Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 46


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 46


**Tangis terakhir*"


Saat semua sedang tertawa melihat sikap Aila, tiba-tiba Maria datang. Wanita paruh baya tersebut terlihat mendekati Lisa dan membisikkan sesuatu padanya. Entah apa yang mereka bicarakan, namun setelah itu Lisa pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sepeninggal Lisa, Aila duduk di bangku taman seorang diri, sedang Alex dan Erik terlihat sedang fokus membicarakan sesuatu, mendengar dari kata-kata mesum mereka, sudah bisa di pastikan kedua lelaki itu tengah membicarakan seorang wanita.


Serkan juga tiba-tiba menghilang, entah kemana pria itu pergi.


Tinggalah Aila duduk seorang diri sekarang, bertemankan angin sore yang menggelitik anak rambutnya, membuat gadis mungil itu sesekali harus merapikannya agar tidak berantakan.


Sebenarnya ia benci sendirian dan kesepian, karena saat itu, ia akan teringat semua masalahnya dengan Leon.


Angin sore bertiup semakin kencang, namun Aila belum berpikir untuk kembali kedalam kastil. Entah kenapa ia ingin berlama-lama disana, menikmati kesendiriannya tentu saja. Gadis itu menyilangkan kedua tangan di dada, untuk sekedar mengusir dingin.


"Di sini dingin, kenapa tidak masuk?" ucap Serkan mengagetkan lamunan Aila. Pria itu kemudian melepas jaketnya dan memakaikan pada Aila.


Aila ingin menolak, namun tatapan Serkan tidak memberi kesempatan dirinya untuk menolak. Aila pasrah menerima jaket Serkan.


"Masih ingin disini." ucap Aila.


Serkan diam, meraih wine di atas meja kemudian menyodorkan pada Aila.


"wine?"


Aila menggeleng,"Tidak minum alkohol."


"Sesekali juga gak papa kan? buat ngusir stres."


Aila hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Ingin menyerah?"


Aila menoleh kearah serkan, dahinya berkerut, tidak paham dengan maksud pria itu.


"Apa?"


"Tentang suamimu, ingin menyerah?"


Aila mendesah, dadanya selalu terasa sesak jika membicarakan tentang itu.


"Masalahnya bukan tentang menyerah, kak, tapi tentang rasa itu masih ada atau tidak di sana." ucap Aila.


"Kamu meragukan perasaan suamimu?"


Aila terlihat tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak terlihat.


"Sikapnya yang membuatku ragu, jika rasa itu masih ada."


"Aku yakin, dia hanya sedang bingung."


"Kakak benar, agar tidak bingung dia harus memilih."


Serkan mengerutkan kening, "Maksud kamu?"


"Mungkin dia bingung karena aku? jika benar benar begitu, aku akan pergi."


"Hei! semudah itu mau menyerah?"


"Aku akan bertahan jika harus bertahan, tapi aku akan pergi jika memang harus pergi."


Mereka kemudian saling diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Serkan akui, jika ia mencintai istri sahabatnya tersebut, namun memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan bukan gayanya. Ia cukup tau diri untuk tidak menghancurkan pernikahan sahabatnya.


Saat mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Maria datang dengan tergopoh-gopoh.Terlihat jelas ada kepanikan diwajahnya.


"Nona, tolonglah!" ucap Maria dengan napas tersengal. Wanita itu sepertinya baru saja berlari.


Melihat keadaan maria, Aila menjadi ikut panik.


"Ada apa bibi?"


"Nona Lisa..."


"Iya, kenapa dengan kak Lisa?" mendadak Perasaan Aila menjadi tidak enak.


"Tu__tuan muda..."


"Bicara pelan-pelan bibi, ada apa?"


Maria terlihat menarik napas, kemudian membuangnya pelan. Setelah lebih tenag wanita paruh baya itu kemudian mulai berbicara.


"Tuan muda marah sangat marah kepada nona Lisa..."


"Marah kenapa?!" tanya Aila tidak sabar.


Dengan gugup, maria mulai menceritakan kronologisnya.


Seperti biasa, Lisa mengantar makanan untuk Alea, namun gadis itu tidak tau jika Alea alergi dengan telur sehingga tanpa sengaja ia membuatkan makanan yang memakai telur di dalamnya. Setelah makan, seluruh tubuh Alea menjadi bengkak. Melihat hal itu membuat Leon murka, apalagi sebelumnya, Leon memang tidak begitu menyukai Lisa. Sehingga Leon menuduh Lisa ingin membunuh Alea.


