BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Apakah dia menyadarinya



Ivander Liam menatap pintu kamar itu tanpa berkedip meski ia tahu jika ada sosok kecil berupa makhluk ajaib yang bercahaya indah sedang terbang dihadapan Bo Li dan dirinya.


Peri kecil bersayap itu tengah mengepakkan kedua sayapnya yang mengeluarkan cahaya kelip-kelip indah.


Dia juga mengeluarkan suara klik...klik...klik...terus menerus setiap dia bergerak dan makhluk kecil nan cantik itu tengah memandangi Bo Li, tunangannya.


Peri kecil dengan gaun yang seluruhnya terbuat dari daun berwarna hijau itu sepertinya sedang berbicara pada Bo Li dan keduanya terlihat berkomunikasi meski Ivander Liam tidak mengerti pembicaraan peri kecil itu tapi ia dapat melihat mereka saling memberi isyarat.


"Astaga ! Apalagi ini ? Kenapa semuanya begitu ajaib sekali semenjak Bo Li datang ke rumah ini ?", kata Ivander Liam dalam hatinya bingung. "Tidakkah semuanya tampak lebih normal seperti biasanya !? Bo Li yang terbang dari ketinggian dan mendarat tepat dihadapanku ? Ditambah hadirnya makhluk kecil ajaib yang berkelip-kelip dan sedang terbang ? Sepertinya Tuhan memonopoli seluruh hidupku ini sekarang ?", sambungnya dalam hati tanpa bersuara.


Ivander Liam lantas menendang pintu kamar tidur didepannya dan bergegas masuk melewati peri hijau daun kecil yang tengah terbang pelan disamping mereka.


Dia hanya melirik sekilas kearah peri kecil itu tanpa berkata sepatah katapun dan ia berusaha untuk tetap tenang agar peri kecil itu tidak menyadari jika dirinya dapat melihatnya.


Ivander Liam mempercepat langkahnya kedalam kamar tidur Bo Li lalu meletakkan perempuan bergaun putih panjang serta penutup kepala di atas ranjang besar tersebut.


"Hmm...!? Jika seperti ini maka aku tidak akan merasa ragu lagi kamu tidak akan pergi menghilang lagi dari kamar ini ! Dan kamu perlu tahu jika aku telah memasang kamera pengawas didalam kamar ini !", kata Ivander Liam tegas.


"Apa ? Ini sangat berlebihan Ivander Liam ! Dan aku rasa tidak sopan menurutku !", kata Bo Li terperanjat kaget lalu berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


Ivander Liam berusaha menahan Bo Li untuk tetap berada di atas ranjang tidurnya dengan kedua tangannya.


Dia lalu menatap tajam kearah Bo Li tanpa bergerak sedikitpun dari depan Bo Li yang tampak terkejut dengan sikap Ivander Liam kepadanya.


"Dengarkan ! Jangan pernah membantah ucapan ku lagi ! Kamu paham !", kata Ivander Liam berkuasa.


"T--tapi....", sahut Bo Li gugup.


Ivander Liam membungkam mulut Bo Li dengan tatapan tajam serta dingin seraya berbisik pelan kepada Bo Li.


"Ssssttt...! Jangan membantah lagi ! Diam ! Dan menurutlah dengan perkataan ku ! Segeralah tidur Bo Li !", kata Ivander Liam.


"Mmmm !?", gumam Bo Li yang berusaha berbicara tapi ia tertahan dengan tatapan tajam mata Ivander Liam padanya.


Bo Li benar-benar tidak berdaya saat berhadapan dengan pria berambut pirang itu dan berusaha tetap tenang.


Dia tidak lagi membantah perkataan Ivander Liam dan itu ia lakukan untuk menjaga dirinya dari tunangannya supaya tetap bersikap normal padanya meski ia ingin sekali melawan pria itu tapi dirinya tidak berdaya dengan tekanan ucapan Ivander Liam padanya.


***


Bo Li beringsut pelan lalu tertidur di atas ranjangnya dengan menarik selimut tebal yang ada ditempat tidurnya.


Dia tetap menjaga dirinya untuk tidak bergerak dari dalam selimutnya dan menunggu Ivander Liam pergi dari kamar tidurnya.


"Bagus ! Tidurlah dengan nyenyak karena hari sudah malam dan ingat aku akan terus memantau tidurmu dari kamera pengawas yang ada di kamar ini !", kata Ivander Liam mengingatkan.


