Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 56


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 56


** Cemburu **


Kelegaan terlihat di wajah semua kariyawan yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat dimana Leon dan Aila berada. Mereka baru paham, jika boss besar mereka tiba-tiba ingin menutup hotel hanya karena seorang wanita, yang sekarang sedang duduk diatas meja. Namun mereka bisa apa? kewenangan mutlak ada di tangan sang boss.


Aila segera meloncat turun, lalu mengambil tas slempangnya.


"Mau kemana?" tanya Leon.


Aila menghela napas, kemudian berbalik menatap Leon.


"Pulang, tuan. Saya harus mandi dan berganti pakaian, bukankah saya harus mulai bekerja?"


"Kau ingin bekerja mulai hari ini?"


"Ya."


"Baiklah, ayo kita lakukan!" ucap Leon sembari berdiri.


Aila menautkan alis, tidak paham dengan maksud Leon.


"Kita? apa maksud anda?"


Leon tertawa kecil sembari mendekat kearah Aila.


"Kau sepertinya lupa tugasmu sayang, ingat point pertama?"


Aila memalingkan muka, malas. Ia tahu rincian pekerjaan yang di buat Leon, hanya modus untuk mengerjainya.


"Kau juga belum mandi kan? bagaimana kalo kita mandi bersama?"


ucap Leon sembari memainkan rambut ikal Aila yang langsung di tepis olehnya.


"Jangan harap!" desis Aila.


Seketika Leon tertawa, setiap penolakan Aila hanya akan menambah hasratnya semakin besar untuk mendapatka kembali hati dan tubuh wanitanya.


Leon memutar tubuh kembali duduk di kursinya.


"Duduklah!"


Aila masih diam, mulut mungilnya terlihat komat-kamit, entah apa yang sedang di ucapkannya.


"Duduk, sayang!" ulang Leon dengan nada lebih tegas penuh penekanan. Sebuah nada yang tidak menerima penolakan.


Aila kemudian duduk, meski enggan.


"Sudah makan?" tanya Leon.


"Anda mengacaukan makan saya, tadi pagi." ucap Aila jujur. Pagi tadi ia memang ingin makan, sebelum Leon mengacaukan segalanya.


Leon mengulum senyum.


"Menurutlah, agar semua berjalan dengan baik." ucapnya lembut.


Aila memalingkan muka,


Baik untuk siapa? untuk kepuasannya?


"Arif!"


"Ya, tuan?"


"Siapkan makanan untuk istriku!"


"Baik, tuan."


Leon kembali menatap Aila, yang terlihat masih kesal.


"Mau makan apa sayang?"


"Makan, kamu!" jawab Aila ketus.


"Sabar sayang, ini masih pagi. Nanti malam, ok?"


Aila melotot kemudian menendang kaki Leon dari bawah meja, namun ia lebih dulu mengelak sembari tertawa.


"Berikan menu yang terbaik, Arif."


"Baik, tuan."


Arif membungkuk hormat sebelum berlalu menuju dapur.


Leon berdiri dan menarik kursi dan duduk tepat disamping Aila. Ditatapnya gadis itu dengan intens, ia hanya memakai daster putih tipis lengen pendek, membuat kulit mulusnya terekspos begitu saja. Leon ingin sekali mengumpat, karena tidak rela tubuh wanitanya menjadi konsumsi publik. Namun, ia harus hati-hati atau akan membuat Aila semakin mengamuk. Gadis itu bahkan masih terlihat merengut kesal.


Kemudian Leon melepas jas yang sedang dipakainya dan memakaikan pada Aila.


Aila kaget, gadis itu menolak pada awalnya, namun Leon berhasil memaksanya.


"Apa kau tahu? daster tipis yang kau kenakan itu, membuat imajinasi liar para lelaki berlarian tidak karuan?" ucap Leon berbisik tepat di telinga Aila.


Seketika surai tengkuk Aila meremang, ia langsung melihat daster yang dikenakannya, sadar ucapan Leon benar, Aila mengeratkan jas yang Leon pakaikan.


