
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 35
**Saling merasakan**
Niko terlihat berdecak kagum, ketika pria itu memasuki istana megah milik Leon. Ia sendiri sudah terbiasa dengan kemewahan, namun menyaksikan istana sahabatnya itu tetap saja membuatnya kagum. Leon memang manusia terdingin yang pernah ia kenal, hingga gerak-gerik sahabatnya satu itu, terkadang tidak bisa ia baca. Termasuk pembangunan kastil mewahnya, ia sendiri tidak tau kapan Leon memulainya.
"Si brengsek itu tau, bagaimana caranya menghabiskan uang." guman Niko.
Niko terus berjalan menyusuri lorong mengikuti Davin, namun pria bermuka datar itu sepertinya tidak berniat untuk akan berhenti.
"Ni rumah, apa labirin sih? rumit banget." Niko mulai mengoceh.
Davin diam, tidak menanggapi.
"Bar dimana Vin?! tanya Niko, untuk orang segila Leon, tidak mungkin bar menjadi tempat yang ia lupakan didalam istananya, kan?
" Di lantai lima, tuan!" ucap Davin.
"Buset! jauh amat! gak ada lift nih?"
"Liftnya ada di loby depan tuan, anda sedang mengelilingi lantai satu." ucap Davin.
"Lah, gak ngomong lu!"
"Anda tidak bertanya, tuan!"
Niko berdecak, kesal. Tapi Davin emang benar, ia maen nyelonong aja saking takjubnya.
"Terus, lu mau kemana?"
"Kekamar saya, tuan!"
"Astaga, Davin! jadi gue dari tadi ngekorin elu cuma mau kekamar? brengsek lu!" umpat Niko, sembari berbalik menuju loby.
Setelah menemukan lift yang Davin maksud, Niko segera menuju kearahnya kemudian pria itu naik ke lantai lima.
"Mewah sih mewah! tapi gak bikin orang susah juga kali!" gerutu Niko.
Sampai di lantai lima, Niko segera mencari bar yang dia maksud.
Sahabatnya itu memang gila, semua kesenangan berada di lantai Lima.
Bioskop, bar, gym, arena indoor basket semua ada di sana.
Tapi Niko hanya tertarik untuk memasuki barnya saja, ia tau pasti akan mendapat banyak kejutan disana, mengingat Leon seorang crazy man.
Benar saja, semua fasilitas lengkap bar yang hanya bisa di jumpai di tempat-tempat elite, ada semua disana, Lengkap dengan semua pelayan, bartender beserta Dj nya.
"Gila tuh orang! ini sih surga!" ucap Niko takjub, pria itu kemudian duduk didepan meja bar.
"Sampanye, sayang!" kedip Niko pada seorang pelayan yang sedang lewat didepannya. Padahal, ia bisa langsung pesan pada bartender di depannya.
"Ini, tuan!" ucap Pelayan seksi di depannya.
"Terima kasih, sayang!" ucap Niko sembari menowel dagu pelayan seksi.
Malu-malu, pelayan seksi tersebut melangkah meninggalkan Niko.
Ya, siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan Niko? tubuh yang tinggi, dengan badan atletis dan juga seorang pewaris sebuah perusahaan migas ternama di indonesia, menjadi nilai plus pada dirinya.
Niko menyesap sampaye kwalitas tinggi itu dengan pelan, seperti sengaja menikmati teguk demi teguknya.
"Hei, apa bar ini selalu di buka?" tanya Niko pada seorang bartender pria didepannya.
"Tidak, tuan. Bar ini dibuka jika tuan muda ingin memakainya saja atau akan diadakan pesta, seperti saat ini." ucap bartender menjelaskan.
"Pesta?! maksudmu?" ia tidak tau, jika Leon akan mengadakan pesta.
"Ya, tuan muda akan mengadakan pesta pernikahan dengan nona muda, besok pagi."
"Uhuuk! uhuuk!" Niko tersedak sampaye yang baru saja ia minum.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya bartender kuatir.
Niko mengangkat satu tangannya, memberi kode bahwa ia tidak papa.
"Kau serius?!" tanya Niko memastikan.
"Tentu tuan, memangnya untuk apa kami disini." jawab bartender.
...Niko mangut-mangut mengerti. Tapi kenapa Leon tidak memberitahu dirinya? ok lah, jika cuma dirinya, tapi sepertinya teman-teman yang lain juga tidak tau. Emangnya, pria gila itu akan mengadakan pesta tanpa...
tamu?
"Gimana, enak?!" tanya Leon tiba-tiba sudah berada di belakang Niko.
"The best lah," ucap Niko jujur.
