
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 82
**Jujurlah pada dirimu sendiri**
Meskipun semua orang belum diperbolehkan untuk melihat kondisi Aila, namun Leon tetap menjadi pengecualian. Memang siapa yang bisa menghentikan pria itu?
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia segera pergi keruang perawatan. Pria itu memasuki ruang perawatan dengan perasaan campur aduk. Leon sama sekali tidak menyangka, jika apa yang selalu ia takutkan menjadi kenyataan.
Kesibukan mengurus pekerjaannya di kantor sebulan belakangan ini, membuat ia lupa akan keamanan istrinya. Dan Leon menyesali hal itu sekarang.
Dengan lembut ia meraih jemari tangan istrinya yang tampak mungil ditelapak tangannya yang besar. Jemari Aila terasa begitu dingin pada tangannya yang hangat.
Wajah istrinya nampak brgitu pucat dengan luka lebam pada pipi sebelah kiri. Tidak hanya itu, siku tangan dan lututnya juga terlihat membiru. Sepertinya Aila sempat melawan ketika penculikan itu terjadi.
Melihat keadaan tubuh istrinya yang mengenaskan, hatinya begitu sakit dan juga marah. Sekasar dan sebrengsek apapun dirinya, ia tidak pernah memukul istrinya.
Ia berjanji dalam hati, sipapaun yang sudah berani menyentuh wanitanya, tidak akan ia biarkan selamat.
Leon mengusap kepala istrinya pelan, "Bangunlah...akan ku ajak berkeliling dunia jika kau sembuh," bisik Leon lembut lalu mengecup kening istrinya dalam. Namun tubuh mungil di depannya tidak bereaksi. Aila tetap terlelap.
Setelah mengamati wajah istrinya, Leon berdiri melangkah menuju jendela. pria itu mengambil gawai dalam saku celananya. Menggeser layar, mencari nomor seseorang lalu menghubunginya.
[Apa yang terjadi?] tanya seseorang diseberang sana.
[Sudah saatnya kau pulang, aku butuh bantuanmu] jawab Leon.
[Aku mengerti, malam ini juga, aku akan berangkat]
[Aku tunggu,]
Tuuuut! Tuuut!
Nada telepon terputus. Leon kembali menatap rintik hujan yang turun di luar kastil. Ia patut bersyukur, istrinya masih bisa selamat kali ini, namun belum tentu lain kali. Satu kesalahan, mungkin pernah ia lakukan, tapi tidak untuk yang kedua kali. apapun caranya, ia akan melindungi Aila dan keluarganya.
Leon kembali mendekat dan duduk disamping ranjang istrinya. Menggenggam tangan mungil di depannya, perbuatan yang sangat jarang ia lakukan. Ia menyesal kenapa saat bisa menggenggamnya, tangan itu terasa begitu dingin?
Ia teringat perkataan istrinya yang mengatakan jika dirinya raksasa. Leon tersenyum saat mengingat hal itu. Aila begitu mungil, tapi satu-satunya wanita yang bisa membuat dirinya merasa hangat.
Engg!
Samar-samar, Leon mendengar istrinya mengigau. Ia segera mendekat, wajah pucat didepannya tampak menegang, kedua sudut mata Aila mengeluarkan air mata. Bibirnya terlihat bergerak namun tidak sepatah katapun keluar dari sana. Tubuh mungil itu terguncang, semakin lama semakin keras. gadis itu seperti tengah mengalami mimpi buruk.
Leon meraih tubuh Aila dan mengguncang bahunya agar istrinya itu terbangaun. Benar saja, tidak berapa lama mata itu terbuka. Seperti orang bingung, matanya menatap wajah suaminya lama. Setelah itu barulah ia menangis.
"Tidak apa, semua sudah berakhir sekarang.." ucap Leon sembari memeluk tubuh istrinya. Ia paham, penculikan itu pasti mengguncang dan menyisakan trauma pada kejiwaan istrinya. Sembari memencet tombol otomatis untuk memanggil Alex, Leon membiarkan Aila menumpahkan ketakutannya.
Tidak lama setelah itu, rolling door ruang perawatan tebuka. Alex datang saat itu juga. Tapi Pria itu tidak langsung mendekat, ia menberi waktu pada Aila agar lebih tenang dalam pelukan suaminya.
Setelah lebih tenang, Alex mendekat.
Pria itu tersenyum setelah berdiri tepat disamping ranjang, "Hei, apa yang kau rasakan?" tanya Alex.
