Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 83


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 83


**Jangan mengotori tanganmu hanya demi aku**


Sepeninggal Leon, Aila menceritakan dengan detail kronologis penculikan dirinya. Tentu saja dugaan Serkan benar, ada keterlibatan pak Han di dalamnya.


"Ketika aku hampir memasuki kamar, pak Hadi memanggilku. Dia mengatakan, jika anaknya sangat menyukai bunga mawar dan dia ingin memberikannya sebagai kado ulang tahun. Tapi kali ini, ia ingin menghadiahkan anaknya bunga mawar yang tidak seperti biasanya, bunga mawar biru. Dia tahu jika bunga itu, terdapat di taman rahasia milikku. Dan dia ingin membelinya meski hanya setangkai." ucap Aila bercerita.


"Dan kau tidak curiga, dari mana dia tahu jika ada bunga mawar berwarna biru di dalam tamanmu?" tanya Erik yang sudah bisa menduga kepolosan Aila.


Aila menggeleng, "Aku pikir, dia mungkin pernah masuk kedalamnya, toh dia Supir pribadi suamiku," sahut Aila mengutataran apa yang ada di pikirannya saat itu.


Alex menggelengkan kepalanya, "Kau salah sayang, bahkan tidak ada satupun dari kami yang di perbolehkan masuk kesana. Setelah renovasi selesai, Leon tidak mengizinkan siapapaun menginjakkan kaki disana," timpal Alex.


"Kau pikir kenapa suamimu memakai kode sensor yang hanya ada pada gelang yang kau pakai, untuk membuka pintu? tentu saja agar orang lain tidak bisa masuk selain tanpamu...." Erik belum selesai dengan ucapannya ketika Serkan menyahut, "Justru karena itu, pak Hadi sudah tahu sebelumnya, jika taman hanya bisa dibuka oleh Aila dan dari taman rahasia itulah jalan tercepat untuk sampai ke danau tanpa pantaun CCTV keamanan. Dia sudah merencakan ini sejak lama..." sahut Serkan.


Semua diam dan berpikir. Analisa serkan benar adanya. karena pak Hadi hampir setiap waktu bersama dengan Leon, tidak di pungkiri jika pria itu mengetahui banyak hal. Termasuk tentang kode sensor dan jalan pintas menuju danau yang paling aman.


"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Serkan pada Aila.


Aila menarik napas sembari meremas jemarinya. Sangat terlihat jika gadis itu cemas, seperti enggan untuk kembali mengingat peristiwa yang menakutkan itu.


Alex mengerti, pria itu duduk di sisi ranjang dan mengusap punggung tangan Aila, "Tak apa, semua baik-baik saja sekarang," ucap Alex menenangkan.


Aila bergeming, tepat saat itu, Leon masuk. Ketiga sahabatnya langsung mengalihkan pembicaraan. Namun Leon jelas tahu dengan perubahan sikap mereka yang seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu. Terlebih lagi raut wajah istrinya terlihat kaku.


"Jangan menanyakan hal apapun padanya, cek saja CCTV keamanan taman," Leon mendekat kearah istrinya dan melepas gelang di tangan kanannya lalu memberikannya pada Alex.


Sebenarnya sudah sejak tadi ia berada di luar dan mendengar semua percakapan mereka dengan istrinya. Leon sengaja menahan diri untuk tidak masuk karena ia yakin jika dirinya masuk, Aila tidak akan mau bercerita dengan bebas. Namun melihat istrinya kesulitan untuk bercerita, Leon tidak tega. Ia tahu jika Aila sempat mengalami hal yang tidak ingin di ingatanya.


Alex mengangguk, "Istirahatlah," ucap Alex lalu keluar dari ruang perawatan yang diikuti Serkan dan Erik.


Setelah ketiga sahabatnya pergi, Leon duduk di sisi ranjang dan menatap lekat pada manik mata Aila. Gadis itu terlihat menghindar, enggan bertemu tatap.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Leon pada Aila.


Aila menatap mata suaminya sesaat, sebelum kembali menunduk dan meremas selimut. Hatinya di penuhi keraguan, apakah ia harus menanyakan kebenaran ucapan pak Hadi tentang alasan kenapa ia melakukan penculikan itu atau tidak. Tapi, ia ingin mengetahui tentang hal itu.


