Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 44


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 44


**Ketakutan**


Leon duduk di kursi cafe dengan resah, dadanya berdegup kencang. Maski sekuat tenaga ia menutupinya, namun kegugupan terlihat begitu nyata di wajahnya.


Untuk pertama kalinya sejak Alea meninggalkannya, ia akan kembali mengetahui kabar tentang gadis itu. Beberapa kali mata birunya menatap kearah pintu masuk cafe, berharap orang yang sedang dinanti ada disana, namun hingga gelas ketiga whiskynya habis, Niko belum juga menampakkan batang hidungnya.


Sebelumnya mereka memang berjanji untuk bertemu di cafe ini, entah kenapa ia menyetujuinya. Pikirnya, ia hanya ingin tahu alasan Alea datang ke indonesia, itu saja.


Bagaimanapun ia pernah sangat mencintai gadis itu.


Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, seseorang menepuk bahunya dari belakang.


"Udah lama lo?"


Leon sangat mengenali suara itu, suara milik sahabatnya. ia segera berbalik dan segera ingin mengumpat, karena ia sudah menunggu dengan begitu lama. Namun saat sepasang netranya menangkap sosok Alea yang sudah berdiri tepat di belakangnya, membuat mulutnya terkatup rapat bahkan untuk sekedar mengumpat. Kekagetan jelas tergurat di wajahnya, namun dengan cepat ia menetralkan sikap dan menatap intens kearah gadis yang pernah mengisi harinya-harinya itu. Tidak ada perubahan yang berarti dalam dirinya, hanya saja ia terlihat begitu kurus sekarang. Mungkin benar, apa yang Niko katakan, jika Alea tengah sakit.


Namun, perasaan pernah dikecewakan dengan begitu dalam, membuat ia membuang semua kerinduan, Leon kembali dengan sikap dinginnya.


"Lama gak ketemu," ucapnya tanpa menatap kearah Alea, tangannya terlihat sibuk memainkan gelas dengan minuman alkohol di dalamnya.


Gadis itu tersenyum, Ia tidak menjawab pertanyaan Leon dan malah menarik kursi kemudian duduk disampingnya.


"Ambilkan untukku!" perintah Alea pada bartender di depannya.


Leon menoleh kearah Alea, mengerutkan kening sesaat, sebelum akhirnya mendesah pelan.


"Kau sakit! kenapa minum alkohol?" tanpa disadari, Leon menunjukkan perhatiannya.


Alea menatap Leon sesaat, sebelum selengkung senyum tercetak di wajah tirusnya. Leon masih sama seperti dulu.


"Kau masih begitu perhatian padaku, tapi kenapa tiba-tiba menikah dan melupakanku?" ucap Alea santai, tangannya meraih gelas dan mulai meminumnya.


"Sepertinya kau lupa, bukankah kau yang pergi meninggalkanku?!"


"Aku kira kau mengerti diriku, Leon." ucap ALea menatap lekat manik mata Leon.


"Kau pergi begitu saja dan sekarang menyalahkanku?"


Alea menggeleng, meraih gelasnya dan kembali meminumnya.


"Kau tidak salah, Leon. Aku yang salah."


"Bagus, jika kau mengerti." Leon kembali memainkan es dalam gelasnya.


Alea diam, memaksa senyum untuk menutupi lara di hatinya.


Untuk sesaat mereka saling diam, sibuk dengan pikiran masing masing.


Bunyi musik cafe terdengar menemani kesunyian diantara keduanya.


Tanpa mereka sadari Niko diam-diam sudah pergi meninggalkan cafe.


"Bisa kita kembali seperti dulu?" ucap Alea tiba-tiba membuat Leon menghentikan tangan dari gelas, namun tidak mengalihkan pandangannya.


"Kau tidak ada lagi di hatiku Lea, sudah ada orang Lain."


"Kau bohong Leon! kau masih mencintaiku!" Alea meraih tangan Leon, menggenggamnya erat.


Leon kaget untuk sesaat, kemudian menarik tangannya."Kau salah Lea, aku sudah menikah." ucap Leon sembari berdiri dari tempat duduknya.


Namun ketika ia hendak berbalik untuk melangkah, Alea menahannya dengan pertanyaan.