Bo Li hanya terdiam tanpa berani menjawabnya karena baginya itu akan sia-sia saja, ia kini adalah tunangan Ivander Liam dan pria itu berhak akan dirinya apalagi pernikahan terjadi maka dirinya benar-benar tidak bisa lari dari pria itu lagi.


Dia meringkuk didalam balik selimut tanpa berani menengok kembali kearah Ivander Liam yang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Selamat beristirahat ! Dan nikmati harimu di rumah ini !", kata Ivander Liam lalu pergi dari kamar tidur Bo Li sambil menutup pintu.


Bo Li perlahan-lahan menarik selimutnya seraya mengintip dari balik selimut kearah pintu kamar. Dia tidak melihat Ivander Liam lagi didalam ruangan kamarnya, ia lalu mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangan dan melihat beberapa kamera pengawas didalam kamar.


Kamera-kamera pengawas itu terpasang disudut ruangan kamarnya yang mengarah langsung kearah tempat tidurnya sehingga keberadaan dirinya langsung terlihat dengan jelas oleh kamera-kamera tersebut.


"Ssshhh...! Bagaimana bisa dia melakukannya kepadaku dengan mengawasi ku seperti ini ? Ini adalah kamar pribadiku dan dia sama sekali tidak memberikanku kebebasan untuk bergerak di ruangan ini !", kata Bo Li sambil menarik nafas panjang.



Terlihat peri kecil Dryada terbang pelan kearah Bo Li dan ia berusaha mencegah peri daun hijau kecil itu kearah dirinya tetapi peri kecil itu tidak mengerti dan tetap terbang menuju dirinya dengan cepat.


"Klik...klik...klik...klik...klik...", suara peri kecil Dryada mendekat kearah Bo Li yang berada dibalik selimut tebalnya.


"J...a...n...g...a...n...kemari !", kata Bo Li pelan kepada peri kecil itu.


"Klik...klik...klik...klik...Ada apa...???", kata peri kecil Dryada.


"Cepat ! Masuk kedalam selimutku !", kata Bo Li berbisik pelan.


"Iya...!", sahut peri kecil itu lalu terbang menyelinap kedalam selimut.


"Jangan bergerak lagi !", kata Bo Li dari dalam selimut.


"Ada apa ? Mengapa kamu begitu ketakutannya ?", tanya peri kecil itu turut berbisik padanya.


"Oh Iya ?", ucap peri kecil itu terkejut.


"Ya, ini karena dia mengetahui jika aku tidak berada didalam ruangan kamarku dan memeriksanya kemari !", kata Bo Li.


"Aku rasa dia sangat menjaga dirimu dengan hati-hati, Bo Li ! Aku rasa dia memiliki rasa khawatir yang tinggi akan kehilanganmu dari sisinya", kata peri kecil Dryada.


"Entahlah, setahuku kakek Li yang terlalu berlebihan dalam berpesan kepada tunangan ku untuk menjaga diriku", kata Bo Li.


"Benarkah ? Bukankah itu sangat bagus sekali, jika seseorang mengkhawatirkan dirimu !?", jawab peri kecil.


"Tidak ! Tidak ! Aku tidak menyukainya sama sekali karena kebebasanku terbatasi sekarang dan aku tidak boleh pergi ke perusahaan ku lagi ! Dan itu membuatku sedikit kecewa !?", kata Bo Li mendesah pelan.


"Apakah kamu ingin pergi ke perusahaan mu Bo Li ?", kata peri kecil Dryada.


"Tentu saja, karena banyak yang belum aku selesaikan semenjak acara pertunangan ku ini dan kepergian ku ke dunia peri serta sejak perusahaan ku telah diakuisisi oleh perusahaan Ivander Liam saat ini !", kata Bo Li sambil menarik selimutnya.


"Mmmm...", gumam peri kecil itu lalu berpikir. "Bagaimana jika aku membantumu agar kamu dapat bekerja lagi !", sambung peri kecil itu.


"Bagaimana caranya ? Apakah kamu nengetahuinya ?", kata Bo Li seraya menolehkan kepalanya kearah peri kecil itu.


"Bukankah sekarang aku adalah peri editor mu yang dipilih oleh Sistem Bo Li 115 maka aku akan membantumu menyelesaikan misi-misi mu !", kata peri kecil.


