Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 58


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 58


** Masih sama**


Setelah selesai tawar-menawar dengan Aila, Leon menyuruh Adimas untuk membawa Nita kesalah satu kamar hotel. Meski tidak mengerti, Adimas menurut karena panik. Setelah di baringkan di salah satu kamar yang sekarang di sulap menjadi ruang perawatan, Leon memanggil Davin.


"Ayo kerjakan, Davin!" perintah Leon.


"Tapi, tuan.."


"Ayolah Davin, kau hebat dalam menjagal."


Davin terlihat diam, sedang Aila menautkan kedua alis, tidak mengerti.


"Sebentar! ini apa maksudnya? apa hubungan menjagal dengan menolong mbak Nita?" tanya Aila tidak paham.


Leon tidak menjawab pertanyaan Aila, pria itu masih fokus membujuk Davin.


"Cepatlah Davin, sebelum dia mengalami shock."


Davin terlihat menghela napas. Sebagai seorang pembunuh bayaran, ia dibekali kemampuan dasar untuk mengambil peluru dan menyembuhkan diri sendiri dari luka tembak. Dengan catatan, peluru tidak mengenai daerah vital. Tapi...


"Anggap saja itu bonus buatmu, dia pasien wanita pertamamu bukan?" ucap Leon santai.


Davin diam, pikirannya lebih fokus kepada Wanita yang tengah terbaring pucat di depannya ketimbang ucapan bossnya. Lagi-lagi kenapa harus ia yang kena getahnya?


Leon menyeringai saat Davin mulai melepas jas dan melipat kemeja hingga siku. Pertanda Davin siap dengan aksi jagalnya.


"Ambilkan kotak obat di kamarku beserta pisau, gunting atau apapun yang steril!" perintah Davin pada salah satu bodyguard yang lain.


Mengingat pekerjaannya yang selalu berhubungan dengan bahaya, Davin selalu membawa obat-obatan dasar untuk berjaga, jika hal buruk terjadi.


Lagi-lagi Aila heran. Ia ingin bertanya, namun Leon lebih dulu memberi isyarat untuk diam.


Leon kemudian membuka laptopnya, terlihat pada layar laptop terdapat wajah Alex. Pria itu sepertinya baru saja bangun tidur.


[Apa? pagi-pagi ganggu orang!] Alex terlihat masih mengucek matanya.


[Davin butuh bantuanmu!]


[Apa lagi?!]


[Dia sedang mengoperasi seorang gadis karena tertembak.] Leon mendekatkan laptopnya pada Nita.


[Astaga! kalian gila!] Alex terlihat terkejut, kemudian mengambil kaca matanya dan mendekatkan diri pada layar laptop.


[Jangan cerewet! kau hanya perlu melihat!]


Terdengar Alex mengucapkan sesuatu, namun tidak begitu jelas. mungkin mengumpat?


"Tanyakan saja padanya, jika butuh bantuan." ucap Leon pada Davin.


Davin diam.


Leon kemudian mengajak Aila keluar, karena ia yakin Aila pasti pingsan jika melihat operasi darurat ala pembunuh bayaran.


Tidak berapa lama, Adimas pun turut keluar.


Leon mengambil gawai dan menjauh, pria itu terlihat menghubungi seseorang. Entah siapa yang dihubungi, Aila tidak tertarik untuk mencari tahu.


Kini, Tinggalah Adimas dan Aila yang berdiri di depan kamar Nita. Mereka saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat, hingga membuat syok banyak orang.


"Maaf, karena aku, Nita jadi terluka." ucap Adimas parau.


Aila menoleh kearah Adimas, untuk sesaat ia melihat wajah kuyu pria itu dari samping. Aila tahu, Adimas pasti sangat merasa bersalah.


Aila menggeleng, "Mas gak salah, semuanya sudah menjadi ketentuan Tuhan."


"Aku ngerasa gagal sebagai polisi." lanjut Adimas.


"Jangan gitu, banyak hal yang terjadi di luar perkiraan, mas. Jangan menyalahkan diri."


Adimas diam, kata-kata Aila sama sekali tidak menghiburnya. Yang Leon ucapkan memang benar, dirinya payah sebagai seorang polisi.