"Tuan akan menjawabnya dengan jujur?" tanya Aila hati-hati.


Leon mengangguk. Ia siap menceritakan kisah kelam masa lalunya.


"Ke__napa tuan membunuh anak pak Hadi?" Suara Aila tercekat pada kalimat terakhirnya.


Sejujurnya, Ia tidak pernah mempermasalahkan masa lalu suaminya. Hanya saja ia ingin tahu kenapa Leon melakukan itu. Di lihat dari sudut manapun, menghilangkan nyawa seseorang tetap tidak dibenarkan.


Leon menghela napas, tidak ada keterkejutan di wajahnya ketika mendengar pertanyaan dari Aila. Seperti ia sudah menduga sebelumnya. Leon kemudian menceritakan kejadian dimana ia harus mengakhiri hidup anak pak Hadi.


Kejadian itu sudah lama sekali, ketika ia mulai merintis perusahaan Global konstruction.


Pada saat itu ada sebuah pegawai laki-laki yang sangat cerdas dan ramah. Pria itu bernama Dani. Selain cerdas, Dani juga sangat disiplin dan memiliki loyalitas yang tinggi untuk perusahaan. Karena itulah Leon mulai menyukainya dan mulai menjadikan Dani sebagai anak emas.


Ia bahkan memberikan gaji dan vasilitas pada Dani melebihi kariyawan yang lain. Namun, semua itu tidak menjadikan Dani puas dengan posis dan fasilitas yang ia terima. Ambisinya sangat besar untuk seseorang yang tidak memiliki apapun dalam hidupnya. Ya, Dani terlahir dalam keluarga yang sederhana dan itu menjadikan dirinya terobsesi untuk menjadi orang kaya.


Hingga suatu saat, Leon mengetahui jika Dani menjual data rahasia perusahaan pada perusahaan yang menjadi saingan bisnisnya. Tentu saja dengan harga yang sangat mahal. Harga yang bisa menjadikannya sebagai orang kaya mendadak.


Leon merasa kecewa dan juga marah saat itu. Tapi, ia masih berusaha tetap tenang.


Namun, semakin lama kelakuan Dani semakin menjadi. Pria itu bahkan melakukan negoisasi proyek di luar pengetahuannya, agar dapat meraup keuntungan untuk dirinya sendiri.


Kesalahan Dani terlalu banyak dan terlalu sulit untuk ia maafkan. Karena keserakahannya, perusahaan hampir mengalami kebangkrutan dan untuk menghindari hal itu, ia terpakasa merumahkan ribuan kariyawan yang menggantungkan hidup pada perusahaannya.


Alasan itulah, yang menjadikan Leon menghabisi nyawa Dani. Tapi Leon toh tidak lepas tangan begitu saja. Ia tahu Jika Dani menjadi tulang punggung keluarganya. Karena itulah, untuk menebus kematian Dani, Leon mencukupi semua keidupan keluarganya, termasuk biayaya sekolah adik-adiknya. Awalnya mereka menolak, namun lambat laun mereka menerima dan memahami jika anak mereka memang bersalah. Hingga pak Hadi sendiri meminta untuk menjadi supir Pribadi karena ingin menebus kesalahan yang dilakukan anaknya. Leon pikir, semua yang di lakukan pak Hadi adalah tulus dan memang menyadari kesalahan yang dilakukan anaknya sangatlah fatal. Tidak di sangka, jika niatnya menjadi supir pribadi hanya untuk mencari kelemahannya dan untuk balas dendam padanya. Buah jatuh tak jauh dari pohonya. Mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan watak keduanya.


"Dan sekarang dia sudah berhasil membalaskan dendamnya padaku dengan menyiksamu, tapi tidak untuk yang kedua," tegas Leon menutup ceritanya.


Aila yang sedari tadi menyimak setiap kata yang keluar dari mulut suaminya tidak mengucapkan sepatah katapun. Gadis itu diam sesaat, lalu meraih lengan suaminya dan mengusapnya pelan.


