Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 47


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 47


**Bersiap pergi**


Nanti,


Kau akan mengerti,


Bahwa pernah ada seseorang yang begitu tabah, begitu takut kehilanganmu, begitu tulus mencintaimu.


Pernah mempertahankanmu begitu dalam,


Sebelum akhirnya memilih pergi,


Karena ia tau, bahagiamu bukan ber


Kekecewaan mungkin akan termaafkan, namun tidak mungkin untuk dilupakan. Kecewa muncul karena adanya cinta yang mendalam.


Pada saat itu, yang perlu di lakukan hanyalah diam. Biarkan waktu yang menyembuhkan dirimu.


Seperti Aila saat ini, gadis itu memilih kebun rahasia di samping danau sebagai tempat untuk menyembuhkan lukanya. Bisa saja ia memilih dirawat di samping Alea, untuk menunjukkan bahwa ia lebih berhak atas perhatian suaminya, namun itu hanya akan menunjukkan kualitas dirinya secara tidak langsung. Sikap wanita bisa di tentukan saat ia tengah terluka, apakah ia akan menunjukkan sikap kedewasaan atau kekanakan.


Selama proses pemulihan, Aila tidak mengizinkan sembarang orang untuk menemani dirinya, bahkan Oma dan Lisa sekalipun. Ia hanya mengizinkan Jimy dan Maria yang berada disampingnya. Saat itu, Aila hanya ingin menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya.


Tidak susah bagi Aila melakukan itu, mengingat akses pintu masuk taman hanya ia yang bisa membukanya. Kode kunci pintu terletak pada kalung yang Pernah Leon berikan untuknya, sehingga tidak ada siapapun yang bisa masuk kedalam, kecuali dirinya dan orang-orang di bawah izinnya tentu saja.


Sepekan sudah, Aila mengurung diri di dalam taman, sudah saatnya ia kembali ke kastil untuk menghadapi masalahnya. Tentu saja dengan pikiran dan sikap yang lebih tenang dari sebelumnya.


Oma dan yang lain menyambut dirinya dengan suka cita, mereka bahkan mengadakan pesta balon untuk Aila, membuat gadis itu terharu bahagia. Setidaknya itu menyadarkan dirinya, betapa banyak orang yang mencintainya ketimbang Alea. Ia mulai berpikir, mungkin saja benar sikap suaminya, siapa yang akan memperhatikan gadis itu jika bukan Leon? mengingat keluarga Alea tidak begitu memperdulikannya.


"Selamat datang, sayang." ucap Oma sembari memeluknya dengan hangat.


"Memang Aila dari mana oma, harus disambut seperti ini?"


"Tapi kau suka kan?"


Aila mencebik, "Ini seperti menyambut anak kecil."


"Kau memang putri kecil yang nakal." cibir Oma sembari mencubit pipi tembemnya.


"Sakiiit!" Aila merajuk.


"Tapi kau suka bukan?"


Aila tersenyum kemudian mengangguk, mereka kembali memeluk satu sama lain. Semua orang disana pun ikut bahagia melihat kelakuan keduanya.


"Udah, ngambeknya?" ucap Alex


Aila segera menoleh.


Seketika gadis itu terbahak, melihat ketiga teman Leon memakai kostum badut karakter. Serkan memakai kostum panda, Erik memakai kostum ayam, sedangkan Alex memakai kostum beruang.


"Ayolah, ini tidak lucu Oma!" ucap Serkan kesal.


Mereka bertiga sepertinya di paksa Oma untuk melakukannya. Serkan dan Erik terlihat kesal, namun Alex terlihat santai. Alex bahkan terlihat berputar-putar lucu dengan kostum beruangnya. Seketika loby kastil menjadi ramai karena gelak tawa.


"Terus aja ketawa." ucap Erik kearah Aila. Gadis itu terus terbahak hingga sudut matanya berair karena gelinya.


Setelah tawanya mereda, Aila kembali memeluk Oma.


"Terimakasih untuk semuanya, Aila sayaaang Oma." ucap Aila sembari mencium pipi wanita tua itu.


Oma membalasnya dengan sebuah senyuman.


Merekapun akhirnya larut dalam kebahagiaan di dalam pesta aneh itu. Tidak ada satupun anak kecil disana, namun dekorasi kastil sengaja dibuat lucu seperti taman kanak-kanak. Untuk sesaat, semua penghuni kastil terlihat seperti anak Tk yang sedang berbahagia. Meskipun, jauh disudut hati, Aila merasa kecewa, karena orang yang begitu dicintainya tidak ada disana.