"Ha ha ha, gratis lagi!" cibir Leon.
Niko mengerdikkan bahu.
"Vodka!" ucap Leon pada bartender.
"Baik, tuan!"
"Vodka, tumben?!"
Leon diam, tidak menjawab pertanyaan Niko.
"Lagi suntuk lo?" tanya Niko.
Leon mengerdikkan bahu.
"Kenapa? gak dapet jatah, hah?!" kejar Niko menggoda Leon.
Leon tidak menjawab, pria itu malah menenggak vodkanya begitu saja.
"Bener kan gue? jangan bilang lo belum nyoblos?!" tanya Niko lagi.
Leon diam, tidak memperdulikan pertanyaan Niko.
Melihat ekspresi Leon, tebakannya sepertinya memang benar. Niko langsug terbahak.
"Di tolak kan lo?!" ucap Niko mengejek.
"Brisik, lo!" Leon mulai kesal.
Tawa Niko semakin pecah, melihat Leon kesal. Baru kali ini, ia melihat sahabatnya itu di tolak naik ranjang oleh wanita.
Cuma Aila yang bisa melakukannya.
"Sabar, jajan dulu napa? ketimbang suntuk!" saran Niko.
"Lo aja sana! gue gak minat!"
"Udah mati rasa?"
Leon diam. Kenyataanya, sejak mengenal Aila, dirinya tidak punya hasrat dengan wanita manapun. Lucu kan? mau bagaimana lagi, begitu kenyataanya.
Rasanya benar- benar gak enak, seperti menginginkan sesuatu yang sudah didepan mata, tapi tidak boleh disentuhnya.
Kesel kan?!
Niko lagi-lagi terbahak! bisa menertawakan Leon benar-benar sesuatu yang langka, bagaimana tidak? pria itu terlalu sempurna hingga susah untuk mencari kekurangannya.
"Puasa oi! puasa!" ucap Niko sedikit berteriak, membuat Leon semakin kesal saja.
"Pelayan bilang, lo mau ngadain pesta? pesta apa?" tanya Niko mengalihkan pembicaraan.
"Ngumumin pernikahan gue lah!" jawab Leon.
"Pernikahan dari hongkong?!"
"Terserah, lo mau percaya atau gak!"
"Serius?!"
"Serius lah!"
Niko menggelengkan kepala tidak percaya. Leon benar-benar menikah muda, padahal ia kira sahabatnya itu akan melajang seumur hidup. Tempramennya sangat buruk, tidak akan ada wanita yang tahan dengan sikapnya.
"Cuma pesta kecil," ucap Leon.
Niko mendengarkan.
"Hans masih berkeliaran, gue gak mau Aila dalam bahaya. Lo tau kan, musuh gue banyak!" lanjut Leon.
Niko diam, masih mendengarkan. Leon benar, beberapa hari ini, sahabatnya itu membuat gempar dunia bisnis. Orang yang selama ini membuat penasaran banyak pihak, akhirnya muncul juga. Seiring dengan itu, musuhnya menjadi semakin mudah untuk mengetahui kelemahan Leon.
Dan Niko tau, kelemahan sahabatnya itu adalah Aila.
"Jadi karena itu, lo Menikah diem-diem?"
"Hem!"
Untuk sesaat, mereka diam.
"Kalo butuh kamar, minta pelayan buat siapin." ucap Leon sembari berdiri.
"Mau kemana lo?"
"Cari angin!" ucap Leon singkat, sembari melangkah keluar, meninggalkan Niko yang tiba-tiba termenung sendiri. Leon selalu dua langkah lebih maju darinya dalam segala hal. Sahabatnya itu tidak membiarka dirinya diikat oleh siapapun, dirinya bebas untuk melakukan apa saja yang dia inginkan. Berbeda dengan dirinya yang seperti bebas, namun sebenarnya terdapat belenggu di kedua kakinya.
Niko menyesap sampaye kembali, entah sampai kapan hidupnya akan terus seperti ini.
***************
Aila duduk diam diruang makan utama, kastil kedua. Sudah lebih dari satu jam, makanan di hidangkan. Tapi, gadis itu hanya menatapnya saja, tidak berkeinginan untuk memakannya.
"Ada apa, nona? apa nona tidak suka dengan makanannya?"
Aila tergagap, gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Tidak, pak Liem. Ini pasti enak." ucap Aila.
"Lalu kenapa hanya dilihat saja?" tanya pak Liem.
"Saya sepertinya masih kenyang, pak Liem..."
"Kenyang makan apa? makan angin? !" ucap Leon tiba- tiba.
Gadis itu terlihat kaget, saat Leon mulai mendekat dan menarik kursi kemudian duduk di depannya.
