
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 50
**Mimpi buruk**
Banyak orang yang tau bagaimana caranya mencinta,
Namun, sedikit orang yang memilih tinggal_ di satu hati _untuk jangka waktu yang lama.
***
Aila berdiri seorang diri, pada sebuah tanah lapang berwarna merah darah, penuh dengan lautan kelopak mawar. Terlihat beberapa kali gadis itu menajamkan penglihatannya, menoleh ke samping kanan dan kiri penuh kebingungan.
Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan kelopak mawar, selainnya tidak ada apapun selain kesunyian.
Sedang langit diatasnya terlihat angkuh sehitam jelaga, pertanda sebentar lagi akan datang sebuah bencana.
Aila mulai ketakutan, saat angin tiba-tiba datang berhembus, membuat kelopak mawar pada tanah disekitar terbang tak tentu arah.
Sekuat tenaga ia mulai berlari, berharap menemukan jalan untuk pulang. Namun, lagi-lagi hanya tanah bertabur kelopak mawar yang ia temui.
"Dimana ini?" tanyanya panik, pada diri sendiri.
Tidak peduli seberapa jauh ia berlari, hanya tanah berwarna merah darah yang ia temui.
Panik dan frustasi, itulah yang ia rasakan saat ini. Aila terduduk lemas pada hamparan kelopak mawar dan mulai menangis.
Saat merasa sudah tidak ada lagi harapan, tiba-tiba ia merasa ada tangan kekar nan hangat memeluknya dari belakang.
Aila terkesiap, kemudian ia mengangkat kepala dan mendongak keatas.
Satu wajah yang begitu di rindukannya berada tepat diatasnya. Mereka saling menatap untuk sesaat, sebelum kecupan lembut mendarat di keningnya. Gadis itu segera memutar tubuh dan memeluknya dengan erat, menumpahkan segala ketakutan, kecemasan dan juga kerinduan yang mendalam.
"Aku merindukanmu....sangat!" bisiknya lembut ditelinga Aila, membuat tangis gadis itu semakin keras memecah keheningan.
Sekian detik, Aila menumpahkan segala rasa di dadanya, sebelum tangan kekar itu mengendur dan melepas pelukannya. Ia berdiri sembari tersenyum, sebelum melangkah mundur menjauh.
Aila terlihat masih diam dari duduk bersimpuhnya, meski pandangan mereka masih bertautan. Tubuh dan mulutnya seperti membeku kaku untuk hanya sekedar bersuara, hingga suara guntur memekakkan telinga terdengar dan menyadarkannya. Seketika sebuah nama dengan lantang terucap dari bibirnya.
Seperti kesetanan, Aila berlari menerobos angin yang kencang melewati tanah lapang berwarna merah darah sembari meraung dan menangis mencari sosoknya. Namun sia-sia, ia tidak menemukannya dimanapun juga.
**
"Ai, bangun!"
Aila tersadar dari mimpinya, saat tangan Nita menggoyang tubuhnya.
Aila kemudian duduk dengan wajah berurai air mata, dadanya terasa begitu sesak. Entah karena tertidur baru sebentar atau karena mimpi sialan yang berulang-ulang datang hampir setiap malam.
"Mimpi lagi?" tanya Nita sembari menyodorkan segelas air putih.
Aila tersenyum tipis, kemudian meneguk air putih yang diberikan Nita hingga tandas. Kemudian tertunduk mengusap sir mata yang membanjiri pipinya.
"Maaf, mbak jadi terganggu." ucap Aila parau.
Nita terlihat menghela napas, sejak Aila datang kesini tiga tahun lalu, gadis itu selalu bermimpi buruk hampir setiap malam. Aila akan berteriak dan menangis dalam tidurnya, namun ketika ditanya kenapa, gadis itu selalu bilang baik-baik saja.
"Aku gak papa, santai aja." jawab Nita sembari mengusap punggung Aila. Nita kemudian berdiri memyalakan lampu, jika sudah seperti itu, sulit baginya untuk tidur kembali.
Aila tau Nita berbohong, wanita itu jelas terganggu karena dirinya, namun ia tidak bisa menghentikan mimpi sialan itu untuk berhenti datang.
"Kamu nulis sampai malem lagi?" tanya Nita, wanita itu melihat layar laptop Aila masih menyala.
Aila tersenyum dan mengangguk.
"Kamu harus banyak istirahat dek, jangan begadang mulu!"
"Gimana dong, harus kejar tayang dua episod sekaligus, mbak." kilah Aila beralasan.
"Karena badan kamu capek, jadi terus mimpi buruk. Kamu itu masih muda, jaga kesehatan kek, jangan cuma nulis dan nulis doang." ucap Nita panjang lebar, gadis itu mulai mengomel.
