BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Penyebab Munculnya Murdhuacha


Bo Li melangkah maju dengan sikap siaga saat pria yang menyamar menjadi tunangannya itu berdiri untuk bersiap-siap menyerangnya lagi.


Dia masih tidak mempercayai yang ia lihat bahwa tunangannya itu adalah sesosok peri bernama Murdhuacha.


"Bagaimana ia bisa mengejarku, Dryada ? Apa yang sedang ia incar dariku ?", tanya Bo Li.


"Munculnya Murdhuacha di akibatkan ia mencium bau peri di sekitarmu, Bo Li, hal itulah yang menyebabkan ia mendekatimu dan berusaha mengganggu pikiranmu", ucap Peri Dryada.


"Bukankah aku tidak pernah bersinggungan ataupun bertemu dengannya !? Bagaimana ia tahu disekitarku ada seorang peri ?", tanya Bo Li keheranan.


"Penciuman seorang peri landak lebih tajam daripada peri lainnya dan ia juga memiliki indera tajam untuk mendeteksi keberadaan musuhnya dari jarak yang jauh bermil-mil dari kita", jawab Peri Dryada.


"Tetapi kenapa ia menyerangku ? Lalu kenapa ia juga menyamar sebagai Ivander Liam ?", tanya Bo Li.


"Rupanya ada sesosok iblis yang tengah mengendalikan peri-peri landak itu, tapi aku tidak tahu apakah itu, karena aku tidak melihat dari radarku", kata Peri Dryada.


"Apakah kemampuan dari Peri Murdhuacha adalah menyamar ?", tanya Bo Li.


"Tidak hanya menyamar, mereka mampu menyesatkan manusia dan mengganggu manusia yang menjadi target buruannya", kata Peri Dryada.


"Ini sangat berbahaya untuk kita peri, kita harus segera pergi dari sini dan menghindarinya saja, aku tidak ingin berurusan dengan yang bukan urusanku", kata Bo Li.


"Baiklah, aku juga merasa demikian karena ini hanya gangguan kecil yang tidak ada urusannya dengan kita", kata Peri Dryada.


"Mari kita pergi dari tempat ini dan segera kembali ke rumah, aku tidak ingin tunanganku mencariku dan menanyakannya kepergianku lagi", kata Bo Li bersiap-siap untuk pergi.


"Iya, aku mengerti, ini hanya akan membuang waktu kita menjadi sia-sia, genggam tanganku Bo Li !", kata Peri Dryada.


"Iya...", jawab Bo Li.


Tiba-tiba pria yang menyamar menjadi Ivander Liam melompat kearah mereka sambil mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat.


Bo Li terpaksa melawan pria itu dan mulai berkonsentrasi penuh untuk mengubah dirinya menjadi ungu dan tembus pandang.


"Terimalah seranganku gadis sialan !!!", teriak pria itu yang merupakan peri landak bernama Murdhuacha.


"Tidak semudah itu kamu mengalahkanku karena kamu harus lebih bekerja keras untuk membuatku kalah darimu", kata Bo Li tersenyum


"Jangan senang dulu, aku tidak akan membiarkannya kamu menang dariku !", teriak pria berambut pirang itu lalu mengejar Bo Li.


"Aku katakan tidak akan mudah untuk mengalahkanku", kata Bo Li berlarian di sepanjang dinding-dinding ruangan rumah.


"Dasar perempuan sombong !", teriak pria itu marah.


Mereka terlihat saling berkejaran diatas dinding-dinding dan pria itu tampak sangat penuh emosi memburu Bo Li dan berusaha mati-matian membunuhnya.


Bo Li menoleh kearah pria yang merupakan samaran dari Peri Murdhuacha yang sengaja menyamar untuk mengelabui penglihatan Bo Li.


Untungnya, ia menyadari jika pria itu bukanlah Ivander Liam yang asli melainkan jelmaan sesosok Peri Murdhuacha.


"Aish..., dia benar-benar menyebalkan sekali, aku harus menghajarnya !", kata Bo Li mulai kesal dan berubah sepenuhnya menjadi makhluk berwarna ungu serta tembus pandang.


"Pergilah ke neraka !!!", teriak pria itu sangat kerasnya.


"Kaulah yang pergi ke neraka !", jawab Bo Li.


Dia menghadang pedang itu dengan menangkapnya, kedua tangan Bo Li memegang pedang berukuran besar itu.


Cahaya berwarna ungu memancar berkilauan dari dalam tubuh Bo Li kemudian membuat tubuh pria itu terlempar jauh dari Bo Li.