"Jangan melakukan itu lagi," pinta Aila sembari menatap mata suaminya. Baginya kekerasan bukanlah solusi dari setiap masalah. Kekerasan hanya akan menimbulkan sebuah kekerasan yang lain.


"Tidak, jika mereka tidak menyentuh keluargaku," ucap Leon tegas.


Aila menghela napas. Bukan hal yang mudah untuk menggoyahkan apalagi membantah setiap peraturan dan prinsip yang telah dibuat oleh suaminya. Meskipun semua tindakan yang Leon ambil mempunyai alasan yang kuat, namun bagi Aila tindakan yang dilakukan oleh Leon, tetaplah salah.


Tapi, berdebat tentang masalah prinsip dengan Leon untuk saat ini bukanlah hal yang tepat, sehingga Aila lebih memilih untuk diam.


"Sekarang tidurlah!" perintah Leon sembari bangkit dari duduknya, namun Aila menahan dengan menarik ujung kemeja yang dipakainya. "Jangan pergi," pinta Aila.


"Aku tidak pergi, sayang. Hanya duduk di sofa," jawab Leon sembari menunjuk kerarah sofa.


Aila menggeleng, "Duduk disini tuan," pintanya lagi sembari menepuk permukaan ranjang disampingnya.


Leon menyungginggkan sebelah senyum, "Kenapa, kangen?"


Aila tidak tidak menanggapi candaan suaminya, "Boleh aku memelukmu tuan?" tanya aila serius. Sebelumnya, ia tidak pernah berpikir jika setiap detik waktu yang ia habiskan dengan singanya adalah waktu yang paling berharga. Tapi, kini ia menyadarinya dan tidak akan menyia-nyiakan waktu tersebut, karena Aila tidak tahu, mungkin saja sewaktu-waktu mereka akan berpisah.


Leon mendesah. Ia selalu tidak suka saat istrinya memasang wajah serius. Entah kenapa ia selalu merasa ada hal buruk yang terjadi setelahnya. Pria itu membaringkan tubuhnya di ranjang perawatan. Meskipun ranjang tersebut begitu sempit untuk ditiduri dua orang, namun tubuh istrinya yang mungil tidak menjadi masalah sama sekali. tubuh Aila tidak memakan tempat.


"kemari dan tidurlah!" pinta Leon sembari mengangkat kepala Aila dan menelusupkan lengan dibawahnya sebagai bantalan. Saat itu juga Aila berbalik untuk memeluk suaminya, namun detik berikutnya gadis itu meringis kesakitan.


"Kenapa?!" tanya Leon kuatir.


"Tak apa, hanya sedikit nyeri," jawab Aila menenangkan suaminya. ucapan Alex memang benar, ia tidak bisa langsung bergerak tiba-tiba karena rahimya terluka.


Karena memiringkan tubuh terasa begitu nyeri, akhirnya Aila tidak jadi memeluk suaminya.


Leon tidak lagi bertanya, ia sudah cukup mengerti dengan ekspresi wajah Aila yang kesakitan. Untuk kali ini, ia yang akan memeluk tubuh mungil istrinya itu.


Aila tersenyum lalu meraih tangan suaminya untuk ia letakkan diatas perutnya. Ia berharap calon bayinya bisa merasakan sentuhan papanya.


"Jangan mempertahankannya, jika kau kesakitan," ucap Leon dengan mata terpejam.


Aila diam sesaat. Sejak awal, Leon terlalu khawatir dengan kehamilannya, tapi ia ingin suaminya juga mengerti, jika semua yang ia lakukan demi membahagiakan dirinya.


"Tidak ada ibu yang akan merasa kesakitan ketika mengandung anaknya," jawab Aila, masih dengan kegiatannya.


Leon diam, entah sedang berpura-pura tidur atau memang tidak ingin menjawab, mungkin keduanya. Yang pasti ia malas berdebat tentang kehamilan Aila yang membawa firasat buruk baginya.


"Tuan?"


Leon tidak menjawab.


"Apa anda sudah tidur?"


Tetap tidak ada jawaban.