"Iya, iya mbak Nita tersayang!" Aila meloncat turun kemudian memeluk Nita, atau gadis itu akan terus mengomel hingga fajar tiba.
"Ya udah, tidur lagi sana!" perintah Nita.
Aila mengangguk patuh.
"Awas kalo masih nulis!" ancam Nita, sebelum melangkah kekamarnya.
"Enggak, sueer deh!" Aila tersenyum sembari mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Sepeninggal Nita, Aila tercenung kemudian menarik napas dalam, sekedar mengisi rongga paru-paru dengan udara untuk mengusir sesak.
Nita adalah teman masa kecil Aila dulu di panti asuhan, Nita juga sama terbuangnya dengan dirinya. Namun, Nita beruntung karena ada seorang pasangan dermawan yang mengadopsinya. Sebelum diadopsi, mereka sangat akrab. Aila yang cenderung pendiam sangat susah untuk berkawan, dan Nita lah, satu-satunya orang yang mau bermain bersamanya dan menjaganya dari kenakalan anak-anak panti yang lain.
Sejak Nita di adopsi, Mereka hilang kontak sama sekali. Hingga suatu saat gadis itu menghubunginya lewat akun media sosial facebook miliknya. Mulai saat itu mereka terus berkomunikasi hingga Aila memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan menjadi tempat satu-satunya dimana ia bisa bersembunyi. Rumah orang tua angkat Nita terletak di pesisir pantai daerah jawa timur, bukan pantai yang terkenal juga, namun akhir-akhir ini banyak wisatawan datang, karena keindahan warna air yang dimiliki oleh pantai tersebut.
Sebelumnya, Nita tinggal di kota, namun karena usaha kedua orang tuanya bangkrut, maka dari itu, mereka memilih tinggal di desa untuk menekan biaya hidup.
Kini kedua orang tua angkat Nita telah tiada, ayahnya meninggal karena komplikasi ginjal, sedang ibunya yang stres karena di tinggal ayahnya, menjadi sering sakit-sakitan dan akhirnya harus menyusul sang belahan jiwa ke surga.
Nita bekerja pada sebuah hotel dan resort yang baru saja di bangun di sekitar pantai, sedang Aila lebih memilih menjadi penulis novel online receh di beberapa platform aplikasi yang ada. Mau bagaimana? dengan tubuh pendek, ijazah SMP ia mau bekerja dimana di daerah pesisir seperti ini? ijazah SMA_nya masih dibawa suaminya waktu itu.
Kenyataanya mencari pekerjaan dengan tinggi tubuhnya yang minimalis dan pendidikan yang minim tidak semudah yang dibayangkan.
Menjadi penulis novel, juga bukan hal yang buruk, setidaknya cukup untuk membuatnya sibuk dan melupakan masa lalunya yang kelam, meski hal itu hanya menjadi cita-cita abadi, karena hingga detik ini, Aila masih belum bisa move on dari suaminya.
Aila menatap benda bulat yang melingkar di tangan, jarum jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, namun tidur kembali adalah hal mustahil baginya. Seperti biasa ia berjalan keluar dan mengambil sepeda lalu menuju ke tepi pantai. Ia selalu melakukan itu, diam diam pergi kepantai di pagi buta, setelah mimpi buruk itu kembali datang. Berjalan dengan kaki telanjang dan menangis di pinggir pantai, sedikit mengurangi beban dihatinya. Ia bisa dengan leluasa menangis disana, toh suaranya akan melebur menjadi satu bersama dengan ombak pasang di pagi buta.
Sudah tiga tahun sejak kedatangannya di tempat ini, namun tidak sedetik pun ia melupakan wajah suaminya.
Setiap hari, Aila merapalkan ribuan doa, agar Leon selalu bahagia dimanapun ia berada.
***********
Lagi, Davin menemukan Leon tengah tertidur di dalam mobil di depan kos Aila, setelah pria itu berada di bar hampir semalaman.
Setelah kepergian Aila, Leon hidup hanya untuk tiga hal, bekerja, bermain wanita dan minum alkohol.
Meskipun Leon tidak pernah secara langsung memintanya untuk mencari Aila, namun jelas sekali, jika tuannya itu terpuruk setelah kepergian Aila.
Davin tahu, jika diam-diam bossnya itu menyadap telepon panti asuhan tempat Aila dulu tinggal dan menempatkan orang di sekitar panti untuk memantau adanya pergerakan Aila, namun nihil, gadis itu tidak menghubungi panti selama tiga tahun ini. Aila menghilang seperti di telan bumi, tidak ada jejak sama sekali.
