
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 68
**Panggilkan dokter!**
Aila mengeliat perlahan, tidurnya yang hanya sebentar lagi-lagi terganggu oleh silaunya sinar mentari pagi yang menerobos masuk lewat dinding kaca.
Sesaat gadis itu terlihat meringis, kala merasakan seluruh tubuhnya remuk redam karena sisa percintaan panas mereka tadi malam.
Manik mata coklat kopi susu itu mengerjap perlahan. Menyadari sedang berada di ruangan tembus pandang, ia langsung menarik selimut untuk menutupi diri.
Mendengar dengkuran halus dari seseorang di sampinya, Aila sadar jika dirinya tidak sendiri disana. Gadis itu berbalik, rintihan pelan terdengar karena menahan nyeri di bagian bawah tubuhnya. Sedikit bergerak saja, area intimnya itu terasa begitu nyeri, lalu bagaimana ia akan berjalan nanti? pikir Aila.
Menatap wajah Lelaki yang sedang tidur disampingnya, membuatnya sadar, jika kini ia sepenuhnya telah menjadi seorang istri.
Aila menatap lekat wajah prianya.
Jika sedang tertidur Leon mirip seorang bayi, manis dan tidak berisik.
Tanpa sadar, tangannya terulur menyentuh alis suaminya yang begitu lebat, lalu turun menyentuh hidung dan terakhir bibirnya. Melihat bibir itu, ia jadi teringat sesuatu. Malam panas mereka tentu saja. Sepanjang malam, bibir itu terus memanjakan setiap jengkal tubuhnya, meninggalkan jejak kepemilikin hampir disetiap inci. Meski ia bingung bagaimana menutupi guratan itu nanti di hadapan orang-orang, namun tidak dipungkiri ia menikmati setiap kecupan yang keluar darinya.
"Sudah, hem?"
Mendengar ucapan suaminya yang masih terpejam itu, sontak Aila menarik tangannya.
"Sini!"
Leon merengkuh tubuh istrinya masuk kedalam pelukan, sebelum bibir mungilnya berucap.
Cup!
Satu kecupan ia daratkan pada kening istrinya lembut dan dalam.
"Kau sepertinya begitu mengagumi wajahku, cintamu pasti begitu besar. Benar?"
Aila diam, tidak menjawab. Baginya semua ucapan Leon benar adanya. Jika cintanya tidak sebesar itu, bagaimana ia bisa bertahan selama tiga tahun dalam kesendirian?
Ya, dia sangat mencintai singanya. Sangat cinta!
Cup!
Lagi, ia mencium kening lalu kepala istrinya berulang.
"Jangan pernah berpikir untuk lari lagi setelah ini." ucapnya sembari memeluk tubuh istrinya erat.
Dalam kediamannya, Aila sungguh ingin bicara jika ia sangat mencintai suaminya, namun kata itu hanya bercokol di kepalanya.
Bagaimana bisa ia lari darinya, jika setiap sentuhannya hanya semakin menambah rasa sayang dan cinta di hatinya.
Saat sedang menikmati hangat pelukan sang suami, tiba-tiba saja ia mendengar bunyi tembakan tidak jauh dari tempatnya berada.
Seketika Aila bergerak, masuk lebih dalam pada pelukan suaminya, namun entah kenapa suaminya tampak santai.
"Tuan?"
"Abaikan, sayang."
Aila diam, mencoba tenang. Namun, lagi-lagi suara tembakan kembali terdengar.
Aila merasa takut dan membenamkan wajahnya lebih dalam.
"Biarkan saja, nanti juga capek sendiri." ucap Leon sembari mengusap kepala Aila.
Meski tidak paham maksud suaminya, Aila mencoba tetap tenang. Tapi suara tembakan kembali terdengar, kali ini lebih beruntun, membuat Aila mau tidak mau bergerak mendongakkan wajah menatap suaminya.
"Takut, tuan." ucap Aila gemetar.
Leon menarik napas kasar, merasa kesal sekarang. Bukan ia tidak tahu, jika tembakan tersebut ulah kedua sahabatnya dan mungkin saja berkomplot dengan oma. Hari ini ia hanya ingin menikmati mainannya seorang diri tanpa di ganggu siapapun, tapi omanya itu pasti tidak akan membiarkan itu terjadi.
Leon bangun, begitupun dengan Aila. Bedanya Leon bangun dengan wajah kesal, tapi Aila dengan wajah ketakutan.
pria itu kemudian berdiri dengan tubuh polosnya, mencari potongan baju yang berserakan di depan kamar. Melihat tubuh polos suaminya tepat di depan mata, Aila merasa malu luar biasa, ia memalingkan muka. Bisa-bisanya Leon melakukan itu. Meskipun semalam mereka sudah menyatu, tapi tetap saja itu bahaya buat jantung dan mata!
