Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 78


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 78


**Raihlah bahagiamu sendiri**


Sembari mencabuti bulu beruangnya, manik mata coklat kopi susu itu, sedang menatap lalu lalang kendaraan pada jalanan di bawahnya.


Gadis itu menyandarkan kepala pada jendela, lalu sesekali menggambar kartun favoritnya. Beberapa kali sekumpulan staf wanita yang berada di meja sekertaris terlihat menatapnya dengan aneh, tapi gadis itu tidak peduli. Ia larut dalam dunianya sendiri.


Jika bukan menyandang istri seorang presiden direktur, Aila pasti sudah mendapat banyak cibiran merendahkan karena sikap dan penampilannya. Tapi, gadis itu sejak dulu memang tidak pernah memperdulikan omongan orang lain. Ibarat kata, anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Yang penting dirinya tidak pernah mengganggu ketentraman hidup siapapun.


Niko yang menyaksikan tingkah Aila hanya geleng-geleng kepala.


"Jangan mencabut bulunya sayang, dia akan kesakitan.." ucap Niko setelah ia berada tepat di depan gadis itu.


Aila diam dan hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Mencabuti bulu beruang.


"Sudah makan?" tanya Niko kemudian.


Aila menggeleng, lalu menegakkan tubuhnya.


"Lo sakit? pucat gitu?"


Aila masih diam, ia terlihat meletakkan beruang besarnya di kursi samping, lalu menatap sahabat suaminya tersebut.


"Gimana kabar Meli? dia udah pulang?" tanya Aila mengalihkan pembicaraan.


Niko mendesah, melipat kedua tangan di dada lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Gue juga gak tau, Ai..." jawabnya kemudian.


"Lah tadi kakak bilang?...Uh, dasar!" umpat Aila kesal. Gadis itu baru menyadari jika Niko membohonginya.


Niko terkekeh, namun sedetik kemudian raut mukanya terlihat serius.


"Gue denger dia udah punya pacar di sana," ucap Niko. Entah kenapa, Aila mendengar nada kekecewaan disana.


Aila menatap lekat wajah pria didepannya, "Bagus dong, komitmen kalian dulu kan emang putus baik-baik dan tetap bertemen," ucap Aila mengingatkan.


Niko tertawa masam, ia tahu jika Aila sedang mengejek keputusannya dulu untuk putus.


"Pasti kakak gak bisa move on," tebak Aila.


Lagi-lagi Niko hanya nyengir menanggapi ucapan Aila.


Kini Aila yang mendesah. Banyak orang yang terlalu berhati-hati dalam mengambil sikap. Hingga tanpa sadar, waktunya habis untuk berpikir dan lupa untuk bertindak. Saat sadar, semua sudah terlambat. Niko adalah salah satu dari mereka.


"Belum terlambat, masih pacaran juga kan? kalo emang kakak masih sayang, ya datengin, terus ungkapin." ucap Aila memberi saran.


Niko diam sesaat, mencerna ucapan Aila.


"Udah terlambat kali, Ai.." sahut Niko terdengar putus asa.


"Bukan masalah terlambat atau gak sih, kalo menurut aku. Tapi yang terpenting Meli tahu perasaan kakak," balas Aila.


Niko diam, menurutnya perkataan Aila ada benarnya juga. Lagi pula, selalu ada resiko dalam setiap keputusan, bukan?


Saat tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing, Aila mendengar dua orang wanita yang sedang asyik mengobrol melangkah mendekat kearah mereka. Aila mendongakkan kepala melihat siapa yang berani mendekati ruangan suaminya.


Seketika dadanya berdegup kencang ketika mengetahui siapa yang datang. Dua wanita yang tidak asing dalam ingatannya dan juga masa lalunya kini hadir di depan mata. Kedua wanita itu adalah Clara dan Alea. Mereka terlihat terkejut melihat dirinya berada di depan ruangan Leon bersama dengan belasan bodyguarnya. Aila bisa melihat, kedua tubuh wanita itu menegang.


Niko yang melihat perubahan raut wajah Aila pun ikut menoleh. Tanpa sadar pria itu memukul pelan meja didepannya. Kedatangan kedua sahabat wanitanya benar-benar pada saat yang tidak tepat.


Tiba-tiba atmosfer dalam koridor itu terasa mencekam. Jimy pun terlihat memasang sikap waspada, matanya menatap tajam tidak suka pada keduanya. Pria itu mengetahui persis derita nonanya sebab kedua wanita tersebut.


