BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
KILATAN MATA MERAH



Bo Li berjalan dengan tangan menggenggam pistol revolver yang dia arahkan kepada peri landak iblis. Dan dia menarik pelatuk pistolnya lalu melesakkan tembakan beruntun kepada para peri landak iblis yang tersisa.


DOR... DOR... DOR... DOR...


Beberapa tembakan dari Bo Li mampu mengenai para landak peri iblis yang menyerang dirinya sedangkan sebagian menghindari tembakan Bo Li dengan bergelantungan di atas atap ruangan aula.


DOR... DOR... DOR... DOR...


"Menyerahlah ! Dan katakan siapa tuan kalian ! Aku tidak ingin banyak korban berjatuhan dari kalian !", teriak Bo Li lantang.


"Hog... Hog... Hog... ! Sayang sekali karena kami tidak akan mengatakannya !", sahut peri landak iblis yang tinggal sedikit jumlahnya yang ada di ruangan aula hotel bintang lima.


"Kalian ternyata keras kepala dan tidak sayang kepada nyawa kalian !?", ucap Bo Li.


"Hog... Hog... Hog...", suara dari peri landak iblis menjawab ucapan dari Bo Li.


Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menakutkan di seluruh ruangan aula hotel bintang lima.


"Ehk !? Apa itu !?", gumam Bo Li seraya menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara tawa itu dan dengan cepat Bo Li menembakkan pistol revolver miliknya kepada peri landak iblis.


DOR... DOR... DOR...


Lampu di aula hotel mendadak padam ketika Bo Li menembakkan pistol revolvernya ke arah para peri landak yang berubah menjadi iblis jahat itu sehingga membuat perempuan cantik yang berubah menjadi ungu itu terkejut karena suasana di ruangan menjadi gelap dan suram.


"Ehk !? Kenapa lampu padam !?", ucap Bo Li.


Pandangan Bo Li sedikit terganggu karena ruangan aula menjadi gelap gulita dan membuat gerak-gerik Bo Li terhalang untuk menembak.


Bo Li melihat kilatan merah dari atas atap ruangan aula.


Hampir terlihat banyak kilatan merah dari atas sana yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya.


"Kilatan merah itu kenapa semakin banyak jumlahnya ? Apa yang terjadi ?", pikir Bo Li.


Terdengar riuh rendah dari atas atap ruangan yang memenuhi aula, sangat berisik sekali sehingga mampu mempengaruhi konsentrasi Bo Li.


Diantara kilatan merah ada yang bergerak turun ke arah Bo Li yang bermaksud menyerang dirinya tetapi dengan sigap perempuan cantik berwarna ungu mundur menghindarinya.


Dia langsung menembakkan pistol revolver miliknya ke arah kilatan merah itu.


DOR... DOR... DOR... DOR...


Terdengar erangan dari arah kilatan merah bersamaan suara tembakan yang menggema di ruangan aula hotel bintang lima.


"AAARGHHH..."


Disusul kilatan merah yang lainnya mulai turun berhamburan menyerang Bo Li bersama-sama setelah mendengar erangan dari salah satu rekannya yang terkena tembakan Bo Li.


Tampaknya mereka tidak terima rekannya mati di tangan perempuan cantik itu sehingga dengan brutalnya mereka menyerang Bo Li bertubi-tubi dari segala arah.


WOSHHH... WOSHHHH... WOSHHHHH...


Kilatan yang menyerupai mata berwarna merah mengarahkan cakar-cakar tajam mereka kepada Bo Li.


Untungnya Bo Li mampu menghindari serangan dari mereka dengan cepat dan tanggap.


Bo Li melesakkan tembakannya sekali lagi secara beruntun ke arah kilatan mata merah yang jumlahnya sangat banyak jika dihitung dengan jari.


DOR... DOR... DOR... DOR...


"Aaaaarghhh... Aaaarghh... Aaaaarghhh... !!!"


Suara rintihan dari kilatan mata merah ketika peluru kristal Amethyst mengenai mereka. Dan muncul asap putih mengepul kemudian menghilang dari arah kilatan mata merah saat terkena tembakan.


Rupanya mereka langsung lenyap setelah terkena peluru-peluru kristal Amethyst ungu dari pistol revolver milik Bo Li.


Bo Li berlari ke arah depan lalu berbalik cepat seraya dia menembakkan pistol revolvernya kembali ke arah kilatan-kilatan mata merah yang berterbangan di ruangan aula yang mengejarnya serta menyerang ke arah dirinya.


Dor... Dor... Dor.. Dor...


Sejumlah kilatan merah terkena tembakan darinya dan langsung lenyap bersamaan keluarnya asap putih dari kilatan mata merah.


Ruangan aula yang tadinya gelap mulai dipenuhi asap tebal yang datangnya dari arah kikatan-kilatan mata merah yang hilang setelah mereka terkena tembakan-tembakan dari pistol revolver milik Bo Li.


