
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 79
**Terkadang, hanya merasa tidak pantas**
"Mau menghindar sampai kapan?" tanya Serkan ketika melihat Lisa buru-buru keluar dari dapur. Setelah menyadari jika sedari tadi Serkan sudah lebih dulu duduk didalam sembari menikmati stick potato hangat buatan maria.
Lisa terlihat menghentikan langkah dan memejam. Serkan bisa melihat tubuh wanita itu menegang.
"Aku akan pergi ke Dubai besok pagi," ucap Serkan melanjutkan.
Mendengar ucapan Serkan Lisa kaget dan berbalik. Gadis itu hanya menatap sekilas padanya lalu menunduk dengan mulut terkatup rapat.
Serkan mendesah, pria itu berhenti menikmati makanannya lalu menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.
"Kemarilah," pintanya sembari menepuk permukaan kursi yang berada tepat disampingnya.
Lisa diam untuk sesaat, sebelum akhirnya ia melangkah ragu menuju kursi yang dimaksud oleh Serkan.
Lisa duduk dengan canggung di kusi tersebut. Bisa jadi karena gugup atau mungkin cemas, gadis itu meremas jemari tangannya.
Beberapa detik, Serkan hanya menatap gadis yang duduk dengan gugup disampingnya itu. Bukan karena kehilangan kata-kata, tapi ia sendiri bingung harus memulai dari mana. Sejak kejadian kehilangan kontrol pagi itu, ia memang memilih untuk menghindari Lisa, dan sepertinya Lisa juga begitu. Berusaha untuk menghindarinya.
"Dengar, aku minta maaf atas kejadian hari itu.." ucap Serkan sengaja memotong ucapannya untuk melihat reaksi Lisa.
Gadis itu tetap menunduk dalam kediamannya.
"Kau mau memaafkan hal itu?" Serkan bertanya dengan hati-hati.
Lisa terlihat mengangguk.
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, jadi kau tidak perlu menghindar, apa kau mengerti?" tanya serkan lagi.
Gadis itu diam, tidak berucap pun tidak mengangguk.
Serkan menghela napas. Selama ini, ia sudah menghadapi banyak wanita, namun, baru kali ini ia merasa kebingungan dalam menentukan sikap.
"Aku akan pergi besok pagi.."
"Kenapa?!" potong Lisa cepat. Nada suaranya terdengar bergetar. Kepalanya pun semakin tertunduk.
"Tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap disini, kau sendiri tidak mau bukan menikah denganku?" Serkan berusaha mengontrol nada suaranya pada setiap kata yang ia ucapkan.
Lisa memoleh, menatap dalam pada mata serkan. "Dari mana anda tau jika saya menolak menikah dengan anda? saya belum menjawabnya.." ucap Lisa dengan nada bergetar. Matanya terlihat berkaca-kaca saat mengucapkannya.
Melihat Lisa yang hampir menangis, Serkan malah terkekeh.
"Ok, sekarang apa jawabanmu?" tanya serkan.
Lisa mengusap air matanya yang sudah lebih dulu meleleh di pipi dengan punggung tangan.
"Sebelum saya jawab, boleh saya bertanya pada anda lebih dulu?" Lisa balik bertanya. Gadis itu tidak lagi terlihat gugup saat berbicara.
Serkan menautkan kedua alis. Saat menangis Lisa malah terlihat lebih berani mengutarakan isi kepalanya.
"Bertanyalah," ucap Serkan.
Lisa diam sesaat, lalu kembali menunduk, seperti ragu untuk mengutarakan.
"Jangan takut, aku bukan pemakan manusia," lanjut Serkan dengan nada bercanda.
"Anda....sangat mencintai nona Aila bukan? kenapa mengajak saya menikah?" tanya Lisa dengan hati-hati.
