BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Liburan Musim Panas



Finlandia...


Pesawat mendarat di Bandara Internasional Helsinki tepat pukul 10 pagi.


Bo Li dan Ivander Liam turun bersama-sama menuju bandara, terlihat pria berambut pirang membawakan tas milik Bo Li.


"Biarkan aku saja yang membawanya, kamu akan kerepotan membawa koper milikku dan milikmu, Ivander Liam", ucap Bo Li.


"Tidak, biarkan aku yang membawa semua koper-koper ini, dan kamu tinggal berjalan saja sampai ke mobil, kamu mengerti", kata Ivander Liam.


"Tapi...", ucap Bo Li.


Bo Li hanya bisa pasrah menerimanya dan berjalan terlebih dahulu dari Ivander Liam yang tengah kesulitan membawa koper-koper di tangannya.


Dia menoleh sebentar ke arah Ivander Liam lalu berdiri terdiam memandangi pria berambut pirang itu.


"Apa benar kamu tidak memerlukan bantuanku ?", tanya Bo Li.


"Iya, sudahlah jangan pikirkan aku lagi, dan serahkan saja semuanya padaku", sahut Ivander Liam.


"Mmm... Baiklah...", ucap Bo Li sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.


"Tenanglah, jangan khawatirkan aku !", kata Ivander Liam.


Bo Li masih berat untuk membiarkan Ivander Liam yang tampak kesusahan membawa koper-kopernya, tapi dia memaksakan dirinya untuk berjalan meski pikirannya terus tertuju pada pria berambut pirang itu.


"Hufh...", desah Bo Li seraya memalingkan wajahnya.


Gadis cantik itu melanjutkan langkah kakinya menuju mobil yang dimaksudkan oleh Ivander Liam.


Bo Li melihat Ivander Liam berkali-kali kesusahan membawa koper-koper milik mereka menuju mobil.


"Sini ! Aku bantu bawa kopernya !", ucap Bo Li tidak sabaran.


Dia langsung mengambil koper miliknya dan membawanya masuk ke dalam bagasi mobil serta koper-koper lainnya.


BRAK !


Bo Li menutup bagasi mobil lalu masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara sedangkan Ivander Liam berdiri termangu menatap ke arah bagasi mobil.


"Ayo, masuk ! Kenapa kamu masih ada di luar ? Bukankah liburan ini ideamu !?", ucap Bo Li dari balik jendela mobil yang terbuka separuh.


"Iya...", sahut Ivander Liam.


Pria berambut pirang itu lalu berjalan menuju pintu mobil kemudian membukanya untuk masuk ke dalam mobil.


Brak...


"Bawa kami ke Hotel GLO Kluuvi Helsinki yang ada di jalan Kluuvikatu 4, 00100 Helsinki, Finlandia", ucap Ivander Liam.


"Baik bos, aku akan membawa kalian berdua kesana dengan secepatnya", kata sopir pria itu.


"Iya, terimakasih", sahut Ivander Liam dalam bahasa Finlandia.


"Apa yang kalian bicarakan ?", tanya Bo Li.


"Aku memintanya untuk mengantar kita ke hotel tempat kita menginap selama liburan musim panas disini", sahut Ivander Liam.


"Oh...", ucap Bo Li.


"Bagaimana denganmu, mmm..., maksudku, apakah kondisimu baik-baik saja ?", tanya Ivander Liam.


"Iya, aku baik-baik saja", jawab Bo Li.


"Syukurlah, karena aku masih mencemaskan keadaanmu sejak dari acara pesta malam itu, Bo Li", kata Ivander Liam.


"Hmmm...", gumam Bo Li.


"Setidaknya liburan musim panas ini dapat menghiburmu meski buatmu ini semua tidaklah ada artinya, mengingat kamu memiliki kekayaan luar biasa, yang kakek Li Sanders wariskan kepadamu tetapi aku rasa liburan ini akan sedikit membantumu", kata Ivander Liam.


"Membantuku..., dalam segi apa mampu membantuku ? Aku rasa liburan musim panas di Finlandia ini lebih dari luar biasa", ucap Bo Li. "Dan aku suka,", sambungnya.


"Yah, membantu meringankan kesedihanmu, Bo Li", kata Ivander Liam.


"Masalah itu tidak perlu diingat lagi, dan sekarang aku hanya ingin menikmati liburan musim panas di Finlandia", ucap Bo Li.


"Aku rasa juga seperti itu dan alangkah baiknya jika kita melupakan kejadian malam itu, dan mengisi hari-hari kita dengan senang", kata Ivander Liam.


"Iyah, terimakasih sudah menghiburku", ucap Bo Li seraya tersenyum.


"Sama-sama", sahut Ivander Liam.



Pria berambut pirang itu lalu menggenggam tangan Bo Li sambil menyunggingkan senyumannya kepada Bo Li.


"Festival !? Menarik kedengarannya dan aku sudah tidak sabar untuk mengikutinya", sahut Bo Li.


"Pasti kamu akan menyukainya dan aku jamin acaranya bakalan seru", ucap pria tampan itu.


"Iya, aku juga berharap sama denganmu", kata Bo Li.