"Ah...!? Tapi sekarang ada kamera pengawas didalam kamarku, bagaimana caranya aku dapat bergerak leluasa disini ? Sedangkan kamera pengawas terpasang di seluruh kamarku !", kata Bo Li sedikit kesal.


"Tenanglah ! Bukankah aku adalah peri ajaib ?", kata peri kecil Dryada tersenyum.


Bo Li lantas terdiam sejenak sambil berpikir tentang perkataan peri daun hijau kecil itu tentang makna keajaiban.


"Hmm..., apakah kamu dapat menghilangkan kamera-kamera pengawas itu dari kamar ini ?", pekik Bo Li penuh semangat.


"Bukan menghilangkannya tetapi membuat layar kamera pengawas itu tertutup dan tidak dapat melihat kegiatan kita didalam kamar ini tetapi kamera pengawas itu tetap melihat keadaan ruangan kamar ini tapi tidak untuk melihat kegiatan yang lain", kata peri Dryada.


"Artinya kamera pengawas itu masih bekerja dengan baik dan kamu membuatnya seakan-akan melihat keadaan didalam kamar ini tetapi itu hanya sebentuk bayangan saja ?", kata Bo Li senang.


"Tepat sekali ! Tunangan mu masih dapat memantau didalam ruangan ini tetapi ia tidak akan bisa melihat kegiatan yang kamu lakukan disini secara detail !", jawab peri Dryada.


"Itu artinya aku bebas dan dapat melakukan semua aktivitasku didalam kamarku dengan leluasa ?", kata Bo Li lalu melompat dari dalam selimut.


"Tentu saja !", kata peri Dryada seraya terbang disampingnya.


"Ayo ! Cepatlah ! Cepatlah ! Lakukanlah sesuatu ! Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya !", sorak Bo Li senang.


"Baiklah..., aku akan melakukannya sesuai perintah mu Bo Li !", sahut peri Dryada.


"Ayo ! Cepatlah sedikit !", kata Bo Li seraya mengusap kedua telapak tangannya.


Terlihat peri kecil Dryada mengeluarkan sebuah tongkat sihir miliknya kemudian mengarahkannya kearah kamera-kamera pengawas yang ada didalam ruangan kamar Bo Li.


Sebentuk kumpulan cahaya terang keluar dari dalam tongkat kecil milik peri Dryada dan cahaya itu bergerak lurus kearah kamera-kamera pengawas itu lalu mengeluarkan sinar cerah saat mengenai kamera-kamera tersebut.



Tidak ada perubahan yang terjadi dengan kamera-kamera pengawas itu tetapi peri kecil itu terbang kearah kamera tersebut dan melihatnya secara dekat.


Peri kecil Dryada membalikkan badannya kearah Bo Li lalu memberinya isyarat dengan mengacungkan jari jempolnya kepada Bo Li.


"Sudah beres !", ucap peri Dryada sambil menganggukan kepalanya pelan.


"Oh iya ?", sahut Bo Li berbisik.


"Kamu bisa bebas melakukan kegiatanmu didalam ruangan kamar ini lagi Bo Li tanpa adanya gangguan dari kamera pengawas ini !", kata peri Dryada tersenyum padanya.


"Syukurlah..., kalau begitu, aku jadi tidak merasa tengah diawasi dan dibatasi lagi gerakan ku di rumah ini", kata Bo Li lalu berjalan mendekat kearah kamera tersebut.


"Tinggal tugas yang lainnya untuk membuatmu kembali bekerja lagi di perusahaan milikmu !", kata peri kecil Dryada.


"Terimakasih sekali atas bantuannya, Bo Li, aku sangat senang mendengarnya dan bagaimana aku dapat membalas semua kebaikanmu ini ?", kata Bo Li.


"Kamu tinggal membuatkan ku makanan-makanan lezat seperti kue madu, susu manis madu, mentega manis, pir pixie, buah mallow dan kunyit ! Itu saja !", kata peri Dryada.


"Benarkah ? Mmmm..., baiklah, aku akan menyiapkannya untukmu makanan-makanan itu !", kata Bo Li lalu tersenyum lega kearah peri daun hijau kecil yang tengah terbang dihadapannya.


Keduanya terlihat tersenyum bahagia telah menyelesaikan satu tugas penting dari dalam ruangan kamar Bo Li.