Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 51


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 51


**Menemukannya**


Orang bilang,


Waktu bisa menyembuhkan luka,


Bagiku, waktu hanya mengajakku bercanda,


Bagaimana tidak? jika melupakan senyummu saja, aku tak bisa.


Mengapa,


Hanya aku, yang terjebak di dalam tumpukan usang kenangan kita?


*****


Aila tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya, meski sesekali deburan ombak pantai mengenai rok yang di kenakannya.


Gadis itu larut terbuai dalam lamunan, hingga dinginnya angin laut di pagi buta tidak mampu mengusiknya.


Tidak ada yang lebih menyedihkan, ketimbang mengenang masa lalu sendirian di tepi pantai.


Percayalah, itu menyakitkan.


Namun, tidak bagi Aila. Waktu itu adalah moment yang paling menyenangkan untuknya, karena saat itu ia bisa dengan leluasa mengenang Leon sepuas hatinya.


Bodoh, mungkin itu kata yang pantas disematkan untuknya saat ini. Bagai mana tidak? meski Leon sudah menyakitinya begitu dalam, toh dirinya masih begitu mencintainya.


"Gak dingin?!"


Sebuah suara menyadarkannya dari lamunan. Suara milik seorang lelaki yang selama dua tahun ini menemani harinya melawan rasa sakit.


Adimas, itulah nama lelaki tersebut. Seorang perwira yang sedang bertugas di pos dekat dengan rumahnya.


Diam-diam, Adimas selalu mengikuti Aila, ketika gadis itu menyusuri pantai.


Aila menoleh kearah Adimas, gadis itu hanya tersenyum kemudian kembali menatap birunya laut yang terbentang di depannya.


"Dinas pagi, lagi?" tanya Aila, ketika Adimas mengambil tempat duduk tepat di sampingnya.


Adimas mengangguk, kemudian mengikuti pandangan Aila menatap laut lepas di depannya.


Sebenarnya, Adimas tengah berbohong. Mana mungkin masuk dinas sepagi itu, ia hanya membuat alasan saja untuk mengikuti Aila. Tidak taukah ia? jika berjalan di tepi pantai seorang diri_ di pagi buta itu_ sangat berbahaya? apa lagi Aila adalah seorang wanita.


"Jangan kemari sepagi ini seorang diri, itu berbahaya." ucap Adimas.


Aila terkekeh, "Aku jelek, tidak akan ada yang mengangguku."


"Kata siapa? orang buta pasti akan menganggapmu cantik." ledek Adimas.


"Ish!" Aila mencebik, kemudian memukul lengan Adimas pelan.


Adimas hanya terkekeh, Aila selalu terlihat lucu apapun ekspresi wajahnya.


"Dapat salam dari mbak Nita," ucap Aila.


"Hem,"


"Hem?"


"Terus kudu gimana dek?"


"Ya Tuhan mas, kirim salam balik atau gimana kek,"


"Ya deh, salam."


"Kok ya deh? kalian cocok lho mas,"


"Masa? kita lebih cocok deh kayaknya."


Aila terkekeh, " Serius napa?"


"Dua rius dek, kita cocok."


"Tau ah,"


Aila kemudian bangkit dari duduknya, tangan kanannya sibuk membersihkan pasir yang menempel pada kaki dan roknya.


"Mau kemana?"


"Pulang, udah hampir pagi."


"Kenapa emang kalo pagi?"


Aila tidak menjawab, gadis itu masih terlihat sibuk dengan pasir ysng menempel di roknya.


"Takut matahari?"


"Emang vampir?" Dengus Aila.


"Ya kali, dek."


Aila kembali mencebik, kemudian berjalan kearah sepedanya kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Adimas yang tercenung seorang diri.


Adimas mendesah pelan, ia tahu jika Aila selalu berusaha menjaga jarak darinya. Apa mungkin ia tidak tahu akan perasaannya? itu tidak mungkin, Adimas tahu, Aila gadis yang cerdas. Entah kenapa, setahun belakangan ini, Aila selalu menjodohkan dirinya dengan Nita. Ia memang sadar, jika Nita menaruh rasa padanya, namun cinta tidak pernah bisa memilih kemana rasa itu akan berlabuh, dan pilihannya jatuh pada Aila.


Adimas bertemu Aila sekitar dua tahun lalu di pantai ini, sama seperti saat ini, di pagi yang dingin, secara tidak sengaja ia melihat gadis itu tengah menangis pilu seorang diri di tepi pantai. Ia yang saat itu sedang berpatroli, langsung menghampiri Aila. Namun gadis itu mengaku tidak baik-baik saja.


Adimas tahu Aila berbohong, entah apa yang terjadi padanya di masa lalu, namun hingga kini ia masih sering mendengar Aila menangis di pantai ini.


