
Pintu kamar itu terbuka lebar lalu menutup dengan sendirinya, Bo Li langsung masuk ke dalam kamar tidurnya dan duduk di tepi tempat tidurnya.
Penampilannya masih berwujud tembus pandang dan berwarna ungu, ia termenung sambil sesenggukan.
Dia menangis terisak-isak dan tangisannya itu menerbangkan seluruh isi kamarnya, berserakan di atas lantai kamarnya.
Tetap menangis dan terus menangis tiada henti-hentinya, mengusap kedua matanya yang perih akibat menangis, hanya itu yang dilakukannya sekarang yaitu menangis dan terus menangis sejak bertemu dengan si jahat Abiyyu.
"Dia datang di saat yang tidak tepat tetapi kenapa bisa ia mengenal Ivander Liam !? Apakah ada hubungan dekat dengan pria itu ?", kata Bo Li dengan berurai air mata.
Bo Li kembali menangis dan kali ini tangisannya memecahkan cermin yang ada di kamarnya.
Duduk termenung dengan wajah ungunya yang masih tembus pandang, ia lalu naik ke atas tempat tidurnya sambil menarik selimutnya kemudian tidur dan tetap menangis.
Hampir berjam-jam ia menangis seperti itu, meringkuk di dalam selimut sambil mendekap tubuhnya erat-erat yang membuat kedua lengannya membekas merah oleh kuku-kukunya yang mencengkeram kuat.
Lampu di kamar Bo Li terlihat temaram, hanya lampu-lampu kecil di sudut ruangan kamar yang menyala redup.
Suasana ruangan mendadak sunyi, tidak terdengar lagi suara isak tangis Bo Li dalam balik selimutnya, rupanya perempuan itu telah jatuh tertidur pulas.
Meninggalkan ruangan tidurnya berantakan dan kamar tidur itu hampir mirip seperti kapal pecah.
Terdengar suara dengkurannya yang pelan dan mulai beraturan nafasnya, ia terlelap tidur dengan wajah sembabnya yang masih memperlihatkan bekas linangan air matanya di kedua pipinya.
Tidur seperti bayi dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Saat Bo Li datang kembali pulang ke rumahnya di dataran tinggi yang luas, rumah yang ia tinggali hanya berdua bersama kakeknya, suasana kala itu masih terang dan matahari masih bersinar cerah.
Kini hari telah berganti waktu serta semakin gelap, langit tidak menunjukkan warna birunya yang cerah dan tidak bercahaya terang lagi tetapi berganti dengan langit penuh bintang yang bertaburan kelip-kelip di atas sana.
Menandakan bahwa hari telah menjelang malam dan semakin larut, mengisyaratkan bahwa ini waktunya untuk pergi beristirahat serta kembali ke rumah masing-masing.
Bo Li tampak berjalan melayang di sebuah tempat yang terdapat taman bunga bermekaran wangi.
"Taman !? Kenapa aku berada di taman !? Bukankah ini rumah kakek !? Dan tadi aku ada di kamar tidurku sambil menangis !? Lalu kenapa aku bisa berada disini sekarang !?", kata Bo Li keheranan.
Dia lalu berjalan pelan tetapi tubuhnya melayang di atas permukaan ubin halaman rumah.
Taman bunga segar yang bermekaran indah dengan semerbak wangi harum bunga di taman menambah cantiknya taman itu.
Bo Li berjalan melayang pelan menuju ke arah sebuah tempat terbuat dari kaca yang seluruh permukaannya penuh ditumbuhi tanaman menjalar dan hampir menutupi semua bagian tempat dari kaca itu.
"Apakah itu ? Dan aku belum pernah melihatnya sejak aku bertunangan dengan Ivander Liam, apa itu baru di tempatkan disini oleh kakek ?", gumam Bo Li.
Tubuh Bo Li yang sepenuhnya telah kembali semula dan tidak lagi berwarna ungu serta tembus pandang bergerak naik ke atas tempat yang tertutup tanaman hampir di semua bagiannya.
Bo Li terbang merendah lalu melayang di sebelah tempat dari kaca itu, ia memandanginya sambil memiringkan kepalanya ke arah kanan dan kiri.
"A--apa ini ???", pekik Bo Li tertahan dengan mata terbelalak kaget.
Mendadak wajah perempuan cantik itu berubah murung dan terlihat sedih sekali, ia lalu berusaha menyingkirkan tanaman yang menjalar di permukaan tempat dari kaca itu, ia melakukannya dengan asal sehingga melukai tangannya.
Bo Li tidak memperdulikannya meski tangannya penuh luka ia terus menyingkirkan tanaman menjalar yang berduri itu dan hampir menutupi tempat dari kaca itu dengan kedua tangannya.