Leon kemudian menyilangkan kaki sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Matanya tetap menatap intens pada Aila, membuat gadis itu sedikit salah tingkah.


Aila mendongakkan wajah, menatap kearah Leon.


"Aku ingin mandi," ucap Aila dengan nada lebih rendah.


"Tidak perlu, sayang. Aku suka aroma tubuhmu meski tidak mandi." ucap Leon dengan nada menggoda.


Aila kembali melotot kearahnya, sebal.


Tepat saat itu, Arif datang dengan beberapa pelayan membawa makanan yang begitu banyak, hingga meja mereka penuh.


"Ini terlalu banyak tuan,"


"Biarkan, makanlah yang banyak. Tubuhmu tinggal tulang dan kulit."


Aila diam tidak menanggapi ucapan Leon. Memang salah siapa ia menjadi begitu kurus?


Diantara begitu banyak makanan, Aila lebih memilih mengambil sop iga sapi yang tersaji di depannya. Tanpa memperdulikan tatapan mata Leon yang terus melihatnya, ia makan dengan diam.


Sesekali tangannya memegang rambut ikal panjangnya agar tidak masuk ke dalam kuah sop.


Leon yang melihat Aila sibuk dengan rambutnya, mengulurkan tangan dan menggenggam rambut tersebut dengan tangannya agar gadis itu bisa fokus dengan makanannya. Awalnya Aila terkejut, namun ia kemudian membiarkannya. Toh, ia pikir Leon tidak bisa di cegah, sejak dulu pria itu selalu menyentuhnya seenak jidat.


Beberapa kali, Leon juga terlihat mengelap mulut Aila dengan tisu, karena gadis itu makan dengan sangat berantakan. Meski masih bersikap cuek, Aila membiarkan Leon melakukan apa yang dia suka. Ia tidak mau konsentrasinya makan sop kesukaannya terganggu.


Aila bisa saja tidak sadar, namun bagi orang yang melihat, apa yang di lakukan oleh Leon adalah bentuk dari perhatian dan sayang.


"Lagi?" tanya Leon ketika sop di dalam mangkok Aila hampir habis.


Aila menggeleng, "Saya kenyang, tuan."


Leon mengulum senyum lalu melepas rambut Aila, karena gadis itu sudah selesai dengan makanannya.


"Kau sepertinya sangat suka makanan itu,"


Aila mengangguk antusias,


"Iya, tuan."


"Apa enak sekali?" tanya Leon penasaran. Ia memang jarang makan masakan nusantara dan lebih menyukai makanan ala barat. Mungkin karena sejak kecil, hanya makanan itu yang ia tahu, sehingga menjadi kebiasaan saja.


Aila kembali mengangguk.


"Sangat enak menurut saya, tuan. Tuan tahu? dulu di panti, kami hanya akan makan daging sapi sebulan dua kali. Ibu membuat sop karena sejujurnya dagingnya kurang dan tidak cukup untuk anak panti yang banyak. Dengan dibuat sop, kami bisa merasakan semuanya walau hanya melalui kuahnya saja." ucap Aila jujur, ia bercerita seolah sedang mendongeng, mengalir begitu saja tanpa beban.


Untuk sejenak ia lupa, jika tengah kesal pada Leon. Jika biasanya, ia paling anti bercerita tentang hal pribadi dengan orang lain, namun entah kenapa ia selalu keceplosan jika sedang bersama pria itu.


Leon diam, tiap kali mendengar cerita dari Aila, selalu membuatnya tertegun.


"Kau bisa memakannya setiap hari sekarang."


Aila menggeleng, "Bisa-bisa saya terkena kolesterol jika tiap hari, tuan."


ucap Aila.


Bersamaan dengan itu, ponsel yang berada di dalam tas slempang miliknya berbunyi. Aila segera mengambil dan melihatnya pada layar, siapa gerangan yang menghubunginya.


Ada satu notifikasi pesan masuk dari WA_nya. Pesan dari Adimas tentu saja.