Hening untuk sesaat. Aila sendiri bukan orang yang pandai menghibur orang lain. Kenyataannya, selama tiga tahun ini, Nita yang selalu menghiburnya.


"Mereka memang tampak aneh, tapi percayalah, mereka bisa di andalkan." lanjut Aila.


Adimas masih diam.


Aila memejamkan mata, berharap semua akan baik-baik saja. Ia sudah kehilangan banyak orang baik di masa lalu, tidak sanggup jika harus kehilangan seseorang lagi sekarang.


Aila membuka mata, saat merasakan tangannya di genggam oleh seseorang. Ternyata Leon sudah berada di sampingnya. Aila membiarkan Leon melakukannya, ia terlalu lemas untuk sekedar berdebat dengan pria itu.


"Tenanglah, aku sudah memanggil dokter terbaik di sekitar sini. Sebentar lagi mereka sampai." ucap Leon.


Meski ia percaya Davin bisa melakukannya dan luka tembak Nita juga tidak mengenai organ vital, namun ia ingin melakukan yang terbaik. Ia tahu jika Nita sangat berharga bagi Aila.


Aila menatap kearah Leon, meski Leon adalah sumber penderitaannya, namun kenyataannya hanya pria itu yang selalu bisa ia andalkan.


"Terimakasih," ucap Aila tulus.


Mereka bertiga kembali diam. Terlihat Leon menatap tajam kearah Adimas yang terlihat Lesu.


"Bagaimana rasanya, berhutang nyawa dengan dua orang sekaligus?" tanya Leon sinis kearah Adimas.


Adimas bergeming, tidak menanggapi ucapan Leon.


Aila mencubit Lengan Leon. Bisa-bisanya pria itu malah memancing di air keruh. Jika tidak bisa menghibur, setidaknya cukup diam kan? gak peka!


"Apa?!" Leon meringis kesakitan.


"Diam!"


"Ayolah sayang, itu benar kan? semua karena ia..."


Aila melangkah meninggalkan Leon atau pria itu akan terus mengoceh jika dirinya tetap disana. Ia tahu, kesempatan itu pasti akan ia manfaatkan untuk mencibir Adimas dan Aila malas mendengarnya.


"Hei! mau kemana?" Leon mengejar Aila dari belakang.


"Pulang, mengambil baju untuk mbak Nita." jawab Aila tanpa menoleh. Berada di depan kamar Nita tanpa melakukan apapun, hanya membuatnya tidak tenang. Lagi pula, Nita pasti membutuhkan pakaian ganti karena baju yang di kenakannya penuh dengan darah.


"Aku antar!"


Aila tidak menjawab, ia terus berjalan membiarkan Leon mengikutinya. Menolak perintah Leon hanya akan membuatnya semangat untuk melakukannya.


*****


Selama perjalanan, Aila hanya diam. Pikirannya terus tertuju pada Nita, mulutnya tidak henti-hentinya merapalkan doa, agar Tuhan menyelamatkan nyawanya.


Sedang Leon asyik menikmati wajah Aila dari samping. Kecelakaan yang terjadi pada Nita, membawa banyak keuntungan baginya. Salah satunya ia bisa berduaan dengan Aila.


Ayolah, jangan menyebutku licik. Itu takdir!


"Ada apa, tuan?" tanya Aila, ia sadar sedari pria mesum disampingnya itu terus menatapnya.


"Gak!" ucap Leon sembari mengalihkan pandangannya.


Aila diam, kembali menatap jalanan di depannya. Hingga, pagar bambu rumah Nita terlihat.


Leon mengerti dan segera memasukkan mobilnya ke halaman rumah Nita.


Setelah mobil berhenti, Aila segera membuka pintu mobil dan turun.


"Silahkan masuk, tuan." ucapnya setelah Leon turun. Ia kemudian masuk kedalam rumah. Sedang Leon terlihat masih mengamati halaman rumah yang penuh dengan tanaman bunga mawar. Ia tercenung untuk sesaat, Aila masih menyukai mawar meski waktu sudah berlalu tiga tahun.


