BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
PRIA BERTOPENG


Bo Li mengarahkan senjata apinya jenis SVLK-14S Sumrak saat dia memeriksa setiap ruangan di gedung bertingkat.


Tak satupun di ruangan itu Bo Li temukan sesuatu yang aneh.


''Kita sudah berjalan lama tetapi kita tidak menemukan apa-apa", ucap Bo Li.


"Apakah kita sebaiknya pergi saja ?", kata peri Dryada.


"Secepat itu...", ucap Bo Li.


"Daripada kita berputar-putar di lantai atas gedung ini dan tidak mendapatkan yang kita cari, aku pikir kita pergi saja kembali ke hotel, Bo Li", sahut peri Dryada.


''Hmmm..., baiklah...", kata Bo Li.


Bo Li menyetujui saran peri Dryada untuk pergi dari gedung bertingkat karena dia tidak menemukan apa-apa di tempat itu.


"Ini sangat aneh, kenapa kita tidak melihat sesuatu yang mencurigakan di gedung ini, tetapi kita melihat orang-orang di acara lomba tadi bergelimpangan seperti itu", kata Bo Li.


"Mungkin mereka hanya bermaksud mengacaukan acara lomba menembak", sahut peri Dryada.


"Apa alasannya ?", tanya Bo Li.


"Aku juga tidak tahu, mungkin saja mereka sedang mencari sesuatu di acara lomba menembak itu", jawab peri Dryada.


"Tapi apa ?", kata Bo Li.


"Aku rasa diri mu...", sahut peri Dryada.


"Aku !?", tanya Bo Li.


"Benar, kamu ! Aku berpikir jika mereka sedang mencari mu karena kejadian di acara pesta beberapa hari yang lalu", jawab peri Dryada.


"Tetapi aku berada di Helsinki sekarang...", kata Bo Li.


"Benar juga...", ucap peri Dryada.


"Bagaimana mereka bisa menemukan ku di Helsinki ?", tanya Bo Li kebingungan.


"Aku juga tidak mengerti, mungkinkah mereka terus mengikuti mu setelah kembali dari acara pesta itu, Bo Li", sahut peri Dryada.


"Ya Tuhan..., aku tidak berpikir hingga sejauh itu !", pekik Bo Li.


"Artinya...", ucap mereka berdua kompak.


"Artinya para Murdhuacha mengetahui keberadaan ku di rumah Ivander Liam tetapi saat di acara pesta aku mengubah wujud ku menjadi ungu", kata Bo Li.


"Mungkin mereka mencari bau Amethyst ungu yang melekat erat di tubuh mu, Bo Li", sahut peri Dryada.


"Bau Amethyst ungu !?", kata Bo Li keheranan.


"Iya..., mereka tidak tahu bentuk asli mu yang menyamar menjadi makhluk ungu tetapi mereka mencium buah surga pada diri mu, Bo Li", sahut peri Dryada.


"Penciuman mereka sangat tajam", kata Bo Li tertegun.


"Murdhuaca adalah sejenis peri yang memiliki penciuman tajam bahkan mereka mampu mengendus bau target mereka dari tempat yang sangat jauh tanpa harus melihatnya", kata peri Dryada.


Bo Li terdiam sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga untuk turun ke arah lantai dasar gedung bertingkat.


"Siapa yang telah mengirim mereka ?", tanya Bo Li.


"Entahlah, tetapi yang aku tahu pasti orang itu memiliki kekuasaan di dua dunia serta sangat kuat", sahut peri Dryada.


"Hmmm...", gumam Bo Li sambil berpikir.


"Posisi mu sudah tidak aman lagi sekarang dan seharusnya kita tinggalkan saja rumah Ivander Liam", ucap peri Dryada.


"Pergi...", kata Bo Li tercengang.


"Iya, kamu harus segera pergi dari rumah itu agar mereka tidak dapat menemukan mu di sana", sahut peri Dryada.


"Mana mungkin ?", lanjut Bo Li.


"Cepat atau lambat tempat persembunyian mu akan tercium oleh para Murdhuacha dan itu sangat membahayakan mu, Bo Li", sahut peri Dryada.


"Tetapi aku tidak mungkin meninggalkan Ivander Liam sekarang karena dia telah menjadi suami ku, peri", ucap Bo Li.


"Itulah masalahnya yang kita hadapi sekarang di sisi lain kita harus berhati-hati terhadap serangan Murdhuacha yang mungkin datangnya sewaktu-waktu", kata peri Dryada.


