Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 48


🌸 Cinta 49 Cm 🌸


Part 48


**Pergi**


Aku pergi, bukan karena cintaku sudah mati.


Tapi karena aku sadar, kita harus berhenti untuk saling menyakiti.


Kabar tentang kemungkinan sembuh Alea membuat Leon bahagia, semua cara yang diusahakannya untuk menyembuhkan gadis itu nyatanya membuahkan hasil. Alea telah bersih dari sel kanker, meski ia masih lemah karena harus menjalani serangksian kemoterapi untuk lebih memastikan hilangnya sel jahat tersebut dari tubuhnya.


Kini Alea terlihat lebih sehat dari sebelumnya, gadis itu terlihat jauh lebih baik dari sekarang.


kabar kesembuhan Alea juga sudah sampai di telinga Aila, Alex sendiri yang memberitahukan kepadanya.


Sembuh atau tidaknya Alea memang tidak ada kaitannya dengan Aila, namun satu hal yang pasti, membuat Aila menyadari jika dirinya hanya akan menjadi duri penghalang kebahagiaan diantara Mereka.


Sore itu Leon tengah menemani Alea jalan- jalan di taman bekakang kastil.


Gadis itu merengek ingin keluar kamar karena bosan. Berada di dalam kamar berhari-hari membuat gadis itu bosan dan ingin menghirup udara segar.


Saat tiba di taman belakang, semua sahabatnya ternyata sudah ada disana, termasuk Oma.


Melihat Oma, Alea mengurungkan niat, namun Leon meyakinkan Alea bahwa semua akan baik-baik saja.


Mereka akhirnya bergabung disana, tentu saja Oma menatap tidak suka kepada Alea. Wanita tua itu sungguh tidak mengerti, otak cucunya itu berada dimana.


Melihat tatapan ketidak sukaan dari Oma, Leon tetap santai. Pria itu kemudian membantu mendudukkan Alea di kursi taman.


"Apa yang akan kalian tunjukkan? kemesraan? yang satu seorang pria yang tidak punya pendirian, yang satu wanita tidak tau diri. Kalian cocok!" cibir Oma, sembari menyesap wine miliknya.


Alea diam begitupun dengan Leon. Pri itu mengerti kemarahan Omanya.


"Dimana Aila? aku tidak melihatnya sejak tadi?" tanya Oma pada Serkan.


Yang ditanya hanya mengerdikkan bahu, tidak tahu.


"Aku tidak tau, aku bukan babysitternya!" jawab Serkan acuh.


"Ah, kau benar. Kau bukan suaminya, aku lupa." ucap Oma menyindir Leon.


Tepat saat itu, sebuah mobil sport metalik yang sering dikendarai oleh Leon, tiba-tiba melaju kencang kearah mereka. Seketika mereka kaget dan berdiri.


Ciiiit!!


Decitan suara rem mobil berhenti tepat di depan Leon dan Alea.


Sebuah tangan mengangkat pintu mobil kearah atas, kaki dengan Haigh heel berwarna merah terang terlihat keluar dari pintu mobil.


Semua terkaget, melihat Aila keluar dari sana, tentu saja selain Erik.


Aila keluar dengan anggun, gadis itu berhias hari ini. Aila terlihat sangat cantik. Sebuah dress selutut berwarna merah maroon melekat pas di tubuhnya, warna yang kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Ia juga menggelung rambutnya keatas, menampakkan lehernya yang mulus dengan di tumbuhi rambut halus, membuat semua mata sahabat Leon menelan ludah. Mereka baru sadar, ternyata jika di poles Aila terlihat cantik dan menggemaskan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di kastil ini Aila memakai alas kaki, Aila terlihat lebih pandai memakai heelsnya sekarang.


"Astaga! astaga!" ucap Oma ketika melihat Aila keluar.


Aila terkikik melihat oma terkejut, gadis itu berlari kecil kearah Oma dan mencium pipinya.


"Kau membuatku jantungan!"


Aila terkekeh dan kembali memeluk Oma.


"Apa aku cantik?" tanya Aila.


"Ya, kau terlihat cantik." jawab Oma sembari menepuk kedua pipi gadis itu.


