
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 43
** Bayangan masa lalu **
Aila tergagap, tidak mengerti dengan ucapan suaminya.
"A__aku?"
"Ya, buka bajumu!"
"Untuk apa?" tanyanya lirih.
"Untuk menjalankan hukumanmu, sayang!" ucap Leon dengan senyum evilnya.
Aila mendesah, hukuman apa yang dilakukan dengan membuka baju?
Walaupun ia sudah tahu apa maksud suaminya, tapi tetap saja membuatnya gugup dan malu.
Dengan sedikit gemetar, Aila mengangkat tangan kearah kancing blues yang sedang di pakainya, melepas satu persatu kancing bajunya di iringi tatapan tajam dari suaminya. Seakan setiap gerak jemari berada di bawah pengawasannya. Tiga kancing blues teratas, terlepas sudah, dada mulus miliknya terlihat menyembul di balik bra pink yang sedang di pakainya.
Leon menelan salivanya kasar demi melihat gundukan daging milik istrinya yang begitu mengiurkan untuk di lahap.
Aila menghentikan tangan, ragu untuk melanjutkan. Namun, ia kembali mengulurkan tangan dan melepas kancing, tapi bukan kancing bluesnya melainkan kancing kemeja suaminya.
Leon terhenyak, dengan apa yang Aila lakukan.
"A__apa yang kau lakukan?"
Sial! untuk pertama kalinya ia merasa gugup menghadapi seorang wanita.
"Mengganti baju kakak, baunya amis." ucap Aila datar.
"Ya, aku akan mandi nanti." ucap Leon sembari meredam kegugupannya.
"Tidak usah mandi, ini sudah malam. Biar aku bantu membersihkan."
Aila kembali melepas kancing baju Leon dan membantunya menanggalkan pakaian. Kini ia bisa melihat dada atletis milik suaminya. Ingin sekali ia membenamkan diri disana, melepas semua rindunya. Aila juga seorang wanita, munafik jika ia tidak terpesona pada tubuh sempurna di depannya.
Buru- buru ia membuang pikiran mesumnya, kemudian berdiri melangkah kearah kamar mandi, membawa sebuah handuk kecil dan air hangat.
Aila membersihkan muka terlebih dahulu, karena posisi Aila yang berdiri dan Leon duduk menjadikan ia bisa menatap wajah tampan didepannya dengan leluasa. Tidak peduli berapa kalipun ia melakukannya, nyatanya tidak membuatnya bosan.
Saat sedang terpesona dengan wajah suaminya, tiba-tiba Leon menarik tangannya membuatnya terduduk di atas pangkuan.
"Eh?"
"Bersihkan dadaku!"
Aila mengangguk, kikuk.
Dengan tangan gemetar, ia membersihkan dada suaminya. Tanpa disadarinya Leon terus menatap kearah dadanya terbuka, Aila sepertinya lupa untuk mengancingkan kembali bluesnya.
istri polosnya itu tidak tau, jika sedari tadi ia menahan tangan dengan sekuat tenaga untuk tidak meremas dadanya.
"Sudah, akan ku ambilkan baju." ucap Aila sembari berdiri, namun tangan Leon sudah lebih dulu menahan pinggangnya.
"Lepas bajumu!" perintah Leon.
"A__aku kemba..."
"Sekarang!"
Aila menarik napas dalam, meredam kegugupan.
Tanganya mulai melepas bluenya dan menaruhnya di lantai. Gadis itu kemudian tertunduk malu.
"Lepas semua, sayaang." bisik Leon sensual.
Bibirnya mulai menyusuri setiap lekuk leher istrinya, menggigit kecil bagian belakang telinga membuat tanda kepemilikan disana.
Puas mendengar desahan istrinya, ia kemudian melepas paksa kait bra dan membuangnya asal, seketika dadanya yang membusung terpapar di tengah ruangan yang terang benderang.
Mata Leon berkabut gairah, menatap dada membusung di depannya, sementara Aila tertunduk malu.
Dengan lembut, ia membelai puncak dada istrinya. Warnanya coklat muda. Walaupun tubuh Aila mungil, namun buah dadanya tidak terhitung kecil juga, ukuran buah dada Aila pas di tangannya.
