Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 29


🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 29


**Gelang pengikat**


Aila menurut, gadis itu duduk dan mulai memakan masakannya sendiri.


Tidak ada percakapan diantara keduanya, mereka makan dalam diam.


Karakter Leon yang mulai Aila pahami adalah makan tanpa suara. Ya, Leon paling tidak suka jika ada yang berbicara ketika ia sedang makan.


Tidak berapa lama, pria itu sudah menghabiskan nasi gorengnya tanpa sisa. Leon terlihat mengambil tisu untuk melap mulutnya, melihat Leon sudah selesai dengan makanannya, Aila buru-buru berdiri mengambilkan minum untuk pria itu.


Satu yang Leon suka dari Aila, gadis itu tanggap melakukan apa yang harus dilakukan tanpa banyak diperintah.


Aila menyodorkan segelas air putih pada Leon, pria itu menerimanya, menegukknya hingga tandas.


"Lanjutkan makanmu!" perintah Leon.


Aila mengangguk, gadis itu kembali duduk di kursinya dan mulai melanjutkan memakan nasi gorengnya.


Sedang Leon, terlihat meraih gawai dan mulai memainkannya.


Entah apa yang sedang dilihatnya, keningnya berkerut. kemudian mata birunya menatap kearah Aila, gadis itu gelapan saat netra mereka bertemu pandang.


"Mengagumi wajahku, hem?"


Aila buru buru menggeleng, dan melanjutkan makan.


"Dimana kartu yang ku berikan?"


"Di tas"


"Kau tidak menggunakannya?"


Aila menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku belum membutuhkannya,"


"Kau sangat miskin, tidak mungkin jika kau tidak membutuhkan sesuatu"


cibir Leon.


Aila diam, menerka arah ucapan Leon.


"Habiskan uang itu, beli sesuatu!"


"Aku sudah punya semuanya, Meri memberiku baju, sepatu, tas, skincare, bahkan perhiasan dan aku bingung bagaimana memakainya, mereka begitu banyak" cicit Aila polos.


Leon terkekeh mendengar ocehan Aila, gadis yang sungguh polos. Banyak wanita yang ingin bersama dirinya hanya demi uang.


Tapi gadis ini, malah kebingungan bagaimana menghabiskan uangnya.


"Em,,boleh aku pergi kepanti?"


"Tempatmu dulu?"


"Ya, bolehkah?"


"Tidak!"


Aila diam, ia tau usahanya akan sia sia, tapi setidaknya ia sudah mencoba.


"Kau boleh memberi mereka hadiah, tapi tidak ku ijinkan keluar dari apartemen!" ucap Leon.


"Bukan hadiah, tapi bolehkah menyumbang?"


Aila pikir, adik-adik pantinya lebih butuh makan dan biaya sekolah ketimbang hadiah.


"Keduanya boleh, sayang"


"Benarkah?" mata Aila berbinar.


"Ya"


Aila mengulum senyum, "Terimakasih" ucap Aila tulus.


Ah, Leon menjadi gemas melihatnya.


"Kemari!" Aila menurut, gadis itu berdiri dan melangkah kearah Leon.


Bersamaan dengan itu, Davin masuk bersama Dragon dan anak buahnya.


Melihat ada begitu banyak orang yang tiba tiba datang, Aila menghentikan langkah.


"Saya datang, tuan" ucap Davin.


"Hem,"


Leon segera menarik tangan Aila mendekat, dan mengangkat tubuh gadis itu diatas pangkuannya.


Aila terkesiap, bukan karena kaget. Sudah biasa, Leon melakukan itu. Ia malu karena disitu ada Davin dan yang lainnya.


Aila berusaha melepaskan tangan leon yang membelit pinggangnya, tapi pria itu malah semakin mempererat belitannya. Merasa sia-sia, Aila menyerah. Gadis itu akhirnya diam, menunduk karena malu.


"Mau kemana, hem?"


"Malu.." lirih Aila.


"Aku membayar mereka untuk itu, sayang!"