Aila yang masih nampak sembab dan juga lemah hanya menggeleng sembari memaksa untuk tersenyum. "Baik kak, hanya saja perutku terasa sakit.." sahut Aila sembari meringis. Saat tubuhnya bergerak, nyeri pada perut kanan bawahnya semakin terasa.
Alex kembali mengulum senyum, lalu meletakakn tangan Aila pada perutnya. "Aku punya berita gembira untukmu, kau mau dengar?" tanya Alex sembari menggerakkan tangan Aila mengusap perutnya.
Aila mengerutkan kening lalu menatap suaminya, namun wajah suaminya nampak datar. Ia kembali menatap Alex penasaran.
"Apa itu?" Aila balik bertanya.
Alex kembali menggerakkn tangan Aila mengusap perutnya, "Di dalam sini, ada bayi kecil yang sedang tumbuh," jawab Alex.
aila tidak bereaksi untuk sesaat, hingga Alex kembali berucap.
"Kau hamil sayang.." lanjutnya.
Sontak gadis itu langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Benarkah, benarkah aku akan menjadi ibu?" tanya Aila tidak percaya.
Alex mengangguk, "Ya,"
Detik itu juga, air mata Aila kembali mengalir. Namun kali ini adalah air mata bahagia. Ia tidak menyangka jika akan secepat itu ia akan menjadi seorang ibu.
"Tapi ingat pesanku, karena rahimmu masih terluka dan tubuhnya masih lemah untuk tiga sampai empat hari, kau harus tetap berada diatas ranjang dan tidak boleh melakukan apapun," ucap Alex memberi ultimatum pada Aila.
Aila mengangguk paham. Bibir mungilnya tidak berhenti tersenyum setelah itu.
Jika Aila terlihat sangat bahagia dengan kabar kehamilannya, namun tidak dengan leon. Perasaannya sulit untuk di jelaskan. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk dengan kehamilan istrinya itu.
"Baiklah, sekarang istirahatlah, kita bicara lagi setelah kau lebih baik," ucap Alex pada Aila.
Aila tersenyum lalu mengangguk. Alex pun pergi meninggalkan ruang perawatan. Pria itu sedang memberi privasi keduanya untuk berbicara.
Sepeninggal Alex, Aila menatap suaminya lalu meraih lengan kekar itu untuk meraba perutnya. Bukannya tidak tahu, Aila bisa melihat suaminya tidak antusias dengan kabar gembira ini.
"Anda tidak senang, tuan?" tanya Aila.
Meski lirih, namun Aila bisa mendengar pria itu menghela napas. Pria itu berdiri lalu membungkukkan badan lalu mencium kening istrinya.
"Dengar, apapun yang membuatmu senang aku juga senang, tapi berjanjiah untuk tetap sehat. Karena aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu. Apa kau mengerti?" tanya Leon sembari menatap lekat mata istrinya.
Butuh beberapa saat untuk mencerna maksud perkataan suaminya, namun tetap saja ia masih belum begitu paham. Meski begitu, Aila mengangguk lalu tersenyum.
Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, Leon meraih pundak istrinya untuk berbaring. "Tidurlah, ada banyak hal yang akan kita bicarakan nanti," lanjut Leon. Aila mengangguk, gadis itu bergerak pelan dan masuk dalam dekapan suaminya lalu memejam. Tubuhnya sendiri memang masih sangat lemas.
****
"Bagaimana keadaannya?" tanya Serkan pada Alex ketika keluar dari ruang perawatan.
Alex tidak lansung menjawab pertanyaan Serkan, pria itu malah melangkah menuju kursi tunggu lalu mendudukkan dirinya disana.
"Kau tau sendiri, Aila tipe wanita seperti apa, gadis itu tidak mungkin menunjukkan rasa sakitnya terutama didepan Leon.." sahut Alex sembari melepas kaca matanya.
Serkan mendesah, Alex memang benar. Aila tahu kapan harus bermanja dan kapan harus serius demi semua tetap berjalan dengan semestinya.
"Kau pikir, selama ini gadis itu tidak tahu bagaimana harus bersikap agar suaminya tetap waras," lanjut Alex lagi.
Serkan diam. Salah satu alasan Leon tidak bisa melepas Aila adalah, gadis itu satu-satunya wanita yang bisa menjadi tuas pengaman baginya saat dirinya hampir meledak dan kehilangan kendali.
Aila juga satu-satunya wanita yang mampu memahami perasaan dan pikiran Leon lebih baik dari siapa pun.
Dan Serkan tahu persis akan hal itu.
"Tapi kita harus segera tahu kronologisnya secepat mungkin, aku yakin ada keterlibatan orang dalam," Sahut Erik.
