
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 80
**Aila menghilang**
Kastil keluarga Thomson sudah di hias sedemikian rupa untuk menyambut pernikahan dua pasang mempelai. Alek Dan Davin menikah di hari dan tempat yang sama. Entah datang dari mana ide gila itu, namun semua orang menyambut rencana itu dengan suka cita. Leon pun tidak keberatan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk pernikahan kedua sahabatnya itu. Baginya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membalas budi atas kesetiaan dan kerja keras mereka dalam membantu dirinya. Tanpa semua sahabatnya, Leon bagai singa yang tidak bertaring. Dari luar terlihat kuat, namun lemah didalam.
Sudah banyak boss besar yang menyukai loyalitas kerja mereka dan menginginkan mereka untuk bergabung bersama, namun mereka tidak ada yang mau meninggalkan Leon. Bahkan berpikir saja tidak. karena jika diingat, jasa Leon pada mereka bukan kaleng-kaleng. Leon tidak hanya memberikan hartanya saja, tapi juga kehidupan bagi mereka. Tanpa pertolongan Leon, mungkin saat ini mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini. Mati karena kerasnya kehidupan. Tapi Leon datang mengulurkan tangan dan memberi mereka harapan.
Lalu bagaimana mereka akan lupa akan hal itu? Jika perlu, Mereka bahkan siap memberikan nyawanya untuk membalas budi mereka.
Ketika semua orang tengah sibuk, Aila malah terlihat lesu dan tidak bersemangat. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, tapi yang pasti Aila merasa malas untuk melakukan apapun selain tiduran. Kepalanya terasa pusing jika ia memaksakan diri untuk beraktifitas.
Mood nya juga sering naik turun dengan cepat tanpa sebab yang jelas. Semenit senang semenit sedih. Ia sendiri bingung dengan dirinya sendiri.
Seperti pagi ini, Leon sudah bersiap berangkat kerja karena ada meeting pagi dengan bagian pemasaran. Namun, istri mungilnya itu tidak mau melepasnya barang sedetik.
"Aku Ada rapat pagi ini, sayang. Kita bermain nanti lagi, ok?" ucap Leon sembari mengusap kepala istrinya. Sejak melihatnya dirinya keluar dari walk in closet dengan rapi, Aila langsung meloncat naik minta di gendong. Dan ini sudah satu jam sejak saat itu. Tidak ada ocehan ataupun permintaan dari mulut mungilnya itu, Aila bilang hanya ingin dipeluk.
Tidak ada jawaban, Istri nakalnya itu hanya menggeleng sembari memainkan kancing.
Leon terlihat mengurut tulang hidungnya, bingung. Sejak dirinya pulang dari perjalanan bisnis tiga hari yang lalu, Aila memang berubah menjadi sangat manja dan juga menjadi lebih sensitif. Jika permintaannya tidak di kabulkan, istrinya itu akan menangis berjam-jam di dalam kamar mandi. Leon sendiri merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Jika saja yang diinginkannya berupa barang atau sejenisnya, mungkin itu akan sangat mudah baginya untuk menuruti. Namun keinginan Aila terkadang sangat sulit untuk ia penuhi. Bagaimana tidak? lusa Aila meminta dirinya untuk tidur dengan kemeja yang sudah seharian ia pakai, lalu kemaren sore, istrinya itu merengek minta dibelikan belalang goreng dan sekarang, meminta dirinya untuk memeluknya seharian.
"Cukup, sayang. Aku harus bekerja sekarang!" ucap Leon, lebih terdengar seperti sebuah perintah ketimbang permintaan. Ia tahu, bagaimanapun ia merayu, istrinya itu tidak akan menurut. Ia sendiri bukan orang yang sabar dalam bersikap.
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari mulut Aila. Gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannnya.
Leon sudah tidak lagi bisa memberi toleransi. Meeting hari ini sangat penting, dan ia sudah terlambat hampir dua jam.
Leon segera berdiri, tentu saja dengan Aila yang masih melekat di tubuhnya. Pria itu membawa istrinya kearah ranjang dan menurunkannya dengan paksa di sana. meskipun belitan tangan Aila cukup kuat pada leher suaminya, namun tenaganya toh tidak sebanding dengan tenaga Leon.
Setelah meraih gawainya dan memasukkannya dalam saku jas, ia pergi meninggalkan kamar tanpa memberi kecupan seperti yang sering ia lakukan. Raut wajah Leon tampak marah memang.