[Kamu dimana?]


Aila segera mengetik pesan balasan.


[Di hotel, mas. Ada apa?]


[Pas, kalo gitu. Aku di loby sekarang, bisa kesini?]


[Ok."]


Send.


Melihat Aila sibuk dengan ponselnya Leon kesal merasa terabaikan.


"Siapa?"


"Mas Dimas," ucap Aila jujur tanpa menoleh, ia masih terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Polisi tengik itu lagi?"


Aila menngangkat wajah dan menatap Leon.


"Tengik kenapa? dia baik kok,"


Leon berdecak kesal, "Dia itu suka sama kamu, kamu gak tau?"


"Tau." ucap Aila singkat.


Leon menatap tajam kearah Aila, terjadi perubahan raut wajah disana.


"Kamu tau, dan masih menemuinya? apa kamu sedang terang-terangan selingkuh di depan suamimu?!"


"Selingkuh?"


"Ya!"


Aila tersenyum getir, "Anda lucu tuan, bukankah kata itu lebih tepat untuk anda?" Aila terlihat mulai kesal sekarang. Leon tidak pernah menyadari kesalahannya.


"Hei, aku sudah minta maaf, kenapa masih mengungkitnya?"


Aila menarik salah satu sudut bibirnya.


"Bukankah anda yang lebih dulu membahasnya?"


"I__itu, kau seharusnya sadar diri. Sudah punya suami masih saja main hati!" sindir Leon.


Aila menghela napas, ia benar-benar kesal sekarang. Leon selalu mudah menyalahkan orang lain, tapi tidak mau mengakui kesalahannya sendiri dan mengoreksinya.


"Terkadang seseorang perlu bermain hati dengan yang lain, untuk lebih menyakinkan perasaannya. Bukan begitu tuan?"


Aila balik menyindir dengan telak sekarang, membuat Leon terdiam mati kata.


Aila berdiri, melangkah menuju loby.


"Hei! mau kemana?"


"Ke loby, menemui mas Dimas. Ikut saja jika tuan penasaran," ucap Aila tanpa berbalik.


"Kau pikir aku siapa? aku tidak tertarik dengan pertemuan kalian!" teriak Leon. Nyatanya pria itu sedang berbicara sendiri, karena Aila sudah tidak berada disana.


Leon mengerang sembari mengacak rambutnya kesal, ia bahkan sampai menendang kursi di sampingnya.


Sebelumnya ia sudah mengingatkan pria itu untuk tidak menganggu Aila, tapi sepertinya Adimas tidak mengindahkan ucapannya. Pria itu sepertinya memang sengaja memancing kemarahannya.


Aila menoleh kesana-kemari mencari sosok Adimas. Pria itu ternyata tengah duduk di kursi tunggu paling pojok, pantas Aila tidak langsung menemukan sosoknya, selain berada di pojok ruangan, juga terhalang oleh tanaman hias.


Setelah menemukan sosoknya, Aila bergegas menuju kursi dimana Adimas sedang duduk.


"Sudah Lama, mas?" tanya Aila sembari mendudukkan dirinya tepat di samping Adimas.


Adimas menoleh, kemudian menggeleng.


"Belum dek, " jawab Adimas, pria itu menatap penampilan Aila sesaat, gadis nitu terlihat aneh dengan daster tidur dan jas kebesaran yang ia kenakan.


"Kamu tidur disini?" tanya Adimas.


"Gak lah, mas. Tadi kesini buru-buru jadi gak sempat ganti baju." ucap Aila menjelaskan. Adimas pasti mengira ia tidur di hotel karena daster tidurnya.


"Oh," Jujur ada kelegaan di hati Adimas, mendengar penjelasan Aila.


Hening untuk sesaat, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika Aila merasa canggung, karena Leon pasti tengah mengawasinya, namun berbeda dengan Adimas. Pria itu bingung harus bertanya dari mana tentang hubungan Aila dan orang yang membawanya kemaren. Pasalnya, pria itu kemaren jelas mengatakan jika Aila adalah istrinya, namun Adimas butuh penjelasan langsung dari Aila. Ia sendiri bingung, apa pentingnya kejelasan itu? sedang dirinya dan Aila memang tidak ada hubungan apapun. Entahlah....