"Oh Tuhan...", Bo Li lalu menghela nafasnya.


Tampak dari arah kejauhan seseorang tengah mengamati Bo Li yang sedang berada di gedung bertingkat.


Orang itu mengenakan sebuah topeng gagak dari emas dan duduk di atas tepi gedung lainnya.


Dia memakai topi bowler yang merupakan ciri khasnya serta memanggul senapan api laras panjang.


Mengamati Bo Li yang sedang bercakap-cakap serius dengan makhluk berukuran kecil yang terbang berkelap-kelip.


Pria itu tampak tersenyum ketika melihat ke arah Bo Li.


"Perempuan yang unik", ucap pria bertopeng itu dari atas ketinggian gedung bertingkat.


Pria bertopeng terus memperhatikan Bo Li yang berada di gedung lainnya yang berada satu area dengan gedung bertingkat tempatnya saat ini.


"Terkadang dia berubah menjadi ungu dan terkadang dia tetap berpenampilan seperti pada umumnya perempuan biasa", kata pria bertopeng itu.


Dia mengawasi gerak-gerik Bo Li dengan seksama serta tanpa melepaskan pandangannya dari Bo Li sedetikpun.


"Siapakah gerangan perempuan di balik topeng gagak itu ?", gumam pria misterius itu seorang diri.


Pria bertopeng itu duduk dengan santainya seraya terus memperhatikan Bo Li.


"Dia sangat unik sekali...", ucap pria bertopeng itu.


Sudut bibir pria misterius itu membentuk garis lengkung tipis seperti bentuk senyuman.


Suasana hari itu sangat cerah..., tetapi angin bertiup kencang ketika pria bertopeng itu berada di atas gedung bertingkat yang memiliki ketinggian di atas rata-rata.


Di gedung bertingkat lainnya dimana Bo Li berada.


Terlihat perempuan cantik yang selalu mengenakan topeng gagak untuk menyembunyikan wajahnya ketika beraksi tengah berjalan menuruni anak-anak tangga gedung.


Bo Li tidak pernah lupa untuk memakai topeng gagak di wajahnya ketika dia harus menghadapi lawan-lawannya.


Dia selalu membawa topeng itu di manapun dia pergi.


"Aku pikir kita lebih baik pergi dari gedung ini karena percuma jika kita menunggu sesuatu yang tidak ada, peri", kata Bo Li.


Bo Li terus menuruni anak-anak tangga gedung bertingkat itu yang cukup panjang seraya membawa senapan SVLK-14S Sumrak di tangannya.


"Aku juga berpikir sama dengan mu dan seharusnya kita sudah pergi dari gedung ini sejak tadi", sahut peri Dryada.


"Apakah kamu sangat khawatir, peri ?", tanya Bo Li.


"Tidak hanya khawatir tetapi aku sangat ketakutan dengan yang terjadi di gedung ini karena semuanya sangat misterius", sahut peri Dryada.


"Aku tahu itu..., tapi kita harus tetap bersikap tenang, peri", kata Bo Li.


"Aku tidak bisa tenang, karena kejadian ini tidak hanya misterius tetapi kita tidak dapat mengetahui keberadaan musuh disekitar kita, Bo Li", sahut peri kecil daun hijau.


"Kamu takut, peri !?", kata Bo Li.


Perempuan cantik yang merupakan istri sah Ivander Liam itu lalu menghentikan langkah kakinya serta menatap ke arah peri Dryada.


"Apakah kamu takut, peri !?", ucap Bo Li mengulang pertanyaannya.


Bo Li berdiri tegak seraya melihat peri kecil daun hijau dengan sangat serius sedangkan peri Dryada yang terbang melayang di atas Bo Li hanya terdiam.


Keduanya lama saling berpandangan tanpa besuara sedikitpun, tampak kecemasan menghinggapi hati peri kecil dengan sayapnya yang berkilauan diterpa sinar cahaya matahari.


"Aku..., hanya mencemaskan mu, Bo Li...", sahut peri Dryada.


"Fuih !", hela nafas Bo Li.


"Aku sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan mu serta posisi mu yang sudah tidak aman lagi, Bo Li", kata peri Dryada cemas.


Bo Li lalu tersenyum kepada peri Dryada yang merupakan team editor perinya.