Setelah puas dengan pestanya, Aila naik menuju kamarnya. Ada kerinduan di dalam hatinya ketika memasuki ruangan itu. Ruangan yang pernah menjadi saksi bisu, jika dirinya hampir saja melalui malam pertama. Seketika senyum getir terukir di bibir, adakah yang lebih menggelikan dari seorang pengantin yang gagal melakukan malam pertamanya? sudah hampir satu bulan, tapi dirinya masih tetap perawan.


Saat tengah melepas kerinduan, pintu kamar terbuka. Tanpa menoleh pun ia tau siapa yang datang. Siapa lagi yang bisa memasuki kamarnya tanpa sebuah ketukan, jika bukan suaminya sendiri.


Aila menyiapkan senyum terbaiknya sebelum menoleh.


Wajah suaminya terlihat kusut, cambangnya mulai terlihat tumbuh, rambutnya sedikit panjang bahkan terlihat ada kantung mata disana. Lelaki itu pasti tidak sempat mengurus dirinya sendiri.


Untuk sesaat Leon terlihat gugup, ketika mata mereka bertemu tatap.


"Kakak ingin mandi?" tanya Aila lembut.


Leon tergagap, ia terkejut Aila menyapanya, mungkinkah Aila sudah tidak marah? mengingat selama seminggu ini, ia sengaja mengurung diri dan tidak mengijinkan siapapun menemuinya, termasuk dirinya.


"Y__ya." ucap Leon gugup.


Aila tersenyum, " Akan ku siapkan air mandinya."


"Tidak perlu,"


"Ya?"


"Ma__maksudku, kakimu masih sakit.."


"Tidak, aku sudah sembuh kok." ucap Aila sembari menunjukkan kakinya.


"Aku masih muda, jadi bisa sembuh dengan cepat." lanjut Aila sembari tersenyum. Gadis itu kemudian melangkah menuju kamar mandi, menyiapkan air untuk suaminya, meninggalkan tatapan keheranan dari mata Leon.


Aila bersikap seperti seolah tidak terjadi apapun diantara mereka dan itu aneh di mata Leon. Mungkinkah ada yang sedang Aila rencanakan?


"Sudah," ucap Aila dari pintu kamar mandi.


"Y_ya!" jawab Leon tergagap. Pria itu kemudian melangkah kearah istrinya.


Setelah didalam, Leon melepas kausnya, namun ia bingung, karena Aila masih berdiri disana.


"Em.." Leon bingung, baru kali ini ia merasa canggung dengan Aila.


"Ya?"


"Aku tidak membutuhkan apapun, istirahatlah!" ucap Leon.


"Tidak ingin dibantu menggosok punggung? atau yang lain mungkin?" tanya Aila dengan gaya imutnya.


Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebelumnya, ia memang sering menyuruh gadis itu untuk menggosok punggung dan mengerjainya, namun entah kenapa Leon merasa sangat canggung sekarang.


"Baiklah, lskukan itu." perintah Leon. Aila tersenyum, kemudian berlari mendekat ke sisi bathub.


Sikap Aila lagi lagi membuat Leon heran. Entah lah, ia seperti kembali ke masalalu.


"Apa lagi? masuklah!" perintah Aila mempersilahkan.


"Y__ya!" jawab Leon gugup. Pria itu kemudian melepas handuk dan masuk ke dalam bathub. Untuk sesaat ia menatap wajah Aila yang tengah mengambil sabun untuknya, tidak ada keanehan disana. Aila melakukan semuanya dengan normal, atau mungkin tidak?


Sebelumnya Aila selalu malu saat melihat tubuhnya, tapi kenapa sekarang raut wajahnya terlihat biasa?


Setelah mengambil sabun, Aila mulai mendekat dan mulai menyabuni punggung dan dada Leon. Jika sebelumnya, ia akan berdebar, namun sekarang entah kemana perginya debaran itu. Mungkin saja sudah menguap bersama rasa kecewa?


Berbeda dengan Leon, saat tangan mungil Aila menyentuhnya, tubuhnya seperti tersengat listrik, entah apa namanya, namun yang pasti ia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang.


Dengan sabar, Aila menyabuni dan menggosok punggung Leon. Setelah itu ia mulai mencuci kepala Leon dengan memijatnya pelan.


Meski masih merasa aneh dengan sikap istrinya, namun Leon menikmati dan membiarkan Aila lakukan semuanya.


Setelah selesai dan menakai handuk, Leon tidak segera keluar. Ia menatap kearah Aila yang masih sibuk menata peralatan mandi dan menguras bathub yang baru di pakainya. Ia sangat merindukan gadis itu, tapi ia tidak berani untuk sekedar menyentuhnya.


"Kakak masih disini?" tanya Aila ketika ia berbalik dan masih mendapati Leon berdiri disana.


