Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 26


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 26


** Menunggu **


Setelah Leon pergi meninggalkan apartemen, Aila segera menuju ke arah kamar untuk membersihkan diri. Senyum tipis terus mengembang di sudut bibirnya, menandakan hatinya tengah berbunga.


Belum juga sampai kamar, mata Aila melihat pintu ruang kerja Leon yang tengah terbuka. Aila berniat untuk menutup pintu ruang tersebut, namun melihat berkas berkas berserakan dimana mana membuat tangan Aila gatal untuk merapikannya.


Satu demi satu kertas tersebut Aila kumpulkan, dan menatanya dengan rapi di atas meja kerja Leon. Setelah selesai, Aila berjalan kearah rak buku yang berada di sisi kiri ruang kerja Leon. Gadis itu penasaran dengan koleksi buku yang Leon miliki. Ada berbagai macam jenis genre buku yang Leon koleksi, namun banyak di dominasi oleh Jenis non fiksi, selebihnya adalah buku tentang menejemen bisnis.


Aila hanya melihatnya saja tidak berniat untuk mengambilnya, membaca buku tentang menejemen bisnis bukan pilihan baginya.


Bisa-bisa kepalanya pusing karena tidak mengerti.


Mata Aila terus menyusuri rak, berharap akan menemukan buku yang menarik. Jari kecilnya tiba tiba berhenti pada sebuah buku dengan ukuran buku yang lebih besar dari yang Lainnya. Sampul buku berwarna oranye mencolok, sepertinya sebuah buku cerita anak anak. Aila mengambil buku tersebut, namun karena letaknya yang agak tinggi, Aila tidak mampu meraihnya. Gadis itu berjinjit, namun lagi lagi ia tetap tidak bisa menjangkaunya.


Aila tidak menyerah, ia mencoba meloncat. Satu loncatan, masih tidak sampai, Aila melakukannya lagi dan lagi, tapi tetap tidak sampai. Cara terakhir, Aila memanjat rak dan berhasil mendapatkan buku yang dia inginkan.


Raut gembira tercetak di wajah imutnya, tanpa Aila tau bahwa semua gerik geriknya telah terekam oleh CCTV yang berada di sudut ruangan. Aila mulai membukanya, Gadis itu tidak menyangka jika buku tersebut ternyata banyak debunya. Sepertinya memang sudah lama tidak ada yang menyentuhnya. Ketika membukanya, Aila kaget karena ada beberapa foto yang terselip didalamnya. Diantaranya ada foto Leon dengan seorang wanita disana. Wanita berambut pirang yang sangat cantik, mereka terlihat sangat Akrab. Leon terlihat tersenyum bahagia didalam foto tersebut, Aila bahkan belum pernah melihat Leon tersenyum sebahagia itu selama mengenalnya.


Untuk sejenak Aila merasa iri, siapapun wanita tersebut pasti sangat spesial bagi Leon. Aila ingin tau siapa wanita itu, tapi apakah dirinya mempunyai hak untuk bertanya?


Aila segera mengembalikan semua foto dalamnya, kemudian menaruh buku tersebut ketempat asalnya. Entah kenapa, ia sudah tidak lagi penasaran untuk membacanya.


Aila segera keluar dari sana dan menutup pintu ruang kerja Leon. Ia harus segera membersihkan diri jika tidak ingin kemalaman.


Sebelum mandi, Aila mengambil shampo milik Leon untuk ia pakai. Entah kenapa Aila sangat menyukai wanginya, tapi pada saat ingin mengambilnya, Aila melihat banyak pakaian kotor di keranjang.


Aila melihat sekeliling mencari mesin cuci, tapi ia tidak melihatnya dimanapun. Ya, tidak mungkin Leon mencuci bajunya sendiri. Lelaki itu pasti mengirim. semua bajunya ke laundry. Lagi lagi tangan Aila tidak tahan untuk membereskannya, gadis itu kemudian mencucinya.


Tidak butuh waktu lama, Aila sudah selesai dengan pekerjaannya. Mencuci baju memang sudah menjadi pekerjaan sehari-hari baginya.


Setelah mencuci dan mandi Aila segera berganti baju. Dalam lemari bajunya, ternyata ada beberapa piyama disana. Aila memilih satu piyama bergambar hello kitty, dengan celana pendek. Lagi lagi piyama itu pas di badannya, sepertinya semua baju di lemari itu memang dirancang kusus untuk dirinya.


