Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
bab 27


Cinta 49 Cm


Bab 27


**Hukuman**


Aila terbangun pagi-pag sekali. Gadis itu terlihat mengeliat perlahan, Tubuhnya susah untuk bergerak karena Leon membelitnya dengan tangan dan kakinya. Aila heran, sejak kapan ia tidur dalam pelukan Leon? Bukankah semalam ia tertidur dibawah selimut?


Merasa ada pergerakan yang menganggu tidurnya, Leon mendesah.


"Mau kemana?" ucap Leon masih dengan mata tertutup.


"Mau pipis" jawab Aila pelan.


"Cepat kembali!"


"Ya"


Leon melepas belitan pada tubuh Aila, gadis itu segera turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya kearah kamar mandi.


Setelah selesai dengan hajatnya, Aila segera membersihkan tubuhnya. Gadis itu mandi.


Tidak butuh berapa lama, Aila sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia segera keluar dari kamar mandi menuju walk in closet untuk berganti baju. Gadis itu memilih blues berwarna putih polos di padukan dengan rok berwarna putih bercorak kembang-kembang selutut membuat penampilanya terlihat imut saja. Seperti biasa ia membiarkan rambutnya tergerai dan hanya menambahkan jepit pita besar di atas telinga kanannya.


Setelah dirasa cukup, Aila segera melangkahkan kakinya keluar, ia ingin memasak. Aila melangkahkan kakinya sepelan mungkin supaya Leon tidak terbangun, namun pria itu ternyata sudah menatapnya dengan awas. Seperti seekor singa yang tengah mengamati mangsanya untuk diterkam.


"Siapa yang menyuruhmu mandi?!" ucap Leon tajam.


Aila tergagap, ia tidak menyangka jika Leon ternyata sudah bangun.


"Em.."


"Kemari!"


Aila menurut, gadis itu kemudian naik ketas ranjang.


"Kemari!" ulang Leon sembari merentangkan tangannya.


Aila lagi-lagi menurut, ia tau jika pria di depannya sedang marah. Aila kemudian masuk kedalam dekapan Leon. Ia meringkuk dengan nyaman dalam dekapan dada bidang pria itu.


Diciumnya kepala Aila yang masih basah


.


"Tubuhmu dingin dan aku tidak suka! Lain kali jika mandi tanpa seijinku, kau akan mendapat hukuman!" ancam Leon.


Aila diam menghela napas, ia terkadang masih bingung bagaimana harus memahami sikap Leon. Terkadang pria itu bersikap lembut namun terkadang juga sangat pemaksa, Mau bagaimana lagi, dari awal Aila sendiri yang sudah memutuskan untuk masuk kedalam kehidupan pria itu. Oma juga sudah memperingatkannya sejak awal, jadi ia harus siap dengan semua perlakuan pria itu.


"Kau dengar?"


"Ya"


"Bagus, ingat itu!" ucap Leon.


Aila tidak punya pilihan, selain mematuhi perintah Leon. Ya, ia harus melakukan itu supaya semuanya tetap berjalan dengan normal.


Drrrrrrt! Drrrrrrrrrt!


Gawai Leon yang berada diatas nakas bergetar, namun Leon tidak bergeming. Pria itu tetap melanjutkan tidurnya


.


Drrrrrrrr! Drrrrrrrrr!


Gawai Leon terus berbunyi, menandakan sedang ada panggilan masuk.


Leon berdecak, siapa yang berani mengganggunya sepagi ini?


Dengan malas Leon bangun dan meraih gawainya. Dilihatnya layar, ada nama Davin disana.


"Tetap berbaring!" perintah Leon yang melihat Aila bangun dari tidurnya.


Aila menurut, ia membaringkan tubuhnya kembali.


Leon kemudian menerima panggilan dari Davin.


[Ada apa, Davin? Jika tidak penting, awas saja kau!]


[Maaf tuan, Dragon sudah berada di lantai bawah]


[Hem]


Tuuut! Tuuuut!


Leon menutup panggilan teleponnya.


"Bangunlah! aku mau mandi" perintah Leon.


Aila menurut, gadis itu kemudian bangun dari posisi tidurnya.


"Siapkan air mandiku!"


"Ya"


Aila berjalan kearah kamar mandi melaksanakan perintah Leon. Dipenuhinya bathub dengan air hangat dan sedikit sabun untuk membuat busa. Setelah dirasa cukup, aila segera berbalik untuk memanggil Leon, namun pria itu ternyata sudah berada di depannya.


Aila terkesiap melihat Leon hanya memakai handuk yang membelit di pinggangnya, cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya.


"Sudah"


"Hem" Leon segera masuk kedalam bathub.


Kemudian Aila buru-buru melangkah, keluar kamar mandi.


"Siapa yang menyuruhmu keluar?"


Aila berhenti dan menoleh dengan bingung.


