
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 59
**Kecanduan**
Operasi Nita berjalan dengan lancar. Dokter yang Leon panggil untuk membantu Davin pun sudah berada di hotel ketika Aila pulang mengambil pakaian ganti untuk Nita.
Semua datang tepat pada waktunya.
Siapa yang bisa mendatangkan dokter beserta alat medis lengkap hanya dalam setengah jam, di tempat terpenci, jika bukan Leon.
Semua hal di dunia ini tidak ada yang mustahil jika dirimu punya banyak uang. Itulah yang Aila pikirkan, ketika ia masuk ke dalam kamar Nita yang sudah di sulap seperti ruang perawatan VIP.
Nita terlihat masih terlelap, saat Aila berlahan mendekatinya. Tangan gadis itu terasa begitu dingin, namun Davin bilang, itu hanya efek dari obat bius. Nita berhasil melewati semuanya dengan baik. Sejak awal Aila tahu, jika Nita adalah wanita yang kuat.
"Bagaimana kedaaanya?" tanya Leon pada dokter. Entah sejak kapan pria itu berada di belakang Aila.
"Kondisinya stabil tuan, setelah biusnya hilang, ia akan segera sadar."
"Bagus, kau sudah bekerja keras."
"Tidak tuan, saya hanya melanjutkan pekerjaan tuan Davin saja."
Leon menganggukkan kepalanya mengerti.
"Pilihlah kamar yang terdekat dengan pasien, agar kau bisa memantaunya setap saat!"
"Baik, tuan. Saya permisi." ucap dokter sembari melangkah keluar dari kamar Nita.
Leon kemudian mendekat dan berdiri tepat di samping Aila.
"Kau dengar? dia baik-baik saja. Jadi berhentilah khawatir." ucap Leon.
"Ya, terima kasih tuan." ucap Aila tulus.
"Tapi kau tau bukan, jika ini tidak gratis?"
Aila menghela napas, "Saya tau, tuan."
Meskipun Leon melakukan semuanya hanya supaya bisa mengendalikan dirinya, namun Aila tetap merasa senang. Tanpa bantuan dari Leon, ia tidak yakin Nita akan selamat.
"Bagus!" ucap Leon sembari mengacak puncak kepala Aila pelan.
"Sekarang cium!" perintah Leon.
"Ingat tuan, ini dimana?"
"Kenapa memangnya, dia tidur." tunjuk Leon kerah Nita.
Aila menghela napas, "Bisa, aku lakukan nanti?'
Leon menggeleng,"Sekarang, sayang!"
Aila mendesah, lalu berbalik kearah Leon. Gadis itu terlihat gugup.
"Lakukan sayang!"
Dengan gugup aila mendekat, merapatkan badan dan mulai berjinjit, namun tubuhnya jauh dari kata sampai.
"Menunduklah, tuan!" pinta aila setelah ia kembali menurunkan badan.
"Berusahalah, sayang!"
"Aku tidak sampai,"
Leon mengerdikkan bahu, "Lakukan apapun, agar kau sampai!"
Aila kembali mendesah. Leon tahu itu tidak mungkin meski ia meloncat sekalipun, tapi kenapa selalu membuatnya susah?
Aila melepas sendalnya, kemudian naik keatas sepatu Leon dengan berpegang pada pinggang pria itu, namun masih jauh dari kata sampai, padahal ia sudah berjinjit.
Leon tersenyum tipis, sangat tipis malah. Sehingga tidak nampak jika ia sedang tersenyum. Entahlah, mengerjai Aila selalu membuatnya merasa bahagia.
Masih dengan posisi yang sama, kedua kaki diatas sepatu Leon dan tangan melingkar pada pingggang pria itu, Aila mendongak dan diam.
"Apa?" tanya Leon.
Aila diam sembari menatap wajah Leon untuk beberapa saat. Leon pun melakukan hal yang sama, menatap sklera seperti bayi di depannya. Mereka saling menatap satu sama lain.
Merasa lehernya pegal karena terus mendongak, Aila membenamkan wajah pada tubuh di depannya. Aroma maskulin dari tubuh Leon memenuhi rongga penciumannya, aroma yang sangat di rindukannya selama tiga tahun ini.
Aila mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya dalam-dalam. Ia rindu pada pelukan hangat itu.
Untuk sesaat Leon diam sembari menatap tubuh yang sedang memeluknya.
"Ada apa?" tanya Leon sembari mengangkat dagu Aila.
