BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Selamat Tinggal Liburan Musim Panas


Pesawat lepas landas dari bandara internasional Finlandia menuju ke Kota B-One.


Sepanjang perjalanan menuju ke Kota B-One didalam pesawat.


Ivander Liam tidak henti-hentinya mencurahkan perhatiannya kepada Bo Li dengan selalu memeluknya.


Bo Li tersenyum senang ketika Ivander Liam memperhatikan dirinya.


Sesekali perempuan cantik itu menyuapi Ivander Liam dengan makanan yang tersaji di dalam pesawat.


''Apa kamu suka makanan ini ?'', tanya Bo Li.


''Jujur aku katakan kepadamu ! Bahwa rasa makanan ini tidak seenak dirimu, sayang !'', sahut Ivander Liam.


''Apa yang sedang kamu bicarakan itu ?'', kata Bo Li.


''Dirimu..., karena bagiku di dunia ini, kamu adalah makanan kegemaranku yang paling aku sukai !'', sahut Ivander Liam.


''Apakah aku selezat itu ?'', ucap Bo Li.


''Tentu saja, bahkan kelezatan dirimu tidak ada tandingannya dengan makanan termewah sekalipun yang tersedia di muka bumi ini, sayang !'', bisik lembut Ivander Liam.


''Kamu pandai merayuku..., tapi sayangnya kita tidak bisa melakukannya di dalam pesawat, bukan ?'', kata Bo Li.


Bo Li mencoba menggoda suaminya yang terus menerus memperhatikan dirinya.


''Sepertinya yang jago merayu gombal itu, kamu sekarang !'', ucap Ivander Liam.


''Aku ?'', sahut Bo Li seraya menunjuk kepada dirinya sendiri. ''Bagaimana kamu bisa mengatakan hal demikian ?'', sambungnya.


''Bukankah itu kenyataannya ?'', timpal Ivander Liam.


''Astaga !?'', sahut Bo Li. ''Aku tidak percaya kamu mampu mengatakannya !'', sambungnya dengan kedua mata terbelalak lebar.


''Apakah tawaran untuk melakukan hal itu masih berlaku sekarang ?'', tanya Ivander Liam.


''Apa ?'', sahut Bo Li.


Bo Li berpura-pura tidak mengerti maksud dari ucapan Ivander Liam. Dan hanya menjawabnya asal-asalan.


''Tadi kamu mengajak ku untuk melakukan hal itu... Apakah aku salah dengar tadi ?'', ucap Ivander Liam.


''Mungkin saja kamu salah mendengarnya, aku tidak mengatakan apa-apa, sungguh !'', sahut Bo Li.


Bo Li lantas melirik suaminya kemudian dia berkata pada Ivander Liam.


''Seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan anda dan bukan hanya dengan panggilan kamu lagi...'', kata Bo Li.


''Kenapa ?'', sahut Ivander Liam.


''Karena anda sudah resmi menjadi suamiku bukan hanya sekedar pasangan biasa saja atau bukan pasangan yang bertunangan lagi... Kita benar-benar telah menjadi pasangan suami istri...'', kata Bo Li.


''Dan kamu paham itu, bukan !?'', jawab Ivander Liam meringis.


''Aku sangat paham... Dan aku baru menyadarinya sekarang...'', sahut Bo Li seraya menundukkan kepalanya.


''Dan... Apakah tawaran itu masih berlaku sekarang ? Karena aku sudah menginginkannya lagi untuk melakukannya...'', ucap Ivander Liam.


''Ah, iya !?'', sahut Bo Li.


Bo Li langsung menolehkan kepalanya ke arah Ivander Liam dengan terkejut.


Bersamaan itu Ivander Liam mengangkat tubuh Bo Li ke arah atas tepat berada di pangkuannya.


''Aku sangat menginginkan mu...'', bisik lembut Ivander Liam di telinga Bo Li.


Bo Li hanya tersipu malu saat dirinya berada di atas pangkuan pria tampan itu.


''Dan aku sangat mencintaimu..., melebihi apapun yang ada di dunia ini, Bo Li...'', lanjutnya.


Perlahan-lahan dilepaskannya blazer yang dikenakan oleh Bo Li seraya meletakkannya di atas bahu kursi penumpang.


Mendadak tubuh Bo Li bergetar kencang saat Ivander Liam mengusap lembut tubuhnya yang masih mengenakan setelan kemeja serta rok panjang berwarna hijau tosca.


Pria berwajah tampan itu langsung menarik wajah Bo Li seraya memandanginya lama tanpa berkedip.


Sorot mata Ivander Liam terlihat sangat teduh saat dia menatap wajah Bo Li yang semburat memerah.


''Kamu adalah bagian dari tubuh ini... Dan tanpa mu aku sulit untuk bernafas bahkan aku tidak mampu membayangkan bagaimana aku bisa bernyawa jika aku tidak bisa melihat dirimu lagi...'', ucap Ivander Liam.


''Hmmm...'', gumam Bo Li tersentak pelan.


Ketika Ivander Liam mulai mencium mesra bibir indahnya yang merekah merah.