Serkan terhenyak kaget mendengar pertanyaan Lisa. Ia tidak menyangka jika gadis itu mengetahui perasaannya. Ia kemudian berdehem lalu mengulum senyum simpul, " Ya, aku menyukai kakak iparmu dan semua orang setuju jika itu salah. Lalu, maukah kau membantuku melupakan kakak iparmu?" tanya Serkan dengan nada Serius. Sorot matanya menatap tajam kedalam mata Lisa.
Lisa diam sesaat. Ia sedang mencari keseriusan dalam manik mata Serkan.
"Anda sedang memintaku menjadi pelarian?" tanya Lisa. Ia sadar pertanyaannya mungkin akan membuat Serkan tersinggung, namun Lisa tidak peduli.
Serkan lagi-lagi terkekeh mendengar pertanyaan Lisa dan itu membuat Lisa mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti, dimana letak lucunya.
Pria itu tiba-tiba, memutar dan menarik kursi Lisa mendekat kearahnya. Sontak saja membuat gadis itu memekik kaget sekaligus gugup, karena mereka kini tidak lagi berjarak.
"Dengar," ucap Serkan sembari membelai pipi Lisa. Gadis itu berpaling karena gugup. Tapi Serkan meraih dagunya kembali, agar gadis itu tetap menatap matanya.
"Jika aku hanya ingin menjadikanmu pelarian, aku tidak akan menikahimu.." Serkan melanjutkan ucapannya.
"Ta__pi.." Lisa ragu meneruskan kalimatnya.
"Apa?"
"Ji__ka setelah menikah nanti, anda tetap tidak bisa mencintai saya bagaimana?" tanya Lisa jujur.
Serkan mengulum senyum, "Itulah tugasmu. Membuatku mencintaimu," jawabnya.
Lisa kembali menunduk dan meremas tangan. "Sa_ya tidak pandai merayu dan berdandan..." ucapnya jujur.
Serkan mengusap kepala gadis didepannya dengan lembut, "Kau tidak perlu melakukan itu," sahutnya, ia kembali meraih dagu Lisa agar gadis itu mendongak, "Cukup menjadi dirimu dan jangan berhenti mencintaiku, bisa?"
Lisa diam tidak menjawab. Ia melepas telapak tangan Serkan pada pipinya, lalu merayap pelan, masuk menenggelamkan dirinya padacdada pria itu.
Serkan tidak lagi butuh jawaban, pria itu mengusap Kepala Lisa dan menciumnya.
Gadis itu memejam, menikmati kehangatan usapan dan sentuhan Serkan. Kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, bahkan dari ibunya sendiri sekalipun.
"Sejak kapan kau tau jika aku menyukai Aila?" tanya Serkan penasaran.
Lisa bergerak tapi tidak berniat menegakkan kepalanya. "Sejak tiga tahun yang lalu," jawab Lisa.
Lagi-lagi Serkan terkejut, "Tiga tahun?"
"Ya," jawab Lisa singkat.
Serkan tertawa kecil, "Itu berarti kau menyukaiku sejak tiga tahun yang lalu?" tebak Serkan.
"Ya," jawab Lisa jujur.
Serkan kembali tertawa, "Apa yang kau suka dariku?" tanyanya.
Lisa menegakkan badan, "Anda terlihat tampan saat tertawa dan....menembak," jawab Lisa.
"Benarkah?"
"Ya, dan satu lagi,"
"Apa?"
Lisa menatap dalam mata Serkan. Raut wajah gadis itu nampak serius, "Anda terlihat sangat kesepian ditengah keramaian, sama seperti saya.."
Deg!
Jantung Serkan seperti di kejut oleh tenaga listrik ribuan whatt. Selama hidupnya, tidak ada yang pernah mengetahui bagaimana hidupnya kecuali keempat sahabatnya. Tidak juga dengan para wanita yang pernah dikenalnya. Ia tidak pernah menceritakan luka hidupnya pada orang lain. Para wanita yang pernah dekat dengannya, tidak pernah tertarik dan mencari tahu tentang hidupnya. Selama ini mereka hanya tertarik dengan harta dan fisiknya saja. Tapi Lisa tau apa yang dirasakannya, bahkan sebelum ia bertanya.