"Y__ya!" jawab Leon gugup.


Aila tersenyum, kemudian ia mengambil sesuatu dari atas rak.


"Naik kan aku!" pinta Aila sembari menepuk tempat di samping wastafel.


"Ya?" Leon tidak paham.


"Aku akan mencukur cambang kakak, itu sudah panjang." ucap Aila santai.


Meski merasa aneh, Leon mengangkat tubuh Aila dan mendudukkannya disana.


Aila mulai mencukur cambang suaminya dengan sabar dan telaten.


Merasa semakin aneh, Leon akhirnya bertanya.


Aila tersenyum, " Apa aku terlihat marah?"


"Tidak, tapi aku merasa aneh."


Aila menghentikan tangan dan menatap tepat kearah manik mata Leon.


"Aku sedang melayani suamiku, apa itu salah?"


Leon menggeleng." Tidak."


Aila tersenyum kemudian kembali melanjutkan kegiatannya.


Untuk sesaat mereka saling diam, hingga Aila telah selesai dengan pisau cukurnya dan mengelap janggut suaminya dengan handuk kecil.


"Sudah bersih sekarang." ucap Aila sembari mengamati janggut suaminya.


Entah mendapat dorongan dari mana, Leon tiba-tiba memeluknya dengan erat.


"Ada apa?!" tanya Aila bingung.


Leon tidak menjawab, pria itu hanya memeluk sembari membenamkan wajah pada dada Aila.


Aila menarik napas dalam, membuang sesak yang tiba-tiba datang. Ia ingin menangis saat itu juga, namun sekuat tenaga ia kembali menahannya. Aila berusaha menormalkan sikapnya.


"Terimakasih." ucap Leon tanpa mengangkat wajahnya.


"Untuk?"


"Untuk tetap disampingku."


Aila kembali menghela napas, laksana disayat dengan pisau yang tajam, luka yang belum kering itu kembali menganga. perih namun tidak berdarah.


Aila diam, tidak menjawab.


"Pakai baju dan makanlah!" ucap Aila mengalihkan pembicaraan.


Leon tidak menjawab, masih memeluk Aila membenamkan diri disana.


"Jangan lupa kesehatan sendiri." lanjut Aila.


Ingin sekali mengusap kepala suaminya, namun Aila mengurungkan niat.


Mereka saling diam untuk sesaat, hingga Leon melepas pelukannya.


Aila melompat turun, melangkah kearah walk in closet dan mengambilkan baju untuk suaminya.


"Ini baju kakak, aku keluar dulu." ucap Aila setelah menyerahkan baju ganti untuk Leon, kemudia ia melangkah pergi dari sana.


Leon mendesah, kecewa. Ia kira Aila akan memakaikan baju untuknya, ternyata tidak. Ia tidak punya keberanian untuk menyuruhnya. Leon sadar istrinya sudah menderita begitu banyak karena sikapnya.


**********


Sejak Aila sembuh, gadis itu kembali ceria seperti dulu. Ia tidak lagi menangis sejak saat itu. Aila pun tidak lagi marah, ia melayani suaminya seperti sebelumnya. Ia juga memasak untuk Suaminya, menyuapinya seperti biasa. Awalnya semua melihat aneh kearahnya, bagaimana bisa Aila tidak lagi marah dengan sikap suaminya? bahkan setiap hari suaminya masih menyibukkan diri dengan merawat Alea.


Namun melihat mereka kembali bahagia, membuat semua orang lega.


Selama suaminya sibuk merawat Alea, Aila lebih banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari hal hal yang baru. Aila bahkan belajar menembak dari Serkan dan belajar mengendarai mobil sport miliknya yang pernah ia menangkan dari taruhannya dengan Leon.


Ia belajar menyetir dari Erik, pria itu awalnya hanya ingin mengerjai Aila saja, namun ia salah. Aila ternyata langsung paham, dalam dua hari gadis itu bisa mengendarai mobil sportnya sendiri.


Serkan dan Erik terkadang hanya melongo dan menggelengkan kepala tidak percaya, dengan cara belajar Aila yang begitu tepat. Mereka baru tahu jika Aila memiliki otak yang cerdas.


Melihat hubungan Aila dan Leon kembali membaik, Oma justru merasakan hal yang sebaliknya. Wanita tua itu memiliki firasat buruk, entah kenapa ia berfikir jika Aila sedang mempersiapkan kepergiannya.


Karena firasatnya yang buruk, hari itu juga Oma melarang semua pelayan untuk mengantar makanan pada Alea, termasuk Lisa. Oma berpikir jika Aila tidak bisa mengusir Alea, maka ia sendiri yang akan melakukannya.