Mobil yang mereka naiki membawa keduanya menuju jalan Kluuvikatu 4, 00100 Helsinki, Finlandia ke tempat Hotel GLO Kluuvi Helsinki.


Bo Li dan Ivander Liam turun dari dalam mobil dan disambut seorang pelayan hotel yang menyapa mereka ramah serta menawarkan troli hotel atau troli bellboy untuk mengangkut barang bawaan mereka ke dalam hotel hingga kamar tempat mereka menginap.



"Mari saya bawakan koper anda, tuan dan nyonya sampai ke kamar kalian", ucap petugas hotel menyambut mereka berdua.


"Oh tentu, silahkan dan aku merasa tidak keberatan", ucap Ivander Liam ramah.


Ivander Liam lalu meraih koper milik Bo Li dan memberikannya kepada petugas Hotel GLO Kluuvi Helsinki.


Setelah memastikan kembali urusan hotel tempat mereka menginap serta mengambil kunci kamar yang Ivander Liam pesan untuk dua kamar, mereka bersama berdua bersama petugas hotel yang membawa toli hotel tempat menaruh koper-koper mereka berjalan menuju ke kamar hotel yang terletak di lantai tiga Hotel GLO Kluuvi Helsinki.


"Ini kamar-kamar untuk kalian berdua", kata petugas hotel seraya membuka pintu kamar hotel.


Ivander Liam lalu melangkah masuk ke dalam kamar hotel untuk memastikan kondisi ruangan kamar hotel tempat dia menginap sedangkan kamar tidur Bo Li berada disamping kamar tidurnya.


Setelah petugas hotel pergi dari ruangan kamar, Ivander Liam lalu mengantarkan Bo Li menuju ke kamarnya menginap.


"Baiklah ini adalah kamar hotel untukmu menginap, dan beristirahatlah setelah perjalanan jauh kecuali kamu mengizinkanku untuk menemanimu di kamar ini", ucap Ivander Liam.


Ceklek... Ceklek...Ceklek...


Bo Li lalu membuka pintu kamar hotel dan segera masuk ke dalam ruangan kamarnya cepat-cepat.


"Baiklah, sepertinya kamu juga perlu untuk beristirahat karena aku sedikit mencemaskan pikiranmu, Ivander Liam", kata Bo Li.


"Hah ? Mencemaskan pikiranku ?", tanya Ivander Liam.


"Iya !", ucap Bo Li lalu menutup pintu kamar tidurnya tetapi buru-buru ditahan oleh Ivander Liam.


"Apa maksudmu ?", tanya Ivander Liam.


"Aduh !?", pekik Bo Li.


Bo Li berusaha keras ketika Ivander Liam memaksa masuk ke dalam ruangan kamar hotel tempatnya menginap.


"A--apa maumu, Ivander Liam !? Jangan di dorong pintunya !", kata Bo Li.


"Tidak ! Katakan dulu apa maksudnya !", ucap Ivander Liam.


"Tidak ! Jangan di dorong pintunya !", pekik Bo Li.


"Astaga !?", kata Ivander Liam.


"Istirahatlah di kamarmu, Ivander Liam !", ucap Bo Li.


BRAK...



Bo Li langsung mendorong pintu kamar hotel dan menutupnya cepat-cepat, kemudian menguncinya.


"T--tunggu..., tunggu dulu !", kata Ivander Liam.


Sayangnya Bo Li telah mengunci kamar hotel tempatnya menginap sehingga Ivander Liam tidak dapat mambuka pintu kamar hotel tempat Bo Li tidur.


"Ya Tuhan !? Dia menutupnya !", kata Ivander Liam hampir putus asa.


Pria berambut pirang itu lalu mengusap rambutnya, dan berjalan kembali ke kamarnya sedangkan Bo Li berlari ke arah tempat tidurnya seraya menjatuhkan badannya ke arah atas tempat tidur kemudian membenamkan wajahnya.


"Hampir saja..., ketahuan...", ucap Bo Li sambil menghela nafas panjang.


Bo Li hampir saja mengubah tubuhnya menjadi berwarna ungu karena merasa sangat panik sejak pertama datang ke Finlandia bersama Ivander Liam, tunangannya.


Dia akan berubah jika merasa dirinya gugup karena itulah dia cepat-cepat masuk dan mengunci dirinya sebelum Ivander Liam melihatnya menjadi makhluk ungu yang transparan.


Di kamar hotel tempat Ivander Liam tidur, terlihat pria berambut pirang itu berdiri mondar-mandir memikirkan ucapan Bo Li.


"Mencemaskan pikiranku !? Apa maksudnya ?", ucap Ivander Liam.


Dia berhenti lalu mendongakkan kepalanya ke atas seraya bergumam.


"Jadi jauh lagi..., seharusnya liburan ini berharap akan adanya perubahan yang sangat penting antara hubungan kami berdua tetapi menjadi kaku kembali", ucap Ivander Liam.


Ivander Liam kemudian duduk di atas tempat tidurnya sembari menatap lurus ke arah luar jendela kamar tidur hotel tempat dia menginap. Memikirkan kembali hubungannya dengan Bo Li yang dia harapkan menjadi dekat dan mengalami kemajuan.