Aila mendesah. Gadis itu yakin jika suaminya sudah tertidur. meski kecewa karena ditinggal tidur, Aila tetap tersenyum saat ia menyadari jika kini ada kehidupan di dalam perutnya.


Ia kemudian menoleh dan membelai pipi suaminya lembut. "Maafkan aku karena menyusahkanmu akhir-akhir ini," ucap Aila berbicara sendiri. Tangannya bergerak menyusuri wajah suaminya, Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh alisnya yang lebat. "Aku tidak mengerti kenapa melakukan hal itu, yang pasti aku sangat senang saat melakukannya," lanjut Aila yang disusul tawa kecil dari mulutnya.


Setelah puas bermain dengan wajah suaminya, Aila membenarkan posisi kemudian memejam untuk tidur. Tidak lama setelahnya, dengkuran halus terdengar dari mulut gadis itu.


Merasa istrinya sudah tidur, Leon membuka matanya. Pria itu tersenyum sesaat, sebelum helaan napas terdengar menyusul. Permintaan maaf dari Aila semakin membuatnya merasa bersalah. Aila selalu tahu saat melakukan kesalahan dan dengan tulus gadis itu akan segera meminta maaf. layaknya anak kecil yang tidak punya rasa malu dan tidak mengerti akan gengsi.


Berbeda dengan dirinya yang jangankan meminta maaf, mengaku salah saja itu tidak mungkin ia lakukan.


Setelah memastikan istrinya benar-benar tidur, Leon bangkit dari ranjang dan keluar dari ruang perawatan.


Didepan ruang perawatan sudah ada serkan dan Erik yang sedang meminum wine. Tanpa banyak bicara, Leon mendudukkan diri tepat disebelah Erik. Pria itu mengambil botol dan mulai meminumnya. Kepalanya terasa sakit sekarang, dan ia membutuhkan pelepasan.


"Apa kita harus mengundur pernikahan Davin dan Alex?" tanya Serkan memulai pembicaraan.


"Tidak perlu. Lanjutkan saja sesuai rencana," sahut Leon datar.


"Tapi, kita belum tahu untuk siapa pak Hadi bekerja, apa itu tidak terlalu berbahaya?" timpal Erik.


Leon dan serkan diam. Pendapat Erik memang ada benarnya. Tapi, mengundurkan acara hanya akan membuat musuh tertawa, karena itu pertanda jika mereka takut.


"Lucas? kapan kau menghubunginya?" tanya Serkan pada Leon.


"Tadi," jawab Leon singkat.


"Baguslah, aku tidak harus bekerja keras sendiri," timpal Erik.


Mereka kembali diam setelahnya. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Semua terjadi secara bersamaan. Saat perusahaan sedang sangat sibuk dengan proyek terbaru bersama pemerintah, juga saat kedua sahabat mereka akan melangsungkan pernikahan dan yang ketiga saat kehamilan istrinya. Atau memang itu yang diinginkan musuhnya? bisa jadi. Tapi apapun itu, Leon tidak akan kalah apalagi menyerah.


*********


Pagi-pagi sekali, Oma sudah menuju ruang perawatan di mana Aila berada. Wanita tua itu sudah tidak sabar untuk melihat keadaan cucu menantunya. Ia bahkan sudah menyuruh Maria dan Lisa membawa sarapan pagi untuk Aila.


"Apa kita sudah di perbolehkan untuk melihatnya, Nyonya?" tanya Maria pada Oma.


"Memang mau sampai kapan kita menunggu?" Oma bersikeras dan tidak peduli jika Alex tidak mengzinkan. Lagi pula Leon sudah berada disana hampir semalaman. Oma iri dengan Leon yang bisa semaunya sendiri. Ah, memangnya siapa yang bisa melarang cucunya itu?


Maria menatap Lisa, namun gadis itu hanya mengangkat bahu pasrah. Siapa yang bisa menghentikan neneknya?


Sampai diruang perawatan, Oma langsung masuk begitu saja melewati Erik yang tertidur di sofa di depan ruang perawatan. Oma hanya menggeleng kasihan melihat Erik, Pria itu pasti bergadang semalaman. Yah, siapapun tidak ada yang bisa tidur dengan nyeyak tadi malam. Termasuk juga dirinya sendiri.