"Kau tidak ingin tau alasan aku pergi?"


"Tidak." Leon melanjutkan langkah, namun tiba-tiba Alea memeluknya dari belakang. Seketika Leon kaget dan berusaha melepaskan tangan Alea, namun gadis itu mempererat pelukannya.


"Aku sakit, Leon." ucapnya lirih.


Leon diam, menunggu ucapan Alea selanjutnya.


"Aku terkena kanker payudara saat itu dan aku tidak ingin kau tau. Itulah alasan kenapa aku pergi." Ucap Alea sembari terisak.


Seketika Leon kaget mendengar ucapan Alea, ia memutar tubuh dan meraih bahu gadis didepannya.


"Kenapa tidak bilang padaku waktu itu?!" tanya Leon tajam sembari menatap kearah Alea yang tertunduk.


"Aku tidak ingin membuatmu khawatir Leon, maafkan aku..."


Leon mengusap wajahnya kasar, tiba- tiba rasa bersalah memenuhi dadanya.


"Aku tau kau sedang ada misi penting saat itu, dan aku tidak ingin mengacaukan konsentrasimu." Alea melanjutkan ucapannya, sesekali tangan tirusnya menghapus air mata dengan punggung tangan.


Saat mereka berpisah dulu, Leon memang masih menjadi anggota black rock sebagai pembunuh bayaran, saat itu dirinya sedang mendapat misi untuk mencuri informasi penting sebagai agen rahasia sebuah negara.


"Kau tau? betapa hancurnya aku ketika kau pergi? apa kau tau bagaimana duniaku setelah itu? kau meninggalkan luka begitu dalam Lea!" Leon harus kembali mengingat masa lalunya yang selama ini berusaha ia kubur dalam- dalam di dasar hatinya fan kegetiran itu kembali tercipta.


"Maafkan aku...maafkan aku!" Alea kembali memeluk erat tubuh Leon, membenamkan kepalanya pada dada bidang yang selalu dirindunya.


Leon membeku, tidak tau harus berbuat apa. Kisah masa lalunya yang belum selesai kini kembali di saat ia sudah menikah dengan Aila.


Saat ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, Alea tiba-tiba limbung. Dengan cepat tangannya meraih gadis itu dan menopangnya.


"Kau tidak papa?!" tanyanya khawatir.


Alea menggeleng pelan." Hanya sedikit pusing." jawabnya pelan.


"Aku antar pulang!" tanpa mendengar jawaban Alea, Leon mengangkat tubuh Alea menuju mobilnya.


Leon bisa merasakan tubuh gadis itu sangat ringan karena begitu kurusnya tubuh Alea.


"Dimana kau menginap?" tanya Leon ketika mereka sudah didalam mobil.


"Di hotel Angsana." jawab Alea singkat, wajahnya terlihat begitu pucat.


"Aku antar kesana."


Leon kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak henti-hentinya matanya menatap kuatir kearah Alea yang tertuduk lemas di sampingnya. Bagaimana bisa ia melupakan wanita itu, Alea pernah mengisi hari-hari sepinya, menyemangatinya dan menemaninya saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya.


Sesampainya di hotel, Leon segera mengendong Alea yang masih terlihat lemas kedalam kamarnya.


Setelah menaruhnya diatas ranjang dan menutupinya dengan selimut, Leon berdiri, namun Alea segera meraih tangannya.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku!" ucap Alea mengiba.


Leon menarik napas dalam, menatap Alea untuk sesaat, tiba-tiba saja rasa iba datang menghampirinya.


Ia kemudian menarik kursi dan duduk disamping ranjang.


"Tidurlah, aku akan menemanimu."


Alea mengangguk sembari tersenyum, ia senang karena Leon masih mencintainya.


gadis itu kemudian memejamkan mata sembari menggenggam tangan Leon erat seakan tidak ingin melepas tangan itu lagi.


"Bagaimana sakitmu sekarang?" tanya Leon.


"Aku sudah lebih baik."


"Tapi kau terlihat pucat dan lemas."


Leon diam, hanya menatap Alea dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Aku tidak papa, tenanglah." ucap Alea yang mengerti kekhawatiran Leon.