Kali ini, entah kenapa Aila tidak merasa kesal saat Leon tidak menurutinya. Melihat suaminya keluar dengan wajah marah, ia juga tidak merasa bersalah. Gadis itu hanya mengangkat bahu tidak peduli, lalu menarik selimut dan kembali tidur.
Berbeda dengan Leon, belum juga memasuki ruang rapat, tapi mukanya sudah terlihat kusut seperti kain pel.
"Ayo berangkat!" perintah Leon pada Erik setelah menghabiskan kopinya dengan terburu-buru. Gara-gara Aila, dirinya tidak lagi sempat untuk makan.
"Makan dulu," sahut Oma,
"Gak sempat Oma, nanti saja di kantor," jawab Leon sembari melangkah keluar.
Oma tidak lagi memaksa. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul sembilan. Sudah lebih dari kata terlambat sebenarnya.
Dalam hal pekerjaan, Leon memang sangat disiplin. Tapi akhir-akhir ini cucunya itu selalu telat berangkat ke kantor. Ia sendiri tidak tahu alasannya apa.
"Kenapa? istrimu bertingkah aneh lagi?" tanya Niko sebelum tubuhnya hilang dibalik pintu menyusul Leon.
Oma yang mendengar pertanyaan Erik jadi menerka-nerka, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan hubungan cucunya itu.
Jika melihat tingkah Aila tiga hari ini, gadis itu memang terlihat aneh. Aila tidak lagi bangun pagi untuk membantu Lisa memasak, gadis itu juga tidak lagi terlihat membantu mempersiapkan pernikahan kakaknya, dan lagi Aila lebih sering mengurung diri didalam kamar.
Merasa ada yang tidak beres dengan cucu mantunya itu, Oma segera beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Aila.
Pintu kamar cucunya itu terlihat terbuka sedikit. Pertanda sang empunya kamar tidak menguncinya. Oma langsung masuk begitu saja kedalam kamar.
Wanita tua itu terlihat menggelengkan kepala melihat Aila masih meringuk di bawah selimutnya. Padahal matahari sudah hampir tegak.
"Apa dia sedang sakit?" gumam Oma. Wanita tua itu kemudian menempelkan punggung tangan di kening Aila yang tidur dengan posisi membelakanginya. Kening Aila memang terasa hangat tapi tidak panas.
Merasakan ada yang sedang menyentuhnya, Aila membuka mata dan berbalik. Gadis itu melihat Oma sudah berada di sampingnya.
"Oma?" ucap Aila terkejut.
"Apa kau sakit? wajahmu terlihat pucat," sahut Oma sembari menyentuh pipi Aila.
Aila menggeleng, "Tidak Oma, Aila baik-baik saja.." ucap Aila dengan menyunggingkan senyum. Ia memang merasa dirinya sehat.
Oma mengelus kepala Aila, "Jangan bohong sayang, Oma lihat kau sering melewatkan sarapan akhir-akhir ini. Kau juga terlihat lesu dan tidak bersemangat,"
"Aila benar-benar sehat Oma, hanya saja...rasanya ingin terus-terusan tidur dan malas melakukan apapun," jawab Aila sembari mengusap punggung tangan Oma.
Oma terlihat mengerutkan kening sesaat, "Apa kau merasa pusing?" tanya Oma.
Aila mengangguk, "Sedikit,"
"Apa kau juga merasa mual dan muntah?" lanjut Oma.
Aila kembali mengangguk, lalu gadis itu tertawa kecil. "Oma mirip ibu dokter yang sedang periksa pasien deh," ucap Aila bercanda.
Oma tidak menanggapi candaan Aila, wanita tua malah terlihat semakin serius. Dan itu membuat Aila jadi bingung.
"Kapan haid mu terakhir datang?" tanya Oma lagi.
Aila memiringkan kepalanya seperti sedang berpikir, "Tanggal 15 bulan lalu," jawab Aila setelah berhasil mengingatnya. Ia memang terbiasa datang bulan sekitar tanggal tujuh dan delapan. Akan berakhir setelah seminggu dari tanggal tersebut.
"Tanggal berapa sekarang?" Tanya Oma lagi.
Aila tidak menjawab, gadis itu malah mengerutkan keningnya heran. Sebenarnya Ada apa dengan Oma! kenapa menanyai tanggal haidnya dengan serius? jangan- jangan...
