
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 55
**Gelang pengikat menemukan tuannya**
Meskipun deru suara mobil sudah menjauh, namun Aila masih berdiri termenung di tempatnya. Perkataan Davin, tangan kanan Leon begitu mengusik pikirannya. Mungkinkah Davin berkata jujur?
Ingatannya kembali pada tiga tahun lalu, saat ia melihat suaminya untuk yang terakhir kali, Leon toh masih menunjukkan kepeduliannya kepada Alea. Hingga membuat hatinya begitu sakit, bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.
"Udah pulang dek?"
Suara Nita membuyarkan lamunannya. Aila berbalik, kemudian mengangguk. " Iya, mbak. Belum tidur?"
"Gimana mau tidur? aku cemas setengah mati mikirin kamu." ucap Nita.
Aila tertawa kecil, kemudian melangkah kearah Nita. "Aku gak papa, kali mbak." ucap Aila santai sembari melangkah kedalam rumah.
"Mas Adi bilang, kamu di bawa gengster, bener?"
Aila terkikik, "Gengster? mas dimas ada-ada aja."
"Terus kamu kemana?" tuntut Nita.
Aila mendesah pelan, "Aku mandi dulu, boleh kan? entar aku ceritain deh,"
Nita menatap Aila, wajah gadis itu memang terlihat kelelahan sekarang. Sepertinya Aila melewati hal yang berat hari ini.
Nita kemudian mengangguk, "Janji cerita?"
Aila tersenyum kemudian mengangguk.
"Ya udah, mandi sana!" ucap Nita.
Aila kemudian masuk kekamarnya, untuk mengambil pakaian ganti. Sedang Nita berjalan kearah dapur memanaskan lauk, ia yakin Aila belum makan.
Mempunyai luka yang sama karena dibuang dan hidup di panti asuhan sejak kecil membuat mereka saling menjaga satu sama lain. Ikatan mereka bahkan melebihi saudara kandung, karena luka yang sama itulah, meteka saling mengerti isi hati satu dengan yang lainnya.
Aila terlihat keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Letak kamar mandi yang berada di samping dapur membuat Nita bisa tahu gadis itu telah selesai dengan ritualnya.
"Makan sini! kamu belum makan pasti," ucap Nita, wanita itu terlihat sibuk dengan kegiatannya memanaskan lauk.
Aila diam untuk sesaat, mengamati punggung Nita. Tiba-tiba saja ia merasa beruntung karena ada Nita selama tiga tahun ini. Wanita di depannya itu sangat sabar menghadapi sikap cerobohnya. Meski Nita tau jika pria yang dicintainya malah melabuhkan rasa padanya, Nita tetap bersikap baik dan tetap memperlakukannya seperti seorang adik. Melihat Nita, ia jadi teringat akan Lisa. Bagaimana kabar gadis itu? tidak di pungkiri, meski hidupnya sekarang dipertemukan dengan orang-orang yang baik, namun ia tetap merindukan orang-orang di masa lalunya. Oma, Lisa, Meli, Tasya dan yang lainya.
Tanpa sengaja air matanya menetes begitu saja.
Aila kemudian melangkah kearah Nita dan memeluk wanita itu dari belakang. Nita kaget, namun ia kemudian tersenyum dan membiarkan Aila memeluknya. Seharian tadi pasti sangat berat baginya.
"Ada apa?" tanya Nita lembut.
Aila menggeleng, "Kangen sama mbak aja,"
"Halah! tiap hari juga ketemu,"
Aila tersenyum, kemudian melepas pelukannya dari punggung Nita.
"Makan sana! pasti belum makan to?"
Aila mengangguk, kemudian menarik kursi dan mulai mengambil nasi.
Gadis itu makan dengan sangat lahap. Nita yang melihatnya sampai terheran-heran, pasalnya selama ini Aila paling malas dengan yang namanya makan, gadis itu bahkan sering lupa makan jika sedang menulis.
"Habis maraton, dek?"
Aila menggeleng dan terus melanjutkan makan, hingga tidak tersisa satu nasi pun di piring.