"Aku tahu, tapi Aila masih tampak syok, lagi pula ia masih butuh istirahat. Kita beri waktu dua jam untuk itu. Jika kita paksakan dia akan kelelahan, dan itu akan buruk untuk janinnya," balas Alex menjelaskan.
"Alex benar, biarkan mereka istirahat sejenak," timpal Serkan setuju dengan pendapat Alex.
"Kau benar, Davin. Pastikan tidak ada satupun pelayan yang meninggalkan kastil malam ini," sahut Alex.
Davin mengangguk, ia kemudian pergi bersama Jimy untuk mengumpulkan semua pelayan di dalam kastil.
"Kau bersama Erik tetaplah disini, aku akan mengecek kembali semua CCTV," ucap Serkan pada Alex.
Alex mengangguk. Serkan kemudian berjalan menuju ruang pengendali CCTV.
Sepeninggal Serkan dan Davin, Alex dan Erik diam. Kedua pria itu sibuk dengan pikiran masing_masing.
Mereka merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa Aila. Pasalnya mereka berada di dalam kastil seharian, namun tidak tahu jika Aila di culik.
"Aku merasa sangat buruk karena kejadian ini," ucap Erik penuh penyesalan.
"Kita semua merasakan hal yang sama, Erik. Tapi apa gunanya penyesalan, semua sudah terjadi." sahut Alex bijak. Meskipun di dalam hatinya ia juga sangat menyesal.
Erik diam. Sejak dulu ia selalu mencari kesempatan untuk bisa membalas budi baik sang boss terhadap dirinya, namun kenyataannya, Leon lah yang selalu menyelamatkan dirinya. Ia benar- benar merasa sangat tidak berguna.
Disaat yang sama, Serkan menemukan sesuatu yang ganjil sesaat sebelum Aila meninggalkan kastil. Gadis itu terlihat sedang berbicara dengan pak Hadi, supir pribadi Leon di taman belakang. Namun melihat gerak-gerik gestur tubuh pria itu, entah kenapa Serkan merasa ada hal yang aneh. Raut muka pak Hadi terlihat seperti tegang tidak seperti biasanya.
Merasa ada yang tidak beres, Serkan segera menghubungi Davin dan meminta pria itu untuk segera menemuinya.
Tidak berapa lama, Davin sudah tiba di ruang pengendali CCTV.
"Ada apa?" tanya Davin pada Serkan.
"kemarilah dan lihat ini," pinta serkan tanpa mengalihkan pandangannya pada layar monitor besar di depannya.
Davin menurut dan melihat pada layar yang serkan maksud.
Menjelang petang, Aila terlihat bersama pak Hadi menuju taman belakang. Setelah itu, mereka tidak lagi terpantau oleh kamera CCTV, karena jaraknya memang sudah jauh dari kastil.
Serkan dan Davin terlihat saling berpandanan untuk sesaat. Sebelum kedua pria itu keluar bersama menuju kamar pak Hadi. Namun terlambat, ketika mereka sampai di dalam kamar tersebut, pak Hadi sudah tidak tidak ada. Pria itu bahkan sudah membawa pergi semua barangnya. Serkan yakin, jika pak Hadi keluar ketika mereka sibuk mengejar Aila tadi.
"Aku tak percaya ini," ucap Davin terkejut.
"Kita harus segera berbicara dengan Leon tentang hal ini," ucap Serkan.
Setelah mengunci kembali kamar pak Hadi, Serkan dan Davin segera menuju ruang perawatan. Mereka segera menceritakan apa yang mereka lihat dan mereka curigai. Tidak hanya Alex, Erik pun nampak terkejut tidak menyangka jika orang dalam tersebut adalah supir pribadi Leon sendiri. Bagaimana bisa, seseorang yang sudah bekerja begitu lama memilih untuk menjadi penghianat. Memang apa alasannya?
"Apa menurutmu dia bekerja sendiri?" tanya Erik pada Serkan.
"Entahlah, aku tidak yakin. Tapi mengingat dia sudah lima tahun bekerja dengan Leon, aku kira ini sudah direncanakan sejak awal," jawab Serkan.
"Kau benar, siapapun bisa menjadi musuh saat ini. Kita harus berhati-hati," timpal Davin.
"Perintahkan semua untuk melapor jika melihat pak Hadi dan untuk tetap waspada," ucap Serkan.
Erik dan Davin mengangguk paham. Kemudian mereka turun untuk kembali mengecek semua anak buahnya, sedang Alex dan Serkan masuk kedalam ruang perawatan.