Aila menggeleng lalu membenamkan wajahnya kembali.
Leon menarik napas dalam, tinggkah Aila yang seperti itu, membuat Leon tidak tahan. Menahan kerinduan selama tiga tahun bagi seoran pria, itu jelas tidak mudah, tapi kenapa Aila selalu tidak peka?
Ia kemudian membungkuk dan mencium kepala Aila lembut.
"Kangen, hem?"
Aila bergerak, "Ya." ucapnya tanpa mengangkat wajah.
Seketika darah Leon berdesir.
Shiit! bukankah seharusnya ia tidak sejujur itu?
Peduli setan, leon mengangkat tubuh Aila dan menggendongnya, kemudian berjalan keluar. Aila terlihat pasrah sembari menyembunyikan wajah pada ceruk leher Leon. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara rintihan dari bibir Nita. Seketika mereka berhenti dan menoleh.
Nita terlihat sudah membuka matanya.
Aila langsung melompat turun, kemudian berlari mendekati Nita yang tampak meringis. Meringis atau tersenyum? entahlah..
Sepertinya, Nita melihat tingkah mereka.
"Mbak gak papa? ada yang sakit?" tanya Aila panik.
Nita hanya memejamkan mata sembari tersenyum sebagai jawaban. Ia masih sangat lemas untuk sekedar bersuara.
Tidak jauh di belakang Aila Leon menggaruk kepanya. gagal lagi, gagal lagi!
"Ha_us." ucap Nita pelan.
Aila menoleh kearah Leon dan pria itu segera mendekat.
"Beri saja, tapi hanya sedikit. Tunggu setelah dua jam, baru minum." ucap Leon.
Aila mengangguk paham, ia kemusian mengambil air putih yang sudah tersedia di atas nakas lalu meminumkannya pada Nita.
"Biar ku panggilkan dokter." ucap Leon kemudian melangkah keluar dari kamar.
Sepeninggal Leon, Aila kemudian duduk di samping ranjang Nita.
"Adimas gak papa, dek?" tanya Nita pelan.
Aila mendesah, '"Keadaan mbak aja kaya gitu, masih mikirin orang lain."
Nita kembali tersenyum. Mendengar jawaban Aila, ia yakin Adimas tidak papa.
"Permisi, nona?"
Aila menoleh, ternyata dokter yang mengoperasi Nita sudah di berdiri di ambang pintu. Gadis itu segera berdiri dan mempersilahkan dokter untuk masuk.
"Bagaimana keadaan anda sekarang? apa yang anda rasakan?"
ucap dokter ketika sudah berada di samping ranjang.
"Saya baik, dokter. Hanya saja haus." ucap nita pelan.
Dokter paruh baya itu terlihat mengulum senyum.
"Sebentar lagi ya? tunggu satu jam. Anda tidak mual, muntah?" tanyanya lagi.
"Tidak dokter," jawaba Nita.
Dokter terlihat manggut-manggut mengerti.
"Kalau begitu saya permisi dulu, jika ada apa-apa panggil saja. Saya di kamar sebelah." ucap dokter kearah Aila.
Aila menggangguk mengerti.
"Terimakasih, dokter."
Terlihat dokter tersenyum kemudian berjalan keluar. Tepat saat itu, Adimas masuk dengan membawa sesuatu ditangan. Bingkisan berisi buah. Lelaki itu terlihat lebih segar sekarang, mungkin tadi ia pulang untuk membersihkan dri.
'Sini mas, duduk sini." pinta Aila sembari memberikan tempat duduknya.
Adimas mengangguk.
"Aku keluar dulu, ambil minum." ucap aila kemudian melangkah keluar. Gadis itu seperti memberi waktu pada mereka berdua untuk berbicara.
"Kamu gak papa mas?" tanya Nita dengan nada seperti biasanya. Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Harusnya aku yang tanya itu ke kamu, Nit." ucap Adimas.
"Aku gak papa mas, perih dikit doang." ucap Nita sembari tersenyum.
"Kamu bodoh Nit, kenapa kamu bertaruh nyawa hanya demi aku?"
"Apaan sih mas? aku refleks aja, pas lihat orang itu ngarahin pistonya ke kamu." ucap Nita. Gadis itu berusaha bersikap seceria mungkin, agar Adimas tidak merasa bersalah. Nita memang gadis yang luar biasa. Meski ia mencintai Adimas, namun tak pernah sekalipun menunjukkan perasaanya pada pria itu. Karena ia tahu dengan jelas jika perasaan Adimas hanya untuk Aila. Nita selalu berusaha menutupi perasaannya.
