BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Pistol Revolver


Bo Li berdiri dengan memegang pistol revolver di tangannya, dalam sikap posisi membidik ke arah papan sasaran yang terpasang di ujung ruangan tidurnya.


Tajam menatap ke depan tanpa berkedip seraya mengarahkan tangannya yang memegang pistol revolver.


Pistol revolver yang memiliki varian panjang laras yakni 21,3 cm dengan badan pistol dengan sepuhan emas berwarna ungu metalik mengkilat.


Memiliki kelebihan yang terdapat pada larasnya yang panjang sehingga meningkatkan akurasi serta melontarkan peluru dengan kecepatan 112 kilometer per jamnya.


"DOR... DOR... DOR... DOR... ", suara tembakan dari arah pistol revolver milik Bo Li yang sangat keras.


Suara tembakan dari pistol revolver milik Bo Li terdengar cukup memekakkan telinga dan apabila papan bidik tembak tersebut tidak memilliki alat peredam tembakan maka akan terdengar sangat jelas keluar ruang tidurnya.


Bo Li menembakkan pistol tersebut berulang kali ke arah papan bidik dengan kedua tangannya yang memegang erat pistol revolver, dan ia melakukannya bergantian, terkadang ia menembak dengan satu tangan dan kadang ia menembakkan pistolnya dengan dua tangan secara urut.


"DOR... DOR... DOR...", terdengar suara tembakan lagi.


Semua tembakan yang dilakukan oleh Bo Li selalu tepat sasaran dan sempurna.


Bo Li terus menerus mengarahkan pistol revolver di tangannya lalu menembakkannya ke papan bidik.


Satu tembakan... Dua tembakan... Tiga tembakan..., hingga beberapa tembakan yang tak terhitung jumlahnya.


Dia memasukkan satu per satu peluru kristal Amethyst ke dalam tabung berputar pada pistol revolvernya dengan sangat cepat kemudian menembakkannya lagi ke arah papan tembak di depannya.


Berkali-kali tanpa hentinya, menghitung ketetapan akurasi menembaknya, dan meningkatkan kecepatan dalam melakukan tembakan dan mengganti setiap pelurunya.


Bo Li melatih dirinya dalam menembakkan senjata apinya yakni pistol revolver karena ia harus membiasakan dirinya untuk memegang senjata mulai dari sekarang.


Tidak ada lagi bantahan atau keluh kesah untuk meningkatkan kemahirannya dalam menembak karena itu adalah bekal bagi Bo Li untuk menghadapi musuh-musuhnya nanti.


"Bagus, Bo Li, sepertinya kemampuan menembakmu mulai mengalami kemajuan di banding yang tadi", kata Peri Dryada tersenyum senang.


"DOR... DOR... DOR... DOR...", terdengar suara nyaring dari arah pistol revolver milik Bo Li.


"Hmm..., ini sangat bagus sekali, Bo Li, hebat ! Kemajuanmu lumayan baik sekarang padahal kamu baru berlatih tapi bakatmu dalam menembak ini di luar perkiraan, sungguh luar biasa, Bo Li", kata Peri Dryada.


Bo Li menyelesaikan latihan menembaknya lalu memperhatikan peri kecil daun hijau yang terbang di sampingnya.


"Tidak terlalu hebat seperti yang kamu katakan, peri, karena kemampuanku dalam menggunakan senjata masih amatir", kata Bo Li merendah.


"Oh tidak, kemampuanmu sungguh luar biasa, sebab mengoperasikan senjata api bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena memerlukan tenaga kuat serta ketahanan tubuh yang tangguh", kata Peri Dryada.


Terlihat peri kecil daun hijau itu terbang menghampiri perempuan cantik itu yang berdiri dengan mengenakan gaun pestanya dan menatap lurus ke papan bidik tembak di depannya.


"Dan sangatlah sulit menggunakan senjata jenis pistol revolver karena harus memiliki kecerdasan otak yang tinggi apalagi pada saat mengganti setiap peluru-peluru dan memasukkannya ke dalam tabung berputar, itu memerlukan ketepatan berpikir", ucap Peri Dryada.


"Hmm... Aku tahu itu, karena memang lebih sulit menggunakan senjata jenis pistol revolver ketimbang senjata jenis senapan api lainnya", sahut Bo Li seraya menyeka keringatnya.


"Perlu kamu ketahui lagi dari senjata api tersebut, yaitu setiap senjata akan berubah dan memodifikasi bentuknya pada tiap-tiap tingkatan level", ucap Peri Dryada mengingatkan.


"Yah, aku tahu itu, peri dan aku akan selalu mengingatnya dalam pikiranku", sahut Bo Li seraya tersenyum.


"Baguslah, kamu mulai terlatih dan mengerti kegunaan senjata-senjata tersebut", kata Peri Dryada.


"Oh iya, peri, ada yang masih mengganggu pikiranku sekarang...", kata Bo Li.