Mendengar cerita Maria, tanpa banyak bertanya lagi, Aila segera berlari kearah kastil depan menuju kamar dimana Alea sedang dirawat.


"Hei! pelan-pelan, kau tidak memakai alas kaki!" teriak Serkan sembari mengejar Aila dari belakang, yang di ikuti oleh Erik dan yang lain.


Tanpa memperdulikan kakinya yang nyeri karena harus melewati kerikil taman, Aila terus berlari. Ketika sampai di loby kastil, Aila mendengar suara tembakan. Dadanya seketika berdebar kencang, pikirannya berkecamuk, Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menyusuri tangga. Gadis itu bahkan lupa jika ada lift disana.


Nyatanya Aila tiba paling belakang, karena yang lain tiba lebih dulu dengan lift.


Di ujung lorong, Aila bisa dengan jelas melihat wajah-wajah tegang di depan kamar Alea. Tubuh Aila langsung gemetar, lututnya lemas, semoga apa yang dia takutkan tidak terjadi.


Dengan napas terengah, Aila berlari dan menerobos masuk ke dalam kamar Alea. Melihat Lisa masih hidup, seketika Aila merasa lega. Matanya tidak melihat kearah manapun selain fokus pada Lisa. Gadis itu tengah bersimpuh dengan makanan terburai di seluruh tubuhnya. Badan Lisa terlihat gemetar, ketakutan. Aila bisa menebak, Leon pasti baru saja memarahinya. Lelaki itu memang terlihat marah dengan pistol di tangannya.


Di sekitar gadis itu terdepat banyak pecahan gelas dan piring. Tanpa memperdulikan kakinya yang telanjang, Ia segera melangkah kearah gadis itu. Aila berjongkok di depan lisa.


"Kakak, tidak papa?!" ucap Aila lembut.


Dengan sabar ia membersihkan semua makanan dari tubuh Lisa. Sedang gadis itu masih terdiam, gemetar. Leon yang menatap kearah Aila, terlihat gusar, ia ingin meledak marah, namun melihat istrinya ia bingung harus bagaimana. ia tidak mengira jika Aila akan kesana. Sejujurnya kekesalannya hari ini berawal dari kecemburuannya terhadap Aila dan Serkan, namun tanpa sengaja Adik tirinya itu malah ikut membuat masalah.


"Kakak, tidak boleh menangis."


Aila mengusap air mata lisa, kemudian memeluk gadis itu dan menenangkan gadis itu.


"Sudah cukup Air mata kakak yang tertumpah, mau orang suka atau tidak, di dalam diri kakak tetap mengalir darah keluarga Thomson. Dari semua orang yang berada di ruangan ini, kakak lebih berhak atas perusahaan itu." ucap Aila.


"Sekarang berdirilah, kakak bukan pelayan di sini." lanjut Aila.


"Sa__saya, tidak sengaja nona. Saya tidak mungkin membunuh nona Alea..." ucap Lisa dengan suara bergetar.


Aila meraih wajah Lisa, menatapnya kemudian tersenyum lembut kearahnya.


"Ssst! aku percaya sama kakak, sekarang berdirilah!"


Aila membantu Lisa berdiri, membimbingnya menuju pojok ruangan.


"Bibi, ambilkan sapu dan pel. Aku akan memberscihkan ini." ucap Aila kearah maria.


"Biarkan sa..."


"Cepatlah bibi!" perintah Aila memotong ucapan Maria.


"Ba__baik nona."


Maria segera berlari untuk mengambilkan apa yang di perintahkan Aila.


Sembari menunggu Maria, Aila mengumpulkan pecahan gelas dan piring dengan tangan kosongi.


Melihat hal itu, Leon bingung harus bagaimana. Bukan itu yang Leon inginkan.


"Davin!"


"Ya, tuan?"


"Suruh pelayan membersihkan ini."


"Ba__"


"Jangan lakukan apapun, kak Davin!" ucap Aila dingin.


Ia menggengan pecahan gelas dengan erat hingga melukai tangganya. Darah segar mengucur dari sana.


Maria yang baru tiba terlihat kaget, pun dengan semua orang disana. Suasana menjadi hening, mereka jelas tau jika Aila tengah memberontak dengan melukai dirinya sendiri.


Leon terlihat melangkah mendekat, namun Aila segera mengangkat tangan.