"Makan kok kayak orang kesurupan gitu?"
Aila cuek, ia kemudian mengambil air putih dan meminumnya hingga tandas. Merasa kekenyangan, Aila menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Nita menggelengkan kepalanya, satu tangannya meraih pisang goreng yang ia buat sore tadi.
"Kenyang?"
Aila mengangguk.
"Sekarang cerita ke mbak, tadi kamu kemana?"
"Ke hotel,"
Nita menautkan alis, menatap Aila penuh selidik.
"Jadi bener, boss yang bawa kamu?"
Aila terkejut, bagaimana Nita bisa tahu?
"Mbak, kok tau?"
"Nebak aja, soalnya tadi boss antusias nanyain tentang kamu."
Aila diam, mendesah.
"Kalian ada hubungan apa?"
Aila menghela napas, jujur ia belum siap bernostalgia. Tapi, terus- menerus terjebak pada masa lalu hanya akan membuat dirinya jalan di tempat dan tidak melangkah maju. Sudah saatnya ia memaafkan dan melepaskan masa lalu untuk menyambut masa depan.
"Kenapa? berat ya buat cerita?"
Aila tersenyum getir, siap bernostalgia.
"Dia...suami aku mbak,"
Uhuk! uhuk!
Nita tersedak pisang goreng, ia terlihat menepuk dadanya berulang.
"Pelan-pelan dong mbak," ucap Aila panik.
Aila buru-buru mengambilkan air putih dan menyodorkannya kepada Nita. Nita mengambil dan meminumnya, hingga rasa tidak enak di tenggorokan hilang.
"Mbak gak papa?" tanya Aila, karena melihat muka Nita merah padam.
Nita menggeleng,
"Kamu serius?"
Aila mengangguk.
"Astaga! hebat kamu, gimana ceritanya?"
"Biasa aja kok, mbak"
"Biasa gimana? kamu tahu kan siapa dia?"
Aila diam, ia jelas lebih tau dari siapapun.
"Terus gimana ceritanya, kok bisa sampai pisah?"
Aila kembali menghirup napas dalam. Sejak dulu ia tidak terlalu suka mengumbar masalah pribadinya pada siapapun. Namun, ia pikir, Nita berhak tahu, toh wanita itu sudah seperti kakaknya sendiri. Setelah mengumpulkan seribu kekuatan mental, Aila mulai menceritakan kisahnya. Di mulai saat, bagai mana ia mengenal Leon, lalu terikat dengan pria itu, kemudian mereka menikah dan datangnya orang ketiga di dalam hubungan mereka, hingga akhirnya ia lebih memilih melarikan diri ke tempat ini.
Semua cerita mengalir begitu saja dari mulutnya dan ajaibnya, setelah ia membagi kisahnya dengan orang lain hatinya terasa begitu lega. Ia seperti baru saja melepaskan ribuan ton batu yang menindih kepalanya.
Luar biasa. Aila tidak tahu, hanya dengan berbagi cerita membuat beban di hatinya sedikit berkurang.
"Awuwu banget sih kisah kamu?" ucap Nita takjub. Ia tidak menyangka jika Aila punya kisah bak cinderella.
"Awuwu gimana? ngenes iya, kali mba." Aila tersenyum getir.
Nita terkekeh, "Aku tebak, kamu belum bisa move on kan sampai sekarang?"
Aila tersenyum masam sebagai jawaban.
"Jadi karena itu, kamu tiap pagi buta keluar cuma buat nangis?"
Aila tersentak kaget, darimana Nita tahu jika ia ke pantai hanya untuk menangis?
"Aku tau kali dek, karena itu juga kamu mimpi buruk kan?"
Aila diam, tidak membenarkan juga tidak menyanggah tebakan Nita.
Nita menghela napas, ia tahu persis bagaimana Aila menjalani hidup selama tiga tahun ini. Ternyata hatinya membawa beban begitu besar.
"Lalu, apa boss sudah menikah dengan wanita itu?"
Aila menggeleng lemah, "Aku tidak tau, mbak."
Nita diam, gadis itu terlihat berpikir sesaat.
