
DOR...
DOR...
DOR...
Tembakkan terdengar meletus sebanyak enam kali dari pistol revolver milik perempuan cantik berwarna ungu serta tembus pandang itu sesuai jumlah kilatan mata merah yang menyerang dirinya di anak tangga darurat saat dia hendak mencari tunangannya, yaitu Ivander Liam.
Bo Li yang telah melesakkan tembakan pistol revolver miliknya kepada kilatan mata merah lalu bergerak cepat turun melewati anak-anak tangga darurat yang tersedia di gedung hotel bintang lima itu.
"Grrr... Grrr... Grrr... Aaaarghhh...! Aaaaaarghhh... ! Aaaaarghhh... !"
Suara lengkingan dari kilatan mata merah membahana hingga langit-langit gedung hotel saat peluru-peluru kristal Amethyst ungu mengenai tubuh mereka.
Tembakan maut milik Bo Li mampu memusnahkan kilatan mata merah yang telah menyerangnya dan mampu melukai tubuhnya.
Terdengar langkah kaki turun dari anak tangga tanpa terlihat adanya orang yang berjalan di atas tangga gedung hotel, hanya suara langkah kaki yang menuruni tangga menuju ke arah bawah.
Dak... Dak... Dak...
Tidak ada bayangan maupun sosok yang terlihat di sana dan hanya suara keras langkah kaki saja yang menggema di tangga itu.
Bo Li memang sengaja mengubah tubuhnya berwarna ungu menjadi transparan untuk nengecoh kilatan mata merah tetapi usahanya tidak berhasil karena makhluk aneh itu mampu melihat dirinya yang tembus pandang meski suasana di gedung itu sangat gelap gulita tanpa adanya penerangan lampu di sekitar gedung hotel bintang lima.
Alhasil usahanya ternyata mampu diketahui oleh kilatan-kilatan mata merah yang tengah memburu dirinya karena mencium bau khas buah surga Amethyst yang keluar dari tubuh Bo Li.
"Aku harus segera menemukan Ivander Liam dan membawanya keluar dari gedung hotel ini secepatnya sebelum musuh mengetahui keberadaanku lebih dekat di kota ini", ucap Bo Li yang berlarian turun ke lantai bawah menuju lantai utama.
Dak... Dak... Dak...
Suara langkah kaki Bo Li terdengar menggema pada saat dia menuruni anak-anak tangga gedung dengan tubuh masih transparan serta berwarna ungu.
Suasana dingin dan mencekam terasa dari area bawah tangga serta ditambah gedung yang gelap karena listrik di hotel mati.
Ketika Bo Li sampai di lantai utama hotel bintang lima, bau anyir memenuhi seluruh ruangan lantai utama.
Bau sangit dan terbakar tercium dari arah lantai utama hotel bintang lima, Bo Li berjalan pelan memasuki ruangan di lantai utama itu dengan mengarahkan pistol revolver miliknya.
Masih terlihat kepulan asap menghitam di tempat itu meski tanpa adanya cahaya lampu di ruangan tersebut.
"Aduh !?", pekik Bo Li terkejut.
Perempuan cantik itu tersandung sesuatu yang ada di bawah kakinya sehingga membuatnya terjatuh ke atas permukaan lantai ruangan utama.
Bo Li memicingkan kedua matanya ke arah benda yang menyebabkan dirinya jatuh, berkat keajaiban buah surga Amethyst yang di makannya, Bo Li mampu melihat ke dalam kegelapan.
"A--apa..., apa..., apakah itu ?", ucap Bo Li dengan terbelalak ngeri.
Di dalam penglihatannya, Bo Li melihat seonggok tubuh manusia tergeletak diam dengan wajah mengering.
Tubuh manusia itu berubah kurus kering dan tinggal tulang belulang dengan kedua mata yang cekung dan menghitam.