Aila kemudian tersenyum sembari melanjutkan membersihkan makanan yang terserak beserta pecahan gelas dan piring.


"Aku pernah berjanji, akan membantu suamiku merawat orang yang dicintainya. Sekarang, aku sedang menepati janjiku. Jadi, kalian tidak perlu khawatir." ucap Aila santai.


Terlihat kedua kakinya mengeluarkan darah, sepertinya gadis itu tanpa sengaja menginjak pecahan gelas disana atau mungkin Aila memang sengaja melakukannya?


Apa yang telah dilakukannya untuk membersihkan lantai, nyatanya ia hanya kembali menodai dengan darahnya yang tercecer di mana-mana.


Lisa dan Maria terlihat menangis tidak tega melihat Aila, sedang yang lain terlihat diam. Hingga Serkan mendekat untuk menghentikan Aila. Tapi gadis itu bergeming dan tetap melanjutkan kegiatannya.


"Hentikan! kau terluka." ucap Serkan.


"Tidak papa kakak, ini hanya luka kecil. Akan sembuh dalam beberapa hari."


Aila memang benar, luka di badan akan sembuh dengan cepat, namun siapa yang bisa menyembuhkan luka hati?


"Bawa nonamu pergi dari sini, Davin!" perintah Leon, ia sudah tidak tahan melihat semuanya.


Davin berjalan kearah Aila, namun gadis itu menghindar.


"Aku akan keluar, jika aku mau!" ucapnya dingin kearah Davin.


Aila berbalik, kemudian melangkah dan berdiri disamping ranjang Alea. Ia membungkuk sesaat kemudian mengulas senyum.


"Hallo, aku Aila. Maafkan aku baru menyambutmu hari ini. Harusnya aku menyambutmu saat pertama kali kau dibawa kesini. Suamiku sudah mengatakannya, tapi aku lupa...."


"DAVIN!" teriak Leon.


Davin diam tidak tau harus berbuat apa.


"Kakak tidak perlu berteriak, aku hanya menyambutnya. Apa itu juga menyakitinya?" tanya Aila kalem, namun terdengar begitu dingin.


Leon gusar, berkali- kali ia mengusap kasar rambut dan mukanya.


"Tidak perlu khawatir, aku akan pergi sekarang." lanjut Aila sembari menatap tajam kearah suaminya, kemudian berbalik dan melangkah keluar, namun baru beberapa langkah, gadis itu ambruk, terduduk begitu saja.


Semua orang mendekat khawatir, namun Aila kembali mengangkat tangan, menyuruh menjaga jarak.


Dengan sisa tenaganya ia kembali berdiri, namun lagi lagi ia harus kembali ambruk. Sepertinya pecahan kaca pada Kakinya tertancap semakin dalam. hingga membuatnya tidak bisa jalan. Lantai sekitar ia terduduk sudah penuh dengan darah, wajahnya juga sudah mulai pucat karena banyaknya darah yang keluar dari tangan dan kakinya.


Leon dan Serkan terlihat mendekat secara bersamaan, tapi Aila menepis tangan keduanya.


"Kak Davin, tolong bawa aku keluar dari sini." pinta Aila kepada Davin.


Davin terdiam, pria itu bingung harus melakukan apa.


"Cepat bawa dia Davin, atau dia akan mati kehabisan darah!" ucap Alex.


Dengan cepat, Davin melangkah dan mengangkat tubuh Aila. Alex adalah seorang dokter, pria itu pasti lebih tau dengan keadaan Aila.


"Nona?" Davin merasa tubuh Aila melemas, sepertinya ia mulai kehilangan kesadaran.


"Dia pingsan." ucap Alex.


Beberapa hari terakhir, Aila tidak memperhatikan jam makannya, waktu tidurnya juga tidak ia perhatikan, membuat tubuhnya lemas. Di tambah luka pada tangan dan kakinya yang mengeluarkan darah begitu banyak.


"Bawa dia keruang perawatan, cepat!" perintah Alex, kemudian pria itu melangkah lebih dulu. Diikuti Davin di belakangnya. Mereka terlihat setengah berlari.


Leon ingin mengikuti mereka, namun Alea memanggilnya, gadis itu memohon agar Leon tidak meninggalkannya.


Leon terlihat bimbang, ia diantara dua pilihan. Namun jika ia meninggalkan Alea, gadis itu akan benar-benar sendiri, sedang Aila di kelilingi oleh banyak orang. Dengan berat hati ia harus mengurungkan niat untuk melihat istrinya dan menemani Alea.