Setelah berpakaian dan menyisir rambutnya, Aila membaringkan tubuhnya diatas ranjang king size milik Leon. Gadis itu berusaha memejamkan matanya untuk tidur.


Sudah hampir Satu jam Aila mencoba untuk tidur, namun seberapa kerasnya ia mencoba, dirinya tidak kunjung terlelap juga. Aila turun dari ranjang, gadis itu meraih remot TV dan menyalakanya. Chanel demi chanel ia lihat, tapi tidak ada satupun yang menarik dimatanya.


Aila mematikan TV dan melangkahkan kakinya keluar, gadis itu duduk di sofa ruang tengah. Lagi lagi ia meraih remot TV dan menyalakannya, namun pada akhirnya ia matikan juga. Aila berjalan kesana-kemari dengan resah, sudah pukul 22.00 malam, tapi Leon belum juga pulang.


Aila berjalan kearah pintu depan dan duduk disebelah rak sepatu. Tangannya menyusun sepatu milik Leon, yang memang sudah rapi.


Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan?


Ah, mungkin karena ia tidak bisa tidur, atau karena sedang menunggu Leon pulang?


Aila sendiri bingung dengan sikapnya.


********


Disebuah Club malam, Leon terlihat sedang duduk dengan santai ditemani Davin di sebelah kirinya. Beberapa wanita terlihat mencuri pandang kearah mereka, bahkan ada yang terang terangan menatap dan menghampiri Leon.


"Sudah lama aku tidak melihatmu tuan," seorang wanita berwajah jelita mendekat, dilihat dari postur tubuhnya yang seksi dan tinggi sepertinya ia seorang model.


"Ya, aku sibuk!" jawab Leon singkat.


"Aku merindukanmu tuan," ucapnya manja, mengenkan dress tanpa lengan dengan belahan dada yang terbuka membuat lembah miliknya terlihat. Wanita itu kemudian duduk tepat disamping Leon.


"Aku tidak tidur dua kali dengan wanita yang sama, sayang" ucap Leon santai.


"Ah, hanya malam ini tuan" pintanya penuh harap, tanganya mulai berani membelai dada dan leher Leon.


Leon menepisnya pelan, mencoba bersabar.


"Aku tidak ingin tidur malam ini sayang, aku ada perlu disini. Jangan menggangguku, ok?"


"Hanya sebentar, tuan. Satu jam?"


"Tidak sayang, pergilah!"


Wanita itu mendesah kecewa, namun ia memilih pergi juga. Siapa yang tidak tau watak Leon? selagi ia masih bersikap manis, menurutlah, atau masalah akan menunggumu.


"Ini sudah lewat sepuluh menit, Davin. Siapa mereka? berani membuatku mrnunggu!" Ucap Leon terlihat mulai kesal.


"Maafkan saya, tuan"


"Lima menit lagi, Davin! " ucap Leon memberi waktu.


"Baik, tuan"


Leon berdecak kesal. Sudah pukul 23.00, tapi orang yang ditunggu belum juga datang. Besok adalah hari bersejarah baginya, tapi dirinya bahkan belum istirahat untuk mempersiapkan diri.


Leon meraih gawainya, membuka salah satu aplikasi disana. Seketika seulas senyum terukir di sudut bibirnya. Leon tengah mengamati tingkah laku Aila di dalam apartemennya. Ya, CCTV di dalam apartemennya, terhubung langsung dengan gawai miliknya.


Sehingga ia bisa setiap saat mengecek apa saja yang terjadi di dalam apartemennya.


Gadis itu terlihat resah bergerak kesana kemari diatas ranjang king size nya. Leon mengernyitkan dahinya ketika melihat Aila, menyalakan TV namun semenit kemudian mematikannya. Gadis itu terus mengulanginya hingga beberapa kali, kemudian keluar meninggalkan kamar. Aila menuju ruang tengah, lagi lagi menyalakan TV namun beberapa menit kemudian mematikannya. Sampai di depan foto dirinya yang berukuran lumayan besar diruang tengah, gadis itu terlihat sedang berbicara dengan fotonya disana. Terlihat jelas ia tengah berkacak pinggang dan memoyongkan bibirnya, Leon tau Aila sedang memaki dirinya. Seketika Leon terbahak menyaksikan tingkah gadisnya itu, Davin yang berada disampingnya hanya menatap heran kearah tuannya tanpa berani bertanya.