Aila diam. Selain gila, Leon juga tidak punya rasa malu dan Aila tau itu.


"Ambilkan yang kita beli kemarin, Davin!" perintah Leon.


"Baik tuan"


Sembari menunggu Davin, Leon mulai memainkan rambut ikal Aila.


Gadis itu terlihat mulai resah.


"Rambutmu indah, sayang!"


Aila kikuk, tidak tau harus berbuat apa. Sesekali matanya melihat kearah Dragon dan anak buahnya. Wajah mereka memang terlihat datar, tapi entah apa yang sedang mereka pikirkan.


"Ini tuan," Davin memberikan sebuah kotak berbentuk persegi berwarna grey, seperti kotak perhiasan.


Leon membukanya, benar saja, isinya sebuah gelang yang terbuat dari emas 24 karat asli, dengan motif berbentuk naga dengan lima lonceng kecil yang terdapat dimulutnya.


Aila mengerutkan keningnya, sepertinya ia pernah melihat bentuk naga tersebut, tapi dimana? Ah! ya, bentuknya seperti tato dibawah tengkuk Leon, ia melihatnya ketika menggosok punggung pria itu.


Tapi, untuk siapa gelang itu.


Tiba tiba Leon mengangkat tubuh Aila dan mendudukkannya diatas meja makan.


"Eh?"


"Diamlah!" perintah Leon.


Seketika Aila diam.


Leon mulai membungkuk, dan meraih kaki kanan Aila kemudian dipakaikannya gelang tersebut pada kakinya. Semua orang disana tau jika gelang tersebut bukan gelang biasa, melainkan gelang pengikat yang dilengkapi pelacak. Sekali dipasangkan, tidak akan bisa dilepaskan lagi. Satu-satunya cara melepaskannya adalah dengan merusaknya.


"Apa kita akan ke pesta?" tanya Aila polos.


"kenapa kau pikir, kita akan ke pesta?"


"Karena memakai perhiasan?"


"Ha ha ha," Leon terbahak, dan Aila tidak tau bagian mananya yang lucu.


"Kita tidak akan kepesta, sayang! Kita akan membuat pesta sendiri disini,"


"Membuat pesta? disini?"


Leon berdiri, mendekat kearah Aila, membelai pipi gadis itu.


Tiba tiba saja perasaan Aila menjadi tidak enak.


"Bukan disini, sayang!" Leon mulai memainkan rambut ikal Aila.


"Dimana?"


"Dikamar mandi? atau dikamar?" goda Leon.


Aila mendelik kaget, ia tau apa maksud dari ucapan Leon. Gadis itu buru-buru memalingkan muka, karena malu.


Leon terkekeh melihat tingkah gadisnya.


"Em,,,aku tidak suka memakai perhiasan"


"Aku tidak tanya pendapatmu, sayang!"


Aila diam, menunduk.


Leon kembali duduk di kursinya.


"Siapa yang terbaik, Davin!?"


"Dia, Tuan" Davin menunjuk salah satu anak buah Dragon yang bernama Jimy.


"Kemari!" perintah Leon kepada Jimy.


Jimy berjalan mendekat kearah Leon.


"Ya, tuan?"


"Temani istriku membeli sesuatu, dan jaga dengan nyawamu!"


Jimy mengangguk, " Baik, tuan"


"Bawa lima anak buahmu!"


"Baik, tuan"


"Keluarlah dengan orang ini, sayang!" ucap Leon kearah Aila.


"Ya?"


"Kau bilang ingin membeli sesuatu, jadi harus ada pengawal yang bersamamu, sayang!"


Aila kaget mendengar ucapan Leon.


"Tidak perlu sa..sayang, aku bisa pergi...."


Aila keberatan jika harus pergi dengan begitu banyak pengawal, Ayolah itu terlihat aneh!


"Jangan membantah!"


"Aku akan langsung pulang jika sudah selesai, itu tidak lama, aku janji!" rengek Aila.


"Dengan pengawal atau tidak keluar, hanya itu pilihanmu, sayang!"


"Baiklah, tapi hanya satu" Aila mencoba menawar.