******


Aila tersadar setelah tiga jam gadis itu pingsan. Alex bilang lambung Aila bermasalah, karena gadis itu jarang makan, tentu saja penyebabnya adalah karena ia sedang stres dengan semua masalah yang terjadi belakangan ini.


"Kau bodoh! aku ingin kau merebut Leon kembali, bukan bunuh diri!" ucap Oma, wanita tua itu terlihat sangat khawatir. Sedari tadi ia terus menunggui Aila dan menggenggam tangan gadis itu.


Aila tersenyum dengan bibir pucatnya.


"Aku tidak papa, Oma."


"Tidak papa, bagaimana? lihat dirimu!"


Aila bergerak, berusaha menegakkan tubuh. Ia melihat tangan dan kakinya sudah di perban.


"Aku baru saja memberinya pilihan, Oma."


"Apa maksudmu?"


"Aku memberinya pilihan dan dia sudah menentukan pilihannya."


Aila mengakhiri ucapannya dengan tersenyum getir.


"Dia memilih menunggui wanita itu ketimbang aku, Oma. Maaf...aku tidak bisa merebutnya kembali, meskipun aku sangat ingin." lanjut Aila.


"Berhenti bicara!"


Oma berdiri kemudian meninggalkan ruang perawatan begitu saja. Meninggalkan Aila sendiri disana. Ia tahu Oma tengah kecewa.


Sepeninggal Oma, Aila memejamkan matanya, menahan perih yang teramat dalam. Ingin sekali menangis, namun sepertinya ia sudah terlalu lelah untuk itu.


"Sudah lebih baik?" tanya Alex tiba-tiba, pria itu terlihat tengah bersandar di kusen pintu.


Aila mengangguk.


Alex kemudian menarik kursi dan duduk disamping ranjang Aila.


"Aku tahu kau kecewa, tapi kau harus bertahan." ucap Alex.


"Aku menyerah."


"Leon butuh kau Aila."


Aila menggeleng, "Untuk apa? untuk disakitin?"


"Jika kau pergi, mereka akan tumbang bersama, Aila. Bertahanlah sebentar lagi, aku sedang mengurus pengobatan Alea."


Aila diam, bibirnya terkulum menahan isak. Dengan cepat ia menghapus air mata di pipi dengan punggung tangan. Benarkah Leon membutuhkan dirinya?


"Aku tau, kau kuat."


Alex berdiri kemudian melangkah pergi, membiarkan Aila menenangkan dirinya.


Aila menangis dengan sangat keras, mengeluarkan semua sakit dalam hatinya.


Tanpa disadarinya, Leon tengah menatapnya dari luar kaca jendela ruang perawatan. Ia baru bisa datang setelah Alea tertidur. Ingin sekali masuk dan memeluk istrinya, namun ia tidak punya kekuatan untuk itu.


"Kau lihat? sadarlah, sebelum dia menghilang." ucap Oma tiba-tiba di belakang Leon.


Leon terlihat diam, pria itu terlihat berpikir sebentar, kemudian melangkah masuk kedalam ruang perawatan Aila.


Leon duduk di samping ranjang Aila, untuk sesaat ia bingung harus berkata apa. Aila yang selalu bisa tersenyum menutupi luka di hadapannya, kini terlihat sangat rapuh.


Leon mengambil tangan Aila, namun gadis itu menolak.


"Aku ingin pulang ke kos." ucap Aila di sela tangisnya.


"Beri aku waktu."


"Berapa lama?"


"Aku tidak tau."


"Aku mengerti, akan ku beri waktu sebanyak yang kakak mau."


"Ai,..."


Aila tersenyum getir, untuk pertama kalinya Leon menanggil nama pendeknya. Dimana kata sayang yang biasa Leon ucapkan? Aila segera menyudahi tangisnya, menormalkan sikap, memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja.


"Pergilah! dia menunggumu!" ucap Aila dingin.


Ia menarik selimut, kemudian berbaring memunggungi Leon.


Leon diam, tidak mengatakan apapun lalu pergi meninggalkan ruang perawatan Aila.


Sepeninggal Leon, ia kembali terisak pilu. Namun, ia berjanji ini adalah isak tangis untuk yang terakhir kalinya.


Ya, itu air mata yang terakhir darinya.


Bersambung...