
Bo Li mengepak kopernya yang penuh dengan buah tangan dari Finlandia.
Hampir tidak muat semuanya hingga dia harus memisahkan barang-barang lainnya ke dalam koper baru.
''Sebanyak itu oleh-oleh yang kamu beli ? Untuk siapa ?'', kata Ivander Liam.
''Untuk kakekmu dan kakekku serta beberapa karyawan yang bekerja di rumah'', sahut Bo Li.
''Semuanya untuk mereka ?'', tanya Ivander Liam.
''Iya, kenapa kau menanyakannya, sayang ?'', sahut Bo Li.
''Tidak adakah yang khusus untukku ?'', tanya Ivander Liam.
''Kenapa kamu tidak mengatakannya bahwa kamu ingin membeli oleh-oleh dari sini !? Aku hanya membeli barang untuk mereka karena aku pikir kamu tidak memerlukannya...'', sahut Bo Li.
''Yah..., sebagai suamimu memang aku harus mengalah jika istriku membagi perhatiannya untuk yang lainnya...'', ucap Ivander Liam.
Pria tampan itu melirik kearah peri kecil Dryada serta wanita cantik bertubuh langsing yang berdiri melayang-layang dengan selendang pelangi.
''Aku harap kamu tidak melupakanku, sayang'', kata Ivander Liam.
''Tentu tidak, aku selalu menomer satukan dirimu daripada yang lainnya dan aku tidak pernah berhenti memikirkan mu'', sahut Bo Li.
Bo Li langsung memeluk erat tubuh Ivander Liam sembari bergelayut mesra di leher pria tampan itu.
''Ehm..., rasanya ada yang sedang memperhatikan kita berdua di kamar ini dan aku merasa kita tidak sedang berduaan saja'', ucap Ivander Liam.
''Hah !? Apa ?'', kata Bo Li terhenyak kaget.
Dalam hati kecil Bo Li, dia bergumam pelan.
"Mana mungkin Ivander Liam dapat melihat bidadari penunggu selendang pelangi ? Apakah dia juga mampu melihat peri ?"
Bo Li terdiam berdiri di samping suaminya tanpa berkedip lalu melanjutkan ucapannya lagi.
''Tidak mungkin, sayang... Kita hanya berdua saja, mungkin itu hanya perasaanmu saja yang terlalu kelelahan dengan urusan pekerjaan'', kata Bo Li.
Bo Li melirik kearah peri kecil Dryada serta bidadari roh Cǎihóng wéijīn yang berada di dalam kamar memandangi dirinya dan Ivander Liam.
Dia langsung memberi aba-aba kepada mereka untuk pergi dari kamar ini dengan kode mata.
''Pergi...'', ucap Bo Li tanpa bersuara kepada peri Dryada serta bidadari roh Cǎihóng wéijīn.
Keduanya hanya terbelalak kaget merespon sikap Bo Li.
''Apa ? Pergi ? Kemana ?'', sahut keduanya memberi tanda tanpa suara.
Bo Li hanya menolehkan kepalanya ke arah kanan berusaha menunjukkan kamar sebelah yang dipesan oleh Ivander Liam untuk kamar pribadinya di hotel ini.
''Kesana !'', kata bidadari roh Cǎihóng wéijīn.
Bidadari roh Cǎihóng wéijīn menunjuk ke arah kamar yang terletak di sebelah kanan saat Bo Li memberikan tanda kepada mereka berdua.
Bo Li menganggukkan kepalanya pelan seraya mengerlingkan matanya.
''OKE !'', sahut bidadari roh Cǎihóng wéijīn.
Jari tangan bidadari roh Cǎihóng wéijīn membentuk tanda O besar sebagai jawaban dari aba-aba yang diberikan oleh Bo Li.
Tak butuh waktu lama bidadari roh Cǎihóng wéijīn dan peri kecil Dryada menghilang dari ruangan kamar hotel.
Bo Li kembali menatap Ivander Liam yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
''Ha... Ha... Ha...'', tawa Bo Li saat Ivander Liam memergokinya tengah berbicara sendirian.
''Kau bicara dengan siapa ?'', tanya Ivander Liam.
''Aku !?'', sahut Bo Li.
''Lalu siapa sayang ?'', kata Ivander Liam seraya mencubit gemas kedua pipi Bo Li.
''Oh, aku !? Aku tidak bicara dengan siapa-siapa di kamar ini, tidak ada yang aku ajak bicara, sayang'', sahut Bo Li berbohong.
''Hmmm... Kamu pandai berbohong sekarang...'', kata Ivander Liam.
Ivander Liam mengangkat tubuh Bo Li seraya membawanya ke arah tempat tidur yang tersedia di kamar hotel.
Membaringkan tubuhnya ke atas kasur empuk kemudian memeluknya erat.
