit?" tanya Leon kuatir.


Aila menggeleng.


Leon menghela napas, ia tau gadisnya cukup keras kepala. Mau dipaksapun jika ia tidak mau mengatakkannya, gadis itu akan tetap bungkam.


Leon menarik kursi kemudian duduk tepat di depan Aila. Menatap gadisnya lekat. Hidung dan bibirnya memerah karena habis menangis, dan itu membuatnya semakin lucu saja.


"Apa yang kau beli, hem?" tanya Leon mengalihkan pembicaraan.


"Hanya kebutuhanku," jawab Aila singkat.


"Dimana?"


Mata Aila melihat kantung plastik berwarna putih kearah sudut meja dapur.


"Ambilkan itu!" perintah Leon pada Jimy.


Jimy mengangguk, " Baik, tuan!"


Jimy melangkah dan mengambil kantung kresek yang Leon maksud dan memberikannya pada Leon.


"ini, tuan!"


Leon menerimanya, pria itu kemudian membuka dan mengambil barang di dalamnya dengan asal.


Aila kaget, apa yang Leon lakukan?


Gadis itu buru-buru merebut kantung kresek yang sedang di pegang oleh Leon, ia malu jika pria itu melihat pembalutnya.


Namu, sepertinya Leon sudah meraih sesuatu dari sana.


"Jangan!" ucap Aila cepat.


"Apa? aku hanya ingin lihat apa yang kau beli,"


Aila diam, menyembunyikan kantung plastik di belakang badannya.


Leon memicingkan matanya, mengamati benda yang sudah berhasil diambil olehnya sebelum direbut oleh Aila.


"Apa ini?"


Sebuah kotak persegi panjang berukuran kecil. Pria itu kemudian membukanya, terlihat tube kecil sepertinya sebuah salep.


"Obat, " jawab Aila.


"Obat apa?"


"Untuk lukanya kak Jimy.."


Leon memicingkan mata, kemudian menatap Jimy.


"Kau membelikan ini untuknya?!" tanya Leon dengan nada tidak suka.


Aila gugup, apa yang harus dikatakannya? ia tidak mau jika nanti Leon salah paham.


"Kak Davin memukulnya. Bibirnya berdarah, aku kasihan." ucap Aila menjelaskan.


"Kau sendiri terluka, tapi masih memikirkan orang lain!"


Leon membukanya, kemudian mengeluarkan isinya dan memakaikannya pada lengan Aila yang memar dengan sedikit kasar.


"Auww!" Aila meringis, karena ulah Leon.


Leon tidak bergeming. Setelah selesai, pria itu kemudian melemparkan salep tersebut kearah Jimy.


"Itu untukmu!" ucap Leon dengan kesal.


Jimy menangkapnya dengan kikuk, ia tidak menyangka jika nonanya membelikannya salep untuk lukanya.


Leon kembali duduk di depan Aila dengan raut kesal.


"Kau membelikannya obat, dan tidak membelikanku apapun?"


Aila tergagap.


Ayolah! itu hanya sebuah salep, kenapa harus iri?


"Aku membeli sesuatu," ucap Aila.


"Untukku?!"


Aila mengangguk, " Ya"


"Apa?"


Aila meraih kantung kresek yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. kemudian mengeluarkan dua kaus yang ia beli secara tidak sengaja didepan apotik.


"Ini" Aila menyerahkan satu kaus kepada Leon.


"Baju?"


Aila mengangguk.


Leon kemudian membuka plastik pembungkus dan mengeluarkannya. Sebuah kaus berwarna putih dengan gambar Smile di depannya.


"Ini murahan, sayang!" cibir Leon tidak suka.


Aila diam, kaus itu jelas bukan seleranya. Mau bagaimana lagi? itu satu-satunya jalan agar pria gila itu tidak marah.


"Apa itu?"


Leon menunjuk satu kaus yang di oegang Aila.


"Kaus, punyaku."


Leon memicingkan matanya.


"Apa ini couple?" tanya Leon penasaran.


Aila mengangguk, malu.


Leon menarik salah satu sudut bibirnya, ada rasa bahagia disana. Di hatinya.


