
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 38
** Pergi **
Meli menyapukan pandangannya keseluruh sudut ballroom, ia tidak menemukan Aila disana. Jika sahabatnya itu sedang bersama dengan Leon, bukankah seharusnya Aila juga ada?
Tidak menemukan apa yang dicari, ia mendengus kesal. Tangannya terulur meraih satu gelas wine pada baki yang sedang dibawa oleh pelayan. Bibir seksi itu menyesap wine tanpa menikmatinya, pikirannya tertuju hanya pada Aila. Bukan apa-apa, hanya sahabatnya itu yang bisa ia ajak berbagi rasa tentang apa yang sedang di alaminya.
Meli kembali menyapukan netranya. Ia memang tidak menemukan sosok Aila, tapi sosok yang pasti mengetahui keberadan gadis itu ada disana. Siapa lagi, jika bukan Leon.
Ia segera meyesap habis wine yang tersisa dengan sekali tegukan, kemudian diletakkan gelas yang sudah kosong dengan asal diatas meja. Gadis itu menuju sang tuan rumah, yang sedang asyik bercengkrama dengan sahabatnya.
"Dimana Aila?!" tanya Meli to the point, saat sudah di depan Leon.
Leon menoleh sesaat, menatap adik temannya itu. Meli terlihat kesal, gadis itu tidak pernah menyukainya sejak ia memacari Aila.
"Aku ingin bicara padanya." lanjut Meli.
Sepasang mata menatap padanya sedari tadi, namun gadis itu tidak memperdulikannya. Mata milik sang mantan yang pernah begitu dicintainya.
"Istriku, maksudmu?!"
"What ever! dimana dia?" ucap Meli sudah tidak sabar, membuat suasana yang tadinya sedikit santai menjadi tegang kembali.
Leon menatap tajam pada Meli, jika saja gadis itu bukan sahabat istrinya, Leon pasti sudah menjahit bibirnya.
Tatapan tajam dari mata Leon, terasa sedang mengulitinya hidup-hidup. Jauh didalam hatinya gadis itu menciut, ketakutan. Namun, ia tidak punya pilihan.
Davin terlihat akan melangkah maju, namun sebelah tangan Leon menghentikannya.
"Suruh orang untuk membawanya pada istriku, Davin!" perintah Leon.
Davin menatap kearah bosnya untuk sesaat, melihat bosnya bergeming, Davin mengerti.
"Baik, tuan." ucap Davin membimbing Meli menuju kastil nona mudanya.
Davin membawa Meli melalui pintu belakang kastil menuju taman belakang. Matanya terlihat takjub, melihat taman belakang kastil yang begitu luas, ada beberapa pohon besar dan air mancur disana.
Davin terus membawa Meli memyusuri taman, hingga terlihat sebuah kastil yang lain berdiri megah disana. Ada begitu banyak bodyguard berkumpul di depannya, membuat tubuhnya tiba-tiba gemetar karena takut
"Antar nona ini, pada nona muda." perintah Davin pada Jimy.
Jimy mengerutkan keningnya, pasalnya sang bos telah mewanti-wanti untuk tidak memperbolehkan seorangpun memasuki kastil istrinya saat pesta berlangsung.
"Ini perintah dari tuan muda." ucap Davin yang mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Jimy.
"Baiklah," ucap Jimy.
"Mari ikuti saya!" lanjut Jimy sembari membawa Meli berjalan memasuki kastil nona mudanya.
Meli mengikuti Jimy dengan diam, ada begitu banyak pertanyaan di benaknya.
Sebenarnya apa yang sedang Leon lakukan dengan sahabatnya itu, hingga harus mengurungnya dengan begitu banyak bodyguard?
Perasaan khawatir tiba-tiba memenuhi dadanya, bagaimana jika ternyata Aila di perlakukan dengan kasar didalam sana.
Jimy terus masuk menyusuri ruang demi ruang di dalam kastil, hingga sampailah mereka pada sebuah ruangan terbuka dengan sinar matahari langsung masuk kedalamnya. Sebuah ruang santai dengan gemericik air terjun mini yang mengalir dari dinding berhias batu alam. siapapun yang sedang bersantai disana, akan merasakan seperti sedang berada di alam bebas.