"Oma tau? aku membuatnya selama dua jam." ucap Aila jujur yang disambut kekehan dari Oma dan yang lain.


"Siapa yang mengajarnya mengendarai monster itu?!" tanya Oma melihat kearah ketiga kelaki disampingnya.


Tidak ada yang menjawab, namun mata mereka melirik kearah Erik.


"Apa?" tanya Erik merasa tersudut.


"Kau yang mengajarinya?" tanya Oma.


"Ayolah Oma, aku hanya mengerjainya dan ternyata dia bisa. Oma tau? dia belajar hanya dalam waktu 2 hari." ucap Erik antusias, namun malah


mendapat pukulan pada lengannya oleh Oma.


Erik terlihat meringis, kemudian berbisik di telinga Oma.


"Dia kecil tapi menakutkan!"


Aila langsung melotot kearah Erik dan memberikan cubitan kecil di perut, hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Aku hanya mengisi waktu luang Oma dan ternyata menyenangkan." ucap Aila menjelaskan.


Oma menggelengkan kepala tidak percaya, namun entah kenapa wanita tua itu bisa memakluminya. Aila masih muda dan terkurung, ditambah lagi orang yang seharusnya ada untuk dirinya malah mengabaikannya.


Oma tau Aila sedang mencari perhatian suaminya, namun Leon masih saja tetap mengabaikannya.


Aila terlihat mendekat kearah serkan yang sedari tadi hanya diam mengamati.


"Apa aku terlihat cantik?" tanya Aila manja.


Serkan terlihat berpikir dan mengamati sejenak.


"Kau jelek! turunkan rambutmu, itu tampak aneh!" ucap Serkan sembari menoyor kening Aila.


Aila terdorong ke belakang sembari meraba keningnya, namun entah kenapa gadis itu malah terdiam setelahnya. Kata-kata yang baru saja Serkan ucapkan sama persis dengan yang Leon katakan ketika Meri mendandaninya dulu.


"Kenapa? takut tergoda?" goda Aila.


"Gak! tubuhmu jelek, telanjangpun aku gak akan tergoda." ucap Serkan sembari memalingkan mukanya yang memerah.


"Hei! wajah kakak memerah, lihatlah!" Aila terkekeh sembari menunjuk wajah Serkan.


"Pakai ini! kau terlihat norak!" Serkan melempar jaketnya kearah Aila kemudian melangkah pergi.


"Hei, tunggu! kakak harus mengajariku hari ini." ucap Aila sembari berlari menyusul serkan.


"Hari ini libur!"


"Ayolah, kakak sudah berjanji,"


"Aku sibuk!"


"Ini terakhir, aku janji!" Aila terus merengek sembari mengejar serkan.


Sedang Leon hanya diam membisu ditempatnya sembari menatap Keduanya menghilang dengan suara rengekan Aila yang semakin menjauh.


"Well, mereka terlihat serasi bukan?" tanya Oma.


Erik dan Alex hanya diam dan mulai menyesap wine.


"Aku rasa, jika mereka menikah akan serasi." ucap Oma sembari berlalu menyusul Aila.


Tidak lama setelah itu Erik dan Alex pun mengekor oma dari belakang.


Meninggalkan Leon dengan kediamannya.


"Apa kau cemburu?" tanya Alea ketika mereka telah menjauh.


Leon diam, tidak menjawab.


"Mereka terlihat serasi." ucap Alea memancing reaksi Leon.


Leon masih diam.


"Maksudku istrimu dan Serkan."


"Aku rasa kau harus kembali, tidak baik disini terlalu lama." ucap Leon sembari berdiri, namun Alea kembali menarik tangannya.


"Bukankah kau memilihku? kenapa tidak kau ceraikan saja?"


"Istriku bukan urusanmu Alea, ayo kembali!" Leon menarik tangan Alea, namun gadis itu menolak.


"Katakan kau masih mencintaiku."


"Jika tidak ingin kembali, aku akan pergi." ucap Leon sembari melangkah pergi.


"Aku tau kau mencintaiku! karena itu kau lebih memilih merawatku dan mengabaikan istrimu!" teriak Alea.


Leon tidak menjawab dan terus melangkah menuju kastil, meninggalkan Alea yang mulai menangis seorang diri di bangku taman.