"Maaf," ucap Adimas lirih. Terlalu lirih malah.
"Biasa aja mas, jangan ngerasa yang gimana-gimana.Aku gak papa kok."
Adimas diam. Nyatanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan nyawanya saja, ia tidak mampu. Bagaimana bisa kata-kata itu keluar? jika setelah menyelamatkan nyawanya pun, ia masih belum bisa membuka hati unruk Nita.
"Aku akan datang lain waktu." ucap Adimas tiba-tiba berdiri, kemudian keluar begitu saja. Ia terlalu pengecut untuk terus berada di samping Nita.
Nita menatap kepergian Adimas dengan mata nanar. Bulir bening berdesakan di pelupuk mata, ingin segera keluar. Ia tidak menyangka, jika keputusannya untuk menyelamatkan Adimas, malah membuat pria itu semakin menjauh darinya.
Buru-buru Nita menghapus air matanya. Ia tidak mau jika Aila sampai tahu, dirinya tengah menangis. Bagaimanapun ia sadar, sebuah perasaan tidak bisa dipaksakan. Bisa tetap melihat Adimas baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup baginya.
Nita kembali melihat jam. Ia sudah tidak tahan menahan haus. Diliriknya gelas di atas nakas, hanya tnggal sedikit, tapi tidak masalah. Ia sudah sangat haus sekarang.
Dengan menahan sakit, Nita berusaha meraih gelas di atas nakas, namun sial, gelas itu terlepas seiring dengan datangnya rasa ngilu yang luar biasa pada bahu kanannya.
Pyaaar!
Gelas pecah.
Terdengar langkah seseorang masuk dengan tergesa.
"Kamu tidak papa?" tanyanya datar.
Nita mendongak, ia mengenali pria yang sedang berdiri disampingnya sebagai tangan kanan sang boss dan juga orang yang menyelamatkan nywanya, setidaknya itu yang ia tahu sesaat sebelum dirinya hilang kesadaran.
"Tidak, tuan. S_-saya hannya ingin minum, tapi..."
"Kenapa tidak minta tolong?"
"Sa_saya kira tidak ada orang, tuan." ucap Nita gugup.
"Akan aku ambilkan." ucapnya datar. Entah kenapa setiap kali berbicara pria itu selalu dengan nada datar dan wajah yang datar pula.
Setelah Davin keluar, Nita merasa lega. Berada di dekat pria itu seperti sedang berada di depan freezer, dingin!
Tidak berapa lama, Davin kembali dengan membawa segelas air putih dan makanan.
"Ini, minumlah!" Davin menyodorkan segelas air putih kepada Nita.
Nita menerimanya dengan gugup. "Terimakasih tuan."
Davin terlihat mengangguk sekilas, kemudian pria itu jongkok untuk membersihkan pecahan gelas yang terserak di lantai.
Nita melirik sekilas kearah Davin, meski dingin, Davin sepertinya orang yang baik. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Nita saat ini.
Setelah pecahan gelas terkumpul, Davin membawanya keluar. Tidak lama setelah itu ia masuk dengan membawa cleaning service hotel untuk mengeringkan lantai yang basah.
"makanlah!" Davin menyodorkan baki berisi makanan beserta lauk-pauknya kearah Nita.
"Terimakasih, tuan." ucap Nita sembari menerima makanan tersebut.
Davin kemudian duduk tepat di samping ranjang Nita.
Melihat Davin tidak keluar dan malah duduk disampingnya membuat ia heran. Matanya yang terus menatap kearahnya, membuatnya gugup.
"Dimana Aila, tuan? tanya Nita. jujur ia kesulitan makan dengan tangan kiri.
Davin terlihat menautkan kedua alisnya yang tebal.
"Nona muda, maksudmu?"
"Ah, ya. No..."
"Sadari posisimu, dia nonamu sekarang!" ucap Davin tajam.
"Y__ya, tuan." ucap Nita gugup. Ia segera menyuapkan makanan kemulutnya, untuk menutupi kegugupan meski sebagian makanan terlihat tumpah, karena ia kesulitan menggunakan tangan kiri.
"Sini! biarkan aku membantumu makan." ucap Davin meminta baki yang berada di pangkuan Nita.
"Sa_ya..."