"Ambilkan, untukku!" perintah Leon pada pelayan.
"Tapi makanan ini sudah dingin, tuan. Sudah hampir satu jam makanan ini tersaji." ucap pak Liem.
"Satu jam?" tanya Leon terkejut.
"Ya" jawab pak Liem.
Leon menghela napas, menatap tajam kearah Aila.
Yang ditatap hanya menunduk.
"Kenapa tidak dimakan, hem?!" tanya Leon kepada Aila.
"Menunggu kakak," jawab Aila pelan.
Leon berdecak, " Aku kan sudah bilang, jangan menungguku!" ucap Leon kesal.
Ia sendiri bingung kesal karena apa? bukankah seharusnya ia merasa senang karena Aila menunggunya makan?
Aila diam tidak menjawab, ia tau jika Leon sedang kesal. Sejak kejadian ditaman tadi, sikap Leon terlihat berubah. Pria itu sepertinya sedang menghindarinya. Biasanya pria itu selalu menyuruhnya mempersiapkan air mandi, memakaikan pakaian bahkan menyuapinya, tapi sore tadi ia lakukan semuanya sendiri.
"Ganti yang baru!" ucap Leon kearah pak Liem.
"Baik, tuan" ucap Pak Liem.
Semua makanan yang terhidang diatas meja, diambil satu persatu oleh pelayan, hingga tidak ada satupun yang tersisa.
Para koki terlihat sibuk memasak makanan yang baru. Aila sebenarnya merasa kasihan dengan para koki tersebut, harus bekerja dua kali. Namun, ia lebih memilih diam, supaya Leon tidak semakin marah.
Tidak ada percakapan apapun diantara mereka, hingga makanan yang baru datang.
Jika biasanya Leon makan dengan diam, namun entah kenapa keciamannya kali ini terasa berbeda dari biasanya.
Aila mulai makan dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
Semua makanan yang terhidang di depanya jelas sangat enak dan menggugah selera, namun entah kenapa terasa hambar di lidahnya.
Aila mencuri pandang kearah Leon, pria itu sedang meminum Air putih yang sudah tersaji didepannya, pertanda ia telah selesai dengan makanannya.
"Siapkan kamar untukku, pak Liem!" ucap Leon kearah Pak Liem.
Pak Liem terlihat tidak mengerti, bukankah mereka akan tidur bersama? lalu mengapa tuannya meminta kamar lagi?
"Baik, tuan" ucap Pak Liem pada akhirnya walaupun ia sendiri bingung. Bukan haknya, untuk menanyakan alasan tuannya.
"Setalah makan, tidurlah!" ucap Leon sebelum tubuhnya hilang dibalik dinding ruang makan.
Aila berhenti dengan makanannya, mau dipaksa seperti apa, ia sudah tidak selera.
"Terimakasih atas makanannya pak Liem, ini sangat enak." ucap Aila sembari berdiri.
Pak Liem tersenyum, "Sama-sama nona."
"Saya akan ke kamar." ucap Aila sembari membungkuk hormat kearah Pak Liem.
"Baik, nona." ucap pak Liem.
Pria tua itu tau, jika nonanya hanya basa basi, kenyataanya ia tidak memakan makanannya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi diantara tuan dan nona mereka.
Aila melangkah kearah kamarnya dengan perasaan sedih. Gadis itu membuka pintu kamarnya perlahan, berharap menemukan sosok Leon disana, namun kenyataannya Leon tidak ada. Dugaanya benar, Leon tidur dikamar Lain. Menyadari hal itu, Aila merasa kecewa. Tidur di dalam kamar sebesar itu tanpa Leon didalamnya pasti akan sangat berbeda.
Jika sebelumnya ia ingin tidur sendiri, namun sekarang Ia ingin Leon tidur bersamanya.
Aila mulai naik keatas ranjang empuknya, merebahkan diri disana. Berkali-kali gadis itu terlihat resah berguling kesana kemari, namun matanya tidak juga mau terpejam. sudah pukul 23.00 malam, bukankah seharusnya ia sudah ngantuk, tapi kenapa tidak bisa tidur?
Aila bangun, meninggalkan ranjang empuknya kearah sofa. Gadis itu merebahkan tubuhnya disana, siapa tau dengan berganti tempat matanya bisa terpejam?
Ia mencoba berbagai posisi, namun kantuk belum juga datang menghinggapinya. Gadis itu kemudian duduk, melihat kearah jam sudah pukul 24.00 malam, itu artinya ia mencoba tidur disofa, sudah selama satu jam.