Setelah memakai celananya, pria itu masuk.
Melihat Aila menghindari tatapannya dengan pipi bersemu merah, ia tahu jika istrinya itu tengah malu.
"Kenapa malu? semalam bukankah kau terus meraba dadaku?" tanya Leon dengan nada menggoda.
Aila hanya bisa diam, salah tingkah.
"Pakailah kemejaku, kita ke kastil sekarang." ucap Leon.
Ya, ia harus segera membawa Aila kekastil atau omanya akan membobol pintu taman rahasia mereka.
"Dimana?" tanya Aila bingung, pasalnya ia tidak melihat kemeja Leon diatas ranjang.
"Di samping ranjang sayang," ucap Leon sembari menunjuk letak kemejanya berada. Pria itu masih terlihat sibuk mengeringkan wajah dengan handuk, sepertinya ia baru saja selesai mencuci muka.
Aila bergerak dengan membawa serta selimutnya. Ia masih cukup punya stok malu untuk berdiri telanjang di depan singanya. Baru saja ingin berdiri, gadis itu tiba-tiba jatuh terduduk. Bagian bawah tubuhnya terasa begitu ngilu ketika dibuat berdiri.
Sekilas Leon mengernyitkan alis melihat sikap istrinya. Belum sempat ia bertanya gadis itu kembali berdiri namun lagi-lagi jatuh terduduk begitu saja di lantai.
Melihat ada yang aneh dengan istrinya, Leon segera menghampiri.
"Ada apa? kau sakit?" tanyanya kuatir.
Aila menggeleng, "Ha__hanya nyeri," ucapnya kikuk. Ia teramat malu untuk mengatakan jika area intimnya terasa sakit saat berdiri.
"Hanya? kau terlihat pucat sayang!"
"I__itu hanya.." Aila bingung bagaimana caranya menjelaskan.
Leon berdiri bermaksud mengambil kemeja di samping Aila, namun netranya menangkap ada bercak darah tertinggal diatas peraduan mereka.
Memang hanya sebuah bercak, tidak banyak, tapi juga tidak sedikit.
Terkejut dengan noda darah itu Leon berbalik.
"Astaga! apa itu begitu sakit? kau banyak berdarah sayang!" Leon terlihat semakin panik.
Aila menggeleng cepat, "Bu__bukan tuan, hanya..."
Aila semakin bingung dan malu karena Leon semakin khawatir.
Dengan cepat Leon mengambil kemeja miliknya, kemudian melepas selimut pada tubuh Aila.
Sontak Aila langsung menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangan. Entah kenapa ia masih sangat malu jika harus telanjang bulat di depan Leon.
Tanpa banyak bicara, Leon mengangkat tubuh Aila dan mendudukannya diatas ranjang. Kemudian ia sendiri, mengambil posisi jongkok di depan tubuh polos istrinya itu.
Dengan pelan ia menyentuh paha istrinya dan membukanya. Pria itu terlihat kaget saat mendapati ada bekas darah di antara kedua paha istrinya.
"Astaga!" ucapnya kaget.
"Kenapa tidak bilang jika sangat sakit?" lanjutnya dengan nada tinggi. Ia heran, kenapa Aila selalu menyembunyikan rasa sakit darinya.
"Aku tidak papa tuan, itu...wajar. Aku membacanya di internet." ucap Aila menenangkan suaminya.
"Benar begitu?" Tanya Leon ragu. Pasalnya ia tidak pernah melihat wanita berdarah saat berhubungan dengannya. Ia memang pernah dengar jika perawan akan berdarah saat melakukan untuk pertama kali, tapi apa sebanyak itu? Leon bingung sendiri. Masalahnya, Aila pandai menyembunyikan rasa sakit.
Aila mengangguk.
Leon terlihat mendesah, resah. Kemudian menatap istrinya yang polos tanpa busana di depannya. Gadis itu terlihat menunduk karena malu.
"Ba__baju, tuan." ucap Aila gugup karena terus di tatap.
Leon mendesah, tetiba saja ia didera oleh perasaan iba kepada istri mungilnya itu. Seluruh tubuhnya penuh gurat kemerahan, hasil dari ulahnya. Dan sekarang, gadis itu tidak bisa berjalan karena kesakitan.
Mengutuk diri pun percuma. Ia terlalu menikmati peraduan mereka malam tadi.
Diambilnya kemeja, lalu di pakaikannya pada tubuh Aila. Dengan sabar ia mengancingkan kemeja yang tampak kebesaran itu, menggulung lengannya agar tidak kedodoran, setelah itu ia menatap lekat pada manik mata istrinya
"kenapa tidak bilang jika kau tidak menikmatinya tadi malam?" tanya Leon merasa menyesal. Ia mengira hanya dirinya yang menikmati percintaan mereka.