Leon juga menutup dan melarang siapapun untuk memasuki kastil kedua, kastil yang memang ia bangun hanya untuk Aila, ia hanya mengizinkan beberapa pelayan yang ia percaya untuk sesekali membersihkan tempat tersebut.
"Jam berapa Davin?!" tanya Leon setelah sadar, Davin mengambil alih kemudi mobilnya.
"Jam 06.00 pagi, Tuan."
Leon mengangguk dan sesekali menguap, kemudian menaikkan kaki di atas dasboard dan kembali memejamkan mata. Pening di kepala sisa semalam, membuatnya enggan untuk membuka mata.
Selama tiga tahun ini, ia mengalami kesulitan tidur sebelum minum alkohol, sepertinya pria itu sudah kecanduan akan minuman haram tersebut.
Davin kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju apartemen. Sejak kepergian Aila mereka tidak lagi tinggal di kastil, Entah kenapa Leon lebih memilih tinggal di apartemen.
"Kita ada rapat dengan para dewan direksi, tuan." ucap Davin mengingatkan agenda Leon untuk hari ini.
Meskipun Leon menghabiskan malam dengan wanita dan minuman, namun tidak berpengaruh kepada pekerjaannya. Bisnis tuannya itu malah semakin besar dan mulai merambah di dunia perhotelan juga.
"Hem!" jawab Leon singkat.
"Nyonya besar kembali dirawat, Tuan."
Leon diam tidak menjawab. Entah apa yang dipikirkan tuannya saat ini, sejak kepergian Aila, hubungan cucu dengan nenek tersebut tidak berjalan dengan baik. Oma bahkan melarang Leon menginjakkan kaki di rumahnya sebelum cucunya itu membawa Aila padanya.
Jauh di dalam hati, Leon merasa khawatir, namun neneknya itu tetap tidak akan menemuinya.
Leon tetap diam, hingga mereka tiba di apartemen. Setelah mandi dan berganti baju, Leon kembali keluar menuju kantor. Untuk sesaat Davin menatap heran kearah tuannya, karena ditangan kanannya ia membawa katana yang baru saja dibeli seminggu lalu langsung dari jepang.
Namun Davin memilih diam, jika Leon pergi kekantor dengan hanya menggenakan kaus hitam polos dan celana pendek kemudian memimpin rapat itu sudah biasa, bahkan gayanya kali ini juga seperti itu. Tapi membawa katana? Davin bisa pastikan akan ada kepala terlepas hari ini.
Sejak kepergian Aila, level gila bossnya meningkat sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Baginya uang dan nyawa manusia hanya mainan semata. Dan pada akhirnya, Davin juga yang harus membereskan semuanya.
Leon memasuki kantor dengan menyeret katana pada tangan kirinya, bunyi gesekan ujung pedang dengan lantai menimbulkan bunyi nyaring, membuat siapapun yang mendengarnya akan langsung gemetar ketakutan.
Ia kemudian, memasuki ruang rapat dewan direksi dengan membawa Belasan bodyguard. Melihat Leon menyeret katana, raut wajah anggota dewan sekaligus pemegang saham tersebut langsung menegang. Mereka tidak paham, ada masalah apa kali ini, namun yang pasti salah satu kepala mereka akan lepas hari ini.
Leon mulai duduk di atas meja dengan santai, tepat di depan kursinya.
"Kalian tau, kenapa aku ingin berlatih pedang hari ini?" ucap Leon sembari mengankat dan mengusap katana dengan jari.
Tidak ada yang berani menjawab, semua diam menegang di tempatnya masing-masing.
"Aku menemukan tikus nakal, hari ini. Tikus itu berani mencuri uang dariku dan kalian harus membantuku menemukannya." ucapnya santai, matanya menatap tajam pada setiap wajah, orang-orang di depannya.
Walau samar, terdengar kasak-kusuk diantara mereka, siapa kiranya yang berani bermain dengan singa gila didepan mereka tersebut.
"Ehem!"
Semua anggota direksi terdiam seketika.
"Namun, jika ada yang mau mengaku, aku tidak akan susah-susah mencarinya dan mungkin akan ku ampuni kepalanya hari ini." ucap Leon mencoba bersabar.
Semua diam, tidak ada yang mau mengaku.
Leon mengetuk-etukkan jarinya diatas meja, menunggu siapa gerangan sang tikus.
"Harus ku keluarkan buktinya? tapi setelah itu jangan harap ampunan dariku!" ancam Leon.
Suasana semakin mencekam dan belum ada yang mengaku, hingga Leon meraih salah satu dokumen dan hampir membukanya, namun tiba-tiba seorang pria paruh baya mendekat dengan langkah gemetar dan ketakutan. Pria itu bersimpuh di depan kaki Leon.
