BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Betapa Beruntungnya Menikah Denganmu



Bo Li terbangun dari tidurnya dan dia mendapati dirinya seorang diri di atas ranjang tidurnya.


"Oh Tuhan... Apa yang telah aku lakukan !?", ucap Bo Li sambil merintih kesakitan.


Bo Li mengusap wajahnya berulangkali sembari melihat keadaan dirinya tanpa busana dan hanya berbalut kain selimut.


Terlihat tempat tidurnya yang berantakan serta tergeletak pakaian miliknya yang tak jauh darinya.


"Ya Tuhanku !", pekik Bo Li dengan suara pelan dan tertahan.


Terdengar dari arah kamar mandi suara gemericik air mengalir dan Bo Li baru menyadari jika di kamarnya ada orang lain.


"Ehk !? Siapa yang ada di kamar mandi ?", ucap Bo Li tersentak kaget.


Pintu kamar mandi kemudian terbuka lebar, keluar seseorang dari dalam kamar mandi.


Pria berambut pirang itu tengah berdiri tepat di muka pintu kamar mandi sembari tersenyum kepada Bo Li.


"Ivander Liam !?", ucap Bo Li.


Bo Li buru-buru menarik selimutnya agar tubuhnya yang putih bersih tertutupi dengan kain selimut.


"Sudah bangun sayang", sapa Ivander Liam seraya tersenyum.


Ivander Liam berjalan menghampiri Bo Li yang masih berada di atas tempat tidurnya lalu duduk disebelah perempuan cantik itu.


"Hari ini aku berencana mengajakmu untuk melakukan pernikahan dan mengurus surat nikah kita di kantor pernikahan, Bo Li", ucap Ivander Liam.


"Hah !? A--apa ???", ucap Bo Li tersentak kaget.


"Iya, kita akan menikah hari ini juga sayangku", ucap Ivander Liam.


"M--menikah !?", kata Bo Li.


Ivander Liam menatap ke arah Bo Li dengan tatapan serius seraya mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Iya, menikah", sahut Ivander Liam.


"Hah... A--apa yang kamu katakan tidak salah Ivander Liam ? Karena aku pikir kita baru dekat meski aku tahu kita memang saling menginginkan satu dengan lainnya...", ucap Bo Li diserang rasa gugup yang mulai datang kepadanya.


"Tuhanku...", ucap Ivander Liam.


Pria berwajah tampan itu lalu mengangkat tubuh Bo Li menuju ke kamar mandi dan meletakkan tubuh perempuan cantik itu di dalam bak mandi.



Ivander Liam membuka kran untuk dialiri air agar memenuhi bak mandi, dia mencampur air dengan sabun cair yang wangi sehingga Bo Li dapat berendam di bak mandi.


"Apaa yang kamu lakukan Ivander Liam !?", tanya Bo Li panik.


"Aku rasa lebih baik memandikan mu secepatnya kemudian membawa mu ke kantor pernikahan", sahut Ivander Liam dengan sangat serius.


"Tidak... Tidak... Tidak...", ucap Bo Li semakin panik.


Bo Li berusaha keluar dari bak mandi tetapi Ivander Liam langsung menahan tubuh Bo Li, pria itu lalu menatap tajam ke arah Bo Li.


"Duduklah ! Dan segera selesaikan mandimu !", perintah Ivander Liam.


Bo Li beringsut pelan masuk kembali ke dalam bak mandi sambil membenamkan seluruh tubuhnya di dalam air mandi yang dipenuhi oleh busa sabun mandi.


"Aku tunggu kamu dalam waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan mandi mu, kamu mengerti Bo Li", kata Ivander Liam.


"I--iya, aku mengerti...", sahut Bo Li dari dalam air mandi.


"Ingat cepat mandi dan berpakaian, aku telah menyiapkan gaun untukmu, dan kita langsung pergi ke kantor pernikahan", kata Ivander Liam dengan tatapan serius.


"Ivander Liam", panggil Bo Li.


Namun, Ivander Liam tidak menghiraukan panggilan Bo Li dan berlalu begitu saja tanpa melihat lagi ke arah Bo Li.


"Oh Tuhan !!! Kenapa semuanya menjadi berantakan seperti ini !? Aku telah membuat kesalahan besar dalam hidupku", ucap Bo Li gemetar.