"BRUUUK...!!!", suara tubuh terpental jatuh ke bawah dan menimbulkan suara berdebum yang keras.


Pria yang menyamar menjadi Ivander Liam perlahan memudar dan menghilang dari pandangan Bo Li.


Tubuh pria itu berubah menjadi peri landak yang berputar-putar kemudian mengurai lenyap pergi.


***


Bo Li hanya berdiri terdiam seraya memandangi sekitarnya yang berubah perlahan-lahan kembali seperti semula.


Dia melihat ruangan itu berubah menjadi halaman luas di rumah Ivander Liam, halaman dengan taman air mancur yang tidak pernah berhenti.


"Apakah kita telah kembali pulang ke rumah, peri ?", tanya Bo Li mulai tenang.


"Aku rasa demikian Bo Li karena aku tidak merasakan lagi keberadaan peri itu lagi, karena radarku tidak mendeteksinya lagi", kata Peri Dryada.


"Hmmm..., syukurlah ! Aku sedikit lega, ini sangat mengkhawatirkan sekali karena dunia gelap telah mendeteksi keberadaanku", kata Bo Li.


"Dunia gelap !?", tanya Peri Dryada kebingungan.


"Hufh !? Maaf, karena telah menyembunyikan sebuah rahasia darimu, peri !?", sahut Bo Li menghela nafas panjang.


"Rahasia apakah itu ?", tanya peri daun hijau kecil itu.


"Aku adalah seorang puteri raja dari Kerajaan Kuota...", kata Bo Li seraya menengok kearah peri kecil itu.


"Benar sekali, aku rasa makhluk-makhluk pengganggu itu tengah memburuku dan mengetahui jika aku adalah seorang puteri raja", kata Bo Li lalu tersenyum simpul.


"Ya Tuhanku..., ini sungguh mengejutkan sekali, Bo Li, eh, maksudku Puteri Bo Li !?", kata peri daun hijau kecil itu seraya menepuk kedua pipinya.


"Tidak usah memanggilku seformal itu, panggil nama saja seperti biasanya karena itu terasa lebih akrab didengar oleh telingaku", kata Bo Li lalu berubah kembali dari makhluk berwarna ungu menjadi manusia.


"B--bagaimana bisa aku berkata tidak sopan seperti itu ? Itu tidak benar, maaf akan kelancanganku padamu, bisakah kamu memaafkannya ?", kata Peri Dryada gelagapan.


"Baiklah, aku akan memaafkanmu tetapi aku ingin kamu memanggilku seperti biasanya, dengan panggilan nama saja, Bo Li !", kata Bo Li.


Dia berjalan kearah bangku taman yang ada di halaman rumah kemudian duduk dibangku itu, diam memandang kearah taman air mancur.


Bersandar dengan santai dan duduk bergeming, ia tidak menyangka akan mengatakan identitas tersembunyinya kepada peri editornya.


"Bolehkah aku bertanya padamu ?", kata Peri Dryada terbang rendah lalu duduk disamping Bo Li.


"Apakah itu ? Jika pertanyaan yang kamu ajukan masih dalam batas wajar dan aku bisa menjawabnya sesuai kemampuanku, kamu boleh bertanya apa saja padaku ?", kata Bo Li.


"Bagaimana bisa kamu berada di tempat ini, bukannya di sebuah istana layaknya seorang puteri raja ?", tanya Peri Dryada.


"Mmm..., ceritanya sangat panjang..., aku takut kamu akan bosan mendengarnya !?", kata Bo Li.


"Tidak, tidak, aku tidak akan merasa bosan jika harus mendengarkan ceritamu itu, bukankah aku adalah sahabatmu sekarang dan juga tim editormu !?", kata Peri Dryada.


"Iyaah..., kamu benar, tapi..., ceritaku tidak menarik untuk didengarkan atau diceritakan pada siapapun...", jawab Bo Li.


"Apakah itu hal yang sangat menyedihkan ?", kata Peri Dryada.


Pertanyaan peri kecil daun hijau itu membuat Bo Li tersentak kaget karena ia tidak menyangka jika peri itu dapat menebak kisah hidupnya sebelum Bo Li mengatakannya.


Bo Li menatap teduh kearah peri Dryada yang duduk disampingnya, tubuh kecil peri itu mampu meluluhkan hati Bo Li dan ia mulai menerima seseorang mengetahui identitas tersembunyinya.


