
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 24
** tentang rasa **
Leon menatap gadis yang sedang terisak sembari tertunduk didepanya. Diraihnya kepala gadis itu kedalam dekapanya, dengan lembut diciumnya pada puncak kepala.
Untuk sesaat ia biarkan gadisnya menumpahkan riak rasa disana. Setelah isaknya tidak lagi terdengar, Leon mengurai pelukannya. Pria itu kembali duduk diatas ranjang dan mendudukkan Aila diatas pangkuanya. Di usapnya pipi yang telah basah oleh air mata tersebut.
"Kangen, hem?"
Aila mengangguk pelan.
Leon tersenyum. Jelas ada yang sedang bermekaran di dalam dadanya, bunga bunga cinta bahagia. Pengakuan yang selalu ingin ia dengar dari bibir gadisnya, akhirnya terucap juga.
"Hem, kau mulai terpesona padaku?"
Malu malu, Aila menganggukkan kepalanya.
"Sudah ku bilang tidak ada yang bisa menolak pesonaku. Aku tampan, kaya, pintar dan terkenal." Ucap Leon bangga.
Aila diam, mendengarkan.
"Kau harus bangga menjadi pacarku."
Aila masih diam, membiarkan Leon dengan kenarsissannya.
"Cium,"
Aila tergagap.
"Sekarang?"
"Sekarang, sayang."
Dengan gugup Aila mendaratkan satu kecupan di pipi kiri Leon.
Cuupp!
Aila melakukannya dalam satu tarikan napas, gadis itu kermudian buru buru menundukkan kepalanya karena malu.
Leon menyeringai melihat kelakuan gasianya itu, membuatnya gemas dan semakin ingin menggodanya.
"Lagi,"
"Bukankah tadi sudah?"
"Yang ini sebagai hukuman, karena berani membuang jaketku."
Aila menghela napas panjang. Dengan tangan bergetar ia meraih pipi Leon untuk diciumnya, namun belum sempat kecupan itu mendarat tiba tiba Leon sudah memutar kepalanya menyambut bibir Aila, membuat bibir mereka bertemu dan menempel satu sama lain.
Aila membeku sesaat, matanya terlihat mengerjap berkali kali karena kaget.
Setelah sadar dari posisinya Aila segera mendorong dada Leon, namun terlambat. Tangan pria itu sudah berada pada tengkuk Aila dan menariknya kuat, sedang tangan lain berada di pinggang membuat Aila terkunci.
Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain menerima setiap perlakuan Leon.
Leon menyapukan bibirnya pada bibir Aila, hanya menyapukannya. Tidak berniat mengecup ataupun **********, membuat tubuh Aila menjadi panas dingin dibuatnya. Tiba tiba saja, ada gelenyar aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya.
Leon terus mengulangi perbuatanya. Menyapukan bibirnya, menyusuri setiap lekuk wajah Aila membuat surai tengkuk gadis itu meremang.
Aila memalingkan mukanya, menahan gejolak rasa. Ada yang begitu diinginkanya, namun entah apa. Aila sendiri tidak tau.
Leon menyeringai, ia tau gadisnya itu tengah frustasi. Aila Menginginkan lebih dari sebuah sentuhan, tapi Leon tidak ingin melakukanya. Ia ingin Aila sendiri yang memintanya.
"Ingin dicium, hem?"
"Gak." suara Aila terdengar serak.
"Ayolah sayang, kau menginginkanya. Mintalah, akan ku lakukan untukmu."
"Gak."
Leon berdecak kesal. Sudah jelas Aila ingin dicium olehnya, namun masih saja mengelak.
Apa Aila tidak tau? bahwa Leon juga tengah mati matian menahan gejolak rasa yang kian menggelora.
Aila tiba tiba melompat dari pangkuan Leon, kemudian berdiri dengan kikuk.
"Aku akan memasak." Ucap Aila sembari buru buru meninggalkan kamar.
Sepeninggal Aila, Leon mengerang sembari mengacak rambutnya kesal. Lagi lagi, Aila menolaknya.
************
Aila berdiri di depan tungku, sembari mengusap dadanya. Debaran jantungnya berloncatan seperti ingin keluar. Berdekatan dengan Leon selalu membuatnya hilang akal.
Aila berjalan kearah kulkas, membukanya kemudian berjongkok disana.
Gadis itu berjongkok cukup lama didepan kulkas dengan pintu yang masih terbuka. Hawa sejuk yang keluar dari kulkas membantu mendinginkan wajahnya yang terasa panas sejak tadi.