"Ada lagi?" tanya Aila.


"Gosok punggungku!"


Aila mendesah, namun gadis itu tetap mematuhi perintah Leon.


Ia kemudian mengambil sikat untuk menggosok badan Leon.


"Jangan pakai itu!"


"Lalu?"


"Pakai tanganmu, sayang!"


Aila mrnurut, menggosok punggung Leon dengan tanggannya, meskipun ia harus mati-matian menahan debaran jantungnya yang kian cepat.


"Cukup!"


Aila berhenti menggosok.


"Sekarang dadaku,"


Lagi-lagi Aila hanya bisa mendesah dan melakukan perintah Leon. Gadis itu duduk di bibir bathub dengn kesusahan, kakinya menggantung karena tingginya bathub. Aila menggosok dada Leon dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya berpegang pada bibir bathub supaya dirinya tetap seimbang.


Leon menyeringai melihat Aila kesusahan.


"Masukklah! kau akan jatuh jika seperti itu"


"Tidak, aku sudah mandi"


"Kau bisa mandi lagi, sayang" goda Leon.


"Tidak! terimakasih"


Leon mendesah kesal, Aila masih saja menolaknya. Tidk kehilangan akal, Leon bergeser sedikit lebih jauh.


"Sebelah sini!" tunjuk Leon pada dadanya sebelah kanan.


"Ya"


Aila menggeser duduknya sedikit lebih dekat, agar bisa menjangkau dada Leon. Karena posisnya itu, lehernya malah hampir menempel pada wajah Leon. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas hangat menerpa lehernya, membuat tubuh Aila panas dingin dibuatnya.


Leon menahan napas sejenak, menelan kasar salivanya, melihat leher mulus dengan bulu halus milik Aila terpampang jelas didepan matanya.


Niat awal yang hanya ingin memberi hukuman pada Aila karena membangunkannya lebih awal, malah dirinya sendiri yang kena batunya.


"Jangan bergeser, tanganku tidak sampai" protes Aila.


"Jangan banyak alasan dan cepat lakukan!"


Aila menurut, mengulurkan tangannya lebih jauh, namun karena posisinya yang begitu sulit, gadis itu akhirnya terjatuh kedalam bathub.


Byuuur!


Aila gelagapan, namun segera menguasai diri dan duduk di depan Leon. Seluruh tubuhnya kini telah basah kuyub.


Leon menyeringai, rencananya berhasil.


Aila terlihat menunduk sembari merapikan rambutnya yang berntakan karena terkena air.


Hening, tidak ada percakapan dintara keduanya untuk sesaat.


Aila terlihat resah, tidak nyaman karena posisinya yang berada di dalam bathub bersama dengan Leon.


Kaki Leon bahkan menyentuh pahanya. Sepertinya Leon sengaja, ia bahkan tidak menarik kakinya saat mereka bersentuhan.


Aila melipat kedua tangan untuk menutupi dadanya, bra hitam yang ia kenakan semakin jelas terlihat karena blues putih yang ia pakai telah basah.


Leon hanya diam sembari menatap intens kearah gadisnya. Ia tau jika Aila tengah malu dan itu menciptakan suasana canggung diantara keduanya.


"Ehem! lakukan tugasmu!" perintah Leon memecah keheningan.


Aila diam menundukkan kepalanya.


"Kenapa diam?"


"Boleh aku keluar?"


"Tidak!"


Aila kembali diam.


"Mandilah!"


"Aku sudah mandi"


"Mandi atau gosok dadaku!"


Aila mendesah, kenapa Leon selalu membuat posisnya sulit? ia tidak mau menggosok dada Leon, karena itu akan membuat mereka kembali berdekatan dan Aila tidak mau itu terjadi. Ia takut jika Leon kembali menerkamnya lagi dan Aila tidak yakin ia bisa menahan dirinya kali ini.


"Setelah mandi, aku boleh keluar?" tanya Aila.


"Tentu!"


Aila berbalik memunggungi Leon dan mulai melepas semua pakaiannya tanpa berdiri, gadis itu melepasnya langsung dari dalam air. Ia hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.


Beruntung, banyak busa didalamnya sehingga asetnya tidak kelihatan.


Leon kembali menyeringai, kali ini ia akan menang banyak.


Leon mulai menyalakan air supaya busa di dalam bathub menghilang agar ia bisa melihat aset milik Aila dan Aila tidak menyadari hal itu.


"Kau nyaman, mandi dengan pakaian dalam?"


"Ya" jawab Aila singkat.


"Jika tidak nyaman, lepaskan saja"


"Aku nyaman"


"Tubuhmu jelek, aku tidak akan tertarik"


"Aku tau"


Leon mendesah, rencananya tidak berhasil.


Matanya terus menatap Aila intens, ingin sekali ia melepas bra yang dipakai Aila itu.


