
Bo Li memandangi dirinya di depan cermin dengan berhiaskan sebuah mahkota dari kristal Amethyst berwarna ungu berkilauan cantik.
Dia tersenyum tatkala melihat pantulan dirinya yang tengah mengenakan gaun malam indah dan sebuah mahkota yang terpasang di atas kepalanya.
Perempuan cantik itu terlihat sangat bahagia sekali ketika ia melihat dirinya secantik itu bak seorang puteri raja dalam cermin.
"Oh Tuhan... Aku sungguh tidak percaya ini semuanya terjadi padaku ! Benarkah ini aku ? Sangat sulit di percaya !?", kata Bo Li.
"Lalu jika bukan kamu, siapa wanita cantik bagaikan bidadari turun dari surga yang ada di dalam cermin itu ?", tanya Peri Dryada.
"Jangan bicara berlebihan seperti itu, peri, ucapan mu membuatku malu", sahut Bo Li.
"Tidak, jangan malu, puteri, dan memang kamu adalah seorang puteri raja ? Kenapa kamu harus malu, Bo Li ?", kata Peri Dryada.
"Ah Tidak ! Ini sangat memalukan sekali jika kamu memujiku seperti itu ! Jangan terlalu memujiku, aku sangat takut !", kata Bo Li tersipu malu.
"Tidak usah malu, memang kamu sangat cantik sekali, Bo Li, dan aku tidak pernah berkata bohong padamu", ucap Peri Dryada.
"Oh Tidak ! Aku benar-benar sangat malu, peri, kamu terlalu menyanjungku", sahut Bo Li.
"Tidak apa-apa, ini sebuah pujian yang memang di khususkan untukmu", kata peri kecil daun hijau.
Peri itu tampak memutari tubuh Bo Li sambil mengepakkan kedua sayap kelip-kelipnya dan tanpa hentinya memandangi Bo Li yang terlihat sangat cantik sekali.
"Kamu benar-benar sangat cantik sekali, Bo Li ! Aku yakin pria yang merupakan tunangan mu itu akan sangat menyukainya, dan ia akan langsung jatuh cinta kepadamu berkali-kali, aku yakin itu !", kata Peri Dryada.
"Oh Peri Dryada, kamu sungguh sahabat terbaikku ! Dan aku sangat berterima kasih sekali kepadamu, peri", kata Bo Li.
"Ini sudah kewajiban ku sebagai tim peri editor mu, Bo Li. Dan aku harap kamu akan menyukainya", sahut Peri Dryada seraya memeluk Bo Li dengan sangat senangnya.
"Terimakasih, sudah menjadi tim peri editorku dan selalu mendukungku, peri, dan aku ucapkan sekali lagi terimakasih banyak, peri", kata Bo Li sambil tersenyum ceria.
"Aku berharap kamu akan menyukainya, Puteri Bo Li", kata Peri Dryada.
"Oh tentu saja, aku sangat suka sekali dengan semua hadiah indah ini, dan hadiah ini menambah rasa percaya diriku untuk datang ke pesta bersama Ivander Liam, ini sangat membantuku sekali, peri", kata Bo Li.
"Syukurlah jika kamu merasa senang dan suka dengan gaun ini serta aku harap kamu merasa puas, Bo Li", kata peri kecil hijau daun.
"Tentu saja, aku sangat menyukainya dan aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini, peri, sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas hadiah yang indah ini", kata Bo Li sembari memeluk erat tubuh peri kecil itu.
"Terimakasih kembali, Bo Li", sahut Peri Dryada sangat senang.
"Oh iya, ada yang harus aku beritahukan kepadamu, Bo Li", kata peri kecil hijau daun.
"Apakah itu peri jika aku boleh tahu ?", kata Bo Li bertanya.
"Sebenarnya aku merancang mahkota tersebut berbeda dari mahkota lainnya", ucap peri kecil daun hijau menyahut pertanyaan Bo Li.
"Apa maksud dari ucapanmu, peri ? Berbeda ? Mahkota ini ?", tanya Bo Li seraya memegangi mahkota di kepalanya.
"Benar, aku mendesain mahkota itu tidak hanya sebagai hiasan kepala yang berkilauan cantik dan mewah saja melainkan mahkota itu memiliki berbagai fungsi kegunaannya", Peri Dryada berkata.
"Oh Iya !? Apakah itu, peri ?", sahut Bo Li penasaran.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya kepadamu, Bo Li", ucap peri itu.
"Iya, aku akan mendengarkan penjelasan darimu, cepat katakanlah, aku sudah tidak sabar mendengarnya !", Bo Li menjawabnya dengan penuh semangat.
Perempuan cantik itu duduk di sebuah bangku kecil di depan meja konsol ruang tidurnya yang mewah.
Dia duduk sambil menata gaun pestanya yang cantik berkilauan ketika hendak mendengarkan penjelasan dari Peri Dryada tentang mahkota yang di pakainya itu.