Leon merasa istimewa karena hadiah couple yang diberikan Aila, namun karena gengsinya ia tidak mau mengakuinya.


"Kwalitasnya jelek! kau tau? aku selalu memakai pakaian branded."


"Aku tau, akan ku belikan yang yang bagus lain kali." ucap Aila sedikit kesal, gadis itu kemudian mengambil kaus yang ia berikan kepada Leon dan memasukkanya kedalam kantung kresek kembali.


"Apa yang kau lakukan?!


" Kakak bilang, tidak suka kan?"


"I__itu, aku hanya bilang murahan! bukannya tidak suka," ucap Leon sembari memalingkan mukanya, malu, untuk mengakui bahwa ia menyukai hadiahnya.


Aila mengambil kembali kausnya dan memberikan kepada Leon.


"Pakaikan!" perintah Leon.


Aila tergagap, "Di sini?"


"Ya!"


Aila melirik kesamping kanan-kirinya, ada Davin dan yang lainnya.


"Abaikan mereka!" ucap Leon yang mengerti maksud Aila.


Leon bangun dari duduknya kemudian mendekat kearah Aila.


Aila kembali menghela napas, Leon selalu membuat posisinya sulit.


Ia kemudian mulai melepas satu-persatu kancing kemeja Leon dengan gugup, malu karena dilihat orang banyak.


"Kenapa gugup?!" tanya Leon.


Aila diam, bukankah jawabannya sudah jelas?


"kau sudah sering melakukan ini, bahkan mandi dan meng.."


Aila buru buru menutup mulut Leon dengan telapak tangannya, gasis itu malu jika ucapan Leon di dengar oleh semua orang.


"Apa?!"


"Jangan keras-keras, aku malu." ucap Aila sembari menundukkan wajahnya.


Leon terkekeh, "kenapa harus malu, sayang! kau istriku, bukankah memang seharusnya begitu, hem?"


"Kita belum menikah,"


"Kata siapa?"


Aila mengerutkan kening, laki-laki didepannya ini pasti benar-benar sudah gila.


"Bawa kemari dokumen itu, Davin!" perintah Leon kearah Davin.


Aila masih diam tidak mengerti dengan apa yang akan Leon lakukan, hingga Davin datang membawa sebuah map yang berisi sebuah dokumen.


"Ini, tuan"


Leon menerima map tersebut, dan membukanya.


Pria itu mengeluarkan buku nikah suami istri dan berbagai macam dokumen pernikahan.


Sontak saja mata Aila membulat, kaget.


"Bacalah!" perintah Leon sembari memberikan dokumen-dokumen tersebut kepada Aila.


Aila menerima dan mengamati satu persatu. Bagaimana bisa Leon sudah mendapatkannya jika mereka belum menikah dan melakukan janji suci?


"Ini Asli?"


Bisa saja kan, pria gila itu memalsukan dokumen pernikahan mereka?


"Perlu ku panggilkan orang DUKCAPIL?"


"Tapi kita belum membuat janji suci," Aila masih tidak percaya.


"Kita akan melakukannya, sayang! jika aku sudah tidak sibuk."


"Memang bisa, seperti itu?"


"Bisa! jika Leon Thomson yang melakukannya." ucap Leon menyombongkan diri.


"Ini aneh,"


"Tidak aneh, sayang! jika kau punya uang."


Aila diam. Benar juga! kenapa Ia lupa jika sedang berhadapan dengan seorang Leon?


"Secara hukum dan negara kau milikku! ingat itu!" seringai Leon sembari meraih dagu gadisnya, membuat Aila tergagap.


"Sekarang pakaikan!"


Aila buru-buru memakaikan kaus ditangannya kepada Leon.


"Bagaimana, Davin?apa cocok?" tanya Leon tentang baju barunya.


Ah, Leon memakai apapun juga terlihat bagus, sudah sempurna dari sononya.


"Cocok tuan" ucap Davin masih dengan wajah datarnya.


"Sekarang pakai punyamu!"


"Tapi aku sudah pakai baju,"


"Jangan membantah!"


Aila menghela napas, gadis itu segera melompat turun dan berjalan kearah kamar untuk berganti baju.