Rencana semula untuk menggagalkan pertunangannya dengan Ivander Liam akhirnya kandas juga karena sekarang ini Bo Li harus menghadapi pernikahannya dengan Ivander Liam yang sebentar lagi ada di depan mata.


Bukan membuat hubungan pertunangannya dengan Ivander Liam berantakan melainkan semakin mengeratkan hubungan diantara mereka berdua.


"A--ku harus menikah dengan Ivander Liam secepat ini !?", kata Bo Li tercengang sendirian di dalam bak mandinya.


Suara keras dari arah luar kamar mandi memanggil nama Bo Li sehingga membuyarkan lamunan perempuan berwajah cantik itu.


Tergesa-gesa Bo Li menyelesaikan mandinya pagi itu dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor pernikahan.


Ivander Liam memberikan Bo Li sebuah gaun pengantin berwarna putih yang di pesannya beberapa jam yang lalu dari sebuah butik ternama di Helsinki.


"Pakailah gaun pengantin ini untuk sementara karena rencana pernikahan kita yang mendadak ini terpaksa membuat aku tidak memiliki waktu persiapan untuk pernikahan kita sehingga aku terburu-buru memesan gaun pengantin ini secara asal-asalan", kata Ivander Liam.


"Kapan kamu memesan gaun pengantin ini, Ivander Liam ?", tanya Bo Li.


Bo Li terkesima melihat gaun pengantin berwarna putih bersih dengan hiasan taburan permata yang berkilauan menghiasi gaun pengantinnya yang sangat cantik itu.


"Aku memesan gaun pengantin itu beberapa jam yang lalu", sahut Ivander Liam.


"Benarkah !?", ucap Bo Li hampir tidak percaya.


"Kenapa ? Kamu tidak menyukai gaun pengantin itu !?", tanya Ivander Liam.


Terlihat pria berambut pirang itu mendekati Bo Li seraya meraih gaun pengantin yang ada di tangan Bo Li.


"Tidak, bukan aku tidak menyukainya, hanya saja aku berpikir bahwa semuanya begitu cepat, Ivander Liam", sahut Bo Li.


"Nanti setelah kita kembali dari Finlandia, aku memiliki rencana untuk menggelar pernikahan kita lagi di Kota B-One", ucap Ivander Liam.


"U--untuk apa kamu merayakannya lagi ? Apakah pernikahan di Finlandia ini tidak cukup untuk kita ?", kata Bo Li tersentak kaget.


"Menurutku pernikahan sederhana ini sudah cukup berkesan sekali, Ivander Liam", ucap Bo Li.


Ivander Liam langsung memeluk Bo Li seraya mencium mesra calon istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Pria berambut pirang itu pelan-pelan memakaikan gaun pengantin ke tubuh Bo Li yang putih bersih.


"Rupanya kamu telah menerima pernikahan ini, sayangku, dan tidak menolak menikah denganku lagi", ucap Ivander Liam.


"Hmm...", gumam Bo Li pelan.


"Aku senang mendengarnya, Bo Li", kata Ivander Liam.


Ivander Liam berulangkali mencium mesra Bo Li ketika membantu perempuan cantik itu mengenakan gaun pengantin berwarna putihnya.


"Sudah selesai aku membantu mu memakai gaun pengantin mu dan waktunya sekarang untuk berangkat ke kantor pernikahan, sayangku", ucap Ivander Liam.


"Emm, ya...", Bo Li lalu berbalik menghadap Ivander Liam.


"Bo Li...", bisik lembut Ivander Liam.


"Ivander Liam...", sahut Bo Li.


Bo Li menatap teduh Ivander Liam penuh dengan perasaan kasih, meski sebelumnya dia sempat menolak rencana pernikahan ini. Dan sekarang Bo Li pelan-pelan menerima pernikahan yang sebentar lagi akan mereka berdua jalani di kantor pernikahan.


Lama keduanya saling berpandangan mesra serta berciuman penuh romantis, ditambah suasana di kamar hotel yang menunjang semakin menambah kesyahduhan hubungan diantara mereka berdua.


"Ayo, Bo Li sayangku, kita segera pergi ke kantor pernikahan sekarang juga", ucap Ivander Liam seraya tersenyum.


Iya, Ivander Liam", sahut Bo Li.


Keduanya segera keluar dari ruangan kamar tidur Hotel GLO Kluuvi Helsinki yang ada di jalan Kluuvikatu 4, 00100 Helsinki, Finlandia.


Menuju ke kantor pernikahan untuk mengesahkan hubungan antara mereka berdua setelah cukup lama bertunangan.