Dia berhasil membersihkan sebagian tanaman berduri yang terus menjalar itu dan ia melihat wajah seorang wanita yang terbaring di dalam tempat kaca itu dengan kedua mata tertutup rapat.
"Mama...", gumam Bo Li tercengang.
Tubuh Bo Li bergetar hebat, bibirnya gemetaran saat ia berbicara.
"Mama !!!!", jerit Bo Li histeris.
Suara jerit Bo Li menggema di seluruh ruangan taman bunga dan memecah keheningan malam, hingga menerbangkan burung-burung yang hinggap di atas kubah bangunan taman itu.
"Mama... Apakah ini mama...???", kata Bo Li bergetar pelan.
Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu bergerak pelan seraya mengusap kaca yang menutupi wajah mamanya yang terpejam.
Bo Li tidak dapat menahan kesedihan hatinya yang dalam, ia tidak dapat menangis, dan ia merasakan jika air matanya telah mengering.
Kaku..., ia merasakan seluruh tubuhnya kaku dan membeku dingin.
Hampir lima belas tahun sejak peristiwa suram yang mengerikan itu, saat seluruh keluarganya mati terbunuh di malam berdarah itu.
Saat dirinya juga mati dan bangkit kembali setelah melewati reinkarnasi yang menyakitkan itu, dimana tubuhnya terasa tercabik-cabik sakit.
Yah..., kematian yang tak terperikan sakitnya..., membuat jiwanya terjepit di antara alam kematian dan alam kehidupan, rohnya terus bergentayangan di alam manusia.
Tidak bisa kembali tetapi seakan menggantung di atas langit-langit yang suram.
***
Bo Li masih menatap tempat dari kaca itu yang terdapat tubuh mamanya terbaring tak bergerak, wanita berparas jelita itu seperti orang yang tertidur pulas dan tubuhnya masih utuh seperti saat lima belas tahun silam.
Dia kembali mengusap permukaan kaca itu, dan memandang dengan tatapan teduh, sesekali ia tersenyum sendiri saat menatap ke arah tempat dari kaca itu.
"Mama...!?", bisik Bo Li sendu. "Bo Li telah kembali mama..., Bo Li hidup kembali... Bo Li bangkit dari kematian mama... Ini aku, mama... Anakmu... Puteri satu-satumu...!"
Perempuan cantik itu bergeming sesaat lalu meletakkan kepalanya di atas permukaan kaca sembari tersenyum dan memeluk tempat dari kaca itu.
"Mama..., aku telah bertunangan mama..., dan aku telah menerima hadiah ulangtahun darimu yang kamu titipkan kepada kakek, kado yang sangat menarik, terimakasih mama...", kata Bo Li sendu.
Lama ia memandangi wajah mamanya yang berada di dalam tempat dari kaca itu, ia lalu tersadar dan terjaga kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tempat yang tertutup oleh tanaman menjalar lebat itu.
Bo Li memandangi kedua tempat yang terbuat dari kaca itu silih berganti lalu bergerak pelan sambil melayang di udara.
"Jika di sebelah itu tempat makam mama kalau begitu yang satu ini adalah tempat makam papa !?", kata Bo Li.
Dia bergerak pelan dan turun merendah ke arah tempat yang semuanya tertutup tanaman yang menjalar itu.
Bo Li lalu mengangkat salah satu tangannya yang penuh luka itu setengah ke atas kemudian menepiskan tanaman menjalar yang menutupi tempat itu.
"Papa...", gumam Bo Li pelan.
Dia melihat wajah seorang pria yang seperti orang tidur dan terbaring diam di dalam tempat kaca.
"Papa, aku telah kembali dari kematianku..., dan aku berjanji akan membalaskan dendam ini kepada Elmar dan seluruh keluarganya..., seperti mereka menghancurkan keluarga kita...", kata Bo Li dengan tatapan dinginnya.
Dia bergerak menuju ke arah tempat itu dan berdiri melayang di samping makam itu, tempat yang terdapat jasad kedua orang tuanya yang tertidur kekal dan tidak akan pernah bangun hidup lagi.
"Apa yang kamu lakukan disini Bo Li !?", terdengar seseorang memanggilnya dari arah bawah makam yang menggantung itu.
"Kakek Li... Kakek belum tidur... Hari sudah larut malam...", kata Bo Li seraya menolehkan kepalanya ke arah bawah.
"Kenapa kamu bisa ada di taman ini ? Bagaimana kamu bisa sampai ke atas sana, nak ? Dan kenapa kamu kembali pulang kesini ?", tanya Kakek Li.