Leon bisa mendengar erangan nikmat dari mulut Aila saat ia mulai menurunkan mulutnya untuk menngecup dan mengulum puncak dada istrinya. Rasanya Leon ingin berlama-lama disana, merasakan setiap inci dari tubuh wanitanya.
"Aku ingin melakukannya sekarang, sayang. Boleh?"
Aila memgangguk pelan.
"Kau yakin?"
Aila menggigit bibir bawahnya, namun sedetik kemudian ia mengangguk mantap.
"Aku tidak akan berhenti, walaupun kau meminta!"
"Lakukan." ucap Aila pelan.
Leon kembali meraup wajah istrinya dan menghujaninya dengan ciuman panas, kemudian ia mengangkatnya menuju ranjang.
Dengan pelan, Leon membaringkan tubuh polos di depannya, kemudian menatapnya sesaat.
Saat itu juga dering telepon dari gawainya berbunyi.
Leon bergeming, tetap melanjutkan mencumbu leher istrinya, namun dering telepon yang terus berbunyi pada gawainya membuat konsentrasinya terganggu.
"Sebentar, sayang! siapapun dia akan ku bunuh setelah ini."
Aila tersenyum, sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Leon meraih gawainya di atas nakas, menatap kearah layar ia ingin langsung mematikannya, namun nama Niko yang tertera di sana membuatnya penasaran.
[Apa?!] bentak Leon.
[Gue bertemu Alea, dia disini sekarang.]
Leon terlihat mengepalkan tangan, rahangnya terlihat mengeras, kemudian melangkahkan kakinya kearah balkon.
"Ini hanya sebentar, aku akan segera kembali." ucap Leon yang di iringi anggukan dari kepala Aila.
Leon kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Niko.
[Gue gak tertarik!]
[Terserah! tapi asal lo tau, dia sakit!]
[Apa maksud lo?!]
[Alea sakit kanker, Leon.]
Leon terdiam, terlihat pria itu kaget mendengar ucapan Niko dari seberang sana.
[Besok Gue ke sana.]
Telepon ditutup.
Leon menyugar rambut, membuang napas kasar. Pembicaraannya dengan Niko tadi membuatnya gusar. Wanita yang pernah begitu dicintainya dulu, sekarang kembali berada di indonesia setelah pergi meninggalkannya begitu saja. Yang lebih membuatnya kaget adalah mendengar jika Alea tengah sakit kanker.
Bagaimanapun, ia belum bisa mengusir Alea dari hatinya.
Ia masih terus mengingat wanita itu hingga kini.
Terlalu lama merenung, Leon lupa jika istrinya tengah menantinya di dalam, ia kemudian menghampiri istrinya yang terbaring di atas ranjang. Sepertinya Aila ketiduran karena lelah menunggunya, Leon mencium keningnya sesaat, mengambil kaus kemudian melangkah keluar kamar. Pria itu menuju bar mini, di samping ruang kerja sekedar untuk mendinginkan pikirannya.
Saat melewati ruang tengah, ia melihat Omanya sedang duduk seorang diri disana. Mendadak Leon mengingat sesuatu, ada yang ingin ia sampaikan padanya. Ia mendekat kearah Oma, berniat mengagetkannya namun Oma sudah lebih dulu mengetahui kedatangannya.
"Apa?!" tanya Oma tanpa berbalik.
"Ah, Oma gak asik!" Leon mendengus.
"Dimana istrimu?!"
"Tidur." ucap Leon singkat sembari mendudukkan dirinya di samping Oma.
"Hadiah untuk Oma. Adik tiriku." ucap Leon santai.
"Aku tidak sudi, punya cucu dari wanita gila!"
"Well, dia tetap darah daging anakmu. Bukan darah dagingku." ucap Leon acuh.
Oma diam, Leon benar. Lusi memang darah daging anaknya, tentu saja akan menjadi cucunya, entah dia suka atau tidak.
"Aku membunuh semua keluarganya, dia yatim piatu sekarang."
"kau gila!"
Leon mengerdikkan bahu, tidak peduli.
"Satu lagi, anakmu sudah mati dua tahun lalu." ucap Leon tanpa menatap Omanya, ia tidak tega melihat ekspresi Omanya.
"Aku tau!"
Leon menoleh kaget, menatap lekat Omanya.
"Oma sudah tau? sejak kapan?!"
"Setahun lalu." jawab Oma santai.
"Dan Oma tidak memberitahuku?!"