"Uhk !? Asap putih ini beraroma sangit sekali !? Uhk... Huk.. Uhuk... Huk... !?", kata Bo Li sambil terbatuk.


Jumlah kilatan mata merah tidak terhitung banyaknya, perempuan cantik itu berusaha bertahan di sana dengan sebuah pistol revolver yang ia genggam di tangannya erat.


KLEK...


Saat Bo Li hendak menembak kembali ternyata peluru kristal Amethyst di pistol revolvernya habis.


"Aku kehabisan peluru dan harus segera mengisinya lagi tetapi kilatan merah itu tidak akan memberiku kesempatan itu...", kata Bo Li.


Bo Li mengamati ruangan aula dari balik meja makan yang terguling ke lantai.


Dia sengaja melakukan hal itu yaitu dengan bersembunyi di meja makan agar dirinya terlindungi sehingga gerakannya tidak terpantau dengan mudah oleh kilatan mata merah yang bergelantungan di atas atap ruangan aula hotel.


Bo Li lalu melirik ke arah tas miliknya yang dia selempangkan di pundaknya.


Berpikir cepat kemudian membuka tas tersebut dan mengeluarkan peluru-peluru kristal Amethyst yang berada di magazen boks eksternal trasparan berwarna ungu dan disertai sabuk amunisi dari dalam tas ajaibnya.


Bo Li memasang sabuk amunisi ke badannya dengan cepat dan mulai memasukkan peluru-peluru kristal Amethyst ungu ke dalam tabung berputar pistol revolvernya, mengisinya kemudian mengarahkannya kembali ke kilatan mata merah yang ada di atas ruangan aula.


Bersiap menembakkan pistol revolver miliknya kepada makhluk aneh yang menyeramkan itu.


Dia menunggu kilatan-kilatan mata merah itu bergerak dan menyerangnya tetapi tidak ada reaksi dari mereka yang hanya bergelantungan di atas atap ruangan.


"Hmmm... Kenapa mereka tidak bergerak !? Apakah mereka menyerang karena adanya gerakan di ruangan gelap ini !?", ucap Bo Li heran.


Bo Li lalu berpikir sebentar kemudian melihat sebuah botol minuman di sebelahnya dan dia menemukan sebuah idea untuk menarik perhatian dari kilatan-kilatan mata merah.


Dia mengambil botol tersebut dari atas lantai kemudian melemparkannya ke arah atas.


"Terima ini makhluk aneh !!!", teriak Bo Li keras.


Pada saat botol minuman terlempar ke atas, bersamaan pula dari arah kilatan-kilatan mata merah bergerak melompat turun dan mulai menyerang dengan mengarahkan cakar-cakar tajamnya yang mereka gerakan dengan cepatnya.


GRRR... GRRR... GRRR...


Bo Li langsung menembakkan pistol revolvernya ke arah mereka berulang-ulang kali.


Terdengar suara tembakan yang menggema serta memekakkan telinga di dalam ruangan aula hotel.


DOR... DOR... DOR... DOR...


Tembakkan itu langsung mengenai kilatan mata merah yang berjumlah sangat banyak dan turun secara asal serta acak setelah mendengar suara botol minuman jatuh menggelinding ke atas permukaan lantai aula.


Kembali terdengar lengkingan yang sangat keras dari kilatan-kilatan merah ketika terkena tembakan peluru kristal Ametyhst ungu yang di tembakan dari pistol revolver milik Bo Li.


Asap putih terlihat memenuhi ruangan aula hotel pada saat kilatan-kilatan mata merah menghilang lenyap dari pandangan perempuan cantik itu.


"Ini saat yang tepat untuk lari dari ruangan aula ini", ucap Bo Li pada dirinya sendiri.


Bo Li memang menunggu kesempatan ini untuk keluar dari aula hotel sehingga memudahkan dirinya bergerak dan pergi mencari tunangannya.


Perempuan cantik yang telah berubah menjadi berwarna ungu serta mengenakan topeng di wajahnya berlari cepat bagaikan kilat menuju ke arah luar ruangan aula hotel ketika asap putih masih mengepul di udara.


GRRR... GRRR... GRRR...


Kilatan-kilatan merah yang masih tersisa terlihat sangat marah saat melihat Bo Li berhasil kabur dari ruangan aula.


Mereka tidak tinggal diam ketika melihat Bo Li berhasil lari dari kepungan mereka dan terlihat kilatan-kilatan mata merah itu ikut menyusul perempuan cantik yang berlari pergi dengan memburunya secara ganas.


GRRR... GRRR... GRRR...


Suara keras yang keluar dari kilatan-kilatan mata merah memecah keheningan malam di dalam gedung hotel bintang lima yang seluruhnya menjadi sangat gelap serta sunyi.