Perempuan cantik itu memperhatikan pistol revolver yang ada di genggaman tangannya itu dengan seksama.


"Apakah itu ? Apa yang ingin kamu tanyakan padaku, Bo Li ?", tanya peri kecil daun hijau.


"Mmm... Bagaimana caranya memperoleh peluru-peluru untuk menggantinya jika telah habis di tembakkan ?", tanya Bo Li.


"Aku hampir lupa tentang hal itu, maaf, aku melupakannya, Bo Li", sahut Peri Dryada.


Peri kecil itu menepuk keningnya pelan setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Bo Li mengenai cara memperoleh peluru-peluru baru lagi.


Dia lupa jika setiap selesai menembak maka peluru-peluru kristal Amethyst itu akan habis dan harus diganti dengan yang baru.


Peri Dryada dengan cepat bergerak ke arah layar lay out yang terpajang di ruang tidur Bo Li dan mulai mengutak-atik layar tersebut dengan tangannya.


"Mmm... Dimana ya, paduan cara mengganti peluru-peluru itu ?", gumam Peri Dryada sambil mengepakkan kedua sayapnya kelip-kelip.


Tampak layar lay out di depan peri kecil daun hijau itu bergerak naik dan turun secara bergantian dengan berbagai tulisan-tulisan yang terpajang pada layar berwarna putih tersebut.


Peri Dryada tampak sibuk sekali di depan layar lay out, membaca setiap tulisan lalu menggantinya lagi, berulangkali ia melakukannya pada layar di depannya.


"Mana ya, mana ? Paduan cara untuk mengganti peluru-peluru pada pistol revolver jenis M&W 500M itu, kenapa aku tidak menemukannya ?", kata peri kecil itu menggerutu sendirian.


Bo Li berjalan mendekat ke arah peri daun hijau yang tengah sibuk mengganti tulisan-tulisan pada layar lay out.


"Apa yang sedang kamu cari, peri ?", tanya Bo Li.


Dia menolehkan kepalanya ke arah peri kecil daun hijau itu keheranan.


Peri Dryada tidak menjawab pertanyaan dari Bo Li, dan peri itu terlihat sangat sibuk sekali tanpa memperdulikan Bo Li yang berada disebelahnya.


Bo Li ikut memperhatikan kegiatan peri kecil daun hijau di depan layar lay out yang menggeser-geser berbagai gambar peluru serta tulisan-tulisan pada layar lay out.


"Mmm... Apa yang sedang kamu lakukan di layar lay out ini, peri ?", tanya Bo Li lagi.


"Aku sedang mencari pedoman cara mengganti peluru pada pistol revolver itu, tapi aku belum menemukannya ?", jawab peri daun hijau sibuk.


"Hmm, apakah kamu benar-benar tidak tahu cara mendapatkan peluru-peluru baru untuk senjata-senjata api milikku itu, peri ?", tanya Bo Li tertegun.


"Oh, karena itu kamu terlihat sibuk, peri ? Tapi bagaimana kamu bisa lupa caranya, bukankah kamu yang telah menciptakan senjata-senjata api tersebut ?", tanya Bo Li heran.


"Aku benar-benar lupa, dan ini sangat kacau sekali, aku tidak tahu harus mencari pedomannya dimana !?", kata peri kecil itu hampir putus asa.


"Hai, tenanglah, peri, bukankah kamu bisa membuatnya lagi peluru-peluru itu dari buah Amethyst ungu !?", kata Bo Li.


"Bukan, bukan seperti itu, Bo Li, tidak semudah seperti yang kamu katakan dan sangatlah susah membuat proyektil peluru khusus itu, tidak ada cadangannya atau arsipnya", jawab peri.


"Astaga !? Bagaimana kamu menciptakan suatu senjata tanpa cadangan amunisi dan tidak tahu cara untuk mendapatkannya, peri ?", tanya Bo Li.


"Itulah masalahnya, Bo Li ! Aku melupakannya, dan tidak tahu harus membuatnya lagi, itu langsung tercipta tanpa aku mengingatnya lagi !", sahut Bo Li.


"Aku tidak akan pernah mengatakan bahwa kamu payah, tapi aku akan berkata jika kamu pelupa, dan aku maklumi jika usia kamu hampir berabad-abad, peri", kata Bo Li.


Perempuan cantik dengan gaun pesta itu lalu duduk di atas bangku kayu di depan meja riasnya.


Dia meletakkan pistol revolver miliknya di atas meja tersebut dengan sangat hati-hati.


Kembali memperhatikan peri kecil daun hijau yang tengah sibuk mengutak-atik layar lay out di depannya.


"Hmm...", gumam Bo Li.


Baru pertama kalinya Bo Li melihat ekspresi wajah Peri Dryada yang sangat serius sekali, biasanya ia melihat peri kecil daun hijau itu selalu cuek dan ceria.