Dia mulai membuka diri kepada orang lain meski itu adalah sesosok peri kecil dari hutan hijau yang lebat, ia berusaha untuk mempercayai orang lain selain dirinya sendiri.


***


Bo Li kemudian menceritakan semua kisahnya yang menyedihkan itu, mulai dari cerita di usia ia masih sepuluh tahun.


Bagaimana pamannya yang bernama Elmar mengahancurkan kehidupan keluarganya dan membuag seluruh anggota keluarganya mati terbunuh di tangan Elmar dan Abiyyu yang kejam.


"Itu sangat kejam sekali, mereka juga tidak merasa malu telah melawan seorang anak kecil yang berusia sepuluh tahun, apa yang ada di benak iblis itu !?", kata Peri Dryada geram.


"Alasannya kamu sendiri telah mengetahuinya bukan, hal yang memicu kematian seluruh keluargaku dan tega menghabisiku tanpa belas kasihan...", kata Bo Li dengan tatapan menerawang jauh.


"Bukankah semua sudah melewati sidang pengadilan dan telah menjadi keputusan hukum yang adil dan benar !?", kata Peri Dryada.


"Hukum tak selamanya dapat menyelesaikan sebuah masalah bahkan menciptakan kejahatan lainnya, aku tidak mengerti sebenarnya dengannya, apakah ia memang menaruh dendam ataukah ia memang menginginkan tahta ?", kata Bo Li.


"Apakah munculnya Peri Murdhuacha berkaitan dengan peristiwa yang terjadi padamu ataukah karena adanya aku di sisimu ?", kata Peri Dryada.


"Aku tidak tahu, apakah peri landak itu memang murni terpancing dengan aroma tubuhmu yang melekat di tubuhku sehingga mereka mencariku ataukah itu semua berkaitan dengan iblis itu", kata Bo Li.


Dia masih memandang dengan tatapan sendu kala menceritakan peristiwa yang sangat menyakitkan itu.


Bo Li kembali mengingat kejadian demi kejadian yang memilukan itu dalam ingatannya, masih membekas dengan jelas peristiwa yang sudah lama terlupakan dan terhapus dari ingatannya.


"Aku juga tidak tahu, peri...", kata Bo Li sekali lagi.


"Apakah sistem dan buku harian itu berkaitan dengan masa lalumu yang kelam itu ? Apakah sistem itu memang dirancang untuk sebuah misi ?", tanya Peri Dryada.


"Buku harian itu adalah milik ibuku yang ia hadiahkan saat ulang tahunku yang ke dua puluh lima tahun dengan syarat aku telah bertunangan", kata Bo Li.


"Apakah tujuanmu ?", tanya Peri Dryada.


"Aku tidak tahu apa tujuan hidupku sebenarnya, apakah tujuanku memang untuk membalas dendam dan mengambil kembali kerajaanku dari tangan Iblis Elmar...", kata Bo Li dengan tatapan kosongnya.


"Ataukah tujuan hidupku yang sebenarnya adalah bahagia bersama dengan pria itu, tunanganku, dan menikah lalu tinggal selamanya disisinya ataukah aku memang tidak mempunyai tujuan hidup...!?", ucap Bo Li dalam hati kecilnya sambil menatap kearah langit-langit yang berwarna biru menenangkan hati.


Langit yang selalu cerah dan menyimpan sejuta misteri kehidupan, langit yang tidak pernah menunjukkan pemandangan hidup manusia yang penuh riak-riak kecil.


Hanya menunjukkan warna biru dan hitam, disaat hari berganti hari, waktu berganti pagi dan malam, langit tidak pernah sedikitpun berubah seakan tidak memperdulikan kehidupan manusia di bawahnya.


Tingginya langit tidak perlu menunjukkan seberapa tingginya dirimu sejatinya karena pada dasarnya semua sama di mata Tuhan.


Bo Li lalu menoleh kearah peri kecil itu dan tersenyum simpul pada peri itu, ia menjentikkan jarinya kearah peri yang duduk disampingnya.


"Tujuanku ya..., aku masih belum mengetahuinya dengan pasti tapi sekarang ini prioritas utamaku adalah menjaga dirimu agar tidak menjadi santapan iblis itu", kata Bo Li tertawa pelan dan menggoda peri kecil daun hijau itu.


"Bo Li..., aku bertanya dengan serius !?", kata peri kecil itu.


"Baiklah, aku paham itu, tapi memang itulah tujuanku saat ini, lalu bagaimana lagi ?", kata Bo Li tertawa.