"Oh Tuhanku !?", pekik Bo Li tertahan dan menutup mulutnya cepat-cepat dengan kedua tangannya.
Bo Li bergerak mundur ke belakang saat dia menjumpai tubuh manusia yang mengering dihadapannya itu dengan menatapnya risau serta tubuh merinding.
Perempuan cantik dengan tubuh berwarna ungu terlihat wajahnya berubah pucat pasi dengan sudut mata terbelalak ketika dia melihat tubuh manusia yang jatuh bergelimpangan hampir di seluruh ruangan lantai utama.
Semua tubuh mereka mengering dengan mata cekung dan menghitam, tidak bergerak dan juga masih bernyawa hanya mereka tidak mampu lagi untuk bangun kembali.
"Tuhan... !!!", pekik Bo Li ketakutan.
Dia tidak mampu bergerak karena kedua kakinya terasa lemas dan tubuhnya menjadi tidak bertenaga.
Bo Li lalu tersadar cepat dan merangkak pelan di lantai sembari memperhatikan onggokan tubuh manusia yang berubah kering itu, mencari-cari sosok Ivander Liam diantara tubuh manusia yang tergeletak di ruangan utama hotel bintang lima.
Perempuan cantik itu tetap tidak menemukan tunangannya itu disana dan Bo Li hanya mendapati serta melihat onggokan tubuh manusia lainnya yang terbaring tidak bergerak.
"Oh Tuhan... Aku tidak menemukan Ivander Liam disini... Apa yang harus aku lakukan sekarang !?", ucap Bo Li lirih.
Bo Li terus merangkak pelan melewati onggokan tubuh manusia yang berubah kering itu.
Dia terus mencari keberadaan Ivander Liam di ruangan lantai utama hotel tanpa mengenal rasa lelah dan terus bergerak pelan untuk menemukan pria berambut pirang itu.
Tetap Bo Li tidak dapat melihat Ivander Liam disana.
Pada saat dirinya bergerak merangkak mencari tunangannya diantara onggokan tubuh manusia yang mengering, sebuah bayangan hitam bergerak turun ke ruangan lantai utam hotel.
Terdengar suara berisik serta gaduh dari arah bayangan hitam yang bergerak lambat diantara tubuh manusia kering itu.
GRRR... GRRR... GRRR... GRRR...
Bayangan hitam itu menggeram keras lalu bergerak kembali ke arah onggokan tubuh manusia yang telah mengering, sesekali bayangan hitam mengendus-endus ke tubuh manusia di atas lantai.
Berteriak keras kemudian mengangkat tubuh manusia yang mengering itu lalu melahapnya utuh, pemandangan yang sangat menyeramkan saat bayangan hitam itu menelan tubuh manusia.
"A--apa... Dia..., menelan tubuh manusia yang mengering itu... !?", pekik Bo Li gemetaran.
Benak Bo Li langsung dipenuhi gambaran wajah Ivander Liam, tunangannya itu. Dan perempuan cantik itu membayangkan pria tampan itu ditelan oleh bayangan hitam yang ada di hadapannya.
Bo Li tidak dapat menahan air matanya saat dirinya berpikiran buruk mengenai kondisi Ivander Liam meskipun pria tampan itu sering membuatnya jengkel tetapi dalam hati Bo Li dia sangat mengagumi tunangannya itu.
"Oh tidak... Apakah Ivander Liam ikut dilahap habis oleh bayangan hitam itu ? Karena itulah aku tidak dapat menemukan dia di gedung hotel bintang lima ini !?", ucap Bo Li bergetar hebat dan menangis tertahan.
Bo Li tertunduk sedih ketika dirinya membayangkan nasib tunangannya itu yang hilang dari gedung hotel.
Hiks... Hiks... Hiks...
Suara tangisan Bo Li terdengar oleh bayangan hitam sehingga membuatnya mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan lantai utama hotel bintang lima.
GRRR... GRRR... GRRRR... GRRRRR...