Seakan-akan tidak memperdulikan semua yang ada disekitarnya, tertawa bahagia dan selalu bermain atau terkadang ia asyik dengan kesendiriannya dengan menyimak majalah milik perempuan cantik itu.


Benar, peri kecil daun hijau bernama Peri Dryada itu sangat menggemari majalah-majalah dan terkadang ia terlihat sibuk membaca majalah tersebut selama berjam-jam lamanya.


"Apakah kamu tidak mencarinya di tempat lainnya, peri, semacam tongkat ajaib milikmu atau di mahkota ini ?", tanya Bo Li.


"Emm... !?", gumam peri kecil itu.


"Bagaimana, kamu setuju dengan ucapan ku ini ?", tanya Bo Li.


"Tempat lainnya !?", tanya peri daun hijau.


"Iya, hanya saran saja untukmu, tapi coba kamu mencarinya di petunjuk yang berbeda, peri", kata Bo Li.


"Baiklah, aku akan melakukannya untukmu, dan mencarinya di petunjuk lainnya", ucap peri.


"Kamu akhirnya setuju dengan pendapatku ini, itu bukan ide yang burukkan !?", kata Bo Li.


"Iya, aku mengerti, Bo Li", ucap Peri Dryada.


"Nah, kalau begitu aku akan bersiap-siap untuk berangkat ke pesta karena sebentar lagi Ivander Liam akan datang menjemput ku kemari", kata Bo Li.


Dia bercermin lalu memperhatikan wajahnya yang agak berkeringat.


"Bisakah kamu membantuku untuk memperbaiki riasan di wajahku ini ?", tanya Bo Li sembari tersenyum.


"Riasan ? Oh, tentu saja, aku akan memperbaiki riasan di wajahmu itu sekarang, maaf telah merusak penampilanmu, Bo Li", sahut Peri Dryada.


Peri Dryada kembali mengarahkan tongkatnya ke arah Bo Li maka keluarlah cahaya yang memancar ke seluruh tubuh Bo Li.


Sedikit demi sedikit riasan di wajah Bo Li mulai berubah menjadi rapi lagi dan tertata sempurna.


"Terimakasih atas bantuannya dan semoga hari mu menjadi indah, peri. Aku senang menjadi sahabat terbaikmu, kamu sangat baik sekali, peri", kata Bo Li dengan raut muka berseri-seri.


"Oh iya, jangan lupa mengubah pistol revolver itu menjadi mahkota kembali, Bo Li", ucap peri.


"Hmm, tentu saja, terimakasih telah mengingatkanku, peri", kata Bo Li.


Bo Li lalu mengubah senjata api yang berupa pistol revolver itu kembali menjadi sebuah mahkota yang cantik sekali.


Dia mengenakan mahkota dari emas serta penuh hiasan kristal Amethyst ungu ke atas kepalanya.


Tiba-tiba peri kecil itu teringat akan Sistem Bo Li 115 milik perempuan cantik itu, dan ia terbang ke arah laci meja yang ada di ruang tidur Bo Li.


"Apa yang kamu cari lagi, peri ?", tanya Bo Li tatkala melihat peri kecil daun hijau itu mengetuk laci meja.


"Aku mencari buku harian milikmu, Bo Li, dan bermaksud untuk menemukan petunjuk cara mendapatkan proyektil peluru itu di Sistem Bo Li 115 yang ada di buku harian mu", kata Peri Dryada.


"Oh, baiklah, aku mengerti, sebentar aku akan membukakannya untukmu, Peri Dryada", ucap Bo Li.


Perempuan cantik yang mengenakan gaun pesta nan elegan itu berjalan ke arah meja yang ada di dekat tempat tidurnya.


Dia membuka laci meja itu dan mengeluarkan sebuah buku harian miliknya dari dalam laci.


Menyentuhnya dengan telapak tangannya yang menjadi kunci pembuka Sistem Bo Li 115 yang terletak pada buku harian miliknya.


Buku harian itu bergerak dengan getaran yang cukup kencang, dan perlahan-lahan mulai terbuka disertai cahaya yang memancar dari dalam buku harian tersebut.


Muncullah sebuah layar monitor berukuran besar di tengah-tengah ruangan tidur Bo Li yang mewah.


Layar monitor itu kemudian menyala terang dan bersuara, "SISTEM BOLI 115 TELAH DIAKTIFKAN ! SILAHKAN MENGOPERASIKANNYA."


Bo Li dan Peri Dryada memandang ke arah benda berukuran besar mirip komputer itu.


Sistem tersebut kembali berbicara kepada mereka berdua.


"SISTEM BO LI 115 TELAH DIAKTIFKAN !!! SELAMAT DATANG DI DUNIA ONLINE DAN NIKMATI LAYANAN VIRTUAL !!!", terdengar suara dari arah monitor canggih itu yang memberikan pemberitahuan kepada Bo Li dan peri kecil daun hijau di depannya.