Leon menarik salah satu sudut bibirnya, gadisnya sedang coba tawar menawar dengannya.


"Tidak, sayang!"


"Dua"


Leon menggeleng


Aila melompat turun dan mendekat kearah Leon, mulai memainkan kancing kemejanya.


Leon memicingkan matanya, gadisnya mulai pandai merayu.


"Aku tidak akan nakal, aku janji!" rengek Aila.


Leon fokus kearah tangan Aila yang memainkan kancing kemejanya.


"Aku tidak akan ke kos, tidak ke panti, tidak juga kerumah Meli...."


Leon menghentikan tangan Aila dari kancing kemejanya. Sikap Aila justru membuat Leon gemas ingin menerkamnya.


"Berhenti melakukan itu!" ucap Leon sembari memegang tangan Aila.


"Ha?" Aila tidak mengerti maksud Leon.


"Baik! baiklah, bawa dua!" ucap Leon menyerah.


"Boleh?"


Leon mengangguk.


Aila tertawa senang, saking senangnya gadis itu tidak sadar jika dirinya melakukan lompatan kecil, menimbulkan bunyi gemerincing dari gelang kakinya.


Sadar akan hal itu, Aila berhenti.


"Kenapa berhenti?!" Leon baru saja mulai menikmati bunyi gemerincing gelang kaki Aila. Entah kenapa, bunyinya membuat Leon suka, kenapa tidak dari dulu ia memakaikannnya?


"Ini seperti anjing," Aila mencebik.


Leon tertawa, " Kau memang anjing sayang, anjing kesayanganku!"


Lagi lagi Aila mencebik, kesal.


Dan itu membuat tawa Leon semakin keras dan lepas.


Davin terlihat kaget melihat Leon bisa tertawa selepas itu. Selama bekerja dengannya, baru pertama kalinya ia melihat Leon tertawa dengan begitu lepas. Sekarang ia mengerti kenapa Aila begitu istimewa bagi tuannya.


****************


Leon beserta Davin dan anak buah Dragon yang berjumlah hampir dua puluh itu memasuki gedung The Thomson Corporation dengan santai,


di ikuti tatapan heran para kariyawan. Siapa yang tidak kenal seorang Leon? pebasket yang begitu lihai dan seorang public figure yang terkenal, setidaknya itulah yang mereka ketahui dari sosok seorang Leon.


Tapi untuk apa, seorang artis memasuki perusahaan yang sudah bangkrut?


Leon terus berjalan kearah ruang rapat, dimana para pemegang saham sedang berkumpul.


Kasak kusuk, para kariyawan terdengar disetiap sudut kantor. Hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja di perusahaan ini. Siapa yang menyangka, jika perusahaan konstruksi yang sudah lama berdiri dan menjadi yang tebesar di negara ini bisa bangkrut. Dua tahun mati-matian bertahan dari persaingan, akhirnya harus menyerah juga.


Setelah dilakukan proses likuidasi, perusahaan resmi bangkrut dengan menanggung hutang yang begitu menggunung.


Ceklek! Davin membukakkan pintu ruang rapat untuk Leon.


Pria itu melenggang santai kearah ruangan, nampak para pemegang saham sedang berkumpul disana.


Beberapa anak buah Dragon bersenjata lengkap berjaga di depan pintu. Sebagian ikut masuk kedalam ruangan.


Sontak, semua orang didalam ruangan menoleh kearah pintu masuk, raut keheranan jelas terlihat pada wajah mereka melihat Leon masuk bersama begitu banyak bodyguard.


Leon tidak peduli, pria itu terus melangkah menggeser paksa satu kursi yang sedang di duduki oleh salah seorang pemegang saham. Awalnya pria paruh baya yang duduk dikursi terlihat ingin protes, namun melihat tatapan dingin Dari mata Leon dan beberapa bodyguard disampingnya, membuat pria itu menciut.


"Siapa kau! berani-beraninya memasuki perusahaanku tanpa izin!" Bentak salah seorang pria yang duduk di kursi dengan papan bertuliskan presiden direktur di depannya.