"Kau membenci ayahmu, kenapa ingin tau?!"
Leon terdiam, ucapan Omanya benar. Ia memang membenci ayahnya karena telah menelantarkan ibunya, tapi bagaimanapun darah lebih kental dari pada air, ia berhak mengetahuinya.
"Kemana?" tanya Oma yang melihat Leon berdiri.
"Cari angin." jawab Leon singkat, sembari melangkah meninggalkan Oma.
Wanita tua itu hanya mendesah, ia tau, ada begitu banyak pikiran di dalam benak cucunya. Bagaimanapun hari ini berat untuk cucunya.
***************
Aila terbangun di pagi hari tanpa mendapati Leon disampingnya. Semalam ia menunggu suaminya, namun pria itu tidak kunjung masuk hingga kantuk menyerangnya dan membuatnya tertidur. Tapi kenapa sepagi ini Leon sudah tidak ada di ranjang?
Aila meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya, kemudian berjalan kearah kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian Aila segera turun, ia penasaran dengan keberadaan suaminya yang sudah tidak ada sejak pagi. Pertama kali, ia mencarinya di ruang makan yang berhubungan langsung dengan dapur, namun ia tidak mendapati suaminya disana.
Netranya malah menangkap hal lain, gadis itu terlihat mengerutkan kening ketika melihat seorang wanita muda sedang memasak disana. Ia belum melihat wajah gadis itu sebelumnya, mungkinkah ia seorang pelayan baru? tapi kenapa tidak memakai baju pelayan?
Melihat ada yang datang, gadis itu berbalik kearah Aila.
"Maaf nona, sarapan sebentar lagi selesai." ucapnya sopan.
"Ah, tidak apa. Tidak usah terburu-buru." ucap Aila ramah.
Gadis itu terlihat tersenyum sembari melanjutkan kegiatannya. Tubuhnya tinggi, bermata biru, dengan rambut sebahu, gadis itu terlihat cantik, hanya saja wajahnya sedikit tirus. Ia sangat tidak cocok jika menjadi seorang pelayan. Aila mengambil apron dan memakainya, gadis itu berniat untuk memasak.
"Maaf nona, anda tidak boleh memasak. Biarkan saya yang melakukannya."
"Tidak apa, aku sudah biasa melakukan ini."
"Tapi, nona..."
"Tenang saja, kakak tidak akan dimarahi. Apa kakak pelayan baru disini? aku belum pernah melihat kakak sebelumnya."
Gadis itu mengangguk, sembari tersenyum." Iya, nona."
"Em, siapa nama kakak?"
"Saya Lusi, nona. Panggil saja, Lusi."
Aila mengangguk paham, namun entah kenapa Aila merasa ada sesuatu yang aneh dari gadis itu, mata birunya Seperti tidak asing, entah mirip dengan siapa.
"Aku Aila kak, panggil saja Aila. Mungkin saja kita bisa menjadi teman?"
Lusi menggeleng," Saya hanya pelayan, nona. Mana boleh memanggil anda begitu."
Aila mendesah, lagi lagi panggilan saja menjadi begitu bermasalah.
Tidak sengaja matanya melihat kearah tangan wanita muda disampingnya, ia terperanjat kaget saat mengetahui tangan gadis itu penuh dengan luka.
"Hentikan," ucap Aila tiba-tiba.
"Ada apa nona?" tanya Lusi tidak mengerti.
Aila kemudian meraih tangan Lusi dan memeriksanya.
"Tangan kakak terluka, kenapa memaksa untuk memasak? tunggu sebentar, akan ku ambilkan obat." ucap Aila kemudian berlari mengambil kotak obat, meninggalkan keheranan di wajah tirusnya. Belum ada yang begitu perhatian kepadanya, selain Maria. Tapi wanita itu langsung mencemaskan luka di tangannya, padahal mereka baru saja bertemu.
"Ayo sini, biar aku obati tangan kakak." ucap Aila setelah kembali dari mengambil kotak obat.
Lusi yang masih bingung dengan sikap wanita di depannya hanya bisa menurut, ia mengulurkan tangan dan pasrah saat Aila mengobati lukanya. Dengan sabar, Aila mengobati luka di tangan Lusi. Tanpa di sadarinya, Lusi tengah menatap kagum kearahnya.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Oma yang tiba-tiba sudah di belakang mereka bersama dengan pak Liem.