"Kalo udah nikah, ngapain gangguin kamu, coba?"
Aila mengerdikkan bahu, tidak mengerti. Pasalnya ketika dirinya menyinggung soal Alea, Leon selalu mengalihkan pembicaraan.Tapi apa pedulinya, mereka menikah atau tidak?
"Terus apa yang mau kamu lakuin?" tanya Nita.
"Aku juga gak tau mbak,"
"Apapun itu, jangan pernah melarikan diri lagi, hadapi dengan berani. Mbak selalu ada kok buat kamu." ucap Nita sembari meraih tangan Aila dan menggenggamnya dengan erat untuk memberi semangat.
Aila tersenyum, "Makasih, mbak."
Mereka akhirnya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
********
Aila mengeliat dan mengerjapkan matanya. Ia kemudian melirik jam yang tergantung di dinding ruang tengah, jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Lagi-lagi ia bangun kesiangan. Sepertinya ia ketiduran di sofa lagi, setelah semalaman menulis novel.
Aila mengedarkan pandangannya. Rumah terasa sepi, sepertinya Nita sudah pergi berangkat kerja.
Aila melangkah kearah kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah keluar dari kamar mandi, perutnya berbunyi, ia merasa lapar. Gadis itu kemudian berjalan kearah meja makan dan membuka tudung saji. Sepiring nasi goreng tersaji disana, Nita pasti dengaja menyisakan untuknya. Gadis itu memang selalu memasak setiap pagi sebelum berangkat kerja, sedang Aila selalu bangun kesiangan karena semalaman bergadang menulis novel. Kurang apa coba? udah numpang masih suka dimasakin pula.
Ia kemudian duduk dan mulai mengambil piring berisi nasi goreng tersebut, namun baru saja ia hendak menyuapkan ke mulutnya, gawainya berbunyi. Aila mendesah dan menurunkan sendoknya, siapa gerangan pagi-pagi yang sudah menghubunginya?
Ia kemudian melangkah keruang tengah dan mengambil gawainya lalu mengusap layar, nomor yang tidak dikenal muncul disana.
Aila kembali meletakkan ponselnya, ia malas melayani nomor yang tidak di kenal.
Pasti orang salah sambung
Ia kemudian berbalik untuk melanjutkan makan, namun baru satu langkah, ponselnya kembali berdering. Lagi-lagi nomor yang sama.
Dengan kesal Aila mengangkat telepon dari orang yang tidak di kenal tersebut.
[Hallo, siapa?]
[Maaf nona, ini Davin.]
[Kak, Davin?]
[Iya, nona. Nona benar-benar menolak permintaan tuan?]
[Ya, emang kenapa?]
[Semua alat berat sudah berada disini, nona. Tuan akan menghencurkan hotel sebentar lagi. Nasib puluhan kariyawan berada di tangan anda, nona.]
[Dia benar-benar tidak waras!]
Hening
[ Awas, jika kakak bohong padaku!]
tuuut! tuuut!
Aila kesal dan langsung mematikan ponselnya. ia kemudian menghubungi Nita.
Terdengar nada sambung dari seberang sana.
Ayolah mbak, angkat!
Beberapa detik berlalu, tapi Nita tidak juga mengangkatnya, namun ketika Aila hendak mematikan sambungan telepon, Nita mengangkatnya.
[Halo], suara nita terdengar lirih.
[Betul mba, hotel mau di hancurin?"
[Iya, ta..]
Tanpa menunggu jawaban dari Nita selesai, Aila sudah lebih dulu mematikan ponselnya. Gadis itu kemudian meraih tas slempangnya, buru-buru mengambil sepeda dan bergegas menuju hotel. Ia bahkan masih memakai daster dan selop rumah saking tergesanya. Meski di luar sedang gerimis, Aila tidak memperdulikannya. Rambut ikalnya juga tampak berantakan karena ia baru saja bangun tidur. Aila memacu sepedanya secepat yang ia bisa menuju hotel. Kekesalan sekaligus kemarahan tampak jelas di wajahnya. Sepanjang jalan mulut mungilnya terus mengomel dan mengumpati Leon.