Leon menarik napas panjang sebelum memasuki rumah Nita. Kesan pertama setelah berada di dalamnya adalah ia merasa nyaman. Meski rumah Nita kecil layaknya rumah-rumah desa pada umumnya dan jauh dari kata mewah, namun Leon merasa tenang di dalam rumah itu. Leon mengamati potret yang berjajar rapi di dinding ruang tamu. Sebuah foto wanita dan lelaki paruh baya, ia bisa menebak, mereka pasti kedua orang tua Nita.


Tapi kemana mereka? kenapa rumah begitu sepi?


Leon kemudian duduk sembari mengamati pemandangan kebun mawar di halaman melalui kaca jendela.


Hampir setengah jam ia menunggu, namun Aila tidak juga keluar. Merasa kesal, Leon masuk ke ruang tengah.


Lagi-lagi rumah terasa sunyi, kemana Aila? ia kemudian mencari kesetiap ruang kamar, hingga ia menemukan foto dirinya bersama Aila di sebuah meja di samping ranjang. Ia yakin kamar tersebut adalah kamar Aila.


Leon kemudian mengambil foto tersebut dan mengamatinya, itu adalah foto ketika mereka menikah tiga tahun lalu. Di dalam foto tersebut, Aila masih menggenakan piyama yang terlihat kontras dengan dirinya. Leon meraba foto tersebut, tiba-tiba sudut hatinya berdenyut nyeri.


Sebelum pergi, Aila membakar semua foto kebersamaan mereka tanpa tersisa. Tidak hanya foto, video yang Niko rekam juga turut di hapusnya. Aila tidak menyisakan satu foto pun untuk di kenangnya. Melihat foto itu, ia serasa mengembalikan potongan waktu yang hilang selama tiga tahun.


Saat sedang asyik terhanyut mengamati foto kenangan mereka, Leon mendengar suara langkah mendekat. Ia segera menaruh foto tersebut di atas meja dan bersembunyi di balik pintu.


Langkah tersebut ternyata milik Aila, gadis itu sepertinya baru saja selesai mandi, terlihat ia hanya menggenakan handuk dengan badan serta rambut yang basah. Gadis itu masuk kedalam kamar kemudian menutup pintunya, hingga ia mendapati sosok Leon tengah berdiri di sebaliknya.


"Aaaa!" teriak Aila kaget sembari mengeratkan belitan handuknya.


Sedang Leon malah terpana dengan penampilan Aila.


"Apa yang tuan lakukan disini? keluar!"


Leon memalingkan muka, "Kau lama, jadi aku mencarimu."ucap Leon sembari melangkah keluar.


Aila bernapas lega, Leon bisa di usir dengan mudah untuk keluar dari kamarnya. Namun, saat pria itu sampai depan pintu, ia kembali berbalik dan melangkah kearahnya.


"A__ada apa?" tanya Aila gugup. Seketika jantungnya bertalu tidak karuan, ketika Leon semakin mendekat dengan raut wajah seperti ingin menerkamnya.


"Tu___an?" Aila semakin gugup sembari berjalan mundur karena Leon terus mendekat kearahnya, hingga terantuk meja di belakang tubuhnya.


Saat Aila sudah terpojok tidak lagi bisa bergerak, Leon mengangkat dan mendudukannya di atas meja. Meski cicitan kecil keluar dari mulutnya, Aila tidak berontak seperti sebelumnya, membuat Leon semakin sulit mengendalikan hasratnya. Mereka saling menatap untuk sesaat, namun tiba-tiba Leon menempelkan keningnya tepat di atas kening Aila yang sedang mendongak ke arahnya. Pria itu terlihat memejamkan mata. Leon melakukannya hingga beberapa saat, seperti sedang menetraljan perasaannya.


"Aku__kangen!" ucapnya dengan suara bergetar, menahan hasrat yang berjejalan menunggu untuk di salurkan.


Aila diam, tidak tahu harus berbuat apa. Nyatanya ia juga merasakan hal yang sama. Entah mendapat dorongan dari mana, Aila meraba wajah dengan mata terpejam di depannya, membuat Leon seketika membuka mata. Tersadar dari kebodohannya, Aila menarik tangannya dengan kikuk.