Tepat saat itu Aila datang, membuat Nita bernapas lega.
"Terimakasih kak, sudah menjaga mbak Nita." ucap Aila kearah Davin.
Davin berdiri, "Tidak masalah, nona. Saya permisi." ucapnya sembari membungkuk sopan kemudian keluar dari kamar Nita.
"Sini, biar Aila suapin mbak." pinta Aila.
"Dari mana tadi? ambil minum kok lama banget."
"Aku ada urusan tadi,"
"Ciee, urusan sama suami?" goda Nita.
"Apaan sih, mbak." ucap Aila tersipu.
Nita terkekeh, "Aku lihat tadi, tapi tenang, cuma dikit kok."
"Ish!" Aila menyenggol lengan Nita, malu.
"Maaf ya, karena aku, bulan madu kalian jadi terganggu." lagi-lagi Nita menggoda Aila, membuat gadis itu semakin salah tingkah.
"Mbaaaak, udah deh!" Aila mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Nita semakin terkekeh, meski sesekali gadis itu terlihat meringis karena bahunya terasa nyeri saat ia tertawa.
"Mas Dimas udah pulang dari tadi?"
Nita mengagguk singkat. Tiba-tiba terjadi perubahan pada raut mukanya. Namun sedetik kemudian, Nita kembali tersenyum.
"Dia bilang sedang ada urusan mendadak gitu, besok kesini lagi katanya."
Aila mengangguk paham, meski ia tahu jika Nita tengah berbohong. Pasalnya, ia melihat Adimas pergi tidak lama setelah ia keluar.
"Eh, itu tangan kanan boss, emang dingin gitu?" tanya Nita mengalihkan pembicaraan.
"Dingin? emang es, mbak Nita ada-ada aja deh." ucap Aila bercanda. meski ia setuju dengan pendapat Nita.
"Beneran dek, serem orangnya." Nita bergidik ngeri.
Aila terkikik geli. Menurut Aila Davin hanya kaku dan irit bicara, bukan serem. Sereman suaminya malah.
"Kak Davin emang gitu mbak, tapi hatinya baik kok." ucap Aila.
Nita manggut-manggut, meski ia merasa aneh saat berada di dekat pria tersebut.
*******
Waktu cepat sekali berlalu, malam pun mulai merangkak naik.
Aila keluar dari kamar Nita, setelah gadis itu terlelap. Ia ingin keluar menuju taman samping resort untuk sekedar mencari angin.
Namun ketika ia melewati kamar Leon, telinganya mendengar pria itu tengah berbicara dengan Davin.
"Belikan Davin, aku tunggu."
"Tapi tuan, Alex bilang, anda harus berhenti minum. Akan tidak baik untuk kesehatan anda."
"Kau cerewet, Davin! kau tau kan aku tidak bisa tidur sebelum minum? Kepalaku juga sakit."
Hening.
"Cepatlah!"
Tidak lama setelah itu Davin terlihat keluar, pria itu terlihat kaget saat mengetahui Aila berada di depannya.
Aila kemudian menempelkan jarinya di bibir, memberi isyarat pada Davin untuk diam. Pria itu mengerti, kemudian Aila menyeret tangan Davin untuk menjauh dari kamar Leon.
"Apa dia selalu seperti itu?" tanya aila ketika mereka sudah berada sedikit lebih jauh dari kamar Leon.
Davin mengangguk, "Sejak anda pergi, tuan menghabiskan waktunya dengan banyak minum, nona. Sekarang sepertinya tuan sudah kecanduan. saya khawatir tuan akan sakit jika terus seperti ini." ucap Davin panjang lebar. Biarlah untuk kali ini ia tidak setia pada bossnya itu. Sudah saatnya sang boss berhenti, bukankah sumber dari pelariannya sudah ketemu?
Aila menghela napas, dadanya tiba-tiba terasa sesak Mendengar orang yang begitu dicintai menderita. Kabar itu tentu saja membuatnya terpukul, namun semua berawal dari kesalahan Leon sendiri.
"Jangan belikan kak, biar aku yang bicara. Bisa titip mbak Nita sebentar? dia sedang tidur sekarang."
Davin mengangguk, kemudian pria itu permisi.
Sepeninggal Davin, Aila kembali menarik napas panjang, menormalkan perasaannya, kemudian melangkah kearah kamar Leon. Lebih dari apapun, ia tidak ingin melihat Leon kecanduan minuman haram tersebut.
Bersambung...