*******


Entah kenapa Leon ingin kembali kekamarnya, tiba-tiba saja ia merindukan tempat itu. Ia tidak begitu paham apakah yang dirindukan hanya kamarnya atau istrinya.


Ingatan tentang candaan istrinya bersama Serkan tadi terus mengusik pikirannya di tambah dengan pertanyaan Alea terhadapnya. Ia pikir keputusannya mempertahankan Alea untuk tetap disampingnya adalah tepat, namun setelah mendengar pertanyaan Alea dan melihat sikap Aila kepada sahabatnya entah kenapa ia bimbang. Hatinya senenarnya lebih condong kepada siapa?


Untuk sesaat, Leon terdiam ketika melewati ruang makan. Ia melihat istri dan semua sahabatnya sedang makan sembari bercanda ria. Beberapa kali Aila terlihat mengambilkan lauk untuk ketiga sahabatnya. Leon tertegun untuk sesaat, seharusnya bukankah ia juga tengah duduk disana bersama mereka?


"Kakak tidak makan?" tanya Aila yang melihat Leon tengah berdiri di ambang pintu ruang makan.


Leon tergagap untuk sesaat, namun ia segera menetralkan sikapnya.


"Aku tidak lapar." jawab Leon.


Aila manggut-manggut mengerti, gadis itu segera melanjutkan makan dan kembali bersenda gurau dengan Oma dan ketiga sahabatnya.


Leon yang masih berdiri disana merasa sangat aneh, merasa terasing di dalam rumahnya sendiri.


Leon mendesah, kemudian ia berlalu menuju kamarnya.


Setelah Leon pergi, Aila kembali menatap kearah suaminya yang menjauh. Bukan inginnya untuk bersikap cuek kepadanya, namun Leon sendiri yang membuat semuanya menjadi hambar.


Setelah selesai makan, Aila membantu lisa membereskan dapur. Gadis itu melihat sekeliling dapur dengan perasaan sesak, ia mungkin akan merindukan tempat itu suatu hari nanti.


"Ada apa nona?" tanya Lisa yang melihat sikap Aila.


Aila tersenyum, kemudian menggeleng.


"Berjanjilah untuk tetap disamping Oma." ucap Aila.


Lisa mengerutkan kening, tidak mengerti.


Aila kembali tersenyum.


"Boleh aku peluk kakak?" tanya Aila.


Lagi-lagi pertanyaan Aila membuat Lisa heran. Entah kenapa Aila bersikap sedikit aneh hari ini.


Tanpa menunggu persetujuan Lisa, Aila langsung memeluk Lisa dengan erat. Ada tirta-tirta bening yang berdesakan di pelupuk mata yang akan segera menjadi gerimis, namun sekuat tenaga ia menahannya agar tidak tertumpah.


Setelah melepas pelukannya, Aila buru-buru keluar dari dapur.


Meninggalkan Lisa dengan wajah keheranan.


Aila segera menuju tempat latihan menembak. Kebetulan semua sahabat Leon sedang berada disana. Aila segera menetralkan sikap kemudian dengan santai melangkah kearah mereka.


Bunyi heels yang Aila kenakan, membuat perhatian mereka segera tertuju padanya.


"Aku sudah bilang.."


"Aku tidak belajar menembak lagi, aku sudah mahir." ucap Aila memotong ucapan Serkan. Gadis itu kemudian duduk diatas kursi dengan anggun.


"Kenapa tidak ganti baju? tidak ada pesta disini." ucap Serkan tanpa mengalihkan perhatian pada suku cadang pistol ditangannya. Pria itu sepertinya sedang merakit senjata.


"Apa terlihat cantik harus menunggu pesta?" tanya Aila.


"Siapa bilang kau cantik, kau terlihat salah kostum." cibir Serkan bohong.


Aila terdiam, ia terlihat ingin mengucapkan sesuatu namun mengurungkan niatnya


"Dia bohong, kau terlihat manis. Percayalah!" bisik Erik yang berada disampingnya, membuat Aila tersenyum. Sedang Serkan terlihat acuh.


"Apa benar, Alea sudah membaik?" upanya Erik kearah Alex yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alex.


Pria satu itu sungguh tidak peka, tidak seharusnya membicarakan Alea di depan Aila bukan?