Meskipun cukup terkejut, Aila bersikap setenang mungkin. Jika hari ini adalah tiga tahun yang lalu, ia pasti hanya akan duduk diam menunggu cibiran. Tapi dirinya sekarang sudah jauh berbeda. Waktu tiga tahun mengajarinya untuk melindungi diri dan juga hatinya. Apapun yang sudah menjadi miliknya saat ini, ia berjanji untuk terus memeluknya, menggengamnya erat dan tidak akan ia lepaskan.


Gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari menatap tajam kearah keduanya.


Clara dan Alea terlihat kikuk untuk sesaat, namun kedua wanita tersebut tetap melanjutkan langkah seolah menantang pertengkaran.


Saat suasana sedang panas, Erik keluar dari ruang rapat. Melirik kearah Alea untuk sekilas lalu dengan cuek mendahuluinya dan duduk begitu saja di samping Aila.


"Hei, belikan aku makanan. Aku sangat lapar sekarang," perintahnya pada salah satu bodyguard Leon. Pria iru membuka dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan padanya.


"Kau sudah makan sayang?" tanyanya pada Aila.


Aila menggeleng.


"Kau ingin apa?" Erik kembali bertanya.


"Apa saja, yang penting pedas!" ucap Aila sembari menekan kalimat terakhirnya. Matanya masih menatap kearah kedua wanita yang sekarang sudah berada di depan sekertaris suaminya.


Erik mengikuti arah pandang Aila, pria itu kemudian tertawa kecil.


"Apapun sayang, yang penting bukan pistol.." sahutnya.


"Memang kenapa dengan pistol? aku ingin memainkannya sekarang!" balas Aila tajam.


Mendengar ucapan Aila, Erik menelan ludahnya kasar. Detik itu juga ia menyesali ucapan konyolnya.


Erik kemudian memberi isyarat pada Jimy dan semua bodyguard untuk menyembunyikan pistolnya.


Melihat Kedua ulat bulu penyuka suaminya itu tertawa bahagia dengan pegawai kantor yang lain, Aila tambah kesal. Staf wanita yang sedari tadi hanya diam melihatnya, seketika tersenyum ramah ketika Clara dan Alea datang. Satu kenyataan yang ia peroleh dengan ispeksi mendadaknya ke kantor adalah, Kariyawan suaminya sepertinya tidak terlalu menganggap dirinya. Dan yang kedua, suaminya dikelilingi wanita-wanita yang cantik, menawan dan wangi setiap harinya.


Hem..bukankah kenyataan itu memang sudah sejak dulu? kenapa ia baru menyadarinya sekarang?


Ayolah, kenapa hari ini perasaannya sangat sensitive?


Makanan yang dipesan Erik pun tiba. Entah berapa banyak yang dipesannya, meja didepan mereka bahkan tidak cukup untuk menampung makanan-makanan itu. Tanpa basa-basi Aila langsung membukanya, mendahului sang pemilik.


"Lapar?" tanya Erik pada Aila.


Aila mengangguk, "Sangat lapar," jawab sembari membuka semua bungkus menu yang ada. Gadis itu sedang memilih mana yang akan dimakannya.


"Makan yang banyak," ucap Erik sembari Mengelus kepala Aila.


Orang lain mungkin akan berpikir, sikap Erik terlalu berlebihan pada Aila, namun semua sahabat suaminya memang seperti itu dalam memperlakukan dirinya. Aila sudah terbiasa dengan semua ketidak warasan teman-teman suaminya.


Niko yang tidak ditawari pun ikut mengambil makanan di depannya. Ya, Erik Dan Niko memang sudah saling mengenal sebelumnya. Mereka memang sahabat lama.


Tidak jauh dari mereka, Clara Dan Alea menatap iri pada Aila. Wanita yang dulu mereka remehkan ternyata malah mendapat segalanya. Siapa yang tidak ingin bersanding dengan Leon? dan siapa yang tidak ingin mendapat perhatian dari sekumpulan pria keren idaman wanita yang sekarang sedang duduk bersama Aila?


Ya, mereka iri dengan cara sahabat Leon dalam memperlakukan Aila.


Aila makan ayam geprek sambel matahnya dengan sangat lahap. Hingga tidak menyadari suaminya sudah berdiri di depan mejanya dengan tatapan tajam.


"Pelan-pelan sayang," ucap Erik ketika melihat Aila makan seperti orang kesurupan.


Aila tidak menjawab, gadis itu terlalu menikmati makanannya. Namun ketika tiba-tiba mendengar deheman seseorang, Aila mendongakkan kepalanya. Ia melihat suaminya sudah berdiri dan menatap kearahnya. Prianya tampak keren mengenakan kemeja biru laut dengan lengan dilipat hingga siku, membuat tatoo naga berukuran kecil pada lengannya terlihat. Tatoo yang sama dengan desain gelang yang sedang dipakainya.