"Masuklah nona, nona Aila ada didalam." ucap Jimy
Meli mengangguk, mengerti. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan jantung yang berdegup kencang, ia takut jika sebentar lagi akan melihat sahabatnya penuh dengan penderitaan.
kakinya terus melangkah, baru pertama kali ia melihat taman begitu besar didalam ruangan.
Mengalahkan rasa takjubmya, Meli meneruskan langkah, hingga netranya menangkap sebuah ayunan dari rotan tengah bergoyang dengan sebuah kaki mungil mengantung disana. Meli hapal itu milik siapa, yang pasti milik Aila sahabatnya.
"Ai?!" ucap Meli sedikit berteriak. Gadis yang ia maksud, menoleh kearah sumber suara.
"Mel?!" ucap Aila terkejut.
Mereka akhirnya berlari kemudian saling memeluk.
"Kangen gue," ucap Aila yang tubuhnya tengelam di badan tinggi sahabatnya itu. Mereka saling berpelukan untuk beberapa saat.
Setelah puas, Meli mengurai pelukannya.
"Lo gak papa? gak terluka?" ucap Meli sembari membalikkan tubuh sahabatnya itu, kuatir. Matanya mengamati intens seluruh tubuh Aila.
"Apaan sih?!" ucap Ailanheran dengan sikap sahabatnya.
"Lo gak papa kan? kak Leon gak nyiksa elo kan?" tanya Meli beruntun.
"Gue baik-baik aja kali." uca Aila menyakinkan sahabatnya.
Meli menghela napas napas, lega.
"Gue pikir loe di siksa sama kak Leon."
Aila terkekeh, Meli berpikiran terlalu jauh.
"Kak Leon memperlakukan gue dengan baik," ucap Aila.
"Ya siapa tau, dia itu kan temprament."
"Dia gak seburuk itu," ucap Aila melanjutkan, entah kenapa ia ingin Meli tidak lagi membenci suaminya.
"Belain aja terus," ucap Meli ketus.
"Mau gimana lagi? dia__suami gue sekarang."
"What?! suami?" Meli terkejut dengan ucapan sahabatnya, ia kira ucapan Leon tadi, cuma gurauan.
"Ya__kita sudah menikah." ucap Aila tersipu.
"Gila, lo!" ucap Meli masih tidak percaya.
Aila mengerti keheranan sahabatnya, karena mereka memang masih muda. Di jaman ini, tidak banyak wanita yang ingin menikah di usia begitu muda. Lebih banyak dari mereka akan memilih untuk belajar dan berkarir terlebih dulu.
"Kapan, lo berangkat ke paris?" tanya Aila mengalihkan pembicaraan.
Meli menghela napas, hal itulah yang sedang membuatnya dalam kebimbangan sekarang.
"Dalam minggu ini." jawab Meli singkat, dari nadanya terdengar tidak semangat
"Kenapa? lo kelihatan gak semangat?"
"Lo pasti tau lah,"
"Karena kak Niko?" tebak Aila.
"Dia gak mau LDR." jawab Meli murung.
Aila menghela napas, para lelaki* selalu memakai logika ketika menjalin hubungan, bukan perasaan. LDR dalam waktu yang cukup lama, bagi mereka itu mustahil. Ini bukan tentang setia dan tidak setia, tapi tentang membutuhkan.
"Gue rasa dia benar." ucap Aila.
"Maksud lo?"
"Kak Niko pengen, lo konsentrasi sama sekolah dan gak terbebani dengan hubungan kalian."
"Gue gak ngerasa terbebani tuh."
"Iya sekarang, setahun dua tahun? gue gak yakin. Ketika saat itu tiba, kak Niko hanya gak ingin lo ngerasa bersalah."
Meli diam, gadis itu terlihat sedang mencerna ucapan sahabatnya.
"Gue bakal setia,"
"Iya sekarang Mel, siapa yang tau, apa yang akan terjadi satu sampai dua tahun kedepan? lagian kalo kalian berjodoh, bakalan dipertemukan kembali kok."
Meli diam, menunduk. Ucapan sahabatnya itu benar, dirinya mungkin sudah sangat egois. Sekarang ia bahkan mendiamkan Niko, padahal sejujurnya ia merindukan pria itu.
"Mel?" tanya Aila, ia tau gadis itu tengah menangis.
"Gue kangen sama dia, Ai." ucap Meli sembari memeluk Aila dan menangis disana. Gadis itu mengusap punggung sahabatnya dengan sabar, ia tau apa yang sedang dirasakannya.