Ingin sekali Adimas menjadi tempat bersandar bagi Aila untuk sekedar berbagi rasa sakitnya, namun gadis itu sepertinya tidak mau membuka hati pada siapapun, dan lebih memilih menyimpannya seorang diri.


Aila memacu sepedanya dengan santai, pikirannya melayang pada sosok Adimas. Ia tahu jika lelaki itu menaruh rasa padanya, namun ia tidak mau memberikan harapan palsu. Selain karena Nita juga menyukainya, hatinya pun belum bisa menerima siapapun. Nama Leon tetap masih setia bertengger disana.


Aila memasukkan sepedanya dengan pelan, ia tidak ingin Nita sampai tahu jika dirinya keluyuran lagi di pagi buta, atau gadis itu akan terus mengomelinya.


"Dari mana?!"


Apes! baru dibatin, udah ketahuan aja.


"Kok udah bangun mbak?"


"Dari pantai lagi?"


Aila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu mengangguk pelan.


"Kamu tu cewek, dek. Bahaya pergi sepagi itu!" dugaanya tidak salah, Nita mulai mengomel.


"Iya mbak,"


"Iya iya aja , tapi gak di pake."


Aila hanya bisa pasrah mendengar omelan Nita. Mau bagaimana lagi? ia hanya ingin menangis sepuasnya supaya hatinya lega, dan itu tidak mungkin ia lakukan di rumah.


Omelan Nita berlanjut hingga, mereka sarapan.


"Jangan ulangi lagi!" ucap Nita memperingatkan.


Aila menjawab dengan anggukan karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Hari ini mau ngapain?" tanya Nita.


"Ngapain lagi mbak? nulis lah."


"Em..bisa minta tolong?"


"Tolong apa?"


"Jadi pegawai resto hotel untuk sehari."


Uhuk! uhuk!


Aila tersedak.


"Pelan-pelan napa dek," Nita buru-buru mengambilkan minum untuk Aila.


"Gak ah,"


"Please! sehari aja, hotel kekurangan orang dek. Ini hari libur ditambah lagi katanya boss besar mau datang."


"Aku malu mbak, pegawai hotel kan tinggi-tinggi, cantik lagi."


"Kamu juga cantik kok, cuman..." Nita memicingkan matanya menatap Aila.


"Cuman pendek?!" Aila mendengus.


Nita terbahak.


"Ayolah dek, tolongin napa? cari orang ndadak gini kan susah." Nita terus memohon.


"Ya udah deh kalo gak bisa, palingan entar juga cuma di pecat." Nita sengaja menakuti Aila.


Aila kembali mendesah.


"Iya, iya. Sehari pokoknya!" ucap Aila akhirnya.


"Beneran, mau?"


Aila mengangguk.


Nita langsung meloncat kegirangan, kemudian memeluk Aila.


"Makasih dek, udah mau jadi penyelamat buat mbak."


Aila tersenyum pasrah, meski sebenarnya hatinya menolak.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Aila bersiap menuju hotel tempat di mana Nita bekerja.


*********


Krincing!


Gelang kaki yang berada di saku Leon terjatuh, ketika pria itu mengambil gawai dari saku jasnya.


Leon menatap gelang kaki milik Aila tersebut, gelang yang kini sudah ia perbaiki menjadi utuh kembali.


"Kenapa bisa terjatuh?" gumamnya heran.


Ia kemudian mengambil gelang tersebut dan mengembalikannya ketempat semula. Kedalam saku jasnya.


Gelang itu tidak pernah jauh darinya, meski hanya sedetik. Leon selalu membawa gelang tersebut kemanapun ia pergi. Entah kenapa, dengan melakukan itu, ia merasa Aila ada bersamanya.


Tidak sedikit uang yang ia habiskan untuk mencari istri mungilnya itu, meski tidak ada seorangpun yang tahu jika diam-diam ia menyuruh orang untuk mencarinya.


Banyak orang mengira, ia sudah melupakan gadisnya, tanpa tau bagaimana tersiksanya ia menjalani hidup selama tiga tahun ini. Nyatanya bermain wanita dan minum hanya pelampiasan semata, agar ia terlihat baik-baik saja.


Tidak banyak yang tahu tentang beban di hatinya, tentang penyesalannya yang begitu dalam. Hingga setiap malam ia harus berhadapan dengan mimpi buruk yang terus berulang.


"Pesawat anda siap tuan," ucap Davin, membuyarkan lamunannya.


"Hem!"


Kedua pria itu kemudian berjalan menuju pesawat di belakang kastil. Entah karena apa, namun tiba-tiba Leon memajukan jadwal keberangkatannya menuju resort. Leon pikir dirinya ingin segera melihat suasana baru untuk sekedar melepas penat.