"Apa yang anda lakukan nona?"
Aila terkejut, dan segera menoleh kearah sumber suara.
"Anda siapa?" Tanya Aila. Ia tidak tau jika ada orang lain dirumah Leon.
"Saya Davin, nona. Saya sekertaris tuan Leon." Jawab Davin memperkenalkan diri, sembari membungkuk hormat. Sepertinya Aila tidak menyadari jika tadi mereka sudah bertemu di dalam mobil.
"Sekertaris?" Aila heran, ia tidak pernah tau jika Leon punya sekertaris. Pria didepannya itu, lebih mirip seorang model ketimbang sekertaris, dan juga bukankah Leon sudah punya menejer?
"Iya, nona."
Nona? siapa yang dia maksud?
"Nama saya Aila. Panggil saja begitu, saya orang biasa kok." Ucap Aila keberatan jika dipanggil nona.
Ayolah, kata 'nona' terdengar menggelikan ditelinga.
"Tidak, nona. Anda akan menjadi istri tuan Leon, jadi sudah seharusnya saya memanggilnya begitu." Ucap Davin sopan.
Istri? entah kenapa mendengar kata itu, hati Aila merasa berbunga bunga.
"Apa panggilan menjadi begitu penting kak?"
"Davin, nona. Panggil saya Davin."
"Tapi, kakak lebih tua dari saya kan?"
"Anda akan menjadi majikan saya, nona. Mohon jangan mempersulit posisi saya."
Aila menghela napas, merasa heran. Pria didepanya itu seperti kanebo kering, benar benar kaku. Yah, sebelas duabelas dengan tuanya.
"Berkas yang ku minta sudah kau bawa, Davin?" Tanya Leon kepada Davin.
Entah sejak kapan pria itu tiba tiba sudah berada di depan mereka.
"Sudah, tuan."
"Bawa ke ruang kerjaku." Perintah Leon, sembari melangkah kearah ruang kerjanya. Sebelum membalikkan badan, Leon sempat melihat Aila memalingkan muka, ketika mata mereka tidak sengaja bersitatap. Gadis itu terlihat masih malu dengan kejadian tadi.
"Lihat aja, malam ini gak bakal gue lepasin." Gumam Leon sembari menyeringai.
Aila menghela napas lega, setelah Leon meninggalkan dapur. Ah. Jantungnya belum siap, jika harus berdekatan dengan Leon lagi setelah apa yang pria itu lakukan tadi.
Aila menepuk kedua pipinya, menyadarkan diri. Ia harus segera memasak.
Dengan sigap, gadis itu menyiapkan semua bahan yang akan dimasak.
Seperti biasa Aila akan memasak makanan kampung saja, mau bagai mana lagi? hanya itu yang ia bisa.
Menit berikutnya, gadis itu sudah terlihat sibuk dengan kegiatan memasaknya.
"Hem, masak apa Ai?" Ucap Niko yang tiba tiba sudah berada di belakang Aila.
Aila terperanjat kaget, gadis itu kemudian segera berbalik.
"Kakak mengagetkanku!" Pekik Aila.
Dan Niko malah terkekeh, karena berhasil mengerjai gadis itu.
"Aku kira kakak sudah pulang,"
"Gue latihan basket dibawah." Ucap Niko sembari mengambil Air putih dari dispenser yang berada disamping Aila.
Pria itu kemudian duduk di kursi makan yang mejanya menyatu dengan dapur.
Diam diam, Niko menatap Punggung Aila dari belakang. Gadis itu tengah sibuk memasak. Aila terlihat begitu sederhana, tapi kenapa bisa mengambil hati kedua sahabatnya sekaligus.
Sebenarnya apa yang mereka lihat dalam diri Aila?
"Ai,"
"Hem."
"Setelah lulus, Meli mau nglanjutin sekolah model di paris. Loe udah tau?"
"Udah." Jawab Aila singkat, tanpa mengalihkan perhatianya dari penggorengan. Menjadi model internasional memang sudah menjadi cita cita sejak kecil bagi Meli.
"Kenapa?" Tanya Aila kearah Niko.
"Kita udah putus." Jawab Niko santai. Pria itu terlihat sedang memainkan gelasnya yang sudah kosong.
Walaupun Niko mengatakanya dengan santai, tapi Aila bisa melihat ada gurat kesedihan disana.