Mereka terkejut untuk sesaat, melihat Aila sudah bangun sebelum mereka datang.Terlihat mata gadis itu menatap kosong kearah mereka sebelum akhirnya memaksa senyum.
Tanpa bertanyapun, mereka tahu ada sesuatu yang sedang Aila sembunyikan. Sedang Leon masih terlihat terpejam. pria itu memang terlihat sangat kelelahan, mengngat semenjak pulang dari kantor tadi sore, Leon belum istirahat sama sekali.
Aila menarik tangan Alex dan merebut gawai dari saku pria itu, dan terlihat menulis sesuatu. Alex nampak terkejut, namun Alex membiarkan Aila melakukannya.
Jangan membangunkannya.
Tulis Aila pada layar gawai kemudian memberikannya pada Alex. Pria itu terlihat mengerutkan kening, "Why?" bisik Alex tidak mengerti.
Aila merebut gawai Alex lagi dan menulis sesutu.
Kalian bisa menanyakan apapun padaku, tapi biarkan dia istirahat.
Tulis Aila, lalu menyerahkannya pada Alex.
Alex membacanya, sedetik kemudian pria itu terlihat menghela napas.
"Percayalah suamimu tidak akan suka," ucap serkan tiba-tiba membuat Leon terbangun. pria itu terlihat waspada karena kaget, namun sedetik kemudian, Leon terlihat mengurut pelipisnya. Entah karena tertidur baru sebentar atau karena kaget, kepalanya tiba-tiba terasa pening sekarang.
"Kau perlu makan ku rasa, kau belum makan apapun sejak tadi siang bukan?" tanya Alex pada Leon.
Leon tidak menjawab, pria itu hanya membenarkan posisi duduknya pada sandaran ranjang.
"Makan dan isi tenagamu, tidak lucu jika kau ikut sakit. Ada banyak hal yang akan kami bicarakan," timpal Serkan.
Leon bergeming. Ia terlihat enggan menuruti perkataan kedua sahabatnya. Disaat seperti ini, tentu saja ia tidak selera untuk makan.
Aila menatap suaminya sesaat,. Pria itu nampak sangat kelelahan. Ia kemudian meraih tangan suaminya dan mengusapnya lembut, "Makanlah tuan, aku sudah lebih baik sekarang," ucap Aila membujuk suaminya.
Leon mendesah sesaat, sebelum akhirnya bangun menuruti ucapan istrinya. dengan langkah berat, Leon meninggalkan ruang perawatan, namun sebelum tubuhnya hilang dibalik pintu, pria itu sempat berbalik. "Jaga dia," perintahnya lalu melanjutkan langkah keluar dari ruang perawatan.
Sepeninggal Leon, Alex menarik napas dalam lalu duduk tepat disamping Aila. Gadis itu terlihat memejam. Alex tahu, Aila sedang menahan sakitnya.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Alex.
Aila diam, matanya masih terpejam.
"perutmu sakit?" lanjut Alex.
"Ya," jawab Aila jujur.
Alex menyunggingkan senyum sebelah, "Itu baru permulaan, dan jika kau tetap seperti ini, perutmu akan semakin sakit, jika itu terjadi kau akan kehilangan bayimu," ucap Alex memperingatkan.
Aila diam, gadis itu terlihat meremas selimut menahan nyeri.
"Mulai sekarang jujurlah pada dirimu sendiri, jika sakit bilanglah sakit, jangan memendam semuanya sendiri, tanpa sadar kau membuat bayimu tertekan," lanjut Alex.
"Aku hanya tidak ingin dia khawatir," ucap Aila jujur.
Alex mendesah sesaat mendengar jawaban Aila. Apa yang dilakukan Aila memang tidak sepenuhnya salah. Kenyataannya, Leon tidak bisa mendengar hal buruk apapun tentang istrinya.
"Tapi, jika dia mengetahui kau menymbunyikan sesuatu darinya, aku yakin dia akan terluka," timpal Serkan.
Aila mendongak menatap Serkan, "Apa benar begitu?" tanya Aila.
"Ya," jawab Serkan.
Aila kembali menunduk dan meremas tangannya. "Aku tidak ingin dia khawatir maupun kecewa..." ucap Aila pelan.
"Jika begitu jujurlah...setidaknya untuk kebaikanmu sendiri," sahut Serkan.
Aila diam. Lebih dari apapun ia hanya ingin suaminya bahagia. Meskipun terkadang ia harus berpura-pura, semuanya hanya supaya Leon tetap dalam jalur kewarasannya.
Bersambung...