''Kamu tidak bermaksud melanjutkan kegiatan saat di malam hari sebelum kita pergi dari sini'', kata Bo Li.
''Tidak, aku hanya ingin bercinta denganmu sebagai bentuk kewajibanku menjadi seorang suami yang mencintai mu'', sahut Ivander Liam.
''Ayolah, sayang ! Kita akan segera pergi ke bandara sebentar lagi...'', kata Bo Li.
''Sekarang !?'', ucap Bo Li kebingungan.
''Lantas kapan lagi ? Besok ? Atau bulan depan atau menunggu tahun baru ?'', sahut Ivander Liam.
''Sayang...'', ucap Bo Li.
''Dan sayangku yang tidak akan pernah kunjung usai hingga akhir hayatku, Bo Li...'', sahut Ivander Liam.
Pria tampan itu tersenyum lembut seraya menatap teduh Bo Li yang berada dalam pelukannya.
''Aku mencintaimu...'', kata Bo Li.
''Aku lebih mencintaimu dari hidupku...'', sahut Ivander Liam.
''Masih ada tiga puluh menit dan aku rasa itu sangat cukup untuk kita melakukannya sebelum pergi'', kata Bo Li.
Bo Li mengedipkan sebelah matanya ke arah Ivander Liam sambil tersenyum menggoda.
''Apa yang harus aku lakukan sebelumnya ?'', goda Ivander Liam.
''Terserah padamu, kamu boleh memulainya dari mana itu terserah padamu yang terpenting kamu tidak merasa keberatan'', kata Bo Li.
''Keberatan !? Tidak mungkin aku merasa keberatan'', sahut Ivander Liam.
Kalau begitu... Biarkan aku yang memulainya terlebih dahulu... Bagaimana ?'', goda Bo Li.
''Wow ! Dengan senang hati...'', ucap Ivander Liam.
Bo Li merengkuh tubuh Ivander Liam seraya mendekatkan wajahnya ke arah wajah suaminya.
Diusapnya kedua pipi Ivander Liam dengan pipinya lalu mengelus-elus tengkuk leher pria tampan yang telah menjadi suaminya itu.
''Hmmm...'', gumam Ivander Liam.
''Kau suka ?'', tanya Bo Li.
''Sangat suka dan aku benar-benar menyukai permainan awal ini'', sahut Ivander Liam.
''Aku memulainya darimana sekarang ? Dan kamu bereaksi dengan cepat, Ivander Liam'', kata Bo Li.
''Hai ! Jangan memanggil nama suamimu seperti itu ! Panggil aku dengan sebutan cinta mulai sekarang !'', respon Ivander Liam.
''Bukan nama ?'', bisik lembut Bo Li.
''Tidak ! Tidak dengan nama !'', sahut Ivander Liam.
''Lalu... Jika dengan ciuman... Apa masih aku tidak boleh memanggilmu dengan namamu ?'', ucap Bo Li.
''Tetap panggil aku suami atau cinta, bukan nama seperti sebelumnya...'', sahut Ivander Liam.
Pria berambut pirang itu mulai bergerak pelan-pelan ke arah tubuh Bo Li sembari terus mengusap lembut seluruh tubuh perempuan cantik itu.
''Jika kamu tidak memanggilku dengan sebutan cinta atau suami maka aku akan menghukum mu berat...'', ucap Ivander Liam.
Ivander Liam terus merangkak turun kebawah tubuh Bo Li.
Tiba-tiba Bo Li menjerit keras saat Ivander Liam menyentuh area tubuh sensitifnya.
''AAAKHHH... !!!''
Senyum merekah di wajah Ivander Liam saat Bo Li bereaksi cepat terhadap sentuhannya pada tubuh paling sensitifnya.
''AAAKHHH... !!!'', jerit Bo Li semakin kencang.
''Kamu sudah tidak tahan, ya, sayang...'', ucap Ivander Liam.
''Maafkan aku Ivander Liam !'', sahut Bo Li berkedut kencang.
''Hmmm..., aku mencintaimu, Bo Li...'', bisik lembut Ivander Liam.
''Sayangku...'', sahut Bo Li.
''Cintaku...'', ucap Ivander Liam.
Bo Li terdiam dan hanya larut dalam permainan cinta Ivander Liam sedangkan pria tampan itu mulai bergerak cepat ke arah tubuh istrinya yang terbaring di bawah tubuhnya dan siap untuk menerima dirinya sepenuhnya.
Ivander Liam akhirnya menyatukan tubuhnya dengan Bo Li dan mereka berdua menjadi satu.
Panas...
Suasana kamar terasa panas karena dipenuhi oleh gelora cinta mereka berdua yang membara ketika beradu mesra di atas ranjang tidur hotel.
Hanya terdengar suara rintihan mesra yang terdengar diantara keduanya saat beradu cinta di dalam kamar hotel GLO Kluuvi Helsinki.