Saat ia masuk, Oma sudah melihat Aila terbangun tapi cucunya masih tertidur pulas di sampingnya. Oma tidak tertarik untuk menganggu Leon kali ini. Raut wajahnya terlihat kelelahan memang. Lebih dari itu, saat ini perhatiannya hanya tertuju pada keadaan Aila. Oma merasa prihatin dengan keadaan gadis itu, tapi ia menyembunyikan perasaannya dan menyapanya seperti biasa.


"Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya Oma.


Aila tersenyum, "Lebih baik Oma," jawab Aila.


Wanita tua itu kemudian duduk di kursi samping ranjang. Sedang Maria dan Lisa berdiri di belakang Oma. Kedua wanita itu tersenyum hangat dan juga prihatin melihat keadaan nonanya yang penuh luka lebam.


"Apa kau ingin makan?" tanya Oma mengalihkan perhatian.


Lagi-lagi Aila hanya tersenyum dan mengangguk, namun sedetik kemudian ia meringis sembari berbisik, "Aku ingin pipis Oma," ucap Aila malu-malu.


"Astaga, apa kau menahannya?" tanya Oma tidak percaya.


Aila mengangguk malu.


"Apa kau bisa turun?" tanya Oma lagi.


"Entahlah, kak alex bilang aku tidak boleh turun.." ucap Aila.


Tepat saat itu Leon bangun. Suara berisik Oma menganggu kenyamanan tidurnya.


"Astaga! apa yang Oma lakukan sepagi ini?" Leon terlihat kesal karena tidurnya yang baru sebentar terganggu.


"Nanti saja kau mengomel, istrimu ingin kekamar kecil," ucap Oma memberitahu Leon.


Leon segera bangun dan menatap istrinya.


"Aku bisa sendiri...mungkin," ucap Aila tidak yakin.


"Dia menahannya sejak tadi," timpal Oma.


"Astaga!" Leon mengusap kasar wajahnya sendiri karena kesal. Mereka sudah menjadi suami istri tapi Aila masih bertingkah seperti orang asing.


Pria itu segera bangkit dan mencopot kantung infus istrinya lalu menggendongnya ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Leon menurunkan Aila dengan hati-hati. Aila masih nampak pucat. Saat berdiri kepalanya menjadi sangat pusing, sehingga tanpa sengaja ia berpegang erat pada lengan suaminya.


"Kenapa? pusing?" tanya Leon yang melihat Aila malah memejamkan mata.


"Sedikit," jawab Aila singkat.


"Maka dari itu, cepatlah," pinta Leon.


Aila mengangguk dan menunggu suaminya keluar.


"Apa lagi?" tanya Leon yang melihat Aila masih diam berdiri.


"Keluarlah, tuan..." pinta Aila. meskipun mereka adalah suami istri, tapi berkemih di depan orang lain itu memalukan.


"Astaga, aku suamimu. Apa lagi yang ingin kau sembunyikan?" tanya Leon tidak mengerti. Ia bahkan sudah melihat seriap inci dari tubuh istrinya.


"Aku tidak bisa melakukannya, jika anda disini..." jawab Aila jujur sekaligus malu.


Leon mendesah, sebelum akhirnya keluar juga dari kamar mandi. Pria itu menunggu dengan sabar di depan pintu.


Tidak berapa lama, Aila sudah selesai dengan hajatnya. Ia langsung kembali dengan di gendong Leon tentu saja.


Setelah itu, Oma langsung menyuruhnya untuk makan karena Aila memang masih nampak pucat. Sebenarnya Aila sedang tidak napsu makan, karena perutnya memang terasa tidak nyaman. Tapi demi menghargai perhatian Oma, Aila memaksa diri untuk makan.


Tepat saat itu, Alex datang ingin memeriksa Aila. Namun karena melihat Aila sedang makan, Alex mengurungkan niatnya dan berbincang dengan Oma.


Sedang Lisa dan maria terlihat melayani Aila. Entah karena tidak selera atau memang tubuhnya yang sedang bermasalah. Makanan itu seperti tidak mau masuk meskipun ia sudah berusaha untuk menelannya.