"Kau memang bodoh." ucap Leon sembari mengusap kepala Alea yang rambutnya sudah mulai jarang, karena rontok akibat kemoterapi yang ia jalani.


Alea tersenyum, kemudian menegakkan diri.


"Jangan pergi, aku takut sendiri. Kau tau aku tidak punya siapapun disini." ucap Alea sembari memainkan tangan Leon.


Leon menghela napas, ia sangat tau keadaan dirinya yang sudah menikah, namun membiarkan Alea seorang diri membuatnya tidak tega. Ia kemudian mengangguk.


Seketika Alea tersenyum senang, ada bulir bahagia yang membasahi pipinya.


"Ada yang ingin ku tunjukkan padamu." ucap Alea.


"Apa?"


Gadis itu kemudian membuka kancing blues nya satu persatu, Leon kaget namun memilih menunggu apa yang sedang di lakukan oleh Alea.


Setelah semua kancing terlepas, ia kemudian melepas bluesnya dan menyisakan bra saja. Kemudian ia mengambil sebuah busa dari dalam Bra dan mengeluarkannya.


Leon terkejut, namun masih memilih diam, hingga Alea melepas bra yang di pakainya.


Buah dada yang pernah menjadi kebanggaan sebagai seorang wanita, kini hilang sudah. Dokter harus mengangkat keduanya, atau kanker itu akan menyebar keseluruh organ vitalnya. Ia tidak punya buah dada sekarang dan itu membuatnya menjadi tidak sempurna sebagai seorang wanita.


"Sekarang dada kita sama bukan? aku tidak perlu memakai bra lagi." ucap Alea mencoba tersenyum, menutupi kegetiran di dalam dadanya.


Seketika Leon meraih kepalanya dan memeluknya dengan erat. Selanjutnya yang terdengar hanyalah isak tangis dari bibir Alea. Ia menumpahkan segala rasa di dada lelaki yang begitu di rindukannya.


Tidak ada kata diantara keduanya, hingga tangis Alea mereda. Perasaan bersalah kini datang menghampiri Leon, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Alea melalui sakitnya seorang diri selama ini.


"Maafkan aku, kau harus melaluinya sendiri." ucap Leon penuh penyesalan.


**********


Aila masih terjaga ketika jarum jam menunjuk angka 23.30, sudah hampir tengah malam, tapi Leon belum juga pulang. Ia terlihat begitu resah, berkali-kali mencoba menghubungi suaminya, namun nomornya selalu tidak aktif.


Aila sempat bertanya kepada Davin, tapi pria itu hanya mengatakan bahwa suaminya masih berada di kantor karena banyak pekerjaan dan tidak akan pulang untuk malam ini. Aila mencoba untuk memahami, meskipun menurutnya ganjil. Leon tidak pernah menonaktifkan gawainya, tapi kenapa sejak tadi tidak bisa di hubungi?


Aila berusaha membuang semua pikiran negatifnya, mungkin benar kata Davin, suaminya sedang sibuk dan harus lembur.


Karena tidak bisa tidur, Aila berpikir untuk keluar sekedar mencari udara segar. Ketika melewati ruang makan, ia masih melihat Lisa disana. Gadis itu sepertinya sedang membereskan sesuatu. Aila segera menghampirinya.


"Ini sudah malam, kenapa kakak belum tidur?"


Lisa kaget dan segera menoleh, ia tidak menyangka nonanya belum tidur di jam selarut ini.


"Nona belum tidur?"


Aila tersenyum," Aku tidak bisa tidur, kak."


"Ingin saya buatkan sesuatu?"


"Tidak, kak. Terimakasih."


Aila kemudian menarik kursi dan memdudukkan dirinya disana.


"Kakak kenapa masih bekerja?"


Lusi tersenyum," Saya tidak bekerja nona, hanya tidak bisa tidur juga. Dari pada diam, saya mempersiapkan menu untuk besok."


Aila menganggukan kepalanya mengerti. Seharian tadi ia memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk ngobrol dengan adik suaminya itu dan sepertinya mereka cocok, sekarang mereka menjadi semakin akrab.


Merasa bosan disana, Aila mengajak Lisa untuk pergi ke taman dalam.