"Mmmm... Baiklah, aku telah siap untuk mendengarkan penjelasanmu", ucap Bo Li yang begitu terlihat sangat cantik dalam balutan busana bertema pesta itu.
"Aku akan memulai menjelaskan detail mahkota tersebut kepadamu, Bo Li", kata peri kecil itu menyahut.
***
Sebuah layar lay out berukuran besar muncul di tengah-tengah ruangan tidur Bo Li dan terdapat gambar besar seperti mahkota yang dikenakan oleh Bo Li tergambar di dalam layar tersebut.
"Pertama adalah bagian luar mahkota yang berhias kristal-kristal Amethyst itu memiliki kegunaan sebagai tombol yang bisa di tekan", kata Peri Dryada sambil menunjuk ke arah gambar Amethyst pada mahkota dengan tongkat kecil miliknya.
"Kristal-kristal dari Amethyst itu adalah tombol yang bisa di tekan ?", kata Bo Li bertanya dan tercengang.
"Benar, aku akan menunjukkannya melalui gambar tiga dimensi pada layar lay out ini", jawab Peri Dryada.
Peri kecil hijau daun itu kemudian menekan kristal Ametyhst yang terdapat di badan mahkota, secara otomatis bentuk mahkota langsung berubah.
"Astaga, mahkota cantik itu bentuknya berubah !?", pekik Bo Li tercengang.
"Benar, mahkota ini akan langsung berubah bentuknya menjadi deretan tombol dari kristal Amethyst seperti tombol pada keyboard komputer", sahut Peri Dryada.
"Menarik sekali, lanjutkan !", kata Bo Li bersemangat.
"Kedua fungsi dari mahkota ini setelah berubah adalah sebagai senjata tempur yang mematikan seperti senapan yang mampu menembakkan peluru sejauh 7 km bahkan lebih, di rancang setara SVLK-14S Sumrak", ucap peri kecil itu menerangkan.
"Ya Tuhanku !? Senjata api ? Mahkota itu mampu berubah menjadi senjata api ?", kata Bo Li tercengang.
"Benar sekali, dan fungsi ketiga dari mahkota ini dapat berubah menjadi senjata lainnya yang berfungsi untuk melenyapkan iblis, peri jahat dan manusia siluman, tetap pada bentuk senapan api tapi agak mirip pistol untuk fungsi itu", kata Peri Dryada.
"Ini sangat menarik sekali, peri !? Bagaimana kamu dapat merancang senjata yang mematikan ini ?", tanya Bo Li terkejut kaget melihat gambar di layar lay out tersebut.
"Inilah yang disebut keajaiban tekhnologi milik para peri yang tiada tandingannya di dunia... Ha... Ha... Ha... !", sahut Peri Dryada sambil tertawa bangga.
"Untuk mengubah mahkota itu menjadi senapan api, kamu tinggal menekan tombol pertama pada mahkota yang terletak di samping kanan mahkota", terang Peri Dryada.
"Apakah aku dapat langsung mengubahnya menjadi senjata tanpa mengubah menjadi deretan tombol seperti keyboard ?", tanya Bo Li.
"Tentu saja, kamu bisa langsung menekannya tanpa harus mengubahnya menjadi keyboard komputer dulu, tapi kamu harus selalu mengingat letak tombol itu", sahut Peri Dryada sambil tersenyum.
"Aku mengerti itu, lalu untuk tombol mengubah menjadi pistol ada dimana letaknya jika aku tidak perlu melihatnya ?", tanya Bo Li.
"Di depan mahkota, kamu bisa langsung menekan tombol itu yang letaknya di depan mahkota, kristal Amethyst yang paling besar", kata peri daun hijau menjawab.
"Mmm... Aku paham itu...", sahut Bo Li.
Tampak dia sedang mengingat-ingat arahan dari peri kecil daun hijau dengan seksama.
"Yah... Hanya itu saja fungsi dari mahkota yang terpasang di atas kepalamu, Bo Li", ucap Peri Dryada.
"Tapi..., masalahnya adalah aku tidak dapat menggunakan senjata api itu ? Aku tidak tahu caranya memakai senapan atau pistol !?", kata Bo Li.
"Oh !?", ucap Peri Dryada.
"Hmmm, aku tidak berbohong padamu dan jujur aku tidak dapat mengoperasikan senjata apapun, lalu bagaimana caranya aku menggunakan senjata-senjata tersebut ?", kata Bo Li.
"Benar juga !? Bagaimana kamu akan memakai senjata itu sedangkan kamu tidak pernah menyentuh senjata ?", jawab Peri Dryada.
"Itulah masalahnya sekarang, percuma aku memakai mahkota yang dapat berubah fungsinya menjadi senjata tempur, karena aku tidak mampu mengoperasikannya !?", ucap Bo Li.
"Sepertinya kamu butuh latihan khusus untuk itu, dan aku akan melatihmu cara menggunakan senjata-senjata itu", kata Peri Dryada.