Pesawat berhenti di landasan milik TNI angkatan udara, karena di kota Malang tidak memiliki bandara. Perjalanan dari kota menuju pantai masih sekitar tiga sampai empat jam, dan mereka harus menggunakan mobil untuk menuju kesana.


Meski melelahkan, Leon berusaha menikmati setiap menit perjalananya.


Perjalanan menuju pantai tiga warna ternyata cukup menghibur dirinya, ia bisa melihat keindahan bukit dan tebing di kanan kiri jalan.


Leon mulai berpikir, keadaan alam di negaranya ternyata tidak kalah menabjubkan dari negara lain.


Davin melirik sang boss yang duduk di belakang, melalui kaca spion dalam. Terlihat sang boss menikmati perjalanan panjang itu. Sesekali ia bahkan terlihat menajamkan penglihatannya untuk mengamati alam sekitar, tidak di pungkiri, Davin juga baru menyadari jika negaranya mempunyai alam yang begitu indah.


"Apa masih jauh?" tanya Leon.


"Tidak, tuan. Sepuluh menit lagi kita sampai." ucap sang pemandu jalan.


Leon mengangguk dan kembali mengalihkan perhatiannya pada sekeliling jalanan.


Ucapan sang pemandu benar adanya, setelah lima belas menit, mereka akhirnya tiba.


Leon segera keluar, sekedar untuk meluruskan punggungnya yang sedari tadi terasa sangat pegal. Harus diakui, ia tidak pernah berkendara sejauh itu dengan mobil, sehingga tidak hanya membuat pantat dan punggungnya panas, namun juga pening di kepala. Tapi semua itu terbayar lunas dengan pemandangan yang ia dapatkan.


Untuk sesaat, Leon menikmati angin laut yang menerpa wajahnya. Anggota direksinya itu, ternyata tidak salah memilih tempat. Pantai didepannya memang sangat indah, gradasi warna airnya begitu berbeda dengan pantai lain.


Puas mengamati, ia dan beberapa staf beserta bodyguardnya yang se erte itu kemudian memasuki resort. Awalnya mereka di pandang dengan aneh oleh semua karyawan disana, pasalnya mereka sebelumnya tidak menerima reservasi dari orang-orang tersebut dan lagi, boss yang mereka nantikan jelas bukan Leon. Boss resort yang mereka kenal sudah tua, gendut pula.


"Mana assistan menager kalian?" tanya Davin tanpa basa-basi.


"Maaf tuan, apa anda sudah punya janji sebelumnya?" jawab seorang resepsionis.


Davin tidak langsung menjawab, ia melirik kearah Leon yang terlihat sudah memijit pelipisnya, ia paham caranya terlalu lambat.


Tanpa banyak bertanya lagi, Davin mengeluarkan pistol dan menodongkan kearah resepsionis tersebut. Seketika semua pegawai hotel diam, gemetar ketakutan.


Leon menggelengkan kepalanya kemudian duduk di kursi tunggu loby hotel.


"Panggilkan asisten managermu, cepat!" perintah Leon pada seorang pegawai.


"Ba__baik, tuan." ucap pegawai tersebut gugup. Pegawai tersebut langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ruangan bossnya.


Sembari menunggu, Leon mengamati desain interior resort dan hotel di depannya. Terlihat pria itu menarik salah satu ujung bibirnya, tidak buruk juga selera salah satu direksinya itu. Meski masih jauh dari seleranya, namun tidak masalah, ia akan segera membenahi semua kekurangan yang ada.


Seorang pria muda terlihat mendekat, melihat penampilannya sepertinya ia asisten manager yang dimaksud. Penampilannya terlihat kalem. Pria tersebut menyapa Leon dengan ramah. Meski banyak bodyguard Leon dengan senjata lengkap, namun pria itu sepertinya tidak terkejut, atau mungkin sedang berusaha tetap tenang? entahlah.


"Selamat siang tuan, ada yang bisa kami bantu?" sapanya ramah.


Leon menatap lekat pria di depannya, penampilan dan gayanya mirip Hendra sang pria flamboyan.


Ah, ia suka pria-pria kalem sepertinya, karena pria kalem biasanya jauh lebih cerdas dan juga...licik. Ia kemudian menatap tanda pengenal yang tergantung di lehernya, pria tersebut ternyata bernama Arif.


"Bacakan dokumen itu untukku, tuan ARIF!" ucap Leon sembari melempar dokumen tepat di hadapan Arif.


Meski terkejut, pria itu berhasil menangkapnya dengan mudah.


Dengan sabar Arif membuka dokumen dan mulai membacanya.