Serkan mendenguskan tawa, "Tau dari mana jika aku kesepian?"
"Dari sorot mata anda," ucap Lisa sembari membenamkan tubuhnya kembali.
"Saya tau anda juga pernah dibuang.." lanjut Lisa.
Serkan mengecup singkat kepala Lisa, "Kau benar," jawab Serkan.
Mereka berdua kemudian diam. Saling berbagi dan merasakan luka yang terjadi masa lalu. Bukan untuk dikenang, namun untuk saling menguatkan.
*****
Aila terbangun saat tangannya menyentuh lengan seseorang. Tentu saja lengan milik suaminya. Ia mengelus lengan berotot itu, lalu menciumnya pelan. Setelah itu, ia berbalik. Dengan gerakan pelan, Aila masuk dalam dekapan singanya. Ia menelusupkan tangan dan mengusap punggung suaminya yang bertelanjang dada tersebut.
Kebiasaan Leon ketika tidur memang tidak mengenakan pakaian atas. Pria itu selalu tidur hanya dengan mengenakan boxer saja.
"Sampai kapan kau akan mengusap punggunggku,hem?" Tanya Leon tanpa membuka matanya.
"Apa aku menganggumu tuan?" tanya Aila.
"Menurutmu?"
"Tidak," Aila kembali mengusap punggung suaminya, membuat Leon gemas. Pria itu menarik tubuh Aila agar lebih merapat lalu mengecup keningnya singkat.
"Bagaima tidurmu?" tanya Leon.
"Nyenyak tuan, sangat nyenyak..."
"Tentu saja, kau tidur seharian seperti orang mati," cibir Leon.
Aila tidak menanggapi, ia terlalu asyik membelai punggung suaminya.
"Berhenti membelaiku sayang, atau kau akan membangunkannya," ucap Leon sembari memegang tangan Aila.
Aila berhenti, namun cuma sebentar. Gadis itu kembali membelai dan menciumi leher suaminya.
Leon terkekeh geli karena ulah istrinya.
"Berhenti sayang," ucapnya memperingatkan.
Aila tidak mau menurut. Gadis itu tetap pada kesenangannya.
Karena gemas, Leon kemudian membalikkan tubuh Aila dan menindihnya dengan posesif.
Saat itu Aila merasakan nyeri pada perut bagian bawah sebelah kanan.
"Aw!" pekiknya.
Leon menyeringai, "Jangan pura-pura sayang, kau yang memulainya,"
"Aku tidak bohong tuan, perutku terasa sakit.." jawab Aila sembari meringis.
"Kau tidak bohong?" tanya Leon sembari mengamati wajah istrinya itu. Orang tidak tahu saja, jika istri kecilnya itu sangat licik.
Aila menggeleng.
Leon kemudian bangkit dan menggeser tubuh. Tapi belum sempat pria itu duduk, Aila sudah lebih dulu meloncat turun dari ranjang sembari tertawa kegirangan. Ia berhasil melepaskan diri dari jeratan singa gilanya.
"Hei! kembali kau!" perintah Leon.
Aila tidak mengindahkan perintah suaminya, gadis itu buru-buru masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
Leon mengejar istrinya, namun terlambat. "Buka pintunya sayang, aku juga ingin mandi!" perintah Leon sembari menggedor pintu.
"Gantian tuan," teriak Aila dari dalam.
Ayolah, jika ia membukanya, yang ada mereka tidak akan mandi tapi olah raga. Sebenarnya tidak masalah, tapi Aila merasa sangat lapar sekarang. Dirinya tidur hampir seharian. Mana ada tenaga buat melayani singa buasnya itu, bisa-bisa malah pingsan ditengah jalan.
Leon mendengus kesal. Ia kembali melangkah menuju ranjang dan kembali menarik selimut. Lihat saja nanti!
Tidak butuh waktu lama, Aila sudah selesai membersihkan diri. Dengan mengendap-endap gadis itu melangkah menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
Tapi tiba-tiba jantungnya seperti ingin meloncat keluar, saat mendapati singanya tengah menatap tajam padanya. Aila menegakkan tubuh, bersikap cuek dan berlalu menuju walk in closet.