"Sekarang ?", tanya Bo Li tertegun.
"Iya, sekarang ! Kapan lagi waktu kita berlatih jika bukan sekarang !? Lalu untuk apa mahkota itu aku ciptakan ?", jawab peri kecil daun hijau.
"Mana mungkin sekarang, peri !? Waktunya sangat sempit sekali dan sebentar lagi Ivander Liam akan datang menjemputku untuk berangkat ke pesta ?", kata Bo Li terperangah kaget.
"Tenanglah, masih ada waktu satu jam untuk pergi ke pesta, bukankah itu waktu yang cukup untuk berlatih menggunakan senjata-senjata itu !?", sahut Peri Dryada sambil tersenyum.
"Astaga ! Bagaimana mungkin, peri ?", tanya Bo Li seraya membelalakkan kedua matanya, tidak percaya.
"Ayo, kita berlatih mengoperasikannya, hanya butuh waktu sebentar saja untukmu, Bo Li karena kamu telah memiliki kemampuan bertempur dari buah surga, Amethyst ungu itu", sahut Peri Dryada.
"Kemampuan bertempur ?", gumam Bo Li.
"Iya, karena kamu telah memakan buah surga tersebut maka kamu di anugerahi semacam kekuatan dari langit untuk bertempur dan kemampuan mempertahankan diri hampir mirip ilmu kanuragan tingkat tinggi levelnya", jawab peri kecil daun hijau.
"Ini sungguh sulit di percaya !?", ucap Bo Li hampir tidak percaya.
"Percayalah padaku, maka kamu akan melihatnya sendiri kemampuan kamu itu, jika kamu tidak mencobanya sekarang, kapan lagi ? Dan bagaimana caranya kamu membuktikan ucapanku ini ?", kata Peri Dryada.
"Hmmm... Baiklah, aku akan melakukannya sesuai dengan petunjukmu itu", jawab Bo Li lalu berdiri dari tempatnya duduk.
"Sekarang kamu tinggal mempersiapkan dirimu untuk melakukan hal tersebut", kata Peri Dryada.
"Aku mengerti", ucap Bo Li.
Perempuan cantik itu berjalan ke tengah-tengah ruangan tidurnya dan berdiri tepat di sana sembari memegangi mahkotanya.
"Apakah kamu siap, Bo Li ?", tanya Peri Dryada.
"Ya, aku telah siap, peri", sahut Bo Li seraya menganggukkan kepalanya.
"Apakah kamu sudah mengingat semua letaknya tombol-tombol senjata itu ?", tanya Peri Dryada dengan ekspresi wajah serius.
"Ya, aku sudah mengingatnya tadi setelah penjelasan di layar lay out barusan", sahut Bo Li.
Kecerdasan Bo Li sangat luar biasa, ia mampu menghafal setiap detail keterangan dari mahkota tersebut, yang menjelaskan fungsi-fungsi dari tombol kristal Amethyst pada mahkota.
Dia juga mampu dengan cepat mengingat letak-letak tombol untuk mengubah mahkota itu menjadi senjata.
"Sekarang mari dimulai latihannya, Bo Li ! Pertama aktifkan tombol untuk senapan api terlebih dahulu, lakukanlah !", kata Peri Dryada.
"Baik, peri", sahut Bo Li.
Bo Li menekan tombol kristal Amethyst yang ada di samping kanan mahkota cantik itu.
"TIT... TIT... TIT... TIT...", terdengar suara nyaring dari arah mahkota disertai sorot sinar merah yang bergerak-gerak acak.
Bo Li merasakan sesuatu bergerak di atas kepalanya dan ia melihat mahkota itu terlepas kemudian berubah menjadi sebuah senapan setara SVLK-14S Sumrak berwarna ungu muda dengan moncong senapan dari emas putih, senjata itu juga berkelap-kelip karena taburan kristal-kristal Amethyst yang menghias badan senapan.
Perempuan cantik itu terpana kagum ketika melihat benda yang ada di tangannya yang tengah memegang senjata api yang sangat cantik itu, senapan berwarna ungu muda.
"Wow !? Ini sungguh luar biasa sekali, peri, dan ini sangat hebat !", pekik Bo Li senang sekaligus terkagum-kagum.
"Sekarang coba kamu operasikan lalu tembakkan ke arah sasaran yang aku buat disana !", sahut Peri Dryada.
Peri kecil daun hijau itu menunjukkan jarinya ke arah sebuah papan bidik yang ada di ujung ruangan kamar tidur Bo Li.
Terlihat Bo Li mengoperasikan senapan api itu dengan cekatan sesuai arahan dari Peri Dryada.
Perempuan cantik itu berdiri tegak di tengah ruangan seraya mengarahkan senjata apinya ke arah papan bidik yang berada di ujung ruang tidurnya dan ia bersiap dengan posisi membidik sasaran.
"DOR...", terdengar suara letusan dari senjata api milik Bo Li ke arah sasaran bidik.