Atau mereka bertiga akan hancur bersama.


Tidak ada yang berani membantah perintah Oma, terpaksa Leon harus memasak sendiri. Namun pria itu sama sekali tidak mengerti tentang dapur, melihat hal itu, Aila jelas tidak tega. Gadis itu akhirnya memasak untuk Alea tanpa sepengetahuan Oma dan Leon.


Setelah selesai memasak, Aila mengantar sendiri makanannya di bantu pak Liem. Namun ketika ia memasuki kamar Alea, ia malah melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat, Leon tengah tertidur dengan Alea di dalam pelukannya. Sesaat Aila tercenung, namun entah kenapa ia tidak bisa menangis, perih iya, selebihnya biasa saja. Mungkinkah hatinya sudah mati rasa? semoga.


Aila tetap santai dan melangkah kedalam, meletakkan semua makanan di atas nakas kemudian dengan tenang melangkah keluar. Setelah Aila hilang dibalik pintu, Leon terbangun. Ia heran sudah ada makanan diatas nakas dan ia juga menghirup parfum favorit milik Aila. Dengan cepat ia keluar, namun ia tidak menemukan Aila disana, tapi ia melihat pak Liem.


Dugaannya benar, Aila yang memasak untuknya.


Tanpa pikir panjang, Leon segera mencari istrinya, entah untuk apa ia melakukan itu. Toh tidak ada yang akan ia jelaskan.


Terserah! ia hanya ingin menemui istrinya sekarang.


Leon mencari Aila di seluruh kastil, tapi gadis itu tidak ada dimanapun. Pikirannya sudah panik, ketika tanpa sengaja ia melihat serkan memasuki ruang menembak bersama Aila. Ia segera menyusul kesana dan apa yang dilihatnya membuat ia tidak percaya. Aila tengah berlatih menembak. Gadis itu terlihat mahir memegang sebapan, yang lebih mencengangkan, dari beberapa tembakan yang ia lepaskan hampir semua mengenai sasaran.


"Kau mengajarinya menembak?" tanya Leon pada serkan.


"Kenapa? takut ditembak istrimu, heh?"


"Itu tidak cocok untuknya."


Serkan menarik salah satu ujung bibirnya, "Dia kesepian dan tidak punya kegiatan, apa salahnya menembak. Itu akan membantunya mengurangi beban." ujarnya.


Leon terdiam, tepat saat itu Aila datang. Gadis itu terlihat tersenyum sembari melepas penutup telinga.


"Sudah makan?" tanya Aila kearah Leon.


"Apa kau yang memasak?"


Aila mengangguk, "Suka?"


"Aku belum memakannya."


"Makanlah jika begitu,"


Leon diam, ia mengira Aila akan marah. Ia yakin Aila melihatnya tidur dengan memeluk Alea tadi. Tapi gadis itu malah memperlihatkan sikap yang sebaliknya.


Aila berbalik menghampiri serkan, gadis itu terlihat membungkuk.


"Terimakasih untuk hari ini, tapi aku tidak bisa melanjutkan."


"Kenapa?" tanya serkan.


"Oma mengajakku merawat diri, kakak tau kan? Oma akan mengomel sepanjang hari jika aku tidak melakukannya."


Aila mendesah, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku bahkan tidak tau untuk siapa aku menjadi cantik." lanjut Aila tersenyum masam.


Leon diam mendengarkan.


"Apa aku boleh membawa ini? aku sangat menyukainya." tunjuk Aila dengan pistol yang sedang dibawanya.


Serkan menggeleng, " Tidak sayang, itu bukan mainan."


Aila mencebik, "kakak pelit!"


Serkan terkekeh melihat mimik wajah Aila.


"Pergilah! atau Oma akan mendongeng." ucap Serkan.


Aila terkikik geli, mendengar ucapan Serkan.


"Baik lah, aku pergi." ucap Aila melangkah keluar begitu saja. Gadis itu tidak mengucapkan apapun kepada Leon.


Leon tercenung melihat sikap Aila, ia merasa Aila terlalu supel sekarang. Aila yang ia kenal pendiam dan suka menarik diri. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya, tapi apa?


Bersambung....


Kenapa ges?


kecewa dengan part ini?


Jangan dong_kalian akan paham kok, di bab selanjutnya.


Terimajasih untuk semua saran, kritik kalian. Aku membaca semuanya, namun belum sempat membalas. Masih sibuk bolak-balik ngurus dokumen.


Jadi please! bersabar jika tidak bisa up tepat waktu.


Komen kalian beberapa bab terakhir membuat aku ngakak parah, dan itu menjadi semangat buat aku nulis. Sebagai bonus aku kasih visual Serkan, ok? happy reading gess...