Mengendarai sebuah mobil, kedua pasangan yang tengah di mabuk asmara itu berangkat meninggalkan hotel, tempat mereka menginap.



"Kita sudah sampai di kantor pernikahan, Bo Li sayangku", ucap Ivander Liam seraya menuntun Bo Li keluar dari dalam mobil.


"Iya, Ivander Liam", ucap Bo Li.


"Ayo, sayangku, kita sahkan hubungan ini dalam ikatan suci pernikahan, Bo Li", kata Ivander Liam.


Bo Li dan Ivander Liam berjalan menuju ke arah kantor pernikahan untuk melegalkan hubungan mereka berdua dalam ikatan suci yang dinamakan pernikahan.


"Ada yang bisa kami bantu tuan ?", sapa seorang petugas kantor pernikahan.


"Kami mau mendaftarkan nama kami ke buku catatan pernikahan", sahut Ivander Liam sambil menggenggam erat tangan Bo Li.


"Baik, tuan dan kami mohon untuk mencatatkan nama kalian berdua ke lembaran kertas ini dan secepatnya, kami akan segera membuat buku sah pernikahan kalian", kata petugas itu.


"Iya, terimakasih", sahut Ivander Liam.


Tidak butuh lama bagi keduanya men-sahkan pernikahan mereka berdua dalam buku pernikahan. Dan catatan pernikahan mereka dibuat di Finlandia.


Akhirnya buku pernikahan sah telah mereka masing-masing kantongi, terlihat raut wajah dari keduanya sangat bahagia ketika menerima buku pernikahan mereka.


"Bo Li, sekarang kita telah menikah dan menjadi sepasang suami-istri yang sah, sayangku", ucap Ivander Liam.


"Iya, Ivander Liam", sahut Bo Li dengan mata berbinar-binar indah.


"Emm... Sayangnya aku belum sempat membeli cincin pernikahan buat kita", kata Ivander Liam tersipu malu.


"Tidak apa-apa, Ivander Liam", ucap Bo Li sambil tersenyum.


"Bagaimana kalau kita segera pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan, Bo Li ?", tanya Ivander Liam.


"Baiklah, aku rasa itu merupakan sebuah idea yang sangat menarik", sahut Bo Li.


Ivander Liam mencium mesra Bo Li yang sekarang resmi menjadi istri sahnya.



Dia membawa Bo Li ke sebuah toko perhiasan untuk membeli sepasang cincin pernikahan buat mereka berdua.


"Aku rasa cincin ini sangat pas buat kita berdua, selain modelnya yang sederhana juga sangat cantik dan aku suka dengan model cincin ini", kata Bo Li.


"Jika kamu suka maka aku akan membelinya untukmu sayang, dan aku rasa sepasang cincin ini sangat cocok dengan kita", kata Ivander Liam.


"Aku suka cincin yang ini saja, dan sangat pas di jari tanganku, Ivander Liam", jawab Bo Li.


"Baik, baik, kita beli sepasang cincin ini untuk pernikahan kita berdua, kamu senang, sayangku", kata Ivander Liam.


"Iya, aku sangat senang sekali dan aku suka dengan cincin ini", ucap Bo Li.


Ketika Bo Li memilih sepasang cincin untuk mereka berdua, Bo Li menjatuhkan pilihannya kepada cincin berdesain sederhana yang jika ditempelkan maka sepasang cincin itu akan menempel satu sama lainnya.


Ivander Liam juga sangat menyukai cincin pernikahan yang dipilih oleh Bo Li dan dia menyetujui cincin pilihan Bo Li lalu membelinya untuk mereka berdua.


"Bo Li... Aku mencintaimu...", bisik Ivander Liam.


"Ivander Liam...", sahut Bo Li sambil menatap mesra suaminya.


"Aku sangat mencintaimu, sayangku", ucap Ivander Liam.


"Dan betapa beruntungnya aku dapat menikah denganmu, Ivander Liam", sahut Bo Li terharu.


Mungkinkah Bo Li mulai mencintai Ivander Liam dan menerimanya sepenuh hatinya tanpa alasan terpaksa ataukah Bo Li masih ragu akan perasaannya sendiri terhadap Ivander Liam.


Namun, Bo Li mulai sadar bahwa dirinya tidak dapat lepas ataupun jauh dari Ivander Liam yang kini telah resmi menjadi suaminya yang sah.