Jujur, Aila tidak kaget mendengar mereka putus. Aila sudah pernah bertanya dengan rencana Meli ke Paris sebelumnya dan gadis itu lebih memilih melanjutkan sekolahnya ketimbang hubungannya dengan Niko.
Aila menghela napas, tidak tau apa yang harus dikatakan untuk menghibur kejasih sahabatnya itu.
Hening.
Tidak ada percakapan diantara keduanya, mereka larut kedalam pikiran mereka masing masing.
Drrrrrrt! Drrrrrrrrrt!
Gawai Aila bergetar. Gadis itu segera meraih Hpnya. Ada satu notifikasi pesan di WA nya, dibukanya pesan tersebut. Pesan itu masih dari nomor yang sama.
Aila menarik napas dalam dalam, mempersiapkan diri mungkin saja isi pesannya tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Benar saja, pesan tersebut berisi foto foto Leon dengan para wanita yang berbeda beda. Ada yang berambut pirang, bermata sipit bahkan dengan yang berkulit eksotis pun ada. Sepertinya mereka semua seorang model.
Aila segera meletakkan gawainya ketika mendengar sup yang dimasaknya mendidih.
"Dari siapa?" Tanya Niko, yang melihat raut wajah Aila tiba tiba berubah setelah membuka Hpnya.
"Hanya spam." Ucap Aila singkat.
Niko tidak percaya dengan ucapan Aila, pria itu segera meraih gawai Aila yang letaknya tidak jauh darinya.
Aila mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Niko, gadis itu segera barbalik.
Aila melihat Niko sedang memegang Hpnya.
"Kakak tidak sopan! membuka Hp orang tanpa permisi." Ucap Aila sebal.
Niko terkekeh mendengar ucapan Aila.
"Gue berani taruhan, loe bakal bugil lagi di tepi jalan. Ha ha ha."
"Ngapain?"
" Lha, bukanya kalo marah loe kaya gitu?"
"Aku gak marah tuh,"
"Alah, bohong loe. Kemaren loe marah, pas Leon sama Clara?"
"Karena wanita itu mencintai kak Leon."
"Kau sudah tau?"
"Hanya orang bodoh yang tidak tau kak."
Ah, Niko lupa jika gadis didepanya ini sangat pintar.
"Mereka semua juga sama Aila, mereka tergila gila sama Leon. Loe pikir kenapa mereka mau dikelonin gitu aja? mereka semua model internasional Ai,"
"Mereka hanya terobsesi bukan mencintai kak. Tidak papa kak Leon tidur dengan seribu wanita, tapi tidak dengan yang mencintainya."
Niko takjub mendengar jawaban Aila, ternyata gadis sederhana didepanya ini penuh dengan kejutan.
Entah kenapa, Niko jadi penasaran dengan Aila.
*************
Leon terlihat sedang sibuk membaca tumpukan laporan di demeja kerjanya.
Banyak kertas berceceran dimana mana. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Ruang kerjanya sudah mirip kapal pecah saja.
"Saya sudah mendaftarkan pernikahan anda, tuan."
Leon mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan wali dari nona Aila, tuan?"
"Siapa lagi kalau bukan wali hakim, dia yatim piatu Davin."
"Apa nyonya besar tau tentang rencana anda, tuan?"
"Oma tidak tau Davin, dan jangan memberitahunya. Aku yakin, Oma tidak akan membuat semuanya menjadi mudah, dan itu akan merepotkan."
"Saya mengerti, tuan."
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan dari luar pintu, ruang kerja Leon.
"Masuk!" Perintah Leon.
Terlihat Niko masuk keruangan Leon, pria itu kemudian mendudukkan dirinya diatas sofa.
Leon menatap sekilas sahabatnya itu, raut wajahnya terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Berhenti menatap istriku Niko." Ucap Leon tanpa mengalihkan pandangan pada kertas kertas di depannya.
"Cih, kau bahkan belum menikahinya Leon,"
"Akan segera ku nikahi, Niko."
" Kau serius?"
" Menurutmu?"
"Ayolah, Leon. Dia belum dewasa."
"Dewasa bukan tentang umur Niko, tapi tentang sikap."
"Kau sudah melupakan Lea? aku kira karena nama mereka sama, kau jadi menyukai Aila." Tanya Niko.
"Dia sudah hilang dari hatiku Niko, dia sudah pergi.." Jawaban Leon terdengar mengambang.
Ya, Leon pernah sangat menyukai Alea, gadis keturunan Amerika dan indo. Itu terjadi ketika mereka sama sama kuliah di harvard university.