Mengambil blues putih pendek dan rok biru tutu, lalu memakainya. Gadis itu mematut diri di depan cermin sebelum keluar. Dirinya tampak segar sekarang.
Satu lagi urusan yang belum selesai, ia sangat perutnya harus segera diisi.
Aila menghela napas dalam, menyiapkan mental sebelum keluar. Ia yakin singanya sudah bertambah kesal sekarang. Tapi, ya sudahlah...
Aila keluar dari walk in closet dengan jantung berdebar, tapi Ternyata sang singa sudah tidak berada di tempatnya.
Fiyuuh! Aila merasa lega.
Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, sepertinya suaminya sedang membersihkan diri. Tanpa membuang waktu, ia segera menggunakan kesempatan itu untuk pergi kedapur dan mengisi perut.
Leon sengaja berendam cukup lama untuk mengusir pegal-pegal pada tubuhnya. Perjalanan bisnisnya selama tiga hari ini benar-benar membuat fisik dan mentalnya lelah luar biasa.
Setelah dirasa cukup, ia segera bangkit untuk membilas tubuh lalu keluar dari kamar mandi.
Dalam hati, Aila merasa heran, karena Leon baru saja selesai mandi. Padahal ia makan dengan santai tadi, sambil ngobrol dengan Lisa lagi. Apa singanya luluran sekarang? Aila melipat bibirnya menahan tawa membayangkan Leon sedang luluran. Hiuuu, itu pasti lucu!
Leon tidak menanggapi gerak-gerik istrinya. Pria itu memasang wajah masam. Bukan karena kesal, tapi lebih pada ingin memberi hukuman pada mainannya itu. Ia melewati Aila begitu saja menuju walk in closet. Seperti dugaannya, gadis itu mengekor dari belakang.
Sebenarnya, salah satu kelebihan Aila adalah sikapnya yang sangat sabar. Gadis itu akan langsung menenangkan hatinya saat ia kesal ataupun marah. Dan sikapnya itu, berhasil membuat rasa kesalnya menjadi tidak berlarut-larut.
Sebelum ia memerintahnya, Aila sudah lebih dulu mengambilkan pakaian untuknya.
"Ini tuan," Aila menyerahkan potongan baju pada suaminya.
"Pakaikan!" perintah Leon.
"Naikkan aku tuan.." pinta Aila sembari melirik kearah rak kosong, tempat biasa ia duduk dan memakaikan suaminya baju.
"Berusahalah," ucap Leon cuek.
Aila mendesah, rak didepannya cukup tinggi.bHampir sebatas dadanya, meskipun meloncat juga ia akan kesulitan.
"Tidak bisa_lah tuan, tolong.." Aila mengiba.
Leon bergeming.
"Menunduklah," pinta Aila.
Leon mendengus, "Gak!"
Aila kembali mendesah. Jika saja tidak konyol, ia pasti sudah memanjat pria menjulang di depannya.
Gadis itu menghela napas, mengambil posisi dan bersiap melompat naik. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya, pokok meloncat aja!
Leon tertawa kecil melihat Aila meloncat-loncat, tapi lama-lama ia tidak tega juga. Saat gadis itu kembali meloncat, ia menangkapnya, lalu mendudukkan di atas rak tersebut.
Aila merasa berkeringat sekarang, karena loncat-loncatan. Padahal ia baru saja selesai mandi. Tapi, biarlah...yang terpenting singanya senang.
Selama memakai baju, Leon tetap diam dengan muka masamnya. Padahal, sebelumnya Aila sempat melihat pria itu tertawa.
Setelah selesai berpakaian, Leon menurunkan Istrinya dengan diam. Ia kemudian melangkah keluar, mengambil gawai dan membukanya. Setelahnya, pria itu terlihat menghubungi seseorang.