"Kalian istirahlah selama dua jam, setelah itu kita berangkat!" ucap Leon kepada anak buahnya.


"Dan kau," tunjuk Leon pada Jimy.


"Kali ini aku maafkan, tapi tidak lain kali!"


"Saya mengerti, tuan!" ucap Jimy.


Leon kemudian melangkah menyusul Aila masuk kedalam kamar.


Terlihat Aila mau melepas bajunya, tapi ia mengurungkan niatnya karena melihat Leon datang.


"Kenapa tidak jadi?" tanya Leon santai.


"Em_aku akan ke kamar mandi." jawab Aila sembari melangkahkan kakinya kearah kamar mandi, namun Leon keburu menarik tangannya.


"Eh?"


"Kenapa harus dikamar mandi? aku sudah melihat semuanya, sayang. Apa lagi yang mau kau sembunyikan?" goda Leon.


Aila memalingkan mukanya, menyembunyikan pipinya yang merona.


"Sini, aku pakaikan!"


Aila tergagap, isi otak Leon memang selalu mesum.


"A__aku bisa sendiri!" Aila berusaha melepaskan diri, namun Leon malah mengangkatnya dan mendudukkannya di atas nakas disamping tempat tidur.


Leon mencondongkan wajahnya kearah Aila, mereka saling menatap dalam diam.


Aila mulai resah, saat tangan Leon meraih ujung kausnya. Dengan cepat pria itu melepaskannya dari badan Aila.


Sekarang Aila hanya memakai tanktop saja, gadis itu memalingkan mukanya, antara gugup dan tidak tau harus berbuat apa.


Leon mendekatkan mukanya, hingga Aila bisa merasakan embusan nafas hangat menyapu wajahnya.


Dengan lembut, ia mulai mencium bibir Aila. Gadis itu masih diam tidak bereaksi, ia selalu kehilangan akal saat Leon melakukan itu.


Leon mulai menaikkan tangannya, meraih tengkuk Aila dan kembali


Mencium dan me***at bibirnya.


Saat napas Aila mulai tersengal, Leon melepas ciumannya. Ia tau gadis itu akan segera menggigit jika tidak dilepaskan.


"Bernapas, bodoh!" ucap Leon dengan kening masih saling menempel.


Aila terlihat ngos-ngosan, dan itu membuat wajahnya semakin menggemaskan. Tidak mau buang waktu, Leon mulai menyambar bibir Aila kembali, kali ini dengan lebih panas.


Merasa pegal karena terus menunduk, Leon mengangkat tubuh Aila menggendongnya seperti kanguru dan membawanya keatas ranjang.


Dengan mulut saling me**gut, Leon meletakkan Tubuh Aila di atas ranjang dan menindihnya.


Aila mulai tidak bisa mengendalikan diri saat bibir Leon mulai menyusuri leher dan dada sesekali menyesapnya.


Leon semakin menggila saat desahan kecil lolos dari mulut Aila. pria itu seketika bangun dan melepas kausnya. Melihat itu Aila tersadar telah melewati batasnya, gadis itu segera bangun.


"Jangan lakukan itu!" ucap Aila


"Nanggung!" jawab Leon singkat.


Aila buru-buru meraih selimut dan bersembunyi didalamnya.


"Hei! nanggung sayaaang!" Leon membuka selimut Aila dengan paksa, tapi gadis itu tetap mencengkramnya kuat-kuat dan bersembunyi di dalamnya.


Merasa frustasi, Leon mengerang kesal sembari melangkah meninggalkan kamar. Pria itu bahkan membanting pintu sebelum keluar. Aila masih saja menolaknya.


Aila membuka selimutnya, setelah mendengar suara langkah kaki Leon menjauh.


Gadis itu segera bangun dan mencari kausnya, kemudian segera memakainya.


Setelah berpakaian, Aila duduk termenung di sisi ranjang. Ia tau apa yang dilakukannya sudah benar, tapi melihat Leon marah, entah kenapa hatinya tidak tenang. Ada perasaan bersalah didalam dirinya.


Aila melamun beberapa saat, sebelum akhirnya bangun dan melangkahkan kakinya keluar kamar untuk mencari Leon.