Aila hanya menatapnya sekilas, tanpa berniat menyapa lalu kembali melanjutkan menikmati makanannya.


Merasa diabaikan, Leon mendesah lalu mendudukkan dirinya di depan Aila. Kedua sahabatnya hanya menatap kasihan padanya, lalu kembali melanjutkan makan.


"Kenapa kau disini?" tanya Leon kepada Niko.


"Memberi istrimu hadiah, ketika menikah dulu aku belum memberinya hadiah," jawab Niko sembari menunjuk boneka disamping Aila.


Leon langsung menendang kaki Niko, namun pria itu sempat mengelak, sehingga hanya menyenggol sedikit.


"Apa salahku? lagi pula dia suka,"


"Kau konyol!"


Niko hanya mengangkat bahu, kemudian melanjutkan menikmati makanannya.


"Hem,"


"Apa semua laki-laki menyukai wanita cantik seperti mereka?" tunjuk Aila pada sekumpulan wanita di meja sekertaris. Termasuk Clara dan juga Alea. Erik menoleh kearah para wanita itu, begitupun dengan Leon. Melihat Clara dan Alea juga ada disana, ia mulai paham arah pembicaraan istrinya dan kenapa bersikap cuek padanya.


"Tentu sayang..mereka indah bukan?"


Aila langsung mendesah kecewa. Memang apa yang ia harapkan dari mulut pengagum wanita seperti Erik?


"Tapi...kurasa tidak semuanya, " ucap Erik kemudian.


Aila menoleh, menunggu ucapan Erik selanjutnya.


"Nyatanya suamimu lebih menyukaimu," lanjutnya sembari tertawa.


Aila langsung melotot lalu mencubit lengan Erik karena kesal, tapi pria itu malah semakin mengeraskan tawanya.


Setelah tawanya reda, Erik kembali menatap Aila.


"Seorang pria tau, harus bermain dengan siapa dan serius dengan siapa," Ucap Erik dengan nada serius.


Mendengar ucapan Erik, Aila menautkan kedua alis, mencerna ucapan dari sahabat suaminya itu.Tapi sepertinya ia masih tidak terlalu paham dan lebih memilih melanjutkan makan.


Setelah cukup kenyang, dan sudah membersihkan tangan. Aila bangkit dan mendekat kearah suaminya. Leon tampak acuh melihat istrinya mendekat, tapi Aila tidak peduli. Gadis itu duduk tepat disamping Leon, menaikkan kaki dan mulai mengendus aroma tubuh suaminya. Leon bergeming, matanya menatap tajam setiap gerik istrinya, tapi mainannya itu seakan tidak peduli.


Aila membenamkan wajahnya pada dada lalu meletakkan telapak tangan tepat di tepat dijantung suaminya. Sungguh irama jantung singanya seperti kidung pengantar tidur.


Setelah memperoleh posisi yang menurutnya nyaman, gadis itu meringkuk kemudian memejam. Menurutnya, tidak ada yang lebih membuatnya bahagia selain melakukan hal itu.


Leon yang menyadari Aila sedang menikmati kebiasaannya, merasa tergelitik ingin menganggu.


Ia melepas tangan Aila dari dadanya, membuat Aila membuka mata.


Gadis itu kembali meletakkan tangannya, namun lagi-lagi Leon melepasnya, seperti itu terus hingga berlanjut beberapa kali.


Merasa kesal, Aila mendongak menatap mata suaminya.


"Aku merindukannya tuan.." ucapnya jujur.


Leon diam, melihat kedalam sklera bening bak bayi didepannya. Istri mungilnya itu, selalu bisa membuatnya luluh hanya dengan satu kalimat.


"Ayo kita pulang," Ajaknya lalu mengecup singkat kening istrinya.


Aila menggeleng, "Mereka sejak tadi menunggumu tuan, " tunjuk Aila kearah Clara dan Alea, membuat kedua wanita itu kikuk.


"Aku akan terlihat sangat jahat, jika anda mengabaikannya.." lanjut Aila sembari memainkan kancing suaminya.


Leon mendesah sesaat, ia sangat lelah sekarang, dan hanya ingin segera pulang beristirahat.


"Mereka tidak membuat janji sebelumnya sayang," ucap Leon.


"Apa setiap orang yang akan bertemu dengan anda harus membuat janji?" tanya Aila penasaran.


"Tentu," jawab Leon singkat.


"Termasuk aku?"


"Ya,"


Aila merengut kecewa. Ia pikir dirinya istimewa.