"Ya udah, temuin gih! Kalian kan masih bisa jadi teman ataupun sahabat, tanpa terbebani dengan ikatan yang nantinya malah membuat kalian saling menyakiti." ucap Aila memberi nasehat.
Meli mengurai pelukannya, setelah puas menumpahkan segala gundahnya disana. Membuat piyama Aila basah, karena air matanya.
"Lihat nih, piyama gue ampe basah." Aila pura pura mencebik kesal, sedang meli terkekeh di sela isaknya.
"Di sini sedang ada pesta, tapi lihat diri lo, masih pake piyama?" cibir Meli.
Aila tersenyum masam, mau bagaimana lagi? Leon memperingatkan dirinya untuk tetap menggunakan piyama hari ini, meski ia sudah mandi sekalipun.Yah, ia harus menurut, agar suaminya itu tetap waras.
"Makasih Ai, gue lega sekarang." ucap Meli terlihat ceria kembali.
Aila mengangguk sembari tersenyum.
"Gue cabut dulu deh, mau ketemu kak Niko."
"Yah, gue ditinggalin." kini Aila yang murung, gadis itu memang merasa kesepian di istana yang megah itu. Tidak ada satu pelayanpun yang mau diajak berbincang olehnya, mereka seperti menjaga jarak dari Aila.
"Gue janji, sebelum berangkat bakal kesini, ok?" ucap Meli berjanji.
"Janji?"
"Janji beb,"
Setelah bayangan sahabat itu benar-benar sudah menghilang dari pandangannya, Aila kembali menghela napas.
Hidup itu tentang pilihan dan pilihanmu akan menjadi jalan hidupmu.
Aila kembali ke taman dengan malas, diikuti Jimy dari belakang. Satu- satunya orang yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Namun percuma juga, ia tidak bisa diajak bicara. Lelaki itu hanya akan menjawab 'ya' atau 'tidak' untuk pertanyaan darinya.
Aila tiba- tiba berbalik, hingga Jimy hampir menabraknya. Namun sedetik kemudian, Jimy segera menormalkan sikapnya.
"Boleh saya ke danau kak?" tanya Aila kearah Jimy.
"Tidak, nona."
"ketaman belakang?"
"Tidak juga, nona."
"ke air mancur?"
"Tidak, nona. Anda tidak di perbolehkan keluar dari kastil selama pesta berlangsung."Jimy menjelaskan dengan sopan.
" Tapi aku bosan," ucap Aila merengek.
"Maafkan saya, nona. Saya hanya menjalankan tugas."
Aila tersenyum mengerti, gadis itu kembali berjalan, awalnya pelan namun lama-kelamaan berubah cepat, tapi Jimy tetap tenang dan mengikutinya. Hingga Aila berlari, pria itu juga tetap santai dan mengikutinya. Akhirnya kemanapun ia pergi, Jimy tetap mengikutinya. Lelah karena tidak mendapat apapun, Aila berhenti. Napasnya tersengal karena kelelahan, ia kemudian menatap kearahJimy dengan tatapan horor, namun Jimy tetap memasang wajah datarnya.
Tak! Tak!
Aila mendengar suara langkah mendekat dan Aila hapal, suara langkah milik siapa. Gadis itu segera menoleh, dari ujung lorong terlihat Leon sedang berjalan mendekat. Melihat singanya, entah kenapa hatinya merasa begitu bahagia hingga mampu mengukir sebuah senyum diwajahnya.
Tiba- tiba saja Leon berhenti dari langkahnya, pria itu terlihat membungkuk sembari merentangkan tangannya. Aila tau apa yang diinginkan oleh pria gilanya itu, dan anehnya gadis itu mau menurutinya.
Aila segera berlari kearah Leon, gemerincing gelang kaki membuat gaduh suasana kastil yang sedari tadi sunyi.
Hap!
Leon menangkap Aila, mengangkatnya kemudian digendongnya gadis itu seperti kanguru.
Cuup!
"Anjing pintar!" seringai Leon sembari mengecup singkat pipi kemerahan gadisnya.
Sedetik kemudian, Aila menyesali perbuatan konyolnya.
"Kangen, hem?" tanya Leon sembari mendekatkan wajah.
Refleks, Aila menjauhkan wajahnya, " Tidak!" jawab Aila.
