BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Selendang Pelangi


Bo Li hanya terdiam ketika kakek memberikannya sebuah kotak pada saat sarapan.


Dia bergeming tanpa menyentuhnya, mengalihkan pandangan dari kotak ke arah kakek.


"Ini mungkin dapat membantu kamu untuk menghadapi Abiyyu seandainya ia mengetahui identitas tersembunyimu, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegah kalian bertemu kembali dan pada kenyataannya, ternyata Tuhan berkehendak lain", kata kakek.


Bo Li kembali menatap kotak pemberian kakek yang ada didepannya tapi ia tidak menyentuhnya sama sekali.


Diam, hanya bergeming membisu. Tidak ada respon saat melihat kotak itu.


"Kakek tahu jika ini tidaklah mudah, Bo Li, tetapi semuanya telah terjadi meskipun kakek memintamu pergi tetapi kamu menolaknya dan bertekad untuk menghadapinya", kata Kakek Li Sanders.


Pria tua itu tersenyum tipis saat ia harus menerima kenyataan pahit itu, bahwa suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan Bo Li dengan musuh abadinya.


Bagaimanapun mereka semua adalah kerabat terdekat kakek yang sama-sama ia sayangi tetapi Tuhan memaksanya untuk memilih.


Memilih kebenaran dan tetap berada disisi cucu perempuannya yaitu Bo Li untuk melindunginya dari ketidakadilan yang didapatkan oleh cucunya itu.


"Kakek tidak dapat membantumu banyak, hanya ini yang dapat kakek berikan untukmu dan aku harap kamu tidak menolaknya ataupun menyia-nyiakannya", kata kakek menahan kesedihan hatinya.


Bo Li kembali menatap kakek, kali ini ia menatap kakek tua di depannya dengan cukup lama.


Tatapannya teduh, dan matanya seolah-olah sedang tersenyum meski hatinya tidak.


"Apakah ada yang ingin kamu tanyakan, Bo Li ?", kata kakek.


"Mmm... Apakah ini kakek ?", tanya Bo Li.


"Sebuah petunjuk untuk menemukan selendang pelangi milik bidadari yang tertinggal di bumi dan tidak tahu dimana selendang itu berada", kata kakek.


"Selendang ? Apakah selendang bidadari yang kakek maksud, selendang milik mamaku ?", tanya Bo Li.


"Benar... Selendang yang terjatuh ke bumi saat ia sedang terbang melintasi langit, dimana mama kamu turun ke bumi dan bertemu ayahmu di danau sunyi", kata kakek.


"Apa ada hubungannya dengan kotak ini dan selendang pelangi milik bidadari ?, tanya Bo Li.


"Ini jalan menuju ke danau sunyi, mungkin kamu dapat menemukan selendang pelangi itu disana karena saat bidadari yang merupakan mama kamu turun tepat di danau sunyi itu", kata kakek.


"Kalau aku boleh bertanya, mengapa kakek pernah berkata bahwa mama adalah puterimu bukan menantumu ?", tanya Bo Li.


"Aku menganggapnya puteriku sendiri dan memperlakukannya seperti anak kandungku sendiri, ketika ayahmu membawanya dari danau sunyi saat itu mereka masih sama-sama remaja dan muda sekali", kata Kakek Li.


Pria tua itu tersenyum saat mengenang kisah yang indah itu, dimana ia mengingatnya dengan jelas saat-saat anaknya dan bidadari itu bersama dengannya di istana.


Mereka sering bersama meski terkadang tidak akur dan bertengkar karena hal-hal kecil yang membuat mereka selalu salah paham.


Bao-yu, itu nama bidadari nan cantik jelita berasal dari langit yang turun ke bumi dengan kepolosannya untuk mencari selendang pelangi miliknya.


Perempuan dengan kemampuan khususnya yang sangat hebat, anugerah yang langsung datang dari Tuhan.


Saat itu puteranya yang merupakan pangeran dan masih belum menjadi raja, selalu menghabiskan waktunya di taman istana dan di temani Bao-yu, mereka sama-sama remaja.


"Aku masih ingat jika waktu itu Bao-yu dan anakku Kuota Sanders sedang belajar bersama, ke sekolah yang sama dan selalu menghabiskan waktu hampir bersama meski keduanya sering bertengkar", kakek.


"Karena itulah kakek menganggap mamaku seperti anak kandungmu, tetapi kenapa kakek menginjinkan mereka menikah ?", kata Bo Li.


"Ayahmu yang memintanya untuk menikah dengan Bao-yu", kata kakek tersenyum.


"Apakah mereka menikah karena saling mencintai atau lewat perjodohan ?", kata Bo Li.