"Lihat tanggal pada Hpmu sayang, cepat!" perintah Oma tidak sabar.
Aila tergagap dan langsung meraih gawainya yang berada di atas nakas.
"Tanggal 23, Oma.." jawab Aila cepat.
Oma langsung tersenyum senang.
Melihat Oma yang tiba-tiba terlihat senang, Aila jadi heran.
"Ada apa Oma?" tanya Aila tidak mengerti.
Oma mengelus pipi Aila, "Tak apa sayang, semoga bukan hanya dugaan," jawab Oma sembari tersenyum.
Aila semakin bingung dengan jawaban Oma. " Dugaan? dugaan apa?" tanya Aila.
Oma hanya tersenyum dan tidak menjawab. " Sekarang turun dan makanlah yang banyak, agar kau tetap sehat," perintah Oma.
"Omaaa jawab dulu," tuntut Aila semakin penasaran karena Oma malah tidak menjawab pertanyaannya.
"Bukan apa-apa sayang, ayo sekarang kita turun," Oma menarik paksa tangan Aila. Ia sendiri tidak ingin mendahului kehendak Tuhan, meskipun ia sudah sangat berharap jika Aila hamil. Tapi biarlah Miranda yang memastikannya besok.
Meskipun sangat malas, Aila mengikuti langkah Oma keluar dari kamarnya. Oma mengajaknya turun menuju ruang makan.
Sampai didalam ruang makan Aila duduk begitu saja tanpa menyapa siapapun. Kepalanya sungguh terasa sangat pusing.
Oma mendekat kearah Maria yang tengah membuat kue. Wanita tua itu terlihat membisikkan sesuatu di telinganya, namun Aila tidak begitu dengar mereka bicara tentang apa. Aila pun tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu, pening di kepalanya lebih menjadi fokusnya sekarang.
"Kau terlihat pucat sayang, apa kau sakit?"
Aila terjengkit kaget dengan pertanyaan Serkan yang tiba-tiba. Sejak kapan pria itu duduk disampingnya?
"Astaga! kakak mengagetkanku," ucap Aila sembari mengurut dadanya.
Serkan tertawa, "Mengagetkan? aku disini sejak tadi dan kau kaget?"
Aila mengerdikkan bahu, entah kenapa ia kehilangan fokus beberapa hari ini.
"Aku tidak melihat kakak," jawab Aila santai.
Serkan menggelengkan kepala, "Aku besar sayang, badanku sangat besar dan kau tidak melihatnya?" Serkan kehilangan kata-kata sekarang. Sejak dulu, Aila selalu punya dunianya sendiri.
Aila menoleh, menatap lekat pria didepannya, dengan pandangan seolah menyangsikan kata 'Besar' yang Serkan maksud.
"Aku tidak melihat," jawab Aila acuh.
Serkan hanya bisa melongo. Astaga!
Oma datang dengan secangkir teh hangat. "Minumlah, pusingmu akan sedikit berkurang nanti," ucap Oma sembari menyodorkan secangkir di tangannya.
Aila menerimanya kemudian mengangguk, "Terimakasih Oma," ucap Aila.
Wanita tua itu tersenyum, lalu duduk tepat di depan Aila.
"Wajahnya pucat, apa dia sakit?" tanya Serkan pada Oma.
Tepat saat itu, Maria dan seorang pelayan membawakan banyak makanan di depan Aila.
"Makanlah yang banyak, nona.." ucap Maria dengan ramah.
Aila tersenyum dan mengangguk, "Terimakasih Bibi.."
Maria tersenyum kemudian kembali ke dapur.
Aila mengamati semua makanan di depannya dengan tidak selera. Aroma masakan yang bercampur menjadi satu malah membuat perutnya mual.
Seketika Aila menutup mulutnya sembari meremas perutnya. Rasanya sungguh tidak nyaman.
"Kau baik-baik saja?" tanya Oma khawatir, meskipun reaksi Aila semakin menguatkan dugaannya. Dugaan jika Aila memang hamil.
Aila menggeleng cepat, lalu berpindah tempat. Gadis itu duduk di sebelah serkan.
"Ada apa? kau tidak selera?" tanya Oma lagi.
Aila menghela napas, "Perut Aila hanya sedang tidak enak Oma," jawab Aila jujur. Ia tahu bibi Maria sudah bersusah payah membuatkan makanan untuknya, tapi mau bagaimana lagi? perutnya tidak bisa diajak kompromi.