"Mantan perusahaan, maksudmu?!" ucap Leon sembari menyeringai sembari mendudukkan dirinya diatas meja rapat.


Matanya menatap tajam kearah Hans, pria yang wajahnya tidak akan ia lupakan seumur hidupnya karena telah berani membunuh ibunya di depan matanya sendiri. Seorang pria licik yang telah mencuri perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya yang tidak lkain adalah mertua dari ayahnya sendiri, lebih tepatnya ayah dari ibu tirinya.


"Kau lupa, jika meminjam begitu banyak uang dariku, hah?!"


Presiden direktur yang bernama Hans itu terlihat mengerutkan kening, perasaan ia hanya meminta kucuran dana segar dari salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Shanghai.


"Beritahu dia davin!" perintah Leon pada Davin.


"Baik tuan"


Davin segera melempar satu bendel file dihadapan Hans.


Hans melihat kearah file yang tergeletak di depannya, perasaanya tiba-tiba saja menjadi tidak enak.


"Bacalah!" perintah Leon.


Hans mengambil file didepannya, matanya terbelalak tidak percaya, jika teryata orang-orang yang sedang berdiri di depannya berasal dari Global Enginering corporation, perusahaan dimana dia meminjam banyak uang untuk menyelamatkan perusahaanya yang tengah sekarat, walau pada akhirnya harus bangkrut juga.


"Tuan Leon Galvaro? kenapa tidak memberi tau jika akan datang, kami kan bisa menyambut anda," ucap Hans basa-basi mencari selamat.


Leon sengaja mennganti namanya, supaya tidak ada yang tau bahwa dia merupakan salah satu keturunan thomson.


"Ha ha ha," Tiba tiba Leon tertawa dengan begitu keras, suara tawanya membahana didalam ruangan rapat yang ekslusif.


Buaya licik satu ini, sudah berani menipunya tapi masih bisa santai uga.


Leon tidak heran dengan sifat liciknya, dari awal ia sudah tau jika akan ditipu, namun tetap memberi apa yang Hans mau supaya bisa masuk kedalam perangkapnya.


"Hei kalian! sedang rapat untuk pembagian saham? asal kalian tau, dia sudah menjual semua sahamnya pada ku satu minggu yang lalu, masih ditambah berhutang padaku dengan menjaminkan perusahaan ini" ucap Leon pada pemegang saham.


Seketika, suasana menjadi ramai karena kasak kusuk dari para pemegang saham.


Hans terlihat ingin berdiri untuk meredam keributan, namun Dragon keburu menahannya dengan sebuah pistol ditangan, menyuruhnya untuk duduk kembali.


"Jangan menyela, jika tuan kami sedang bicara!" ucap dragon sembari menendang kursi yang sedang Hans duduki.


"Dia menipu kalian semua! dia sudah tidak memiliki hak apapun disini tapi masih menjalankan perusahaan, bahkan berani menggadaikan perusahaan demi mendapat kucuran dana segar untuk menyelamatkan perusahaanya sendiri yang berada di Boston!" Lanjut Leon sembari menunjuk kearah Hans.


Suara riuh protes bahkan makian kembali terdengar, mereka tidak percaya jika selama ini telah ditipu oleh Hans.


Leon segera mengangkat tangan, memberi kode untuk diam. Setelah semua diam, Leon mulai melanjutkan ucapannya.


"Sesuai janjimu Hans, aku kesini hanya ingin meminta hakku! yang pertama perusahaan ini dan yang kedua perusahaanmu karena kau tidak mungkin bisa membayar hutangmu!" ucap Leon kearah Hans.


"Tenang dulu tuan, beri aku waktu, kita bisa mengobrol santai lebih dulu" jawab Hans mencoba untuk tawar menawar. Ia tidak menyangka jika Global Corporation tau semua rencananya.


Leon kembali terbahak mendengar ucapan Hans. Pria licik satu ini masih bisa menjilat juga rupanya.