Aila yang sedang membereskan handuk yang tercecer mencuri dengar pembicaraan suaminya. Terdengar pria itu menyebut negara jepang dan Shanghai.
"Anda akan pergi lagi, tuan?" tanya Aila setelah pria itu selesai melakukan panggilan.
"Ya," jawab Leon singkat.
Aila langsung mendesah kecewa.
"Mungkin tidak, jika kau memohon," ucap Leon sembari melirik wajah kecewa istrinya.
Tanpa banyak bicara lagi, Aila langsung berlari memeluk suaminya.
"Jangan pergi tuan, aku mohon..." pintanya mengiba.
Leon sontak terbahak melihat kelakuan istrinya.
"Apa kau harus sejujur itu? dasar bodoh," cibirnya setengah tertawa.
"Aku serius tuan, jangan pergi.." rengek Aila lagi. Biar saja ia tidak punya harga diri sekarang, dari pada tidak bisa tidur?
Leon kembali terbahak. Dengan cepat ia mengangkat tubuh istrinya, hingga seperti kannguru.
"Kenapa hem?" tanya Leon penasaran.
"Aku tidak bisa tidur, tuan.." jawab Aila jujur.
Leon menyeringai puas. Meskipun jika jauh dari mainannya, ia juga merasakan hal yang sama, sulit untuk tidur, tapi ia cukup punya harga diri untuk mengakui.
"Cium!"
Aila merangkup pipi suaminya, "Cup!"
Satu kecupan mendarat di pipi Leon.
"Lagi!"
Cup!
"Lagi!"
Cup!
"Bukan kecupan sayang! ciuman," Leon mengoreksi. Meski sudah sering kali melakukan, istrinya itu tidak juga pintar.
Aila melakukan seperti yang di perintahkan. Ia mencium bibir suaminya singkat.
"Terlalu cepat! lagi," titah Leon.
Aila melakukannya lagi, kali ini lebih lama.
"Asin," ucap Leon sembari mengecapkan bibirnya.
Aila tersenyum, "Aku habis makan stik kentang bibi Maria," ucap Aila polos.
"Aku lapar, buatkan nasi goreng," pinta Leon.
Aila mengangguk.
Pria itu kemudian membawa Aila keluar dari kamar. Tapi saat Aila mulai memainkan cambang di sekitar dagunya, Leon langsung menurunkan istrinya.
"Kenapa?" tanya Aila saat Leon menurunkannya tiba-tiba.
Leon mengangkat bahu, "Senangmu adalah sedihku sayang," ucapnya cuek.
Aila mencebik, tapi semenit kemudian, gadis itu melenggang dengan riang kearah dapur. Hingga tanpa sadar membuat gelang kakinya berbunyi memecah keheningan kastil.
Leon menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. Siapapun akan setuju, jika mainannya memang sangat lucu.
Saat tengah asyik bersenandung, Aila tiba-tiba menghentikan langkah. Gadis itu terlihat membungkuk mengambil sesuatu di bawah kakinya.
Leon terlihat mengernyit heran melihat tingkah istrinya.
"Ada apa?" tanya Leon penasaran.
Aila menoleh kearah suaminya, "Lihat tuan, aku menemukan koin!" ucapnya dengan wajah gembira. Persis seperti seorang anak kecil yang mendapat hadiah dalam kemasan makanan ringan.
Leon mengamati koin di atas telapak tangan istrinya.
"Lalu?" tanya Leon tidak mengerti, kenapa istrinya bisa sesenang itu hanya dengan menemukan koin usang?
"Tuan tidak tau? jika kita menemukan koin, menggenggamnya lalu berdoa, doa kita akan terkabul.." jawab Aila antusias.
"Dan kau percaya?"
Aila mengangguk cepat.
Leon menggelengkan kepalanya, merasa konyol.
Aila tidak peduli dengan sikap suaminya yang seperti sedang mengejeknya. Gadis itu segera menangkupkan tangan, lalu memejamkan mata dan mulai merapalkan doa.
"Astaga!" gumam Leon tidak percaya.