"Entahlah kakek, aku tiba-tiba sudah berada di taman ini dan menemukan makam gantung ini di halaman dalam rumah", jawab Bo Li lalu bergerak turun dari atas ke arah bawah.
Bo Li bergerak ke arah kakeknya berdiri tegak di taman bunga yang menghiasi ruangan yang indah yang berada di halaman di dalam ruangan rumah mereka yang berukuran megah.
Dia lalu berjalan melangkah pelan menghampiri kakeknya yang terdiam memandangi dirinya.
"Apakah kamu merasakan sakit, nak ?", tanya kakek seperti menyadari sesuatu dari cucu perempuannya itu.
"Aku baik-baik saja kakek, kenapa kakek bertanya seperti itu ?", kata Bo Li muram.
"Apakah kamu sudah tahu tempat apakah ini, nak ?", tanya Kakek Li seraya mendongakkan kepalaya ke arah atas.
"Mmm... Tempat ini ya...?", gumam Bo Li lalu membalikkan badannya ke arah taman yang menggantung di atas itu.
"Itu adalah tempat dimana kedua orang tuamu disemayamkan di dalam kotak yang terbuat dari kaca, tempat peristirahatan terakhir mereka yang kekal !", kata Kakek Li sambil memandang ke arah makam itu.
"Aku tahu itu, kakek, itu adalah makam kedua orang tuaku...", kata Bo Li sendu lalu mendongakkan kepalanya ke arah makam yang menggantung itu.
"Benar sekali, itu adalah tempat makam gantung kedua orang tuamu berada..., dan aku sengaja meletakkannya di dalam ruangan rumah yang aku buat seperti halaman yang penuh tanaman bunga yang bermekaran indah agar makam menggantung itu tetap harum dan tidak terlihat seperti makam", kata kakek.
"Kenapa kakek tidak memakamkan jasad kedua orang tuaku dengan menguburkannya di dalam tanah ?", tanya Bo Li.
Mereka menatap lama ke arah taman yang tertutup penuh oleh tanaman berduri yang terus-menerus menjalar menutupi makam gantung itu.
Tempat yang berada melayang di atas permukaan taman bunga, menggantung di atas tanpa penyangga apapun. Dan hanya ditopang oleh tanaman yang menjalar yang menjadi tiangnya, anehnya tanaman yang menjalar di seluruh makam gantung dari kaca itu tidak menyentuh tanah atau permukaan lantai taman.
Makam itu benar-benar menggantung di atas permukaan tanah dan posisinya melayang di udara.
"Yah..., memang seharusnya seperti itu, nak, dan setiap dari keturunan Kerajaan Kuota yang memiliki pancasona akan di kuburkan di sebuah makam gantung yang jauh dari permukaan tanah apabila mereka meninggal dunia", kata kakek sembari menyunggingkan senyum tipisnya.
"Kenapa ? Kenapa tidak di dalam tanah ?", kata Bo Li sedih sekali.
"Apabila jika pemilik ilmu pancasona mati maka jasadnya harus di makamkan menggantung seperti itu dan jika tidak ia akan hidup kembali atau berubah menjadi makhluk lainnya !", kata Kakek Li Sanders.
"Hidup kembali ?", tanya Bo Li tercengang.
"Iyah..., hidup kembali seperti sediakala, bahkan tidak akan pernah mati, kekal dan abadi...tidak pernah tua atau sakit !", kata kakek lalu menghela nafas panjangnya.
"Tetapi kenapa papa tidak dapat hidup kembali ? Bukankah dia adalah keturunan dari Kerajaan Kuota ? Dan pemilik pancasona itu ? Lalu kenapa papa tidak bangkit lagi dari kematiannya ? Kenapa tetap terbaring disana ?", kata Bo Li putus asa.
"Bo Li...", gumam kakek sedih.
"Kenapa papa tidak membalaskan kematian kami dan tetap diam di dalam kaca itu ? Kenapa papa tidak langsung membalaskan dendam kami ? Dan membalas melawan Elmar !? Kenapa kakek !? Kenapa !!!", ucap Bo Li setengah berteriak.
"Bo Li... !?", gumam kakek iba.
Bo Li tertunduk dengan belinangan air mata dan menangis tertahan saat ia mengatakan itu semua.
Dia kembali menangis sedih ketika melihat kakeknya dan kedua makam gantung di taman bunga itu.
Hatinya remuk redam, kesedihannya yang tak terbantahkan lagi dan hal yang sangat menyakitkan hati perempuan itu.
Melihat keduanya mati mengenaskan dan harus di makamkan menggantung seperti itu.
Makam gantung...
Tempat peristirahatan sang raja, penguasa seluruh negeri yang harus mati di tangan kerabatnya sendiri dan jasadnya harus di kubur di makam gantung.