"Tak masalah sayang...tapi kau harus makan meskipun sedikit," pinta Oma.
Aila hanya mengangguk pelan sembari melirik makanan di samping Serkan dengan tatapan tidak selera.Tapi demi menyenangkan hatinya Oma, Ia harus tetap makan meskipun sedikit.
Saat sedang menatap malas kearah makanan yang terhidang, Aila melihat Serkan makan dengan sangat lahap spageti di piringnya. Tanpa sadar Ia menelan ludah, entah kenapa ia sangat ingin spageti di piring Serkan tersebut sekarang.
"Boleh aku minta...spagetinya?" tanya Aila pada Serkan.
Serkan menatap Aila sekilas, "Minta bibi Maria, sayang..." Ucapnya sembari melanjutkan makan.
Aila kembali menelan ludah, "Pengen punya kakak..." sahut Aila dengan nada merengek.
"Ini sisa sayang.." Serkan enggan menberikan spagetinya.
Aila terlihat kecewa, namun matanya masih menatap penuh minat spageti milik Serkan.
"Berikan saja," perintah Oma sembari menggeser piring Serkan kearah Aila. Tanpa basa-basi, Aila langsung memakan spageti yang sudah di depan matanya dengan sangat lahap. Menyaksikan hal itu, Serkan hanya bisa melongo, sedang Oma tersenyum puas. Meskipun spageti sisa, yang penting Aila mau makan.
"Astaga!" Serkan kembali dibuat kehilangan kata-kata.
"Makan saja yang itu," ucap Oma sembari menunjuk aneka makanan yang tersaji disampingnya.
Serkan hanya bisa mendesah pasrah. Ia kembali melirik Aila. Gadis itu terlihat sangat menikmati spagetinya. Seolah-olah ia sedang makan makanan terlezat di dunia.
Tidak butuh waktu lama, Aila sudah menghabiskan spagetinya tanpa menyisakan sedikitpun. Setelah menghabiskan tehnya, gadis itu menyandarkan punggungnya dan mengusap perutnya yang terasa kenyang.
Ia lalu menatap kearah Serkan,"Terimakasih, tadi itu sangat enak," ucap Aila. Tanpa menunggu jawaban dari Serkan Aila sudah lebih dulu berpamitan pada Oma untuk melanjutkan tidur.
Oma menatap punggung Aila dengan senyum merekah, harapannya untuk segera memiliki cicit sepertinya akan segera terkabul.
"Oma kenapa?" tanya Serkan yang heran melihat tingkah laku Oma. Sejak tadi wajah keriput wanita tua di depannya tersebut, terlihat sangat gembira.
"Kau tidak lihat aku sedang senang?" tanya Oma ketus. Cucu angkatnya itu mengganggu kesenangannya saja.
Serkan mengangkat bahu, apa lagi kini kesalahannya? dua perempuan di depannya sepertinya sedang PMS semuanya. Tunggu! Oma PMS? astaga!
Sebelum dirinya juga ikutan PMS, Serkan bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang makan.
*****
Leon terlihat begitu kusut setelah turun dari mobil. Pekerjaannya selama seminggu ini sungguh menguras tenaga dan pikirannya. Baru-baru ini, ia menemukan kebocoran dana pada proyek terbarunya. Sepertinya ada salah seorang kariyawannya yang sedang mengajaknya bermain. Belum lagi, permasalahan-permasalahan kecil anak cabang perusahaannya yang berada di jepang. Ditambah lagi sikap istrinya yang akhir-akhir ini menjadi sangat manja dan sensitif. Semua itu membuatnya lelah luar biasa.
"Hei Leon, kemarilah!" perintah Oma yang melihat Leon melintas di depan matanya.
Leon berhenti dan memutar tubuh dengan malas, "Aku lelah Oma," jawab Leon. Wajah Leon memang terlihat sangat lelah.
"Hanya sebentar, kemarilah," pinta Oma sembari menepuk permukaan sofa di sampingnya.
Leon menghela napas, kemudian mendekat dan duduk disamping Omanya.
"Apa?" tanya Leon malas.
Oma mendesah sesaat, kemudian menatap lekat kearah cucunya. Terkadang ia merasa kasihan dengan cucunya itu. Sejak masih muda Leon di tuntut untuk menjadi dewasa sebelum waktunya karena keadaan. Belum genap 28 tahun usianya, tapi ia sudah harus memikul tanggung jawab ribuan kariyawannya.