Leon menarik napas panjang, meredam gejolak. Ia sangat ingin menyentuh gadisnya sekarang, namun ia tahu Aila belum bisa menerima dirinya kembali sepenuhnya. Di ciumnya kepala Aila singkat, membuat gadis itu kembali mendongak.


"Ke Jakarta bersamaku, hem?"


Aila menghela napas, menjeda waktu.


"Mbak Nita sakit,"


"Kita bawa Ke jakarta jika perlu."


"A__aku suka tempat ini,"


Leon kembali mengecup kepalanya singkat.


"Kita akan kemari kapanpun kau mau, sayang."


Aila kembali diam, pikirannya berlarian. Sudah siapkah ia menemui orang-orang di masalalunya?


"Aku beri waktu dua hari, pikirkanlah!" pungkasnya, kemudian Leon berbalik dan melangkah keluar kamar meninggalkan Aila yang tercenung seorang diri. Ia sendiri bingung dengan kemauan hatinya, saat jauh dari Leon ia begitu tersiksa namun saat dekat dengan pria itu, ia takut kembali terluka.


****


Aila keluar dengan tas jinjing berisi pakaian ganti untuk Nita. Untuk sesaat ia menatap punggung Leon yang tengah menunggunya di halaman rumah. Dengan kedua tangan berada di saku celana, pria itu tampak sempurna meski hanya siluetnya saja.


Bagaimana hatinya tidak luluh, jika Leon terus memepetnya dan terus menyentuhnya semau jidat.


Aila melangkah mendekat, membuat Leon menoleh.


"Sudah?"


Aila mengangguk.


Mereka kemudian masuk kedalam mobil.


Tidak ada percakapan, meski sudah beberapa menit mobil melaju.


Sesekali Leon melirik kerah Aila. Gadis itu tetap masih pada kebiasaan lamanya, menundukkan wajah.


"Kau yang menanam mawar di halaman tadi?" tanya Leon membuka percakapan.


"Ya." jawab Aila singkat.


"Sudah tiga tahun, tapi kau masih menyukainya."


Aila mendesah, memalingkan wajah menatap rumah penduduk melalui kaca jendela.


"Tiga tahun hanya waktu. Dan terkadang waktu hanya mengubah keadaan bukan hati seseorang." ucap Aila.


Leon diam. Aila benar, hanya keadaan yang berubah diantara mereka, tapi bukan rasa di dalam hati. Tapi terasa begitu sulit untuk kembali bersama.


Mereka kembali diam, hingga mobil sudah sampai di depan hotel.


Aila segera turun, ia sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan Nita. Gadis itu bahkan sedikit berlari menyusuri loby, saking tergesanya ia sampai menabrak seorang anak kecil. Anak lelaki tepatnya, terjatuh di depan Aila. Sontak Aila menaruh tas dan menolongnya.


"Ah, maaf sayang. Apa kau terluka?" tanya Aila.


Anak lelaki itu terlihat meraba siku dan meringis kesakitan, namun sedetik kemudian ia langsung berdiri.


"Bolatu di mana?" tanyanya dengan cadel. melihat umurnya sepertinya masih berumur tiga tahun.


"Bola? apa kau membawa bola tadi?"


Bocah itu mengangguk.


Aila segera mengedarkan pandangan ke setiap sidi loby, tapi matanya tidak menangkap benda bulat tersebut.


"Hai, boy. Mencari ini?" Leon tiba-tiba sudah di belakang mereka sembari membawa bola.


Bocah itu mengangguk,


"Itu bolatu, om."


"Ini, ambillah." Leon menyerahkan bola di tangannnya pada bocah itu.


Si bocah terlihat senang, kemudian menerima bolanya dan berlalu begitu saja.


"Jika waktu itu kita punya anak, bukankah sudah sebesar dia?" tanya Aila tanpa sadar.


Leon menatap Aila yang masih melihat kepergian anak lelaki tadi.


"Ya." jawab Leon, suaranya terdengar sangat berat. Bagaimana ia bisa mengganti waktu tiga tahun dengan begitu cepat?


Aila meraih tasnya kemudian berlalu begitu saja tanpa sepatah kata. Membuat Leon sadar, perjuangannya masih panjang untuk kembali mendapatkan hati wanitanya.


Bersambung...