"Pelan-pelan saja, agar kau paham." ucap Leon sembari menyilangkan kakinya.


Sampai dimana tertera nama Leon Thomson dan perusahaan Thomson and Global group membuat mata Arif membulat karena kaget. Ia tidak menyangka jika sebenarnya resort yang di pimpinnya merupakan salah satu cabang dari Thomson Group.


"Maaf tuan, kami tidak tahu jika adalah pemilik sebenarnya resort ini." ucap Arif kemudian.


Leon menyeringai sebelum berucap.


"Tidak masalah," ia kemudian bangkit dan menepuk bahu arif, " Tenang saja, aku tidak akan memecatmu. Aku rasa aku menyukai pria sepertimu." ucap Leon sembari melangkah kedepan.


"Dimana ruanganku?!" tanyanya kemudian.


"Mari saya tunjukkan, tuan." ucap Arif sembari memimpin jalan menunjukkan dimana ruangan sang meneger utama berada.


Sembari menuju ruangan sang boss, arif memberi tahu nama dan silsilah pembagian ruangan di dalam resort dan hotel tersebut.


Melewati resto yang ada di dalam hotel, seketika ia merasa sangat lapar, entah karena sedari pagi ia belum makan atau karena aroma pastry yang yang begitu menggoda.


Leon tidak jadi melanjutkan langkah menuju ruangannya, pria itu malah menarik kursi dan duduk di sana. Meski heran, semua orang tetap diam mernunggu apa maunya sang bos.


"Aku lapar! siapkan menu terbaik kalian!" perintah Leon pada Arif dan semua kariyawan yang lain.


"Baik, tuan." ucap Arif patuh.


Dalam sekejap semua kariyawan bagian resto terlihat sibuk, mereka tidak mau mengecewakan sang boss, nasib mereka di tentukan saat itu juga.


Sembari menunggu makanan tiba, Leon mengedarkan pandangannya pada sekitar resto, mungkin ia perlu melihat keadaan dapurnya. Dapur merupakan salah satu tempat yang penting dalam sebuah resto. Ia tidak mau dapurnya jauh dari standar, namun ia pikir nanti saja. Ia masih terlalu lelah karena perjalanan panjang yang baru saja ia lakukan.


Leon kemudian mengeluarkan Gawai dari saku jasnya dan mulai memainkannya, hingga sebuah suara yang bertahun-tahun lenyap dari pendengarannya kembali terdengar.


Sontak Leon berdiri, menyapukan pandangannya keseluruh ruangan resto. Tidak ada siapapun disana.


Seperti orang kesetanan ia kemudian melangkah ke segala penjuru resto untuk mencari sumber suara tersebut.


Melihat tingkah aneh bossnya, Davin mengernyitkan dahi, meski tidak tau apa yang sedang dilakukan bossnya, pria itu dan seluruh bodyguard tetap mengikuti sang boss.


Leon tiba-tiba berhenti mematung di depan dapur, gawainya bahkan sampai terjatuh dari genggaman tangan. Lututnya tetiba terasa begitu lemas, demi menyaksikan seorang gadis yang tengah bercanda sembari memasukkan pastry dalam panganggan.


"Ada apa tuan?" tanya Davin yang heran dengan sikaspnya.


"A__aku menemukannya, Davin!" ucap Leon tanpa mengalihkan pandangannya.


"Menemukan?"


"Ya, mainanku. Aku menemukannya,"


"Ya?" Davin masih tidak mengerti, ia lalu mengikuti arah pandangan sang bos, tapi ia tidak melihat apapun selain chief dan pelayan lain. Tepat saat itu objek yang dimaksud Leon merunduk, membuat pria itu tidak bisa melihat maksud pandangan Leon.


"Mainanku, Davin!" Leon kemudian merunduk mengambil gawainya, kemudian melangkah keluar dari area dapur. Ada sesuatu yang harus di pastikan, meski ia sudah begitu yakin.


"Tunjukkan ruanganku sekarang, ada yang perlu ku bicaran denganmu!" ucap Leon kearah Arif.


"Baik, tuan. Silahkan," ucap Arif sopan. Leon melangkah dengan cepat mengikuti langkah Arif melewati resto. Ia sudah tidak lagi merasa lapar sekarang.


Semesta sepertinya sedang mengajaknya bercanda, bagaimana bisa? ia malah menemukan Aila di sana, dari sebegitu banyak tempat di indonesia .


Bersambung...


Masih banyak kerjaan di dunyat gess, jadi harap bersabar. Tangan author cuma dua, coba ada kelen disini, aku pasti suruh ngetik deh, ha ha ha.


Ada yang penasaran gak sih? kenapa si Davin bucin parah sama Leon? kalo ada dan banyak bakal aku up di episode selanjutnya.