Entah kenapa gadis itu tiba tiba menghilang, terdengar kabar jika Alea pergi dengan kakak tirinya. Banyak yang bilang jika mereka punya hubungan.
Ah, Leon sudah tidak ingin mengingatnya Lagi.
"Kau masih sangat menyukainya, Leon."
Leon tidak menjawab Pertanyaan Niko. kenyataanya ia masih berharap untuk bisa bertemu kembali, walau hanya sebagai teman.
"Apa kau kesini hanya untuk membual?"
Niko terkekeh mendengar ucapan Leon, ia tau sahabatnya itu masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya.
"Kau serius untuk keluar dari basket?" Ucap Niko mengalihkan pembicaraan.
"Ayolah, Niko. Basket bukan tujuanku, dan kau tau itu."
"Yeah, aku tau itu. Tapi tim tidak akan menarik tanpamu, Leon."
"Bilang saja, jika aku yang terbaik."
"Sombong." Cibir Niko.
Kenyataanya memang benar, tanpa Leon tim Niko seperti harimau kehilangan taring. Sejak awal basket hanya sebuah iseng bagi Leon, dan Niko sudah tau itu. Disaat orang lain mati matian untuk bisa masuk tim nas, Leon dengan mudah bisa memasukinya. Tidak hanya itu, ketika semua impian pebasket ingin masuk NBA, Leon malah menolaknya ketika mereka menawarinya untuk bergabung. Itulah yang selalu membuat Niko iri. Yang sulit baginya, menjadi mainan bagi Leon.
"Aku harus fokus pada perusahaan, Niko."
"Aku tau itu."
Hening.
Mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
Sesekali Niko menatap kearah Davin yang tengah sibuk menatap layar Laptopnya. Manusia satu itu seperti tidak terusik oleh keadaan disekitarnya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan Clara?" Ucap Niko, ia tau jika Leon tadi mendengar pembicaraanya dengan Aila ketika didapur.
"Aku sedang memikirkanya,"
"Kau sudah memilihnya, jadi jagalah dia."
" Aku tau."
Niko berdiri dari duduknya, Kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Leon.
**********
Aila sudah menyelesaikan masakanya, tapi sepertinya semua orang masih didalam ruang kerja Leon.
Aila berpikir untuk memberitahu mereka, atau makanannya akan segera dingin.
Aila melihat Niko keluar dari ruang kerja Leon.
"Aku pulang dulu Ai,"
"Kakak tidak makan dulu?"
" Leon tidak suka berbagi jika tentang kamu Ai," Jawab Niko sembari berlalu.
Aila mengerutkan keningnya, tidak mengerti. Berbagi apa? Kan hanya makanan?
Tok! Tok! Tok!
Aila mengetuk pintu ruang kerja Leon.
"Masuklah!"
Aila masuk kedalam ruang kerja Leon, gadis itu sedikit berjinjit karena banyak kertas bertebaran dimana mana.
Leon terlihat sedang duduk diatas karpet dengan laptop diatas meja. Pria itu berpindah tempat karena mejanya penuh dengan tumpukan file.
"Em, makanannya sudah matang." Ucap Aila.
Leon hanya mengangguk tanpa menatap Aila.
Aila menghela napas, sepertinya Leon sedang banyak pekerjaan. Aila berpikir segera keluar.
" Siapa yang menyuruhmu pergi?"
Aila menoleh kearah Leon. Memang apa yang akan ia kerjakan jika terus disini?
"Kemari!"
Aila menurut, walau tidak mengerti.
"Duduk disini," Leon menunjuk tepat disampingnya.
Aila menurut, gadis itu kemudian duduk disamping Leon.
Leon tersenyum, ia suka gadis penurut.
"Hari ini cukup Davin. Istirahatlah," Ucap Leon kearah Davin.
Bilang saja tidak ingin di ganggu, tuan.
"Baik, tuan"
Davin berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkah meninggalkan ruang kerja Leon.
Aila duduk dengan diam, sesekali matanya melihat kesana kemari mengamati ruang kerja Leon. Disebelah kiri terdapat perpustakaan mini, sedang disebelah kanan banyak berjajar medali dan piala.
Sepertinya hasil dari mengikuti banyak turnamen.
Bersambung.....
Maaaak, gimana kabar?
Lama gak ketemu ya maaak?
Di part ini, please jangan ada yang koment naxt next.
Aku rindu koment mu maaaak :-) :-) :-)