"Maafkan saya, tuan!"
Leon memicingkan mata, "Apa kesalahanmu?!"
"Sa__saya menggelapkan uang perusahaan_ Tuan, saya khilaf. Mohon maafkan saya." ucapnya terbata dengan peluh membanjiri pelipisnya.
Leon menyeringai kemudian mengacungkan katana miliknya tepat di leher pria yang ia ketahui sebagai direksi perencanaan tersebut.
Semua yang melihat menelan ludah, bersiap melihat kengerian yang sebentar lagi akan segera di mulai.
"Kau gunakan untuk apa uangku?!" tanya Leon tajam.
"Sa__ya gunakan untuk membangun resort tuan!"
"Resort?!"
"Y__ya, tuan!"
Seketika Leon terbahak, kemudian menekan katana miliknya pada leher membuat goresan kecil disana.
"Jadi, kau ingin menandingiku?!"
"Ti__tidak tuan, maafkan saya te_telah lancang." pria itu semakin gemetar ketakutan, merasakan katana sang boss yang kapan saja bisa memenggal kepalanya.
"A__ampuni saya, tuan. Ambil saja resort tersebut, tolong ampuni saya." ia mengiba, satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya.
"Ambil?! yang kau pakai memang uangku! jadi resort itu jelas milikku!" ucap Leon tersinggung.
"A__ampun tuan! maafkan saya,"
Leon tersenyum tipis, ia suka melihat orang memelas padanya. Kemudian ia menarik katana dari leher sang direksi.
"Karena kau sudah mengaku, aku ampuni kepalamu! pergilah dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku!" ucap Leon tegas.
Pria tersebut kemudian berdiri meski dengan lutut gemetar, lalu buru-buru meninggalkan ruang rapat.
"Ada yang ingin menjadi sepertinya? mencuri uangku?!" tanya Leon menatap kearah dewan direksi yang lain.
Tidak ada yang berani menjawab, karena diam bagi mereka adalah pilihan tepat.
"Baiklah, aku rasa kalian setia. Kita akhiri rapat hari ini!" ucap Leon kemudian.
Anggota direksi menghela napas lega, akhirnya rapat yang lebih mirip penjagalan itu selesai juga. Mereka kemudian keluar meninggalkan ruang rapat dengan membungkuk hormat.
Nasib orang bisa berubah dengan cepat saat bekerja dengan Leon, namun mereka tidak ada pilihan Lain, saat ini perusahaan milik Leon yang terkuat dan terbesar.
Sepeninggal mereka, Leon memanggil Davin.
"Selidiki, di mana resort yang dia bangun!" perintah Leon.
Davin mengangguk mengerti.
Leon kemudian berjalan kearah ruangannya.
Saat melewati meja sekertaris, Leon melihat Alea sudah berdiri disana. Alea tersenyum manis kearahnya, namun ia tidak terlalu menanggapi. Ia memang membiarkan Aila berkeliaran disampingnya, karena Alea masih bersikap wajar dan tidak melebihi batasnya. Setelah ia menegaskan perasaannya terhadap gadis itu, Alea memang menjaga jarak. Dan itu membuatnya tenang meski ia tahu jika Alea masih banyak berharap akan cintanya.
Leon kemudian masuk kedalam ruangan pribadinya dengan diikuti Alea tentunya.
"Sudah makan?" tanya Alea.
"Aku tidak lapar."
"Kau harus manjaga kesehatanmu, Leon."
"Aku akan makan jika aku lapar Alea!" suara Leon mulai meninggi, dan Alea tahu saatnya untuk diam.
Davin masuk dan mendekat kearah Leon.
"Saya sudah tau, dimana resort tersebut tuan!" ucap Davin sembari memberikan sebuah denah lokasi pada Leon.
Leon menerima dan terlihat mengerutkan kening untuk sesaat.
"Kau tidak salah?!" tanya Leon meyakinkan.
"Saya yakin, tuan."
"Itu daerah terpencil, Davin! untuk apa orang membangun resort disana?!"
"Itu memang daerah terpencil, tuan. Namun pantainya sangat indah dan sekarang mulai dikenal banyak orang." ucap Davin menjelaskan.
Leon diam untuk sesaat, terlihat berpikir.
"Ok, kita kesana sore ini juga!"
"Baik, tuan!"
Leon menghela napas, entah kenapa ia ingin melihat pantai yang Davin maksud, meski hanya pantai terpencil dan tidak berkelas. Mungkin, karena selama tiga tahun ini, ia belum pernah berlibur sama sekali.
Bersambung....