Sedang di resti hotel, Leon tengah santai menikmati secangkir teh dan sandwich hangat di depannya. Tentu saja di kelilingi oleh semua pegawai hotel dan bodyguardnya. Tidak henti-hentinya senyum tersungging di bibirnya, membayangkan Aila yang akan mengamuk sebentar lagi.
Berbeda dengan wajah Leon yang cerah, secerah mentari, semua pegawai hotel justru bermuram durja. Bagaimana tidak? tanpa kabar, tanpa angin tiba-tiba mereka akan kehilangan pekerjaan, karena hotel akan dihancurkan dan parahnya mereka tidak mengerti apa alasannya.
"Hemm," Leon menghirup aroma wangi teh.
Pria itu tampak senyum-senyum sendiri sedari tadi. Sebenarnya ia sedang mengingat rincian tugas yang ia persiapkan untuk Aila. Ia bahkan membuatnya dengan tertawa sembari mengingat wajah gadis itu ketika nanti membacanya.
"Hari ini sangat cerah, Davin." lanjutnya.
Davin menautkan kening, pasalnya di luar mendung dan sedang gerimis.
"Ya, tuan."
Davin bisa menebak, yang cerah bukan cuaca namun hatinya.
Tepat saat itu Aila masuk kedalam hotel dengan tangan kanannya memegang selop, berjalan dengan tergesa kearah Leon. Penampilannya sungguh terlihat aneh dengan rambut setengah basah karena gerimis dan berantakan pula, ia mendekat kearah Leon dengan raut kekesalan yang sangat.
Plaaaak!
Aila memukul meja di depan Leon dengan selopnya, hingga cangkir dan piring di atasnya terlihat bergetar. Leon pun terlihat terlonjak karena kaget, namun pria itu tetap bersikap setenang mungkin.
"Tuan, anda memang seperti anak kecil, tidak punya hati, anda.....bla bla bla,"
Semua sumpah serapah Aila keluarkan saat itu juga, hingga ia terengah dan berhenti sendiri karena kehabisan napas. Sedang saat itu Leon malah tengah menikmati penampilan Aila yang hanya memakai daster berwarna putih. Pikiran mesumnya berlarian tidak karuan melihat dada Aila menyembul dengan indahnya dari balik daster. Mulut mungilnya yang terus menerocos malah tampak semakin seksi dimatanya.
"Sudah?" tanya Leon santai.
Aila diam, terlihat masih mengatur napas.
"Ada apa, sayang? kau terlihat sangat kesal?" tanya Leon pura-pura tidak tahu.
Aila melotot kesal kearah Leon, sebelum menarik napas panjang dan.....
"AAAAAAAAAAA!"
Aila berteriak sekencang mungkin, hingga Leon pun terlihat memiringkan kepalanya sembari memejamkan mata karena saking melengkingnya.
Setelah itu, ia menarik napas kemudian menghembuskannya pelan lalu duduk dengan anggun di depan Leon. Bukankah orang gila harus dihadapi dengan kegilaan?
"Saya siap bekerja dengan anda, tuan," ucapnya lembut.
Leon melongo melihat tingkah wanitanya, singa betinanya benar-benar menabjubkan.
"Ha ha ha ha!" Leon kemudian terbahak dengan kerasnya. Ia bisa menebak, hari ini akan menjadi hari yang paling menyenangkan seumur hidupnya.
"Davin!"
"Ya, tuan?"
"Berikan rincian tugas, yang akan di kerjakan oleh istriku."
"Baik, tuan."
Davin mengambil sebuah map dan memberikannya pada Aila.
Aila menerimanya dengan tatapan tajam dan horor kearah Davin, lagi-lagi entah salah apa pria merana itu, hingga harus menerima imbas dari setiap kekesalannya.
"Baca dan tanda tangani!" perintah Leon sembari menyerahkan pena kearah Aila.
Aila tidak menjawab, ia langsung membukanya begitu saja.
"Baca pelan-pelan sayang, supaya kau paham" ucap Leon santai kemudian menyeruput tehnya dan mempersiapkan diri untuk pemberontakan Aila selanjutnya.