Bo Li yang telah berubah menjadi berwarna ungu terus berlarian sepanjang koridor hotel, untuk menghindari kejaran makhluk aneh itu Bo Li lalu mengubah dirinya yang ungu menjadi tembus pandang agar para iblis jahat yang berupa kilatan-kilatan mata merah tidak melihat dirinya meskipun mereka mampu mencium aroma tubuhnya yang mengeluarkan bau buah surga yang khas.


Suasana suram serta mengerikan tampak jelas sekali di gedung hotel bintang lima itu, hampir tidak ada suara seorangpun di dalam gedung yang sangat gelap itu terdengar.


"Kemana perginya semua orang di hotel ini ? Apakah mereka menjadi korban keganasan peri landak iblis ataukah sebagian dari mereka yang ada disini berhasil kabur ?", kata Bo Li dalam hatinya.


Bo Li melanjutkan pencariannya di gedung hotel bintang lima untuk mencari Ivander Liam yang turut menghilang setelah kedatangan para peri landak iblis di gedung tempat diadakannya pesta malam.


Dia berjalan dengan langkah hati-hati saat melewati jalan di ruangan gedung hotel bintang lima seraya menggenggam erat pistol revolver miliknya.


"Kemana perginya Ivander Liam ? Kenapa aku tidak dapat menemukannya di hotel ini ?", ucap Bo Li setengah berbisik pelan. "Apakah dia berhasil pergi dari gedung ini ?", sambungnya seraya memperhatikan keadaan jalan di ruangan hotel yang ada di depannya dengan sangat teliti.


Timbul rasa khawatir di hatinya saat dirinya tidak menemukan keberadaan Ivander Liam, tunangannya itu di dalam gedung hotel bintang lima, tempat mereka di undang ke acara pesta.


Bo Li benar-benar tidak melihat pria berambut pirang itu dimana-mana, di setiap ruangan sebelah bahkan sampai di ujung koridor.


Dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pria tampan itu.


"Sepanjang lantai atas ini aku tidak melihat Ivander Liam, haruskah aku turun melewati tangga darurat karena jika naik lift itu tidak mungkin sebab listrik di gedung ini mati", kata Bo Li yang berjalan hati-hati seraya mengisi kembali pistol revolvernya dengan peluru-peluru kristal Amethyst ungu.


Hotel bintang lima yang tadinya gemerlap penuh hiasan lampu itu telah berubah menjadi gelap serta sepi sekali.


Suasana terasa sangat mencekam dirasakan oleh Bo Li saat dia sendirian di dalam hotel di lantai atas tempat aula itu berada. Dan sangat jelas terlihat di gedung megah itu suasana seram, dan nyaris mengerikan keadaannya karena hotel sepi sunyi serta penuh kegelapan.


"Lebih baik aku turun lewat tangga dan memastikan kondisi di hotel ini, mungkin aku dapat menemukan Ivander Liam disana", kata Bo Li sambil bergumam pelan.


Dak... Dak... Dak... Dak...


Terdengar langkah kaki perempuan cantik itu saat menuruni anak-anak tangga yang tersedia di gedung hotel menuju ke arah lantai bawah.


Sebelum dia sampai ke arah bawah, tiba-tiba terlihat gerakan melompat yang menuju ke arah dirinya saat dia berada di anak tangga darurat.


Gerakan itu berasal dari kilatan mata merah yang sedari tadi mengejar Bo Li dan tampaknya mereka menemukan keberadan Bo Li setelah mereka mendengar suara langkah kaki perempuan cantik itu pada saat menuruni anak-anak tangga.


GRRR... GRRR... GRRR...


Kilatan mata merah menyerang Bo Li secara brutal meskipun perempuan cantik itu telah berubah menjadi transparan ternyata kilatan mata merah mampu melihat keberadaan Bo Li lewat mata merah mereka yang mampu tembus pandang, tak ubahnya seperti alat atau mesin X-ray untuk memfoto organ dalam manusia.


Tubuh Bo Li yang transparan mampu teridentifikasi oleh kilatan mata merah dengan sangat cepat dan mereka mengarahkan cakar-cakar tajam kepada Bo Li.


Bo Li yang dirinya di ketahui keberadaannya oleh kilatan mata merah sangat terkejut sekali dan sebelum dia sempat menghindar dan menembakkan pistol revolver miliknya, perempuan cantik itu terhempas ke dinding saat cakar-cakar tajam itu mengibaskan tubuh Bo Li dengan kerasnya.


BRAK...


Tubuh Bo Li membentur dinding yang ada di sekitar tangga darurat dan menyebabkan perempuan cantik itu meringis kesakitan karena goresan cakar tajam yang mengenai dirinya.


"Ughf !?", pekik Bo Li tertahan.


Bo Li lalu berdiri di dinding dengan wajah menahan rasa sakit akibat kibasan dari cakar-cakar tajam yang berasal dari kilatan mata merah saat menyerang dirinya.


Dia menatap tajam ke arah kilatan mata merah yang bergerak kembali ke arah dirinya. Dan terdengar letusan pistol revolver dari tangan perempuan cantik itu.


DOR... DOR... DOR...