"Karena aku akan melarangmu sebelum sampai kantor," lanjut Leon.


"Kenapa?" Aila semakin kecewa.


"Aku tidak suka kau keluyuran sayang...wanitaku harus tetap di dalam rumah." jawab Leon serius.


Aila mencebik, tapi toh ia akan tetap datang meski harus kucing-kucingan.Memang siapa yang akan menurut?


Gadis itu kembali pada pisisinya, meringuk dengan nyaman di dada suaminya.


"Layani saja mereka, tuan..aku tidak masalah.." ucap Aila.


Leon diam, jika ia langsung pulang dan tidak menuruti ucapan Aila, istrinya itu pasti akan salah sangka.


"Panggilkan mereka kemari, jimy!" titahnya pada Jimy sembari menunjuk kearah Clara dan Alea.


Jimy mengangguk, kemudian mendekati keduanya. Terlihat kedua wanita berdiri dan melangkah maju.


Alea terlihat menyapa Niko sekilas. Sedang Clara langsung duduk disamping Erik.


"Apa maumu?" tanya Leon tanpa basa-basi.


Clara menjelaskan maksudnya. Gadis itu menceritakan bahwa agensinya memberitahu, jika Thomson group akan memakai dirinya sebagai ambasador untuk resort dan hotel mereka yang baru.


"Aku tidak tahu tentang itu, Clara. Itu urusan staf bagian pemasaran." ucap Leon.


"Panggilkan staf pemasaran Jimy," pinta Leon pada Jimy.


Jimy kembali mengangguk dan pergi.


Ada raut kecewa dari wajah Clara, ia kira Leon sendiri yang memilihnya. Ternyata pria itu tidak mengetahui apapun.


Saat mereka terlibat pembicaraan serius mengenai proyek terbaru perusahaan, Aila sudah lebih dulu terlelap. Ditandai dengan tangan gadis itu yang jatuh kepangkuan suaminya.


Leon bisa mendengar dengkuran halus dari mulut istrinya. Wajahnya nampak tenang saat terlelap. Ia tidak menyangka, jika istrinya datang kekantor hanya ingin tidur. Meskipun terkadang tingkahnya gila, namun Aila tetap wanita sederhana. Permintaannya tidak pernah merepotkan menurutnya, hanya saja terkadang ia yang kurang mengerti.


"Sebenarnya aku sangat ingin akrab dan mengobrol dengannya, tapi saat aku datang tadi, istrimu memasang wajah tidak suka.." ucap Alea sembari melirik Aila.


"Dia hanya sedang kelelahan..jika kau sudah mengenalnya, kau tidak mungkin tidak menyayanginya.." jawab Leon sembari menyingkirkan anak rambut dari wajah istrinya.


"Dia, benarkah sebaik itu?" tanya Alea.


Leon mengangguk, "Semua orang di kastil menyayanginya, dia sederhana, tapi hatinya luar biasa.." ucap Leon. Saat mengatakan itu, Alea melihat ada ketulusan di matanya.


"Aku merasa...bersalah padanya," Alea tersenyum getir saat mengatakan itu.


Leon menghela napas, "Rasa bersalahku lebih besar darimu,.." sahut Leon.


Alea diam. Meskipun belum bisa jika harus menjauh dari Leon, namun melihat cara pria itu memperlakukan Aila membuatnya sadar, jika Leon sangat menyayangi istrinya.


Meski tidak terlibat pembicaraan, Clara juga ikut mendengarkan, dan membutnya menyadari akan satu hal, jika Alea yang pernah dicintai Leon saja ditinggalkannya, apalagi dirinya? meski menurutnya cinta itu memang rumit, tapi sudah saatnyia harus berhenti.


"Kejarlah bahagiamu sendiri Lea,," ucap Leon.


Alea hanya tersenyum. Nyatanya toh tidak semudah itu.


"Leon benar, kau harus memulai hidupmu sendiri sekarang," timpal Niko.


Lagi-lagi Alea hanya tersenyum, senyum kegetiran.


"Aku tidak punya siapapun di dunia ini, bagaimana aku akan bahagia?" ucap Alea.


"Kami semua keluargamu," Erik menimpali.


"Sesekali kerumahlah, saat itu kau akan tahu, istriku tidak seperti yang ada di pikiranmu," sahut Leon, kemudian berdiri sembari menggendong Aila yang sudah tertidur pulas menuju lift, keluar dari kantor.


Alea tidak menyahut dan hanya menatap punggung pria yang begitu dicintainya menjauh.


Mungkin, tidak ada salahnya jika ia mencoba. Mencoba membuat kebahagiannya sendiri.


Bersambung...


Part khusus buat yang sabar.