"A__aku.."
"Kenapa kau selalu menyimpan semuanya sendiri? kau tahu, kau membuatku seperti orang bodoh." ucap Leon, ia merasa karena Aila tidak pernah menganggapnya mampu untuk melindungi.
"Aku pikir ka..."
Belum sempat Leon menghabiakan ucapannya, Aila sudah lebih dulu merosot masuk dan memeluknya.
"K__kau salah tuan, aku..... menikmatinya, sangat menikmatinya." ucapnya serak. Ia tidak ingin suaminya salah paham ataupun merasa bersalah, karena sejujurnya ia memang menikmatinya.
"Kau tidak bohong?" tanya Leon memastikan.
Aila mengangguk, "Ya," jawab Aila malu-malu.
Leon kembali mendesah, entah mengapa ia masih ragu dengan jawaban Aila.
Menyadari suaminya masih meragukan jawabannya, Aila mengecup bibir suaminya lembut.
"Aku ingin melakukannya lagi...lain kali." ucap Aila sembari menunduk. Jujur ia malu mengatakan itu, tapi ia tidak ingin Leon terus merasa bersalah, lagipula keinginan itu tulus datang dari hatinya.
"Dengar! jangan sembunyikan apapun dariku, mengerti?"
Aila mendongakkan kepala lalu menggangguk sembari tersenyum lega.
Cup!
Lagi, Leon mengecup kening istrinya dalam, lalu mengendongnya dan membawanya keluar dari rumah kaca, dari taman rahasia.
Dalam gendongan Leon, Aila terus diam. Ia merasa malu jika bertemu dengan orang lain dengan kondisinya yang seperti itu.
Benar saja, mendekati taman belakang, mereka telah disambut oleh seluruh penghuni kastil.
Mereka menyambut dengan bermacam-macam raut wajah.
Jika Alex dan Erik masih tampak santai dan masih memakai piyama tidur dan segelas wine ditangan, maka oma terlihat kesal. Sedang para pelayan terlihat khawatir. Dari keadaan mereka, sepertinya semalaman mereka panik mencari keduanya yang tiba-tiba menghilang.
Davin, si pria datar itu tampak biasa saja. Toh ia sudah menduganya.
"Turun tuan," pinta Aila saat melihat mereka.
"Kenapa? kau tidak bisa jalan sayang!"
"Ma__malu tuan,"
Lelaki itu terkekeh, "Biarkan mereka senang, sayang."
Yang pertama menyambut tentu saja oma, wanita tua itu terlihat memicingkan mata menatap keadaan keduanya. Leon yang bertelanjang dada, sedang Aila yang nemakai kemeja miliknya terlihat menyembunyikan wajah.
"Dari mana saja kau?!" tanya oma tanpa basa-basi.
"Membuat bayi_lah, dari mana lagi," ucap Leon tampak santai.
Jika Aila merasa malu dengan ucapan Leon, maka Alex dan Erik tertawa mendengarnya, sedang para pelayan terlihat tersipu sembari tersenyum kecil.
"Astaga! astaga! kau membuatnya di dalam hutan?!" tanya oma tidak percaya.
Leon mengangkat bahu sekilas, "Well, terpaksa. Kalian terlalu berisik!" cibir Leon.
"Ck ck ck," oma menggelengkan kepala melihat kelakuan cucunya.
Sedang kecua sahabatnya terlihat saling pandang, sebelum akhirnya tawa mereka meledak.
"Apa yang terjadi dengannya?!" tanya oma mengangkat satu Alis sembari menatap Aila. Gadis itu masih menyembunyikan wajah, malu untuk menatap oma.
"Apalagi? oma lihat sendiri dia tidak bisa jalan!" jawab Leon dengan nada kesal, oma sudah menganggunya di tambah wanita tua itu sangat cerewet seperti wartawan saja.
"Aigoo! dasar bocah tengik, memang berapa kali kau melakukannya?" tanya oma kaget, meskipun ia sudah bisa menduga, jika Aila pasti di hajar habis-habisan oleh cucunya.
"Lebih dari 7 kali, ku rasa." ucap Leon bangga.
Mendengar ucapan Leon oma melotot kaget, sedang kedua sahabatnya tampak menggelengkan kepala melihat kegilaan Leon.
"Astaga! kau gila, Leon! kau pikir dia kuda?!" oma memukulkan tongkatnya pada kaki Leon, membuat pria itu terlonjak kesakitan.
"Dia memang kuda, kuda poni yang lucu." ucap Leon sembari mengecup pipi Aila, yang langsung mendapat cubitan dari gadis itu.