Aila melotot tidak percaya ketika membukanya, ia bahkan baru membaca point pertama.
"Memandikan?" tanya Aila tidak percaya, ketika membaca point pertama tugas-tugasnya.
Buru-buru Aila menutup mulutnya, karena ia tidak sengaja mengucapkannya dengan begitu keras. Sedang di belakangnya sedang berdiri puluhan kariyawan hotel.
Leon terkekeh, "Ayolah sayang, jangan pura-pura terkejut. Kita pernah melakuka..."
Aila langsung melompat turun dan membekap mulut Leon dengan tangannya. Lagi-lagi tingkah cerobohnya hanya menguntungkan bagi Leon. Pria itu langsung mengangkat Aila kedalam pangkuannya, meski Aila berontak dan memukulinya untuk melepaskan diri, namun mengunci tubuh Aila dengan satu tangannya saja, sudah membuat gadis itu tidak bisa bergerak.
Setelah tenang, Leon mengecup singkat pipi Aila.
"Gitu kan, manis." ucapnya.
Dan ditanggapi dengan pelototan dari mata Aila.
Lagi-lagi Leon hanya terkekeh. Ia kemudian mengeluarkan gelang kaki yang dulu di pakai Aila, lalu mengangkat dan mendudukkan tubuh Aila di atas meja.
"Apa?!" sungut Aila yang melihat Leon tiba-tiba berjongkok dan mengambil kaki kirinya.
"Diam!" ia kemudian memasangkan gelang tersebut pada kaki Aila. Sontak Aila menarik kakinya, namun Leon menahannya.
"Aku akan menurut, jangan pasang itu!" Aila terus bergerak.
"Tidak sayang, kau gadis kecil yang licik. Aku takut kau akan kabur lagi." ucap Leon.
Mau bagaimana lagi, ia hanya ingin Aila tetap dalam pengawasannya di manapun gadis itu berada.
Leon kemudian berdiri dan mengeluarkan gelang yang lain, namun tetap sama desain dan motifnya hanya lebih kecil bentuknya, lalu memasangkannya pada tangan kanan Aila.
"Lagi?!" tanya Aila tidak percaya, berapa banyak pelacak yang akan Leon pasang di tubuhnya?
Leon tertawa kecil.
"Kenapa tidak sekalian di leherku? biar ramai!" cibir Aila.
"Sudah sayang, bukankah itu liontin pem..."
Aila buru-buru menendang kaki Leon, namun pria itu lebih dulu mengelak.
Merasa sukses membuat gadisnya kesal, Leon kemudian terkekeh.
"Baiklah, itu akan menjadi rahasia kita berdua, ok?" ucap Leon sembari mengedipkan sebelah matanya nakal.
Sedang Aila memalingkan mukanya karena kesal. Tiba-tiba saja ia menyesal karena telah menangisi pria gila itu selama tiga tahun.
Mungkin hanya Aila yang tidak tahu, jika orang terdekat Leon semuanya menggunakan pelacak. Termasuk Davin, Serkan dan yang lainnya. Hanya saja pelacak itu berbentuk cip yang ditanam di leher bagian belakang, di bawah kulit. Lalu mereka menutupinya dengan tato agar tidak terlihat. Jika memungkinkan pun, Aila harus melakukan itu, namun Leon tidak tega melihat Aila kesakitan.
"Arif!"
"Ya, tuan?"
"Aku tidak jadi membongkar hotel, karena istriku mengamuk. Kau tau? aku takut karenanya." ucap Leon dengan tampang sok melas.
Arif terlihat melirik Aila untuk sesaat, namun gadis itu masih terlihat sibuk dengan gelang ditangannya.
"Baik, tuan."
Seketika semua kariyawan hotel terlihat senang, karena mereka tidak jadi kehilangan pekerjaan hari ini. Satu hal yang arif pelajari, Leon bisa membuat nasib orang berubah hanya dengan hitungan detik.
Bersambung...
Noh, ekstra part. Jangan minta lebih lagi, tangan udah nyut-nyut_an nih!