Melihat sikap Alex, Aila justru tersenyum.


"Ya dia akan sembuh. Itu baik untuknya." ucap Aila.


"Bukankah kau seharusnya tidak senang?" tanya Erik.


Aila tersenyum," kenapa tidak senang? aku justru lega, karena aku tidak harus memberinya waktu lagi."


Ya, Aila tidak akan lagi tersiksa dengan waktu yang Leon minta dan suaminya juga tidak akan tersiksa dengan kebimbangannya.


"Apa maksudmu?" tanya Serkan tajam.


"Tidak ada, aku hanya senang dia sembuh, karena itu membuat suamiku juga senang." ucap Aila santai.


Ketiga sahabat Leon terdiam, mereka mengerti bagaimana perasaan Aila, tapi bisa apa mereka? Leon memang sahabat bagi mereka, namun mencampuri urusan pribadinya itu bukan hak mereka.


Aila berdiri, kemudian membungkuk.


"Terimakasih, karena kalian telah bersedia mengajariku banyak hal." ucap Aila tulus.


"Apa kau sedang berpamitan?" tanya Serkan.


mendengar ucapan Serkan, sontak membuat kedua sahabatnya menatap Aila.


Aila tersenyum, "Kalian mengurungku dengan begitu ketat, memang aku bisa pergi kemana?" seluruh sudut penuh CCTV, kak Jimy pun terus menempel padaku, aku tidak bisa kemanapun meski sangat ingin pergi." ucap Aila dengan nada kesal.


"Siapa tau? kau gadis kecil yang licik." ucap Serkan acuh.


Aila mencebik."Baiklah aku akan kembali, atau Oma akan mencariku." Aila segera melangkah keluar.


"Perketat keamanan mulai besok, aku tau dia akan kabur." perintah Serkan, setelah punggung Aila menjauh.


"Biarkan saja, aku kasihan padanya, toh Leon tidak peduli." ucap Erik.


"Aku tau, tapi bukan begitu caranya. Dia harus pergi dengan baik-baik jika ingin pergi. ucap Serkan.


Kedua sahabatnya hanya diam. Mengingat sikap Leon, memangnya bisa melepas Aila secara baik-baik?


********


Aila berdiri di depan pintu Oma, gadis itu telihat ragu untuk mengetuk pintu. Namun, setelah beberapa detik, akhirnya ia mengetuknya juga.


Tok! tok!


"Siapa?"


"Aila, Oma."


"Masuklah!"


Aila segera membuka pintu kemudian masuk kedalam kamar Oma.


"Ini sudah malam, ada apa?"


"Em...boleh aku tidur dengan Oma?" tanya Aila ragu.


Oma mengerutkan kening.


"Kenapa dengan kamarmu?"


Aila tersenyum, kemudian melompat naik.


"Hei! apa yang kau lakukan?"


"Ayolah Oma, aku kesepian. Suamiku tidak pernah tidur di kamar, bukankah itu menyedihkan?" ucap Aila memelas.


Oma mendesah, menatap Aila untuk sesaat. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa iba. Memang Aila terlihat biasa saja ketika mengucapkannya, namun wanita tua itu tahu, jika batin gadis itu terluka.


"Tidurlah! dengan syarat jagan bergerak!" perintah Oma.


Aila tersenyum senang, ia kemudian memeluk Oma dengan erat, bahkan ketika berbaring ia terus memeluk Oma.


"Minggirlah, aku kepanasan." ucap Oma.


Aila bergeming, tetap memeluk Oma.


"Aku bersyukur karena ada Oma." ucap Aila.


"Apa yang ingin kau katakan?"


"Jangan membencinya, mereka hanya saling mencintai." ucap Aila terdengar sendu.


"Kau gadis bodoh!" ucap Oma sembari mengusap kepala Aila.


"Aku memiliki Oma." jawb Aila sembari memeluk Oma lebih dalam. Menyembunyikan sesak disana.