"Bersikaplah lebih sabar dengan istrimu," ucap Oma menasehati.
Leon mendesah, "Apa yang dia katakan?" tanya Leon penasaran.
"Tidak ada, aku tahu akhir- akhir ini sikapnya begitu merepotkan," sahut Oma.
"Yah, dia sangat manja akhir-akhir ini.." balas Leon.
"Kau hanya melihat manjanya saja, apa kau melihat perubahan dirinya yang lain?" tanya Oma. Ia yakin Leon tidak sepeka itu untuk mengetahui perubahan istrinya.
"Apa maksud Oma?" Leon tidak mengerti kemana arah pembicaraan neneknya itu.
Oma lagi-lagi terlihat mendesah, tebakannya benar. Leon memang sangat mencintai Aila, namun tidak bisa mengerti dan tidak peka dengan perasaan dan keinginan gadis itu.
"Apa kau tahu, dia sering melewatkan sarapan paginya akhir-akhir ini? sering merasa pusing, sering merasa kelelahan dan tidak bisa tidur?" tanya Oma lagi.
Leon mengerutkan kening lalu menegakkan tubuhnya. "Apa dia sakit?" Leon balik bertanya. Ia memang tudak tahu jika Aila mengalami apa yang Oma sebutkan akhir-akhir ini.
Oma menyunggingkan senyum sebelah, "Kau suaminya, kenapa tanya padaku?" cibir Oma.
"Omaaa please!"
"Sudah ku duga kau tidak tahu," lanjut Oma.
"Ok, aku memang tidak tahu. Dia tidak pernah bercerita apapun," ucap Leon mengaku.
"Kau suami payah, Leon. Kau kira istrimu tipe orang yang mudah berbagi cerita?" cibir Oma lagi.
Leon diam. Oma memang benar, Aila bukan tipe orang yang mudah terbuka. Gadis itu pandai menyembunyikan rasa sakitnya.
"Aku rasa istrimu hamil," lanjut Oma.
Leon langsung menoleh, "Hamil?" ucapnya terkejut.
"Kenapa terkejut? kau tidak tidak senang?" tanya Oma heran. Leon lebih terlihat kaget dari pada senang.
"Bukan begitu Omaaa.."
"Apa? kau memang tidak terlihat senang jika istrimu hamil!"
"Maksudku, apa bisa secepat itu?" tanya Leon dengan bodohnya.
Oma menggelengkan kepalanya. Leon bisa saja jago diatas ranjang, tapi pengetahuannya tentang akibat dari itu nol besar.
"Memang kau mau berapa lama? setahun? dua tahun?" tanya Oma kesal.
Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya ia sudah salah bicara.
"Lagi pula setiap melakukannya apa kau memakai pengaman? tidak bukan?" lanjut Oma.
Leon menggeleng.
"Lalu kenapa heran jika istrimu hamil?" tanya Oma.
"Aku hanya tidak menyangka akan secepat itu...kami bahkan belum berbulan madu," jawab Leon terdengar Lesu.
Oma tertawa, " Apa bedanya? meskipun di kandang **** pun kau akan tetap menerkam istrimu!"sahut Oma.
Leon mengangkat bahu.
"Panggilkan miranda besok, biar dia yang memastikan," lanjut Oma.
Leon hanya mengangguk, "Tapi apa hubungannya orang hamil dengan manja?" tanya Leon tidak mengerti.
"Perubahan emosi, pada orang hamil itu hal biasa. Itu semua karena pengaruh hormon. Lagi pula jika permintaanya masih dalam batas wajar, tidak ada salahnya kau penuhi. Orang hamil itu nanyak mengalami kepayahan, jadi kau harus mengerti itu..." jawab Oma menjelaskan sekaligus menasehati cucu Arogannya itu.
Leon diam. Mendengar nasehat Omanya, entah kenapa ia merasa bersalah pada istrinya. Ia bahkan tidak tau jika istrinya tengah mengalami kepayahan karena sedang mengandung benihnya. Setiap malam, ia masih minta jatah tanpa pernah bertanya apa istrinya kelelahan atau tidak. Leon merasa menjadi suami yang buruk sekarang. Padahal jika diingat, permintaan istrinya itu tidak ada yang berlebihan, hanya butuh kesabaran saja.
Bersambung....