"Minum kak," pintanya pada Lisa. Ia butuh air untuk mendorong agar makanan itu cepat masuk kedalam perutnya.


Lisa mengangguk dan segera mengambilkan air putih untuk Aila. Namun, karena terbutu-buru, Aila malah menumpahkan air minumnya dan membuat piyama yang dikenakanya basah.


"Ya Tuhan nona," pekik Lisa kaget.


"Ah, maaf kakak, aku ceroboh.." ucap Aila merasa sangat bodoh.


Lisa malah tersenyum, "Tak apa, saya akan ambilkan baju ganti untuk nona," sahut Lisa kemudian keluar dari ruang perawatan.


Tidak berapa lama, Lisa datang dengan membawa piyama ganti yang baru.


"Kami bantu berganti pakaian nona," ucap Maria dan Lisa bersamaan.


"Tidak!" jawab Aila langsung dengan setengah berteriak.


Membuat semua orang menoleh tidak terkecuali Leon.


Aila memejam sesaat menyadari reaksinya yang berlebihan.


"Emm, maksudku, aku bisa sendiri.." lanjut Aila mengoreksi.


"Tapi nona..."


"Tidak kakak, aku ...bisa sendiri, sekarang kalian keluarlah," pinta Aila keras kepala.


Maria dan Lisa mengalah. Semua orang keluar ruangan, kecuali Leon tentu saja.


"Em....anda tidak keluar tuan?" tanya Aila.


"Tidak," jawab Leon cepat. Matanya menatap tajam pada Istrinya. Entah kenapa Ia merasa ada yang sedang coba Aila sembunyikan darinya. Dan ia tidak suka hal itu.


"Aku akan membantmu berganti pakaian," ucapnya tegas. Kalimat yang tidak membolehkan penolakan.


Aila menelan ludah kasar dan memejamkan mata, saat tangan Leon mulai melepas satu persatu kancing piyama basah miliknya. Bukan karena malu, namun lebih kepada rasa takut akan reaksi suaminya saat mengetahui keadaan tubuhnya.


Benar saja, saat bajunya terlepas, Leon terlihat sangat terkejut dengan badan istrinya yang penuh luka memar dan membiru dimana-mana. Ia tidak bisa membayangkan saat tubuh mungil istrinya di siksa.


"K__au ingin menyembunyikan ini dariku juga?" tanya Leon dengan suara parau. Hatinya terasa begitu sakit dan juga panas sekarang. Tapi dengan siapa ia harus melampiaskannya?


Aila segera meraih tangan Leon yang sudah terkepal menahan emosi. Ia memeluk dan mencium tangan itu berkali-kali.


"Jangan lakukan apapun, jangan balas dendam, aku mohon...." Air matanya tidak lagi bisa ia tahan. Ia menangis bukan karena rasa sakit pada badannya, namun lebih kepada rasa takut jika suaminya akan kehilangan kendali dan melakukan kesalahan sekali lagi. Aila tidak mau, Leon mengotori tangannya dengan darah hanya karena dirinya.


Leon memejamkan mata beberapa saat. Berusaha menahan amarah yang hampir meledak, setelah itu Leon meraih tubuh polos didepannya dan mendekapnya dengan erat. Jangan tanya bagaimana hatinya. Rasanya sakit, sangat sakit!


"Jangan mengulangi kesalahan itu lagi, jangan mengotori tangan hanya karena aku..." Aila kembali tersedu dalam pelukan suaminya. Baginya, jika ini adalah cara Tuhan menghukum kesalahan suaminya di masa lalu, ia ikhlas menerimanya dengan lapang dada. Tapi ia tidak ingin Leon kembali lagi pada masa lalunya yang kelam dan menjadi seorang pembunuh.


Leon tidak menjawab. Setelah itu, ia mengurai pelukan. Tanpa sepatah katapun, dengan sabar ia membantu istrinya berpakaian meskipun hatinya sangat hancur melihat keadaan tubuh istrinya yang penuh luka.


Tanpa Aila ketahui, dalam hatinya, Leon berjanji tidak akan membiarkan orang-orang yang sudah berani menyentuh istrinya untuk tetap hidup.


Bersambung....