Aila bangun, melangkah kearah pintu dan terlihat mondar-mandir disana. Gadis itu berpikir untuk pergi keluar, namun untuk apa? biarlah nanti saja ia pikirkan alasanya.
Aila kemudian keluar dari kamar, terlihat lampu beberapa ruangan sudah padam, ia kemudian mendekat kearah kamar disamping tangga tempat dimana Leon berada. Aila terlihat mondar- mandir untuk sesaat, namun akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk memutar handle pintu kamar Leon.
Ceklek!
Terbuka, ternyata pintunya tidak di kunci.
Ruang kamar terlihat sedikit gelap, karena hanya lampu tidur yang dinyalakan. Dengan langkah pelan, Aila mendekati ranjang . Benar saja Leon terlihat sudah tertidur dengan posisi miring kekan.
Entah mendapat dorongan dari mana, ia memberanikan diri naik keatas ranjang. Membaringkan tubuhnya tepat di samping Leon, matanya fokus menatap dada bidang lelakinya. Ia ingin berada disana, dipelukan Leon seperti biasanya.
Ini mungkin terdengar gila, tapi Aila tidak bisa tidur tanpa pelukan dari Leon. Dengan pelan, Aila beringsut mendekat, di singkirkannya tangan Leon hati hati, kemudian gadis itu mulai meringkuk dengan nyaman ditempat favoritnya.
"Kenapa kemari?!" tanya Leon yang ternyata belum tidur.
Aila kaget, namun memilih diam.
"Tidak bisa tidur, hem?"
Aila masih diam, gadis itu memilih menempelkan telapak tangannya tepat di jantung Leon, kebiasaanya sebelum ia tertidur. Entah kenapa, mendengar dan merasakan detak jantung Leon membuat hatinya tenang.
Merasa di abaikan, Leon menarik tangan Aila dari dadanya.
Aila diam, menunggu reaksi Leon selanjutnya.
Ia terkesiap, saat tangan Leon meraih dagunya. Mata biru milik prianya menatap Lekat pada manik matanya. Seakan ingin mengatakan bahwa dirinya juga tersiksa tanpa gadisnya. Leon juga tidak bisa tidur tanpa memeluk Aila.
Mereka saling menatap cukup lama,
"Kau tau, kenapa sku memilih tidur sendiri?" tanya Leon.
Aila menggeleng.
"Aku selalu tidak bisa menahan diri saat didekatmu." lanjut Leon.
Aila diam, masih menatap mata biru milik Leon. Ia juga melihat jika lelakinya tersebut tengah mati-matian menahan hasrat.
"Pergilah, atau aku akan melakukan sesuatu kepadamu!" ucap Leon.
"Lakukan saja!" ucap Aila pelan masih dengan mata saling menatap.
Shiitt!
Darah Leon berdesir.
"Kau menantangku?"
Aila menggeleng, " Apa yang bisa ku lakukan? aku tidak bisa tidur, jika tidak disini." ucap Aila parau. Telapak tangannya ia tempelkan pada dada Leon. Terlihat gadis itu sedang menahan sesak yang tiba-tiba hadir.
"Disini.... disini terasa sakit." ucap Aila tercekat sembari meraba dadanya.
Leon terhenyak mendengar ucapan Aila yang begitu jujur.
Ah, seharusnya ia tidak sepolos itu.
Kenyataan Leon juga merasakan hal yang sama, membuat pria itu bingung harus bagaimana.
"Ciu...."
Aila sudah lebih dulu menyambar mulut Leon dengan ciuman.
Lagi-lagi Leon terhenyak dengan kelakuan gadisnya, tapi ia membiarkan Aila ******* bibirnya.
Leon tidak membalasnya, membiarkan gadisnya mendominasi. Walaupun cara berciuman Aila masih berantakan, namun ia menikmatinya. Aila melakukannya begitu lama.
Setelah puas, Aila melepasnya, Kemudian menurunkan dirinya, kembali ketempat favoritnya dan meringkuk disana. Gadis itu mulai menempelkan telapak tangan pada dada Leon merasakan dan mendengarkan suara yang bisa menghipnotis dirinya untuk tidur.
Sedang Leon masih terlihat kaget, karena Aila berani menciumnya dengan cukup lama, namun dengkuran halus dari mulut gadisnya membuatnya tersenyum. Aila sudah tertidur, meninggalkan dirinya.
Pelan, Leon mencium puncak kepala Aila sembari berbisik kecil.
"Tidurlah!"
Pelajaran yang ia mulai pahami adalah jangan bermain teka-teki dengan gadis yang polos, atau dirimu sendiri yang akan kesulitan.
Bersambung....
Komentar kalian adalah semangatku.
please! vote dong!