Awalnya gadis itu menolak, namun kemudian menyetujui ajakan kakak iparnya tersebut. Bagaimanapun mereka sama-sama terkurung di dalam istana mewah itu, sedikit menghibur diri mungkin tidak ada salahnya.


Ketika berjalan kearah taman, telinganya menangkap seseorang yang sedang berbicara di ruang bar. Ruang itu memang dekat dengan taman. ia segera memberi isyarat kepada Lisa untuk diam, walaupun tidak mengerti, gadis itu menuruti perintah Aila. Lamat-lamat, ia mendengar suara yang ia kenal itu milik Davin dan Serkan, salah satu teman suaminya sedang bercakap.


"Yang bener Alea datang?!" tanya serkan.


"Ya, makanya tuan disana sekarang. Alea sakit, katanya."


"Sakit apaan? tiba- tiba ngilang sekarang datang, terus sakit?"


"Aku gak tau pasti, tapi tuan bilang Alea kena kanker."


"Yang bener, vin?"


"Katanya sih gitu....entah kenapa firasatku gak enak."


"Gak enak kenapa?"


"Kau tau sendiri, tuan pernah mencintai Alea seperti apa? tapi sekarang tuan sudah menikah......Kedepan, firasatku buruk aja."


"Kamu bener Vin, tapi aku jadi ada peluang dapetin istri ungilnya itu kan, ha ha ha."


"Jaga ucapan mu serkan!"


"Bercanda, Davin. Aku ingin lihat Leon lebih condong kepada siapa, istrinya atau Alea."


"Entahlah, "


Mendengar pembicaraan mereka, seketika tubuh Aila terasa lunglai, namun sekuat tenaga ia menahannya agar tetap tegak. Ia tidak kaget mendengar nama ALea, namun mendengar kenyataan bahwa sekarang suaminya ternyata sedang bermalam dengan mantan kekasihnya membuat hatinya sakit, sakit yang tidak berdarah.


Melihat perubahan sikap Aila, Lisa jadi khawatir, meskipun ia tidak begitu paham mengenai pembicaraan kedua orang tersebut, namun Lisa paham itu bukan sesuatu yang menggembirakan.


"Maaf kak, aku ingin kembali ke kamar." ucap Aila.


"Tidak apa nona, mari saya antar."


Lisa mengerti apa yang sedang terjadi, tanpa bertanya ia mengapit lengan Aila, gadis itu tetiba saja lemas dan tidak bersemangat.


Aila terduduk lemas di samping ranjang, pikiranya berlarian entah kemana.


Bahkan ketika Lusi berpamitan, ia masih dengan lamunannya.


Kenapa ia baru tau, jika Leon pernah mencintai seorang wanita sebelum dirinya. Mereka sudah menjadi suami istri, namun ia tidak mengerti apapun tentang masa lalu suaminya. Ia terlalu sibuk menikmati kebahagiaan sehingga melupakan derita yang mungkin akan datang.


Aila menghirup udara dalam-dalam untuk menghalau sesak yang tiba-tiba datang, membuang semua pikiran buruknya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Ia menyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun hati kecilnya berkata lain.


Suaminya bahkan menonaktifkan ponselnya karena tidak ingin diganggu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?


Ia bingung, namun tidak tau harus bagaimana. Jika sebelumnya Leon selalu mengutamakan dirinya, sekarang ia lebih mengutamakan wanita lain.


Ia pernah dibuang oleh kedua orang tuanya, mungkinkah ia akan kembali dibuang oleh suaminya?


Perasaan takut tiba-tiba saja menghampirinya. Ia baru saja merasakan punya keluarga, akankah mereka kembali meninggalkannya?


Aila menangis. Ketakutan dari semua ketakutan di dalam dirinya adalah, perasaan terbuang.


Bersambung....


Jujur, aku nulis part ini begitu kesusahan karena perasaan aku sendiri lebih condong kepada tokoh utama, tapi sebagai penulis, kita gak boleh dong pilih kasih. Aku pengen semua karakter tokoh dalam cerita ini kuat, bukan cuma sebagai pencetus konflik terus hilang gitu aja.


Jadi, maaf jika tidak sesuai dengan apa yang kelen harapkan.


ini nulis juga sambil bombay gitu....hik hik hik