Setelah selesai gadis itu kembali melenggang dengan wajah penuh kebahagian.
Lagi-lagi, Leon menggelengkan kepalanya. Dirinya pasti sudah tidak waras, karena memiliki istri seaneh Aila.
Aila memasak nasi goreng dengan senyuman yang tidak berhenti terkembang dari bibirnya, membuat Leon heran. Mainannya itu selalu bisa membuat dunia seperti miliknya sendiri.
"Apa yang membuatmu sesenang itu?" tanya Leon ketika Aila menyodorkan sepiring nasi goreng kearahnya.
Aila tidak menjawab dan hanya memamerkan senyumnya.
"Jangan bilang karena menemukan koin?" tebak Leon.
Aila mengangguk, "Anda benar tuan," jawab Aila jujur.
Asataga!
Leon langsung memakan nasi gorengnya tanpa bicara lagi atau dirinya juga ikut tidak waras.
Aila memainkan koin diatas meja dengan gembira. Ia benar-benar seperti seseorang yang tengah memenangkan sebuah undian. Yakin!
"Apa isi doamu?" tanya Leon. Entah kenapa ia penasaran juga dengan isi doa mainannya.
"Itu rahasia, tuan.." ucapnya tanpa mengalihkan perhatian dari koin usangnya.
Leon mendengus, namun sedetik kemudian pria itu tersenyum jahil.
"Jika kau tidak mau memberi tau, aku akan pergi ke jepang seminggu kedepan," sahut Leon mengancam.
Aila diam terlihat berpikir sejenak, "Doaku tidak akan terkabul, jika aku memberitahumu tuan.." ucap Aila.
Leon memutar bola matanya, ia tidak menyangka Aila benar-benar percaya akan hal itu.
"Beritahu atau ku tinggal!" Leon mulai kesal juga. Atau mungkin malah semakin penasaran? entahlah..
Aila menghela napas berat, seolah sedang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak disuksinya.
"Baiklah, akan ku beri tau, aku berdoa tiga hal tuan," ucap Aila terpaksa.
"Apa yang pertama?" tanya Leon.
"Yang pertama, kesehatan anda."
"Yang kedua?"
"Rezeki anda,"
Leon menjeda sesaat, ia memicingkan mata menatap mainannya.
"Lalu apa yang ketiga?"
"Kebahagianmu tuan," ucap Aila jujur dan terlihat tenang saat mengucapkannya.
Leon meletakkan sendoknya, lalu melipat tangan kemudian menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.
"Apa kau sedang menjilat padaku?" tanya Leon.
Aila menautkan kedua alis, "Kenapa aku harus menjilat padamu tuan?" tanya Aila tidak mengerti.
"Doamu...semua untukku, lalu bagaimana denganmu?"
"Ah itu, Aku sudah mendapatkan semuanya darimu tuan, apa lagi yang harus ku minta pada Tuhan?" ucap Aila dengan santai. Gadis itu masih terlihat asyik memainkan koin miliknya.
Leon diam. Menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bolehkah, jika ia berterimakasih pada tuhan untuk kali ini? terimakasih, Karena Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat kecil untuk menjaga dirinya.
Leon bangkit dari duduknya meninggalkan ruang makan tanpa mengucap sepatah katapun. Entah kenapa ia tidak lagi selera. Terkadang ia hanya merasa tidak pantas mendapat seorang istri sebaik Aila.
"Nasi goreng anda belum habis, tuan!" teriak Aila yang melihat Leon pergi begitu saja meninggalkan nasi gorengnya.
Leon tidak menjawab teriakan Aila, pria itu tetasp melanjutkan langkah.
"Apa yang terjadi padanya? apa tidak enak?" gumam Aila.
Gadis itu kemudian, mencicipi nasi goreng sisa suaminya.
"Tidak ada masalah.." gumamnya lagi.
Alih-alih penasaran karena kepergian suaminya yang tiba-tiba, gadis itu malah menghabiskan nasi goreng sisa suaminya dengan lahap.
Bersambung...