BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Pohon Ajaib Amethyst Ungu


Peri Dryada terlihat melesat cepat didalam pohon ajaib Amethyst Ungu disampingnya roh bidadari penunggu selendang pelangi terbang bersama dengannya.


Buah labu kuning turut bergerak melayang didekat mereka dan terbang bersama mereka.


Pohon ajaib Amethyst ungu terlihat berkilauan penuh warna ungu yang berkelap-kelip indah.


Taburan Amethyst ungu memenuhi seluruh ruangan pohon ajaib itu.


Alunan dawai-dawai mengalir lembut sepanjang perjalanan peri Dryada serta Cǎihóng wéijīn.


Gemiricik air turun lembut memenuhi pohon yang ajaib itu meski tidak tampak air disekitar pohon ajaib yang dipenuhi gemerlapnya Amethyst ajaib yang bersinar-sinar.


''Berapa lama kita akan sampai ke Kota B-One seperti yang kamu katakan itu ?'', tanya Cǎihóng wéijīn.


''Mungkin sekitar satu jam lagi kita sampai ditujuan...'', sahut peri kecil daun hijau.


''Cepat sekali !? Ini lebih cepat dari naik pesawat terbang..., bahkan naik permadani terbang..., sangat mustahil untuk percaya...'', kata Cǎihóng wéijīn.


''Ini pohon ajaib Amethyst Ungu..., tentu berbeda dari mengendarai kendaraan ajaib lainnya dan secanggih apapun tidak bisa mengalahkan fungsi pohon ajaib ini !'', sahut peri Dryda.


''Apa ini buatanmu ?'', tanya Cǎihóng wéijīn.


''Pohon ini ? Maksudmu aku menciptakan pohon ajaib ini ?'', sahut peri Dryada.


''Iya, pohon ajaib Amethyst ungu ini !'', kata Cǎihóng wéijīn.


''Bukan !'', sahut peri kecil daun hijau. ''Bukan aku yang menciptakan pohon ajaib ini !''


Cǎihóng wéijīn menolehkan kepalanya ke arah peri daun hijau yang terbang disebelahnya seraya mengernyitkan keningnya.


''Lalu siapa ? Jika bukan kamu ?'', kata Cǎihóng wéijīn.


''Pohon ajaib ini tercipta dari butiran Amethyst ungu yang jatuh ke bumi dari atas surga para peri. Dan terbentuklah pohon ajaib ini !'', sahut peri Dryda.


''Woah !!! Indah sekali !!!'', kata Cǎihóng wéijīn.


''Yah, begitulah keajaiban surgawi!", sahut peri Dryada.


Peri kecil daun hijau terbang melesat meliuk-liuk di antara butiran-butiran Amethyst ungu yang berguguran dari atas pohon ajaib Amethyst ungu.


Diikuti oleh buah labu kuning yang turut melesat kilat bersama peri Dryada sedangkan Cǎihóng wéijīn terbang cepat disampingnya.


Perjalanan mereka didalam pohon Amethyst ungu benar-benar bagaikan sebuah keajaiban.


Sesekali Cǎihóng wéijīn memperhatikan sekitar area pohon ajaib yang penuh kilauan gemerlap Amethyst ungu.


Disentuhnya dengan lembut permukaan dinding pohon ajaib itu.


Pijaran Amethyst ungu langsung bereaksi oleh sentuhan tangan Cǎihóng wéijīn.


Kelap-kelip Amethyst ungu terus memancarkan cahaya ungunya yang sangat indah dan cantik.


''Kita hampir sampai, didepan sana adalah pintu keluar dari pohon ajaib Amethyst ungu ini !'', kata peri Dryada. ''Bersiap-siaplah, Cǎihóng wéijīn !'', sambungnya.


''Apa yang perlu aku persiapkan ?'', tanyanya sambil menoleh ke arah peri Dryada.


''Mungkin..., sebuah senyuman yang manis...'', sahut peri kecil Dryada.


''Benarkah ?'', kata Cǎihóng wéijīn.


''Benar...'', sahut peri Dryada.


Tampak senyuman menghiasi wajah peri kecil Dryada saat dia berkata pada Cǎihóng wéijīn.


''Untuk apa ?'', tanya roh penunggu selendang pelangi. ''Bukankah kita hanya tinggal melewati saja pintu keluar dari dalam pohon ajaib Amethyst ungu ini ?'', sambungnya.


''Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya, Cǎihóng wéijīn'', sahut peri kecil Dryada.


Pada saat mereka hampir sampai didepan sebuah lorong yang penuh kilauan Amethyst ungu.


Sosok kecil bertopi lancip tiba-tiba muncul menyeruak dari dalam kilauan Amethyst ungu sambil menggenggam tombak.


''BERHENTI !'', ucap sosok kecil itu.


Peri Dryada serta Cǎihóng wéijīn langsung menghentikan gerakan tubuh mereka saat terbang.


Disamping mereka, buah labu kuning turut berhenti.


''Siapa kamu ?'', tanya Cǎihóng wéijīn.


''SSSSSTTTT... !!!'', bisik peri Dryada sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.


''Apa !?'', sahut Cǎihóng wéijīn pelan.


''Diamlah ! Jangan banyak bertanya padanya !'', kata peri Dryada.