"Kamu gak papa?" akhirnya hanya itu, kata yang mampu keluar dari mulutnya.


Aila tersenyum, ia mengerti kekhawatiran Adimas. Tidak di pungkiri, Aila pun tahu tujuan Adimas menemuinya. Pria itu pasti akan menanyakan tentang hubungannya dengan Leon. Dan ia sudah siap menjelaskan semuanya. Aila tidak mau Adimas terus berharap padanya, sedang hatinya masih terikat oleh satu nama. Leon tentu saja.


"Gak papa kok, mas."


"Syukurlah."


Kembali hening, Aila menunggu ucapan Adimas selanjutnya, namun pria itu malah diam.


"Sampeyan gak dinas?"


Aila sengaja mengalihkan pembicaraan untuk memecah kecanggungan.


"Dinas malem aku, dek."


"Oh,"


Lagi-lagi hening. Adimas terlihat sibuk dengan ponselnya, padahal Aila jelas tahu, lelaki disampingnya itu tengah meredam kecanggungan.


"Dek?"


"Ya?"


"Beneran kalian suami istri?"


Aila menghela napas, sebelum menjawab pertanyaan Adimas. Bagaimanapun pria itu sudah banyak menolong dan menemaninya selama tiga tahun ini. Meski ia selalu cuek, namun pria itu tetap sabar menemaninya.


"Iya mas. Tiga tahun lalu kami menikah, namun kami menemui masalah, hingga aku memilih pergi." ucap Aila menjelaskan.


Adimas manggut-manggut mengerti, meski ada raut kecewa di wajahnya.


"Dia hianatin kamu?"


Aila diam, sebagai jawaban.


"Jujur sama aku dek, kamu masih suka sama dia?"


Aila kembali diam, kenyataannya memang begitu adanya.


"Aku boleh berharap, sama kamu?"


Aila mengangakat wajah, menatap Adimas. Wajah yang selalu membuatnya tenang itu, kini terlihat sendu. Meski ia belum yakin akan kembali pada Leon, namun Adimas tetap bukan pilihan untuk melabuhkan hatinya.


"Jika mas, bukan orang yang di sukai mbak Nita, aku mungkin akan mengijinkan, namun mas pria yang di sukai oleh mbak Nita. Jadi aku gak bisa. Maaf." ucap Aila.


"Tapi perasaanku cuma buat kamu dek, bukan Nita."


"Mungkin mas gak tau, jika mba Nita itu orangnya baik dan juga penyayang. Aku emang gak bisa maksain perasaan sampeyan, tapi asal sampeyan tau, mbak Nita adalah segalanya bagi aku dan dia juga satu-satunya keluarga aku. Jadi, aku gak tega kalo harus nyakitin perasaannya, meski dia bilang gak papa." ucap Aila panjang lebar. Biarlah semua menjadi jelas sekarang.


Ada kalanya harus jujur, meski terkadang kejujuran itu menyakitkan.


Adimas diam, ia tau betul hubungan Aila dan Nita seperti apa. Awalnya ia juga mengira, mereka kakak beradik, hingga Aila mengatakan jika dirinya hanya menumpang di rumah Nita. Meski begitu, Nita memperlakukan dan mencintai Aila selayaknya adiknya sendiri. Ia tahu persis posisi Aila, namun cinta memang tidak bisa di paksa harus dengan siapa.


Mereka akhirnya sama-sama diam, larut dalam pikiran yang sebenarnya tidak berujung. Aila masih terjebak pada masa lalunya, sedang Adimas mencintai orang yang tidak pernah melihatnya.