Oma diam, ia mengerti betapa sakitnya hati gadis itu saat ini. Di dalam hatinya ia berjanji, jika suatu saat Aila ingin pergi, ia tidak akan menahannya lagi. Ia memang sangat menyayangi Aila, sejak gadis itu datang, keceriaan kembali mengisi hatinya. Entah kenapa, Aila seperti mempunyai magnet untuk menarik hati orang-orang di sekitarnya untuk menyayanginya. Mungkin saja karena gadis itu memiliki hati yang tulus dan hangat. Namun, Aila juga berhak bahagia.


Oma terbangun pukul 04.00 pagi dan tidak mendapati Aila disisinya. Oma heran, namun wanita tua itu mengira Aila kembali kekamarnya. Entah karena dorongan apa, Oma menyusul Aila kekamarnya.


Namun, setelah membuka pintu kamar Aila, ia hanya mendapati Leon disana dan tengah menatap kearahnya. Sepertinya Leon mengira, orang yang masuk adalah Aila.


"Dimana Aila?!" tanya Oma tajam.


"Dia tidak ada disini." jawab Leon.


Sejak semalam, Leon sendiri tengah menunggu Aila, namun gadis itu tidak kunjung datang, hingga ia ketiduran.


Seketika perasaan Oma langsung tidak enak, memori pembicaraan dirinya dengan Aila semalam kembali berputar di dalam otaknya.


Oma panik, kemudian keluar begitu saja sembari berteriak memanggil pak Liem.


"Pak LIEM! pak LIEM!" Oma terus berteriak, membuat semua pelayan keluar.


"Iya nyonya?" pak Liem terlihat masih memakai piyama tidurnya.


Leon yang tidak mengerti dengan sikap Omanya kemudian keluar.


"Ada apa?" tanya Leon mennyentuh pundak Omanya, namun saat itu juga Oma menepis tangannya dengan kasar.


"Minggir kau! jangan menyentuhku! " ucap Oma marah.


"Oma..."


"Istrimu hilang dan kau tidak tau?! kau ******** Leon!" umpat Oma, badanya tiba-tiba limbung, namun pak Liem segera menangkapnya dan memapahnya menuju kursi.


Leon mematung, untuk sesaat dunianya seperti berhenti berputar. Ia masih belum mengerti, hingga Davin datang.


"Maaf tuan, Nona tertangkap CCTV keluar gerbang dengan mobil sport milik anda semalam." ucap Davin.


"Astaga! dimana dia? gadis mungilku....gadis itu, Astaga,..." Oma mulai menangis sembari meracau. Ia memang bertekad untuk melepas gadis itu suatu saat nanti, namun bukan sekarang. Itu terlalu cepat untuknya.


Wanita tua itu terus memangil nama Aila.


"Kembalikan dia padaku, brengsek!" umpat Oma kepada Leon.


Leon tidak perdulikan ucapan Oma, ia segera berlari keruang kendali CCTV.


Disana ternyata sudah ada Serkan dan yang Lainya.


"Aku sudah menduga dia akan pergi, tapi tidak secepat ini." ucap Serkan kepada Davin. Sedang Leon tidak tau harus berbuat apa, pria itu hanya diam sembari mengamati CCTV.


"Dia sudah merencanakan semuanya sejak awal, dia bahkan tahu kapan waktu pergantian para penjaga." ucap Serkan.


Gelang dan pelacak di dalam mobil sudah mereka selidiki dan sinyal terakhir berada di sebuah bengkel las.


Serkan sudah bisa menduga, jika Aila melepas gelang pelacaknya disana dan meninggalkan mobilnya.


Kini semua mengerti, Aila hanya lugu dan polos namun tidak bodoh.


Terlihat dari bagaimana gadis itu melarikan diri, sebelum keluar ia merusak CCTV gerbang utama dengan pistol saat akan keluar.


Mereka baru sadar, untuk apa Aila belajar menyetir dan menembak.


Yang membuat Leon tercengang adalah saat sebelum menembak CCTV Aila terlihat mendekatkan wajahnya yang berurai air mata. Gadis itu bahkan masih memakai pakaian dan heels yang ia kenakan sore tadi dan mengucapkan sesuatu.


Setelah di putar lambat mereka baru tahu jika kata yang di ucapkan Aila adalah 'Aku mencintaimu'


Terkadang perpisahan harus teejadi, bukan karena harus dilakukan, namun karena kita sadar hanya itu sebaik-sebaik pilihan.


Bersambung...