Keduanya saling berciuman mesra di dalam ruangan khusus yang hanya ada mereka berdua di ruangan pesawat itu. Karena penumpang yang lainnya berada di ruangan terpisah dari mereka.


Ivander Liam sengaja memesan ruangan khusus pesawat itu untuk mereka saat menempuh perjalanan menuju ke Kota B-One dari Finlandia.


''Aku mencintai anda dalam segenap jiwa ini...'', bisik Bo Li diantara ******* ciuman mereka.


''Aku mencintaimu Ivander Liam...'', bisik Bo Li.


Ivander Liam memburu Bo Li dengan ciuman bertubi-tubi yang membara hingga perempuan cantik itu tidak mampu menahan serangan ciuman dari Ivander Liam kepada dirinya.


Terdengar suara kecupan-kecupan dari kedua bibir mereka yang saling bertautan mesra.


Bo Li menyandarkan kepalanya ke bahu Ivander Liam dan membiarkan pria tampan itu merajalela di tubuhnya.


Serangan ciuman serta sentuhan lembut yang dilakukan oleh Ivander Liam pada dirinya terasa sangat panas sehingga dia tidak mampu menahannya.


Bo Li mengejang berkali-kali tanpa mampu melawannya. Dia tidak mampu lagi menahan luapan emosi dalam hatinya yang penuh luapan cinta.


Satu jam kemudian...


Terlihat keduanya saling berpandangan mesra dan duduk bersandar di kursi penumpang pesawat dengan peluh keringat yang membasahi keduanya.


Masih segar keringat mengalir di tubuh Bo Li yang masih mengenakan setelan kemeja nya sedangkan Ivander Liam bertelanjang dada dengan nafas tersengal-sengal.


Berulangkali Ivander Liam menarik nafas panjangnya kemudian menoleh ke arah Bo Li yang berada di dalam pelukannya.


''Tempat ini sangat sempit sekali untuk kita bercinta, tepatnya ruangan pesawat ini tidak cocok untuk melakukannya'', kata Ivander Liam.


''Apa rencana anda ?'', tanya Bo Li.


''Mungkin aku akan memilih pesawat jet pribadi milikku ketika kita melakukan perjalanan panjang melalui jalur udara'', sahut Ivander Liam.


''Bukankah anda tidak suka itu ?'', kata Bo Li.


''Tidak ! Aku selalu menyukai apapun jika berkenaan dengan mu, sayang...'', sahut Ivander Liam.


''Apakah ada rencana untuk melakukan kembali perjalanan lewat udara ?'', tanya Bo Li.


''Tentu saja...'', sahut Ivander Liam.


''Benarkah ? Kemana ?'', tanya Bo Li.


Diusapnya dada yang terbuka polos milik suaminya saat Bo Li bersandar.


''Melakukan perjalanan bulan madu setelah acara pernikahan kita digelar di Kota B-One nanti sekembalinya kita dari Finlandia kesana, sayang'', sahut Ivander Liam.


''Bukankah kita sekarang menuju ke Kota B-One ?'', tanya Bo Li.


''Iyaa..., tapi aku ingin turun di sebuah negara yang lain...'', sahut Ivander Liam.


''Sekarang ?'', tanya Bo Li terkejut kaget.


''Hmmm...'', gumamnya pelan.


Didekapnya tubuh Bo Li erat-erat saat mereka duduk di dalam ruangan khusus pesawat.


''Kemana kita akan mendarat setelah ini ?'', tanya Ivander Liam.


''Turki...'', sahut Ivander Liam.


''Apa ? Turki ?'', ucap Bo Li.


Dipandanginya wajah suaminya dengan pandangan mata tidak percaya lalu tersenyum senang.


''Sepertinya aku harus mengucapkan selamat tinggal pada musim panas...'', kata Bo Li.


''Hmmm..., iya...'', sahut Ivander Liam.


''Aku sangat mencintaimu Ivander Liam'', bisik lembut Bo Li di telinga suaminya.


Dipeluknya tubuh Ivander Liam lalu direbahkan nya kepala Bo Li di bahu pria tampan itu.


''Kapan anda mengubah jadwal penerbangan kita ?'', tanya Bo Li.


''Baru saja...'', sahut Ivander Liam.


Bo Li mengangkat wajahnya lalu menatap lurus dengan ekspresi wajah serius.


''Baru saja ?'', kata Bo Li.


''Iya, aku baru mengubah rencana perjalanan kita ke Kota B-One dan berencana singgah di Turki untuk beberapa hari'', sahut Ivander Liam.


''Aku tidak percaya itu...'', ucap Bo Li.


''Mulai sekarang kamu ucapkan selamat tinggal pada musim panas... Dan katakan selamat datang liburan musim gugur !'', bisik Ivander Liam.


Pria tampan itu tersenyum lembut kepada Bo Li yang sedari tadi tidak berhenti memandangi wajahnya.


Dibalasnya senyuman Ivander Liam seraya berucap.


''Aku mencintai mu dengan seluruh jiwaku..., Ivander Liam...''


TAMAT