"Oh tidak, bayangan hitam yang menyerupai makhluk itu bergerak ke arahku", ucap Bo Li muram.
GRRR... GRRR... GRRR...
Bayangan hitam yang berupa makhluk besar itu melompat diantara onggokan tubuh manusia yang tergeletak di atas lantai ruangan utama.
Perlahan mengawasi seluruh sudut tempat ruang utama hotel dengan kedua matanya yang berwarna kuning membara, telinganya yang lebar terlihat bergerak-gerak mencari arah suara tangisan itu.
BLAAAR !
Sinar kuning mengarah bagaikan kilatan menuju Bo Li yang masih merangkak diantara onggokan tubuh manusia.
BLAAAR !
Bo Li yang menyadari datangnya kilatan sinar kuning ke arahnya langsung melompat melayang seraya menembakkan pistol revolvernya kepada makhluk bayangan hitam yang menggeram marah dengan mengibaskan senjatanya yang mirip bola rantai berukuran sangat besar.
BLAR... BLAR... BLAR...
"Terima ini makhluk jahat !", teriak Bo Li.
DOR... DOR... DOR...
Suara tembakan terdengar lagi dari pistol revolver milik Bo Li.
Salah satu tembakan Bo Li mampu mengenai badan makhluk bayangan hitam itu dan semakin menambah amarah dari makhluk tersebut.
Makhluk bayangan hitam lalu mengibaskan rantai bola di tangannya menahan serangan peluru-peluru kristal Amethyst dari pistol revolver milik Bo Li.
GRRRR... GRRRR... GRRR...
"Dia mampu menahan serangan tembakanku dan menyingkirkan peluru itu dengan sangat cepatnya", ucap Bo Li tersentak kaget.
Bo Li melihat peluru kristal Amethyst miliknya itu langsung berubah menjadi abu saat bersentuhan dengan bola rantai dari makhluk bayangan hitam bermata kuning membara.
Makhluk bayangan hitam memutar rantai bola di tangannya dengan sangat cepat sekali lalu mengarahkan senjatanya itu yang mengeluarkan kilatan sinar kuning ke arah Bo Li bertubi-tubi.
"Sinar kuning itu sangat cepat dan hampir melukai tubuhku", ucap Bo Li.
Bo Li berlari cepat lalu mendekat maju ke arah makhluk bayangan hitam seraya berlari mengelilingi makhluk itu.
Membuat makhluk bayangan hitam berukuran besar itu kebingungan dan panik karena dia tidak dapat membaca gerakan dari Bo Li.
Satu serangan mengarah ke makhluk bayangan hitam, yaitu Bo Li tengah mengarahkan tendangannya secara beruntun dengan sangat keras kepada makhluk tersebut.
DASH... ! DASH... ! DASH... !
Tendangan Bo Li yang tepat sasaran dan berhasil mengenai badan makhluk bayangan hitam itu membuat makhluk yang menyeramkan itu terjatuh berjongkok ke lantai.
Namun, makhluk bayangan hitam mampu berdiri kembali seraya menggeram keras serta marah ketika dirinya terkena tendangan dari Bo Li.
Makhluk tersebut lalu mengarahkan senjatanya secara membabi buta ke seluruh ruangan utama.
"BLAR... BLAR... BLAR..."
Bayangan hitam yang menyerupai makhluk besar itu terus mengayunkan senjatanya yang berupa rantai bola dan mengeluarkan sinar kuning yang mampu menghanguskan benda yang ada di ruangan lantai utama.
"Oh Tuhan ! Aku harus segera menghentikan serangan dari makhluk bayangan hitam itu agar tidak mengenai tubuh manusia yang mengering itu", ucap Bo Li khawatir.
Bo Li mencemaskan onggokan manusia-manusia yang telah mengering itu sebab dia berpikir bahwa kumpulan manusia itu masih bernyawa dan kemungkinan dapat diselamatkan lagi.