Aila mulai menyabuni tubuhnya yang memang sudah bersih, mau bagaimana lagi? ia harus menuruti perintah sang singa jika ingin semua cepat selesai.


Leon menelan salivanya dengan kasar, hanya melihat siluet tubuh Aila dari belakang saja sudah membuat bagian bawah tubunya berdiri. Dirinya yang menggali perangkap, tapi malah terjebak sendiri di dalamnya.


Leon frustasi menahan hasrat yang begitu membara dan sialnya ia tidak bisa lagi menahan diri.


Leon mendekat kearah Aila, dengan cepat ia melepas bra yang dikenakan Aila dan menarik tubuh gadis itu dari belakang.


Aila terkejut dan berusah berontak.


"Apa yang.."


Haaaamp!!


Belum selesai dengan ucapannya, Leon sudah lebih dulu membekap mulut Aila dengan ciuman yang panas.


Aila ingin berontak, tapi tubuhnya justru menerimanya.


Leon terus memagut dan ******* bibir Aila dengan panas tidak sedikitpun membiarkan gadis itu bernapas.


Awalmya Aila menolak, namun lama- lama gadis itu mulai menerima dan membalas ciman dari Leon, sesekali Aila menggigitnya, namun Leon tidak menyerah, ia terus melakukannya.


Leon membalikkan tubuh Aila untuk menghadapnya, tanganya yang kekar mengangkat tubuh Aila menjadi setengah duduk. Posisi Aila sekarang lebih tinggi dari Leon, ditariknya pinggang Aila hingga tubuh polos mereka menempel antara satu dengan yang lain.


Bibir Leon menempel pas pada Leher basah Aila, membuat Leon menelusuri setiap lekuk dan menyesapnya.


Tidak ada yang bisa Aila lakukan selain menjambak rambut Leon kuat kuat, karena desiran nikmat yang tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhnya.


"Ah!"


Satu desahan lolos dari bibir Aila, membuat Leon semakin menggila karena mendengarnya.


Pria itu terus menyesap dan semakin naik ke bagian bawah telinga, membuat gigitan kecil disana meninggalkan tanda kepemilikan.


"Kau membuatku gila, sayang!" bisik Leon dengan suara parau.


Tanpa sadar Leon mengungkapkn isi hatinya.


Tubuh Aila bergetar, panas dingin dibuatnya.


"Kakak.."


Leon tidak bergeming, tetap melanjutkan aksinya. Ia menurunkan bibirnya kearah dada, tepatnya pada belahan dada Aila dan mengecupnya dengan begitu dalam.


"Ah!"


Tubuh Aila menggelinjang, gadis itu menggigit bahu Leon kuat kuat sebagai pelarian.


Walaupun sakit, Leon menahannya.


Reaksi Aila pada setiap sentuhannya sungguh luar biasa, tapi Leon bisa memahaminya, Aila belum pernah disentuh oleh siapapun dan ia tau jika dirinyalah yang pertama kali menyentuhnya.


Setelah Aila melepas gigitannya, Leon kembali membelai dada yang sudah menegang pada puncaknya. Ukuran yang mungil tapi membuat Leon gemas ingin terus menyesapnya.


Baru pertama kali, Leon melakukan **** dengan perasaan dan rasanya sungguh luar biasa.


Sebelumnya, ia melakukan **** hanya untuk sekedar kepuasan, sehingga ia tidak pernah melakukan kontak fisik dengan para wanitanya. Apalagi melakukan ciuman yang melibatkan perasaan di dalamnya.


Itulah kenapa ia tidak pernah tertarik melakukanya untuk yang kedua kali dengan wanita yang sama.


Ketika melakukannya, Leon bahkan tidak pernah membuka bajunya, lelaki itu tidak pernah membiarkan sembarang orang menyentuh tubuhnya.


Aila adalah orang pertama yang Leon biarkan menyentuhnya.


Leon terus menggila, menyusuri setiap lekuk dada Aila, meremasnya sesekali menyesapnya dengan mulut saling memagut membuat suasana panas kian terasa.


Tanpa sadar tangannya telah berada pada bagian pasling sensitive pada tubuh Aila, ketika tangannya berinisiatif untuk menyobek celana dalam Aila suara dering telepon yang berada di sisi kiri atas bathub menyadarkannya.


Awalnya Leon mengabaikan, namun telepon terus berdering dan mengganggu konsentrasinya.


Leon mengangkat wajah dari bibir Aila, menatapnya untuk sesaat.


"Keluarlah! atau ku terkam hidup-hidup!" ucap Leon.


Tanpa disuruh dua kali, Aila segera bangkit dan meraig handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Gadis itu kemudian berjalan kerluar dengan tubuh gemetar, di ikuti tatapan membara dari mata Leon.


Bersambung....


Mohon bantuan untuk vote dong teman, supaya semangat untuk up setiap hari.