''Kenapa ?'', tanya Cǎihóng wéijīn.


''Dengarkan saja !'', sahut peri Dryada.


''Siapa dia ?'', tanya Cǎihóng wéijīn.


"Oh... !?", jawab Cǎihóng wéijīn mengerti.


Sosok kecil bertopi lancip itu lalu berjalan ke arah depan, menghalangi jalan keluar peri Dryada serta Cǎihóng wéijīn.


"Siapa kalian ?", tanya kurcaci itu.


"Kami adalah peri Dryada sedangkan dia adalah Cǎihóng wéijīn !", sahut peri Dryada.


"Bagaimana kalian bisa masuk ke dalam pohon ajaib Amethyst ungu ini ?", kata kurcaci itu.


Kurcaci yang tubuhnya penuh perunggu serta kilauan Amethyst ungu berdiri tepat di depan mereka.


Dia melirik buah labu kuning yang melayang-layang di samping peri Dryada.


"Aku adalah peri daun hijau yang berasal dari surga para peri, kami dalam perjalanan pulang ke Kota B-One !'', sahut peri Dryada.


''Darimana ?'', tanya kurcaci itu.


''Dari sebuah negeri yang indah dan jauh !'', sahut peri Dryada.


''Baiklah, aku mengerti ! Dan apa yang kamu bawa ? Buah labu kuning ?'', kata kurcaci itu.


''Benar, itu adalah buah labu kuning yang kami beli dari negeri yang indah itu !'', sahut peri Dryada.


''Apakah kamu memakan buah labu kuning itu ?'', tanya kurcaci.


''Iya, aku menyukainya dan buah labu kuning itu adalah salah satu buah kegemaranku !'', sahut peri Dryada.


''Kenapa kamu tidak langsung memakannya ? Dan kenapa justru membawa buah labu kuning itu ?'', tanya kurcaci perunggu.


''Untuk buah tangan ! Aku berniat memberikan buah labu kuning itu kepada seseorang yang tinggal di Kota B-One !'', sahut peri Dryada.


''Apa dia orang yang berarti untuk mu ?'', tanya kurcaci itu.


''Benar, dia majikanku...'', sahut peri Dryada sambil tersenyum.


''Apa dia orang yang penting untuk mu ?'', tanya kurcaci perunggu itu sekali lagi.


''Benar, dia adalah majikan yang paling aku sayangi !'', sahut peri Dryada.


''Baiklah..., kalau begitu kamu boleh membawanya bersamamu...'', kata kurcaci perunggu itu.


''Terimakasih...'', jawab peri Dryada.


''Apa kamu punya manisan ?'', tanya kurcaci itu.


''Manisan ?'', sahut peri Dryada terkejut.


''Iya..., seperti permen mungkin..., atau gula-gula...'', sahut kurcaci perunggu.


''Gula-gula ?'', kata peri kecil Dryada.


Cǎihóng wéijīn tiba-tiba mendekati peri kecil daun hijau yang berdiri di depannya.


''Apa kamu punya barang yang kamu maksud itu ? Gula-gula atau permen ? Kita tidak memilikinya, bukan ?'', bisik Cǎihóng wéijīn.


''Tenanglah !'', sahut peri Dryada. ''Percayalah padaku !'', sambungnya.


''Bagaimana caranya kamu mendapatkan barang itu ?'', tanya peri Dryada.


''Lihatlah !'', sahut peri Dryada.


Tangan peri daun hijau muncul kilauan cahaya hijau yang memancar keluar lalu berputar-putar di atas tangannya.


Sekantong permen berwarna-warni serta beraneka macam jenisnya muncul dari dalam putaran cahaya hijau.


''Woah !'', ucap Cǎihóng wéijīn kagum. ''Kamu benar-benar melakukannya !'', sambungnya.


''Kamu percaya padaku, bukan ? Kalau aku mampu dipercaya !?'', kata peri kecil daun hijau.


''Iya, aku mulai mengagumimu tapi tidak kebodohan mu !'', sahut Cǎihóng wéijīn.


''Kau ingin aku hukum ?'', sahut peri Dryada.


''Tidak ! Aku mengatakan sejujurnya !'', kata Cǎihóng wéijīn.


''Baiklah..., aku akan memberikan kantong permen ini kepada kurcaci itu agar kita bisa segera keluar dari pohon ajaib Amethyst ungu ini !'', sahut peri Dryada.


''Aku mengerti...'', jawab Cǎihóng wéijīn.


Peri Dryada memberikan sekantong permen kepada kurcaci perunggu itu. Dan menunggu reaksi dari kurcaci kecil itu.


Akhirnya peri Dryada dan Cǎihóng wéijīn bisa keluar dari pohon ajaib Amethyst ungu itu setelah kurcaci perunggu yang menunggu pohon ajaib Amethyst ungu itu mengijinkannya.


Keduanya lalu terbang melesat keluar dari pohon ajaib Amethyst ungu menuju ke Kota B-One yang sudah ada di depan mereka.


Mereka terbang melintasi langit Kota B-One yang cerah saat itu.


Hari itu adalah siang hari. Dan mereka datang kembali ke Kota B-One tepat pada siang hari yang bersinar terang oleh pancaran cahaya matahari yang merekah hangat.