Lagi lagi Leon tertawa keras, ketika menyaksikan Aila memainkan sepatu-sepatu miliknya di atas rak. Gadis itu bahkan mencobanya. Kemudian menatanya kembali diatas rak. Ah, Leon jadi ingin segera pulang untuk mengerjainya.


"Mereka datang, tuan" Ucap Davin.


"Hem,"


Terlihat sekumpulan orang datang mendekat kearah tempat duduk Leon dan Davin. Mereka terlihat seperti gengster. Tubuh mereka penuh dengan tato dan badan mereka juga terlihat kekar, dengan gaya berpakaian khas preman.


"Sepertinya, anda sudah menunggu lama, tuan" ucap salah satu dari mereka, yang merupakan sang ketua.


Leon tidak menjawab, pria itu terlihat menarik salah satu sudut bibirnya. Tersenyum miring.


"Mereka yang terbaik, Davin?"


"Menurut beberapa info, sepertinya begitu tuan"


"Mereka terlihat seperti segerombol sampah!" ucap Leon tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar gawai.


Mendengar ucapan Leon, salah satu anak buah dari gengster tersebut terlihat marah kemudian berjalan mendekat kearah Leon, namun sang ketua terlihat menahannya.


"Apa yang harus kami lakukan tuan?" ucap bos gengster, tanpa memperdulikan ucapan Leon.


"Cih! aku bahkan belum menerimamu. Urus mereka, Davin!" perintah Leon.


Davin membungkuk hormat, " Baik tuan"


Leon kemudian bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar meninggalkan club.


"Kalian membuat tuan Leon kesal karena membuatnya menunggu selama sepuluh menit." ucap Davin.


" Ayolah, hanya sepuluh menit. Dia berlebihan!" ucap bos gengster santai, sembari mendudukkan dirinya diatas sofa.


"Sepertinya anda belum tau akan bekerja untuk siapa?"


"Aku tau"


"Kalau begitu, berhati hatilah dengan ucapan anda atau anda akan bertemu Tuhan dengan lebih cepat" ucap Davin bersikap sopan.


"Kau mengancamku?!"


"Bagus jika anda tau"


"Ya, ya! katakan apa yang harus kami lakukan"


"Datanglah besok pagi ke apartemen. Tuan Leon akan menilaimu, apakah kalian pantas diterima atau tidak."


"Kami akan datang besok"


"Baiklah, saya permisi sekarang" Davin membungkuk, kemudian melangkah keluar.


"Mereka sangat sombong!" ucap salah satu anak buah.


"Memang siapa mereka kak?"


"Dia adalah pewaris Thomson group, perusahaan kontruksi raksasa dunia. Kalian tidak akan bisa membayangkan berapa nilai kekayaan mereka. Aku tidak menyangka, Leon Thomson ternyata lebih dingin dari ayahnya." ucap Boby, sang ketua.


"Dia hanya sendiri kak,"


"Kau salah, jimy. Satu tangan kanannya setara dengan 10 anak buah kita."


"Maksud kakak, orang tadi?"


"Dia salah satunya"


Semua anak buah Boby diam mendengarkan, rasa penasaran menyelimuti mereka. Sebenarnya orang seperti apa bos baru mereka.


"Kita pulang sekarang. Pekerjaan besar menanti, besok!" ucap Boby sembari melangkah keluar club diikuti anggukan kepala anak buahnya.


***************


Sudah pukul 11.30, tapi Leon belum juga pulang. Aila mulai resah. Ia tau dirinya tidak berhak bertanya kemana pria itu pergi dan kapan kembali, namun tidak bisa di pungkiri jika hatinya merasa khawatir dan menunggunya pulang.


Mendengar Pintu dibuka, Aila segera berdiri dari duduknya. Raut kelegaan tercetak di wajah mungilnya, ketika melihat Leon berada didepannya.


"Kau belum tidur?" Leon terkejut, melihat Aila belum juga tidur.


Aila mengangguk.


"Gak bisa tidur" jawab Aila.


" Menungguku?"


"Tidak, hanya.."


Leon menarik sudut bibirnya, kemudian mengangkat Aila dan menggendongnya seperti kanguru dan membawanya berjalan kearah kamar.


Refleks, Aila melingkarkan kakinya pada pinggang Leon dan mengalungkan tanganya pada leher pria itu.


Leon terkekeh,"Takut jatuh, hem?"


Aila diam, berusaha menjaga agar wajah mereka tidak terlalu dekat.