Leon terkekeh, ucapan dengan perbuatan Aila sungguh jauh berbeda. Dikecupnya sekali lagi pipi kemerahan gadisnya, hingga membuat Aila gugup. Gadis itu sedikit meronta meminta di lepaskan.
"Turun," pinta Aila.
"Kenapa?!"
"Malu."
"Kau sendiri, yang berlari padaku, sayang!" ucap Leon dengan seringai kecilnya.
"Turuuuun..." rengek Aila.
Leon terkekeh, namun tetap tidak mau menurunkan Aila.
"Cium!" perintah Leon.
Cup!
"Lagi!"
Cup!
"Lagi!"
Cup!
"Lagi!"
Cup!
"Sudah!" ucap Aila mengakhiri, atau tidak akan berakhir.
Leon tidak rela, namun akhirnya ia menurunkannya juga.
"Ehem! entar malem napa Yon?" ucap Niko yang ternyata sudah berada di belakang mereka, beserta Tasya dan Hendra bahkan Meli juga terlihat sedang bergelayut manja pada lengan Niko.
Aila kaget, gadis itu segera menutup wajah dengan kedua telapak tangan karena malu.
"Sejak kapan mereka disana?" bisik Aila pada Leon.
"Sejak tadi, sayang!" ucap Leon santai.
Sedang Aila kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan,Yang diikuti kekehan dari semua orang, kecuali Hendra tentunya.
"Selamat ya dek?" ucap Tasya ramah sembari memeluk tubuh Aila
"Terimakasih." jawab Aila sembari tersenyum.
Mereka kemudian berjalan kearah taman dimana Aila dan Meli mengobrol sebelumnya.
Leon menarik tangan Aila, ketika gadis itu akan mengikuti mereka.
"Gantikan pakaianku!" perintah Leon sembari membawa kepala Aila menuju kamar.
Aila menurut dan mengikuti perintah suaminya.
Setelah sampai, Leon buru-buru menutup pintu dengan kasar sembari meraih pinggang Aila dan mengangkatnya kearah nakas di samping tempat tidurnya.
"Eh?"
"Lepaskan pakaianku!" perintah Leon sembari membungkuk kearah Aila.
"Disini?"
"Ya, atau ingin di kamar mandi?" goda Leon.
Aila memalingkan wajah, malu.
Bukan pertama kalinya bagi Aila, melepas dan memakaikan baju pada pria itu, namun ketika melihat tubuhnya selalu membuat dadanya berdegup kencang.
"Sudah!" ucap Aila ketika sampai pada kancing terakhir.
Leon diam tidak menjawab dan Aila bisa menebak apa yang akan teejadi selanjutnya.
"Akan aku ambilkan baju!"
"Tetap disini!" perintah Leon, kemudian mendekatkan wajah dan mencium pada ceruk leher istrinya.
"Mereka disini," ucap Aila gugup.
"Mereka di luar, sayang!"
Tangan Leon mulai membuka kancing piyama Aila, tiga kancing teratas sudah terlepas, ia kemudian menarik tangan dan kembali menatap wajah Aila.
"Dengar! aku akan ke Boston nanti malam." ucap Leon menatap manik mata Aila.
Sontak Aila kaget. "Apa? kenapa?"
"Ada urusan, sayang!"
Aila diam untuk sesaat, tidak tau harus mengatakan apa.
"Hanya seminggu, aku janji!" lanjut Leon.
"Itu lama," ucap Aila lirih.
Leon tersenyum, kemudian mengecup bibir Aila singkat.
"Jangan pergi!" Aila memohon.
"Jika aku tidak pergi, apa yang akan kau berikan?"
Aila diam terlihat berpikir.
"Aku tidak punya apapun," ucap Aila jujur.
Leon mendesah. Emang ya? pintar dan polos itu gak pernah sepaket!
"Aku ingin membuat bayi, bisa?" Leon yakin, hanya kalimat itu yang Aila mengerti.
Aila tergagap, tidak bisa menjawab. Sejujurnya ia masih takut untuk itu.
"Aku yakin, kau belum siap. Jika aku terus dirumah, itu hanya membuat moodku menjadi buruk." ucap Leon jujur, walaupun sebenarnya bukan itu masalah sesungguhmya.
Aila kembali menggigit bibir bawahnya. Ia benar- benar bingung sekarang.
Leon mendesah, dugaannya benar, Aila memang belum siap. Tapi tetap saja kenyataan itu membuatnya kecewa.
Bersambung.....