Tepat pada saat itu, di dalam resto hotel, Leon terlihat gusar karena penasaran dengan apa yang di lakukan Aila dan Adimas tentunya. Berkali-kali ia mencoba tetap tenang, namun perasaan cemburu lebih menguasai pikirannya. Tidak, ia tidak bisa terus-terusan menerka apa yang sedang di lakukan Aila dengan Adimas. Ia harus kesana, meski harus menurunkan harga dirinya di depan Aila.


Dengan perasaan kesal dan cemburu, Leon bergegas menuju loby hotel. Jangan salahkan dirinya jika nanti ia hilang kendali, semua karena Aila yang memancingnya. Ia bisa memberikan apa saja, tapi tidak dengan wanitanya.


Drap! Drap!


Leon sengajs mengeraskan langkah, agar Aila menoleh. Benar saja, gadis itu menoleh namun wajahnya tetap nampak datar, seperti tidak kaget dengan kedatangannya.


"Ayo kembali!" perintah Leon. Jelas dari nadanya, pria itu tengah menahan amarah.


"Maaf, kami belum selesai bicara." ucap Adimas.


Aila menghirup napas pelan, berusaha setenang mungkin melihat dua pria besar di depannya yang akan segera berduel sebentar lagi.


Leon tersenyum sinis, "Apa kau tidak punya malu pak polisi? menemui istri orang di depan suaminya sendiri? kau menyedihkan!" cibir Leon.


"Istri? setahu saya, selama tiga tahun ini, Aila sendiri, berjuang sendiri, sakit sendiri. Suami macam apa yang membiarkan istrinya menderita sendirian?" jawab Adimas tidak kalah sengit.


Leon terlihat memiringkan kepalanya sebari tersenyum sinis, tangannya terlihat sudah terkepal, ia paling tidak suka banyak bicara.


Aila tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia segera berdiri dan membungkuk kearah Adimas.


"Maaf mas, saya harus kembali." ucap Aila.


Meski suatu saat nanti ia akan menyesali ucapannya, namun untuk saat ini, Aila hanya ingin semua berjalan dengan baik-baik saja. Demi perasaannya, demi Adimas dan demi Nita tentunya.


Leon mengulum senyum, merasa menang. Tanpa basa-basi lagi ia mengangkat Aila dengan satu tangan dan membawanya pergi dari sana.


Adimas kecewa, namun ia bisa apa? pria itu terlihat tertunduk lesu di ruang tunggu hotel dan tanpa disadarinya, ada sepasang mata yang sedari tadi mengamatinya.


Leon membawa Aila ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Raut kemarahan jelas tercetak di wajahnya, ia tahu Aila sengaja mengucapkan itu, supaya Adimas tidak terluka karena dirinya. Kenyataan itu semakin membuat Leon frustrasi.


Dengan kasar Leon membuka pintu kamar kemudian mendudukkan Aila diatas nakas.


Untuk sesaat Leon diam, kepalanya tertunduk diatas kepala Aila. Napasnya terdengar memburu dan Aila tahu pria itu sedang berusaha menahan emosinya.


"Dengar! kau bisa menghukumku dengan cara apapun, tapi tidak dengan lelaki lain. Kau bahkan boleh menembakku jika kau mau, tapi jangan membagi hatimu dengan lelaki lain. Aku tidak sanggup!" ucapnya parau. Leon ingin meledak sekarang, andai ia bisa.


Aila bisa melihat seluruh tubuh Leon bergetar membuat ia tidak tega melihatnya.


Entah mendapat dorongan dari mana, Aila menempelkan telapak tangannya pada dada Leon, tepat dimana jantungnya berada. Ia hanya ingin menenangkan irama itu, irama jantung yang berdegup dari batas normal.


Melihat kelakuan Aila, sontak Leon meraih kepalanya dan memeluknya dengan erat, sangat erat bahkan. Ia mencium kepala Aila berkali-kali.


"Tidak cukupkah, kau menghukumku selama tiga tahun?" lanjutnya dengan suara bergetar.


Aila diam, merasakan Leon pun menderita hatinya terasa sesak.


Bolehkah ia egois untuk kali ini? dan berada di pelukan itu sedikit lebih lama?


Bersambung...


No koment, aku.