"Kau menungguku?" ulang Leon, menatap manik mata Aila.


Aila memalingkan muka, enggan bertemu tatap. Ia malu jika Leon mengetahui kebenaran, jika dirinya memang sedang menunggunya pulang.


Tangan Leon naik keatas, meraih tengkuk Aila, membawa wajah gadis itu agar menatapnya.


"Katakan sayang,"


"Ya" ucap Aila lirih.


Leon tersenyum.


Cuup!


Satu kecupan mendarat di bibir. Aila diam, membiarkan.


Cuup!


Leon melakukannya lagi.


Aila terkesiap, namun tidak kuasa menolak saat bibirnya lagi lagi dikecup.


Leon mengakat tubuh Aila lebih tinggi supaya sejajar, kemudian diraihnya tengkuk Aila. Untuk sesaat mereka saling menatap, sebelum Leon ******* bibirnya lebih dalam dan lebih lama. Ciuman yang awalnya hanya sebuah kecupan, berubah menjadi ******* panas saat Leon mulai mendominasi. Terdengar suara desahan napas beradu disela-sela ciuman mereka.


Leon terus ******* bibir Aila tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas.


Gadis itu terengah-engah demi berebut oksigen dari bibir Leon.


Tanganya memukul kecil bahu Leon meminta dilepaskan, namun pria itu tetap tidak bergeming. Leon semakin mengeratkan cengkramannya pada tengkuk Aila, dengan tangan yang lain membelai punggung belakang Aila dan menahannya.


Untuk seorang pemula seperti Aila, jelas ia tidak bisa mengimbangi Leon dalam hal berciuman.


Tidak ada cara Lain, Aila harus melakukannya.


"Aaaakh! sakit sayang!" pekik Leon, saat Aila menggigit bibirnya.


"Aku tidak bisa bernapas" ucap Aila polos dengan napas tersengal.


Leon terkekeh, ia lupa jika Aila belum berpengalaman dalam hal berciuman.


Setelah sampai didalam kamar, Leon menurunkan Aila diatas ranjang king sizenya. Sebelum menjauhkan wajahnya dari bibir Aila, Leon membelai bibir mereh merekah di depanya, kemudian memutar tubuh berjalan kearah kamar mandi.


"Mau kemana?" tanya Aila.


"Mandi sayang, mau ikut?" goda Leon.


Aila buru-buru menggeleng.


Dasar mesum!


"Tapi, ini sudah malam. Di lap saja." saran Aila.


Leon mengerutkan kening, benar juga. Tapi dirinya butuh mendinginkan gejolak hasratnya.


"Baiklah, lakukan itu!"


Aila mengerurkan kening tidak mengerti.


"Apa?"


"Lap tubuhku sayang,"


"Ha?"


"Cepatlah!"


Aila menghela napas, kemudian bangkit dari duduknya.


Apa lagi sekarang? Lagi lagi matanya harus ternoda karena melihat tubuh Leon.


"Ini" Leon menyerahkan handuk kecil pada Aila, gadis itu menerimanya.


Leon kemudian mengangkat tubuh Aila dan mendudukkanya disamping wastafel.


Leon melepas kaus yang dipakainya, kemudian mendekat dan mencondongkan tubuhnya kearah Aila.


Aila terlihat kikuk, melihat tubuh Leon. Perutnya yang rata dan liat jelas tercetak disana.


Gadis itu, mengalihkan pandangannya kearah wastafel kemudian membasahi handuk dengan air.


Seulas senyum tercetak di sudut bibir Leon.


Leon ingin melihat, sampai kapan Aila akan menolak pesona tubuhnya.


Dengan gugup Aila mulai mengelap bagian depan tubuh Leon. Aila melakukannya dengan cepat, sembari menahan debaran jantungnya.


"Kau teralu cepat sayang, lakukan lagi!" perintah Leon sembari menarik pinggang Aila mendekat.


Aila mendesah, ia tau jika Leon sengaja mempermainkannya. gadis itu kemudian melakukan sesuai yang Leon perintahkan.


"Sudah" ucap Aila sembari meloncat turun, kemudian melangkah keluar kamar mandi meninggalkan Leon.


"Hei! kau belum selesai sayang!" teriak Leon.


Aila tidak bergeming, gadis itu terus melangkah keluar menuju ranjang kemudian naik dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Menyembunyikan wajahnya yangvsudah merah padam disana.


Bersambung......