Lusi terkejut dan langsung menarik tangannya.
"Aila sedang mengobati tangan kakak ini, oma. Tangannya terluka, tapi dia masih memaksa untuk memasak." ucap Aila sembari menarik tangan Lusi.
Oma menatap tidak suka kearah Lusi, wanita tua itu tahu jika gadis yang sedang berada di depannya adalah anak Monica. Melihat wajah Lusi mengingatkannya pada wanita gila itu, wanita yang menyebabkan keluarganya hancur.
"Biarkan orang lain yang mengobati! sekarang ikut Oma!" perintah Oma.
"Sebentar Oma..."
"Kau itu Nyonya Thomson sekarang! jangan mudah bergaul dengan pelayan, cepat ikut Oma!" ucap Oma sembari meninggalkan ruang makan.
Aila sedikit terkejut dengan sikap Oma, walaupun Oma bersikap sombong padanya, tapi ia tidak pernah melihat Oma merendahkan seorang pelayan. Dilihat dari cara menatap Lusi, sepertinya Oma tidak menyukai gadis itu, tapi kenapa?
Sedang Lusi terlihat kaget dengan ucapan Oma yang mengatakan bahwa Aila adalah nyonya Thomson, itu berarti gadis yang sedang mengobati lukanya adalah istri dari kakak tirinya. Ia tidak menyangka, jika kakak iparnya begitu ramah dan baik hati.
"Jangan diambil hati ya kak, Oma memang sedikit ketus, he he he." ucap Aila membesarkan hati Lusi.
"Oma memang sedikit galak, tapi hatinya baik kok." lanjut Aila sembari tersenyum.
Setelah selesai Aila segera berdiri, bersiap melangkah ke kamar Oma.
"Maaf ya kak, Aila gak bisa bantu. Aila harus ikut Oma, atau ia akan mengomel." ucap Aila kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
"Terimakasih." ucap Lusi lirih setelah Aila menghilang di balik tembok, matanya memanas, namun sekuat tenaga ia menahan buliran itu agar tidak luruh. Ia terharu dengan sikap Aila, sekaligus sedih melihat kenyataan bahwa nenek yang bagitu ingin di lihatnya ternyata sangat membencinya. Namun, ia tidak bisa menyalahkan wanita tua itu, jika mengingat kelakuan ibunya yang tidak bisa di maafkan. Lisa akan menanggung semua dosa yang telah di lakukan ibu dan kakeknya.
Aila mencari Oma di kamarnya, namun gadis itu tidak menemukan orang yang dicarinya. Ia malah bertemu dengan pak Liem di lorong kamar, tetiba terfikir untuk menanyakan sikap Oma terhadap Lisa yang twelihat aneh menurut Aila.
"Ehem...pak Liem?! tanya Aila.
pak Liem yang tengah sibuk menata lukisan di dinding lorong, berbalik.
"Ya, nona?"
"Bolehkah saya tanya sesuatu?"
Pak Liem berhenti dengan kegiatannya dan mulai menatap Aila.
"Silahkan, nona."
"kenapa sikap Oma seperti tidak suka terhadap Lisa?"
Pak Liem terlihat menarik napas dalam, sebelum menjawab pertanyaan Aila. Seperti akan menceritakan sesuatu yang berat.
Maka, mulailah pak Liem menceritakan apa yang ia ketahui tentang gadis itu dan hubungannya dengan Oma, tentu saja dengan semua cerita kelam yang terjadi di dalam keluarga suminya itu.
Untuk sesaat Aila termangu mendengar cerita tentang Lisa dan juga tentang cerita kelam keluarga suaminya itu. Cukup rumit juga menurut Aila, namun dimatanya Lisa tetap tidak bersalah. Gadis itu hanya tidak punya pilihan karena harus terlahir dari rahim seorang wanita yang kejam. Ia merasa iba dengan nasib gadis itu, setidaknya mereka punya satu persamaan, yaitu sama-sama tidak diinginkan dan dibuang.
Bersambung...
Aku minta maaf, jika kalian rasa cerita ini bertele-tele, aku hanya ingin semua tersampaikan secara natural dan tidak terburu-buru.
Terimakasih yang sudah mengikuti sampai sekarang. Bahagia kalian adalah tujuanku.