Ah! ia pasti sudah gila karena melakukan itu, tapi hatinya benar- benar tidak tenang.


Aila mencari kesetiap ruangan, tapi pria itu tidak ada di manapun, hingga suara berisik dari pantulan bola basket terdengar oleh telinganya. Sepertinya Leon sedang bermain basket di lantai satu.


Aila segera melangkah kearah tangga dan menuruninya dengan cepat.


Benar saja, Leon sedang bermain baket sendirian disana. Aila merasa lega dan segera mendekat kearah Leon dengan menunduk, kikuk.


Leon menyadari kedatangan Aila dan melirik kearahnya sesaat, namun pria itu tetap melanjutkan permainannya.


Aila berdiri di pinngir lapangan dengan diam, tidak tau harus berbuat apa.


Sudah setengah jam, Aila berdiri tapi Leon tetap pada permainannya. Aila mulai resah karena di abaikan. Entah kenapa ia lebih memiih dimarahi ketimbang di abaikan. Dengan tangan meremas ujung rok, Aila berjalan mendekat kearah Leon.


Seringai kecil terlihat menghiasi bibir Leon untuk sesaat, sebelum ia kembali memasang sikap cueknya.


Sebenarnya Leon bangga Aila masih bertahan dengan prinsipnya, tapi entahlah, ia hanya kesal saja.


"Apa?" tanya Leon ketus, saat Aila sudah benar benar dekat.


"Kakak marah?" tanya Aila polos


"Menurutmu?!" ucap Leon masih dengan nada kesal.


"Marah," jawab Aila


Leon diam, kemudian duduk di lantai.


"Masukkan ini ke ring!" perintah Leon sembari melemparkan bolanya kearah Aila.


Gadis itu kaget namun berhasil menangkapnya.


"Ta__tapi aku tidak bisa bermain basket," ucap Aila sembari menunduk.


" Cepat!" perintah Leon tidak mau mendengar alasan.


Aila menghela napas, ia mulai menyesali tindakannya karena mencari Leon.


Aila maju lebih dekat ke arah ring, dan mulai memasukkan bolanya. Tentu saja hasilnya nol. Badannya pendek, bahkan bolanya terlihat lebih besar ketimbang tubuhnya.


"Terus! sampai masuk!" perintah Leon lagi.


Aila menurut, kali ini ia melompat sembari melempar bolanya. Hasilnya tetap saja sama. sia-sia.


Tidak menyerah Aila terus melompat berusaha memasukkan bolanya, sepertinya ia mulai menikmati hukumannya.


Gemerincing dari gelang kaki berbunyi, seirama dengan lompatan yang dilakukannya dan itu bagian yang paling Leon suka. Tiba-tiba saja suasana hatinya membaik.


Setelah beberapa saat tidak berhasil, Aila menyerah. Gadis itu duduk di lanti karena kelelahan dan Leon membiarkannya.


Tidak berapa lama, Aila bangkit berjalan lebih kebelakang tepat di belakang garis sembari membawa bolanya. Gadis itu bersiap akan melakukan tembakan.


Leon mengerutkan keningnya, "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Leon keheranan.


"Melakukan shoot three point!" ucap Aila mantap.


Leon langsung terbahak mendengar ucapan Aila. Gadisnya itu sepertinya sudah gila, melakukan slamdunk saja gak becus, mau shoot three point?


Aila tidak tidak bergeming, ia tau pria itu pasti sedang menertawakannya, tapi tidak ada salahnya jika di coba kan?


"Lakukan!" perintah Leon.


"Kalau bisa, boleh lakukan sesuatu?"


Leon kembali terbahak.


Sepertinya menarik jika sesekali mengajak anjing kecilnya itu bermain.


"Davin!" teriaak Leon.


Mendengar teriakan tuannya, Davin segera keluar dari kamarnya. Ya, ada tiga kamar di lantai bawah yang memang khusus untuk tangan kanannya.


"Ya, tuan?"


"Lihatlah, wanitaku akan melakukan three point!" ucap Leon sembari menahan tawanya.