Sekali lagi oma memukulkan tingkatnya pada kaki Leon yang lain.
"Aww! berhenti memukulku oma! atau dia akan jatuh!" teriak Leon.
Melihat keadaan Aila yang sudah mirip ular bersisik itu, ia jadi merasa kasihan. Wanita tua itu bisa menduga apa yang cucunya lakukan semalam.
Oma menarik napas dalam, menatap kasihan pada Aila. Jika tidak sedang menggendongnya, ia pasti sudah memukuli cucunya itu tanpa ampun.
"Bawa dia segera, kau membuatnya seperti ular!" cibir Oma diakhir kalimat.
Leon mengangkat bahu, "Itu terlihat baik untuknya," ucap Leon sembari membawa Aika masuk kedalam.
Meninggalkan sekumpulan orang yang menatap heran kedua sejoli itu.
"Kemari Alex, cepat!" teriak Leon.
"Cucumu selalu membuatku susah," ucap Alex kearah oma.
Oma tudak menanggapi ucapan Alex, pandangannya masih tertuju pada cucunya.
"Maria?"
"Ya, nyonya?"
"Siapkan segalanya, untuk membuat cucuku lebih baik, dia pasti tidak bisa jalan sekarang."
Maria tersenyum, "Baik nonya."
Tiba-tiba Oma berbalik, "Kita akan segera punya cucu, pak Liem. Bayi mungil itu akan segera datang!" ucap Oma antusias dan gembira. Setelah itu, oma berlari kecil mengejar cucunya. Wanita tua itu bahkan berjalan sembari bergoyang dan menari saking senangnya.
Pak Liem hanya tersenyum melihat kegilaan nyonya besarnya itu.
"Ingat punggung oma! encok, ingat encok!" teriak Erik.
"Oma mengangkat tongkatnya keatas, "Tujuh kali goal sayang, tujuh kali!" jawab oma bangga.
Alex menggelengkan kepala, sedang maria terlihat tersenyum.
"Nenek dan cucu sama saja!" ucap Erik heran.
*****
Setelah sampai di dalam kamar, Leon membawa Aila masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkan gadis itu di sebelah wastafel.
"Aku ingin mandi, tuan."
"Tidak perlu sayang, kau bersih."
"Ta_pi.."
"Akan ku bantu membersihkan pahamu."
Pria itu kemudian melangkah menuju bathtub, mengambil air hangat beserta handuk kecil lalu membawanya pada Aila.
"Aku bisa membersihkannya sendiri, tuan." ucap Aila menolak saat pria itu membuka pahanya, rasanya malu jika Leon melakukan itu.
"Diam dan jangan bergerak sayang," pinta Leon.
Aila mendesah, suaminya itu tidak mungkin bisa di hentikan. Ia akhirnya pasrah menerima perlakuan Leon, meski jangan ditanya malunya seperti apa.
Setelah selesai, Leon mengambil baju untuk Aila dan membantu gadisnya itu mengganti pakaiannya.
"Apa lagi yang kau perlukan, hem?" tanya Leon setelah selesai memakaikan baju untuk Aila.
Aila tidak menjawab, ia menatap suaminya lekat. Leon bahkan tidak memperhatikan dirinya yang masih bertelanjang dada, tapi malah melayaninya.
"Hei?"
Aila diam dan malah memeluk tubuh di depannya erat.
"Ada apa?"
Aila menggeleng, tanpa mengurai pelukannya.
"Aku tahu kau sangat mencintaiku, jadi anggap saja aku sedang berbuat baik padamu," ucap Leon sembari mengusap kepala istrinya.
Aila tidak menanggapi ucapan Leon dan masih terus memeluk suaminya.
"Kapan lagi ada suami sepertiku? sudah tampan, kaya, perhatian dan hebat di atas ranjang.."
Gadis itu mengurai pelukannya, "Ya, aku tahu." ucap Aila mengakhiri, atau Leon akan terus membanggakan dirinya.
Cup!
Leon kembali mencium pipi gadisnya dan membawanya ketempat tidur.
"Istirahat dan jangan kemanapun, akan ku panggilkan dokter." ucap Leon setelah membaringkan istrinya di atas ranjang.
"Jangan panggil dokter!"
"Kenapa?"
"Aku malu.."
"Dia dokter sayang, kenapa harus malu?"
"Ta.."
"Diam dan istirahatlah!" Tandasnya kemudian melangkah keluar kamar.
Lagi-lagi Aila hanya bisa mendesah, pasrah. Adakah yang lebih memalukan dari ini? memanggil dokter setelah malam pertama, itu menggelikan!
Tapi Aila bisa apa? ucapan suaminya adalah undang-undang yang harus dipatuhi dan ditaati.
Bersambung...