"Ha... Ha.. Ha... Tidak nak, tidak seperti itu, dan tidak semuanya yang berkaitan denganku semuanya tentang perjodohan atau pemaksaan, aku tidak ikut campur dalam urusan asmara kedua orangtuamu, benar !?", kata Kakek Li.


"Benarkah ?", gumam Bo Li.


"Waktu itu, ayahmu berlari ke arahku dengan wajah panik dan ketakutan, aku juga tidak tahu alasannya kemudian ia mendadak meminta ijin dariku untuk menikah", kata kakek.


"Menikah ?", kata Bo Li.


"Iya... Menikah..., dan itu membuat diriku hampir mati karena terkejut, karena waktu itu keduanya masih sama-sama muda, aku bertanya pada Kuota Sanders, siapa yang akan kamu nikahi, tanyaku kala itu pada puteraku?", kata kakek.


"Oh Iya ?", ucap Bo Li.


"Ayahmu lalu menjawabnya, "Aku akan menikahinya, ayah", kata Kuota Sanders dengan wajah pucat pasinya waktu itu, puteraku mengatakan bahwa gadis dari langit itu hendak pergi meninggalkannya selepas tamat sekolah", kata Kakek Li Sanders geli saat mengenang kisah itu.


"Lantas ayah meminta restu dari kakek untuk menikahi mama ? Hanya ia takut bidadari itu pergi ke langit setelah menemukan selendang pelangi itu ?", kata Bo Li.


"Benar sekali, aku rasa itulah hal terbodoh yang pernah ayahmu lakukan", kata kakek.


"Kenangan..., yang tidak pernah aku miliki untuk bersama mereka berdua...", kata Bo Li sambil menundukkan kepalanya.


"Yah... Tidak semuanya akan abadi, nak, dan tidak semuanya akan selalu bersama selamanya, aku tahu itu tinggal kenangan yang indah dan menyedihkan...", kata kakek.


Bo Li terdiam dengan menatap sendu ke arah Kakek Li Sanders.


Dia melihat gurat-gurat kesedihan hati pria tua itu saat menceritakan kenangan indah itu pada saat mereka semuanya bersama-sama.


"Apakah kakek sedih ?", tanya Bo Li.


"Aku tidak sedih, nak !? Aku tidak bersedih sama sekali, mereka telah memberiku kenangan yang sangat indah sekali..., mereka memberiku cucu yang mungil...", kata kakek tersedu-sedu.


"Kakek...", kata Bo Li.


***


Bo Li membawa kotak pemberian kakek bersama dengannya ketika ia kembali ke rumah Ivander Liam.


Tepat di depan pintu masuk, seorang pria berambut pirang tengah berdiri tegap disana dan memandangi Bo Li dengan tatapan tajamnya.


"Ivander Liam..., untuk apa pria itu berdiri disana, apakah ia sedang menungguku ? Tapi kalau melihat cara dia menatapku, aku rasa memang ia sedang menungguku...", kata Bo Li dalam hatinya.


Bo Li melangkahkan kakinya menuju ke arah rumah mewah itu dan berdiri tepat di hadapan Ivander Liam.


"Tidak dari mana-mana, kenapa ?", jawab Bo Li dengan malas.


"Tidak kemana-mana ? Sehari penuh pergi tanpa memberi kabar atau meminta ijin kepadaku, apakah itu merupakan kebiasanmu sekarang ? Kamu anggap aku ini apa, coba !? Hiasan patung di dalam rumah !?", kata Ivander Liam cerewet.


"Astaga !? Tidak bisakah kamu bertanya satu demi satu kepadaku !? Bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaanmu jika sebanyak itu ?", jawab Bo Li membalasnya.


"Tuhan... !!! Kamu anggap aku ini apa, coba ? Tunangan yang tidak dianggap ? Apa posisi aku ini sebenarnya ?", tanya Ivander Liam.


"Aku tidak ingin mendengar pidato darimu ! Aku lelah, permisi, dan maaf karena terlambat pulang", kata Bo Li.


"Hah !? Apa !?", gumam Ivander Liam.


"Aku malas bertengkar denganmu !", kata Bo Li acuh.


"Bertengkar !? S--siapa yang mengajakmu bertengkar denganku sekarang !? Setidaknya katakan kamu dari mana !?", jawab Ivander Liam.


"Aku mohon maaf, tapi aku lelah dan aku ingin beristirahat", kata Bo Li.


"Apa !? A--apa yang sedang kamu bicarakan !?", kata Ivander Liam.


Bo Li berjalan masuk dan berjalan ke dalam rumah mewah itu lalu naik ke lantai atas tanpa menoleh ke arah Ivander Liam.


Dia sama sekali bersikap masa bodoh dengan semuanya, tanpa memperdulikan kehadiran Ivander Liam yang kini menatapnya terbengong-bengong


"Perempuan apakah dia ? Pergi tanpa memberi kabar dan kembali tanpa penjelasan ? Astaga !? Isteri yang bagaimana itu !?", kata Ivander Liam.