Davinmengerutkan kening tidak mengerti tapi ia tetap menjalankan perintah tuannya.


"Apa imbalannya jika masuk?" tanya Aila.


Lagi lagi Leon kembali terbahak, hingga sudut matanya mengeluarkan air mata.


"Apa yang kau minta?" Leon mulai menanggapi Aila, tidak ada salahnya menuruti kegilaan gadisnya.


Aila diam, gadis itu terlihat berpikir.


"Jika itu tentang kembali ke kos, ke panti, apalagi kerumah hendra! aku tidak mengijinkannya! kau tidak boleh keluar lagi tanpaku!"


Aila segera menggeleng," Bukan itu,"


Leon mengerutkan kening," Lalu?"


"Aku, mau itu!" tunjuk Aila pada salah satu mobil sport milik Leon.


Leon terhenyak tapi tetap mengikuti arah permainan gadisnya.


"Kau bilang tidak suka?!"


Aila menggeleng," Sekarang, aku suka!"


Leon menyeringai," Baiklah! jika kau bisa melakukannya, dia milikmu!"


"Benarkah?!" ucap Aila antusias.


"Ya!" ucap Leon dengan mantap.


Aila mulai mengambil posisi, sebelum melakukan shoot, gadis itu memeluk bolanya sembari tertunduk dengan mulut komat-kamit seperti sedang berdoa.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Leon heran.


"Berdoa,"


Leon terkekeh, " Walaupun berdoa seribu kali, kau tidak akan bisa memasukkanya!" cibir Leon.


Aila tidak bergeming, dengan khidmat gadis itu berdoa.


Kemudian bersiap melakukan shoot.


Aila mulai melompat setinggi yang ia bisa dan mulai melempar bolanya.


Plung!


Ajaib! bolanya masuk.


Aila langsung menari kegirangan.


"Ye ye ye ye ye! yes, yes!" ucap Aila gembira gadis itu bahkan berputar putar dan melakukan lompatan kecil.


Sedang Leon terlihat speccles dengan mulut terbuka karena tidak percaya.


Davin yang terbiasa dengan wajah datarnya juga terlihat takjub.


Aila berlari kearah Leon, " Mana kuncinya?" tanya Aila dengan tangan menengadahkan tangan.


"Berikan Davin!" ucap Leon masih dengan raut tidak percaya. Bagaimana bisa?


"Baik, tuan" Davin masuk kesebuah ruangan kemudia kembali dengan kunci mobil yang di minta Aila.


"Ini, nona." Davin memberikannya kepada Aila.


Aila menerimanya dengan kegirangan.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang, hem?" tanya Leon penasaran.


"Aku ingin menggambarnya," ucap Aila santai.


"Menggambar?! itu lambo Aventador, sayang!" Leon tidak percaya dengan kegilaan gadisnya.


"Memang kenapa? dia milikku sekarang" ucap Aila mantap, gadis itu kemudian naik keatas, tidak berapa lama turun dengan membawa sesuatu ditangganya. Sebuah lipstik yang diberikan oleh Meri di depan meja riasnya.


Aila mulai mendekati mobilnya, mengamati untuk sesaat.


"Warnamu jelek! tapi tenang saja, aku akan membuatmu cantik sebentar lagi!" ucap Aila kepada mobilnya, kemudian mulai menggambar hello kitty di kaca depan mobilnya dengan lipstik yang ia bawa.


Leon meggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Lihat Davin! di ternyata lebih gila dariku!" ucap Leon pada Davin.


Davin mengulum senyum, tidak menyangka jikavAila benar-benar


melakukannya.


Setelah puas mengambar aneka kartun di hampir seluruh badan mobil, Aila berjalan kearah Leon. Gadis itu meraih tangannya kemudian meletakkan kunci mobilnya disana.


"Ambillah, aku bosan dan tidak tertarik lagi!" ucap Aila menirukan gaya Leon, kemudian berjalan naik keatas lantai dua meninggalkan dua orang dengan muka bodohnya.


Leon terbahak, sebelum akhirnya menyusul Aila yang tiba-tiba berlari.


"Jika tertangkap, awas kau!" ancam Leon.


Bersambung...