"Siapa yang akan kau bayar lebih dulu? uangku atau uang mereka? lalu bagaimana kau membayarnya? dengan perusahaanmu sendiri yang juga sedang sekarat?" tanya Leon sinis.


Hans bungkam, tidak tau harus memberi alasan seperti apa.


"Davin?"


"Ya, tuan"


"Suruh buaya busuk ini menyerahkan semua asetnya sekarang, jika menolak, habisi dia!"


Hans terlihat gemetar, mendengar nyawanya terancam.


"Siap, tuan"


Davin maju membawa beberapa dokumen meletakkanya didepan Hans beserta penanya sekalian.


"Tanda tangan, disini!" perintah Davin.


"Ayolah tuan, kita bisa membicarakan ini dengan baik baik," ucap Hans mengiba.


"Cepat Davin! dia membuang waktuku!"


"Cepat tanda tangani, atau mati tanpa melihat keluarga anda terlebih dahulu!" ancam Davin sembari menodongkan pistol tepat dikepala Hans.


Sebenarnya Leon bisa langsung membunuhnya, tapi itu terlalu cepat. Ia ingin membuat Hans menderita terlebih dahulu.


Dengan ragu Hans meraih pena dan menandatangi kertas di depannya. Hancur sudah hidupnya, semua aset yang ia miliki harus diserahkan begitu saja tanpa tersisa.


Leon menarik salah satu sudut bibirnya, merasa puas setelah Hans menandatangani perjanjiannya.


"Suruh orang kita, untuk membekukan semua asetnya dan menyitanya sekarang juga!" ucap Leon kearah Davin.


"Baik, tuan"


"Dan kau! keluar sekarang juga dari perusahaanku sekarang!" perintah Leon kepada Hans.


Hans berdiri dengan Lesu di irungi cacian dan umpatan para pemegang saham, semua terjadi begitu cepat, hingga untuk sekedar melihat ruang kerjanya sendiri ia sudah tidak bisa.


"Pastikan dia keluar dari sini tanpa menyentuh apapun!" perintah Leon pada Dragon.


"Baik, tuan"


Dragon dan beberapa anak buah nya menyeret Hans keluar dari ruang rapat.


Tinggalah para pemegang saham yang masih bingung bagaimana dengan nasib uang dan aset mereka.


Leon berdiri menuju kearah kursi yang di duduki malik, tapi tidak mendudukkanbdirinya disana, pria itu tetap duduk diatas meja.


"Apa yang kalian tunggu? saham kalian jika digabungkan tinggal 30% , bagi yang masih ingin tetap disini silahkan! bagi yang tidak, silahkan keluar!" ucap Leon pada para pemegang saham.


kasak kusuk kembali terdengar, para pemegang saham terlihat berdiskusi antara satu dengan yang lain dan Leon membiarkannya.


Sebagian besar dari mereka memilih nntuk tetap tinggal, mengingat perusahaan ini akan menjadi anak cabang dari salah satu peru perusahaan konstruksi terbesar di dunia. Bodoh, jika mereka memilih keluar.


"Bagaimana?" tanya Leon.


"kami memilih tinggal tuan" jawab salah satu dari mereka di ikuti anggukan kepala yang lain.


"Bagus! pilihan yang tepat!" ucap Leon.


para pemegang saham terlihat tersenyum lega.


"Jangan pernah sekalipun, berkhianat apalagi mencuri uang dariku jika tidak ingin ajal kalian segera tiba!" Leon memberi peringatan sekaligus ancaman.


Para pemegang saham diam tidak berani menjawab, raut ketakutan jelas memenuhi wajah mereka.


"Sekarang bubar! kita lakukan rapat untuk merevisi perusahaan, besok pagi!" perintah Leon.


para pemegang saham berdiri dan mengangguk hormat sebelum meninggalkan ruang rapat.


setelah semua keluar, Leon berdiri di depan jendela dan menatap pemandangan kota di luar gedung. setelah bertahun-tahun akhirnya ia mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Bersambung...


Like , koment yang banyak ya gaess supaya bisa up tiap hari.


Happy reading🌷🌷🌷