Ivander Liam benar-benar putus asa dengan sikap perempuan cantik itu yang sangat cuek dan bersikap acuh tak acuh itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya ? Apakah ada masalah dalam hidupnya ? Tetapi kenapa aku yang menjadi sasarannya ? Ya, Tuhan !?", gumam Ivander Liam.


Ivander Liam hanya berdiri mematung sambil memandangi Bo Li, tunangannya yang sedang berjalan masuk ke lantai atas menuju kamar tidurnya.


Bo Li masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tidurnya.


"Kenapa kamu lama sekali, puteri Bo Li ?", terdengar suara muncul di kamarnya.


Bo Li lalu membuka kedua matanya lebar-lebar dan beranjak duduk dari tidurnya, ia tidak melihat siapapun di dalam kamar itu.


"Siapa itu ? Keluarlah ?", kata Bo Li dengan terkejut.


"Ya, Tuhanku !? Apakah kamu sudah melupakanku, nona ?", ucap suara itu.


Bo Li melihat peri kecil daun hijau itu muncul disertai kelip-kelip cahaya berkilauan dari arah depan.


Peri itu hadir dan keluar dari persembunyiannya yang tidak terlihat oleh mata, sangat kasat mata.


"Oh kamu, Peri Dryada !?", kata Bo Li lega.


"Iya, ini aku, nona, tim peri editormu, kamu kira siapa ?", tanya peri kecil itu.


Peri daun hijau yang berukuran kecil itu terbang rendah ke arah Bo Li dengan menggerakkan kedua sayapnya yang kelip-kelip.


"Maaf, aku meninggalkanmu sendirian dan kenapa kamu tidak menyusulku ?", tanya Bo Li sambil memiringkan kepalanya.


"Aku mengejarmu dan mengikutimu tetapi aku tidak dapat masuk ke dalam rumah megah yang kamu datangi", jawab Peri Dryada.


"Benarkah kamu mengikutiku ? Kenapa kamu tidak dapat masuk kesana ?", tanya Bo Li.


"Rumah itu terdapat cahaya pelindung yang menghalangi aku masuk ke dalam rumah tersebut, dan aku sempat terlempar jauh saat memaksa masuk kesana", sahut peri kecil itu.


"Oh Tuhan ! Maafkan aku, sungguh aku tidak mengetahuinya !?", kata Bo Li menyesal.


"Tidak apa-apa, tapi aku sempat khawatir denganmu karena itulah aku mengikutimu", kata Peri Dryada.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf, itu rumah kakekku dan kami tinggal disana selama ini di Kota B-One", kata Bo Li.


"Oh begitu, tapi rumah itu sangat unik sekali dan tidak seperti rumah-rumah lainnya, berbeda, dan penuh kekuatan misterius di rumah itu !?", kata peri kecil itu.


"Lupakan tentang rumah kakek, jangan dipikirkan, dan jangan datang lagi kesana jika kamu tidak ingin hangus menjadi debu !?", kata Bo Li.


"Menakutkan sekali rumah kakekmu, nona, aku benar-benar sangat takut untuk pergi kesana lagi !?", kata peri kecil itu.


"Mmm..., ada yang ingin aku katakan sekarang, peri !?", kata Bo Li.


"Apakah itu ?", tanya Peri Dryada.


"Aku harus pergi mencari sesuatu yang sangat penting untuk menghadapi musuhku, peri", kata Bo Li.


"Mencari sesuatu ? Apakah itu ?", tanya peri kecil itu.


"Sebuah selendang...", jawab Bo Li.


"Selendang ? Selendang apa itu ?", kata peri daun hijau kecil.


"Selendang pelangi milik seorang bidadari dari langit", jawab Bo Li.


"Dimanakah kita harus mencari selendang pelangi itu, nona ?", tanya Peri Dryada.


"Aku tidak tahu dimana selendang itu berada tetapi kakekku memberikanku sebuah kotak sebagai petunjuk dan karena itulah aku meminta bantuanmu sebagai tim editorku", kata Bo Li.


"Kotak ? Kotak apakah itu ?", tanya Peri Dryada.


"Aku juga tidak tahu, kakek hanya memberikannya padaku tanpa memberiku jawaban yang pasti, dan menyuruhku mencari jawabannya sendiri, dimana keberadaan selendang pelangi itu !", kata Bo Li.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras dan lebar, seorang pria lalu masuk ke dalam kamar tidur Bo Li dan berdiri memandangi perempuan cantik itu yang duduk di atas tempat tidurnya.


Bo Li terkejut saat ia melihat ke arah pria tersebut yang mendadak masuk ke dalam ruangan kamarnya.