Meskipun Bo Li pesimis jika onggokan manusia itu dapat kembali hidup normal seperti sediakala.
BLAR... BLAR... BLAR...
Bo Li terus menghindari serangan dari makhluk bayangan hitam yang berdiri gagah serta menantang di hadapan perempuan cantik itu.
"Bayangan hitam yang berupa makhluk menyeramkan itu sangat kuat sekali meski tadi terkena tembakan peluru kristal Amethyst ungu dari pistol revolver ini, dia masih mampu bertahan", kata Bo Li.
Bo Li mengarahkan kembali pistol revolvernya kepada makhluk bayangan hitam itu lalu menembakkan pelurunya ke arah makhluk yang menyeramkan itu.
Dia melesakkan tembakannya secara berulangkali hingga mengenai badan makhluk bayangan hitam itu.
"Oh tidak, makhluk itu masih bisa bertahan meski aku telah menembak badannya berkali-kali", kata Bo Li.
Makhluk bayangan hitam itu berdiri tegap seraya memegangi badannya yang terkena tembakan peluru kristal Amethyst ungu dari pistol revolver milik Bo Li.
Tampak cairan berwarna oranye keluar dari tubuh makhluk bayangan hitam itu.
Makhluk besar yang sangat seram itu lalu memandangi Bo Li dengan tatapan penuh kemarahan.
GRRR... GRRR... GRRR...
Bayangan hitam itu meraih tubuh manusia yang mengering dari atas lantai ruangan dan hendak melahap tubuh manusia itu ke dalam mulutnya yang terbuka lebar.
"Tidak ! Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya, makhluk jahat dan dekil !", teriak Bo Li kesal.
Bo Li lalu memundurkan badannya ke arah belakang sebentar kemudian dia meloncat tinggi dan terlihat berlarian ke arah makhluk bayangan hitam itu dengan sangat cepatnya.
"Rasakanlah tembakanku ini, makhluk jelek !", teriak Bo Li.
DOR ! DOR ! DOR !
Bo Li melesakkan tembakkannya tepat ke arah mulut makhluk bayangan hitam yang terbuka lebar dan hendak melahap tubuh manusia yang mengering itu.
Dia dengan tangkas serta sigap memasukkan satu per satu peluru kristal Amethyst ungu ke dalam tabung berputar yang terdapat pada pistol revolver miliknya kemudian menembakkan lagi senjata apinya itu ke arah makhluk bayangan hitam.
DOR...
DOR...
DOR...
Tembakan Bo Li mampu merobohkan bayangan hitam berupa makhluk besar itu hingga terjatuh menghantam lantai ruangan utama hotel bintang lima.
Terdengar dentuman hebat dari arah lantai ketika makhluk bayangan hitam itu jatuh tersungkur ke bawah.
BLEM...
Akhirnya Bo Li mampu mengalahkan bayangan hitam berupa makhluk besar itu serta membinasakannya.
Terlihat tubuh makhluk bayangan hitam tersebut perlahan-lahan berubah mengurai seperti asap hitam lalu terbang berhembus serta lenyap dari pandangan Bo Li.
"Hmmm...", gumam Bo Li lirih seraya menatap sendu hembusan asap hitam yang terbang pergi menghilang itu.
Bo Li berdiri mematung saat dia menyaksikan pemandangan mengiris hati yang ada di depannya itu, yang dipenuhi tubuh manusia yang telah mengering di lantai ruangan utama gedung hotel.
Angin berhembus pelan ke arah Bo Li seakan mempermainkan dirinya yang tengah menatap sedih karena perempuan cantik itu tidak mampu menemukan tunangannya, yaitu pria berambut pirang yang bernama Ivander Liam.
Hatinya mendadak pedih dan pandangan matanya mulai kabur karena air mata yang tertahan di pelupuk matanya ketika Bo Li teringat akan pria tampan itu.