"Percayalah pada ku, semuanya akan baik-baik saja, peri", sahut Bo Li.


"Benarkah !? Apa yang kamu katakan itu benar, Bo Li ? Bahwa aku tidak perlu lagi merasa cemas pada mu !?", ucap peri kecil daun hijau.


"Iya... Jangan takut peri Dryada... Aku akan sangat baik-baik saja, percayalah pada ku", sahut Bo Li.


"Mmm..., baiklah, aku akan mempercayai ucapan mu", sahut peri kecil itu.


"Baiklah, kita pergi keluar dari gedung bertingkat ini dan kembali ke hotel GLO Kluuvi Helsinki", kata Bo Li.


"Iya, aku rasa itu sebuah gagasan yang tepat, Bo Li", sahut peri Dryada.


"Mungkin saja Ivander Liam sudah menunggu ku lama di hotel dan aku tidak ingin mencari masalah dengannya atau menyulut pertengkaran diantara kami", kata Bo Li.


"Kamu langsung mengingat suami mu itu, Bo Li", ucap peri Dryada.


"Tentu saja karena dia satu-satunya tujuan hidup ku saat ini disamping tujuan ku lainnya memburu iblis Elmar", sahut Bo Li.


"Aku tahu itu, Bo Li", ucap peri kecil daun hijau yang terbang melayang disamping Bo Li.


Bo Li kemudian memasukkan senjata api barunya sejenis SVLK-14S Sumrak ke dalam tas pembungkus yang dia sampirkan di pundaknya.


"Ayo, kita pergi, peri Dryada !", kata Bo Li.


"Iya, Bo Li", sahut peri kecil daun hijau.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel GLO Kluuvi Helsinki setelah mereka tidak menemukan apa-apa di dalam gedung bertingkat itu.


Bo Li segera berlari cepat meninggalkan area gedung tempat acara lomba menembak yang akan diadakan di gedung itu, tetapi semuanya hancur berantakan karena sesuatu masalah yang tidak diketahui penyebabnya.


Di tempat lain di area yang sama di gedung bertingkat.


Pria misterius dengan topi bowlernya terlihat masih duduk mengamati kepergian Bo Li dari atas ketinggian gedung bertingkat.


Beberapa pria berpakaian tuxedo berwarna hijau yang sama dengan pria bertopeng gagak itu tengah berdiri di belakang sembari memanggul senjata api laras panjang di pundak mereka.


"Apakah anda masih penasaran dengan perempuan yang anda temui pada acara pesta itu, tuan ?", tanya salah satu pria yang juga bertopeng gagak.


"Hmmm, iya..., karena dia sangat menarik buat ku...", sahut pria misterius itu seraya tersenyum.


"Perlukah kami membuntuti perempuan itu, tuan ?", kata seorang pria bertopeng gagak yang lainnya.


"Tidak perlu, karena aku menugaskan kalian untuk mencari siapa yang telah mengirim makhluk-makhluk menyeramkan itu", sahut pria misterius itu.


"Siap, tuan", ucap pria bertopeng lainnya.


"Kami mohon pamit untuk pergi dan segera mencari orang itu, tuan", kata pria dengan senjata laras panjangnya.


"Iya, pergilah ! Dan segera bawa kabar menarik untuk ku", sahut pria bertopi bowler.


"Apakah anda tidak ikut kami pergi dari gedung ini ?", tanya seorang pria bertopeng gagak.


"Nanti..., aku akan pergi setelah melihat situasi di tempat ini benar-benar aman karena mungkin saja perusuh itu muncul kembali di dalam gedung itu", sahut pria bertopeng gagak emas.


"Baik tuan, kami pergi dulu dan berhati-hatilah", ucap pria bertopeng gagak lainnya.


Beberapa pria yang mengenakan tuxedo itu memang bertopeng gagak yang sama dengan pria misterius itu tetapi topeng gagak yang dipakai pria lainnya tidak terbuat dari emas serta tidak memakai topi bowler melainkan memakai topi pandora.


Mereka semua lalu pergi menghilang dengan cepatnya meninggalkan pria bertopeng gagak emas yang masih duduk terpaku mengawasi area gedung bertingkat.


Angin yang bertiup kencang di atas gedung menerpa wajah pria misterius serta melambaikan jas warna hijau yang dipakai pria bertopeng itu.


Raut wajahnya sangat serius ketika mengawasi keadaan gedung bertingkat yang ada dihadapannya.