BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
REBECCA MENFEZ


Langkah kaki terdengar keras dan bunyi itu muncul akibat munculnya antara hentakan sepatu dan permukaan lantai kantor.


Seorang perempuan berpenampilan modis dengan kacamata bening berjalan dengan langkah panjang menuju ke ruangan kantor Ivander Liam.


Dia tidak mengetuk pintu melainkan langsung masuk ke dalam ruangan kantor dan terdengar suara sepatu hak tingginya menghentak di atas lantai ruangan.


"Selamat datang sayangku, apa kabar Abiyyu ?", sapa perempuan berkacamata itu pada pria muda berambut lurus putih.


"Rebecca ! Apa kabar sayangku ? Maaf, aku belum bisa menemuimu di apartemen, tadi aku langsung kemari untuk urusan pekerjaan !", jawab Abiyyu Elmar Kuota seraya beranjak berdiri dari duduknya.


"Oh, sayangku, kamu selalu menomer duakan aku dan tidak pernah memperdulikan kekasih tercantikmu ini", kata perempuan yang bernama Rebecca.


"Iya, iya, ini adalah salahku, maafkan aku telah menyia-nyiakan dirimu sayangku ! Aku memang salah sayang, maaf ! Setelah ini kita akan pergi berbelanja barang yang kamu sukai, ya !", kata Abiyyu sambil memeluk mesra Rebecca.


"Eits..., kita sedang di kantor orang, jangan terlalu berlebihan ! Ingat umur !", kata Rebecca manja.


"Oh, iya !? Aku hampir melupakannya sayang, ini semua karena kamu terlalu cantik dan seksi, sehingga aku tidak dapat menahan diriku !", kata Abiyyu sambil tertawa.


"Sudah, tidak enak dilihat orang lain !", bisik manja Rebecca pada pria muda itu yang terus mendesaknya.


Mereka benar-benar tidak memperdulikan kehadiran orang lain di ruangan kantor itu dan mereka seakan-akan sengaja membuat pertunjukkan itu.


Tanpa melihat beberapa pasang mata tengah memperhatikan mereka berdua yang saling berpelukan mesra.


***


Ivander Liam terdiam memandangi pertunjukkan di depannya itu dan ia merasa sangat kesal dengan kelakuan keduanya yang tidak mengindahkan kehadirannya di ruangan kantornya.


"Mereka anggap aku apa disini ? Bangunan ? Atau mereka anggap aku ini, orang yang konyol !?", kata Ivander Liam bergumam pelan.


Entah mendengar ucapan Ivander Liam atau tidak, sepertinya mereka langsung menyadari kelancangan mereka di kantor pria berambut pirang itu.


Keduanya langsung berbalik cepat menghadap ke arah orang-orang yang tengah duduk di ruangan tersebut sambil memperhatikan ulah mereka berdua yang berlebihan.


"Maaf..., maafkan kami berdua tuan-tuan, aku terlalu senang bisa bertemu kekasihku ini yang tinggal di luar negeri, aku baru sempat mengunjunginya karena kesibukanku yang terlalu padat, saat aku bertemu dengannya kerinduanku tidak bisa dibendung lagi", kata Abiyyu tersenyum lebar.


"Maaf, sudah mengganggu acara kalian semua, hingga membuat urusan penting kalian menjadi tertunda dan terhenti", kata perempuan berkacamata bening yang sangat seksi itu.


"Perkenalkan ini cintaku Rebecca Menfez, ia seorang model di luar negeri dan menetap di Kota B-One ini karena mencari suaka serta seorang imigran", kata Abiyyu memperkenalkan kekasihnya.


"Tidak apa-apa, Tuan Abiyyu ! Ini tidak mengganggu kami, karena sebentar lagi urusan kita selesai dengan menandatangani kontrak kerja dan kita akan segera kembali setelah bertemu dengan Tuan Ivander Liam di kantor ini", kata seorang pria bernampilan maskulin.


"Oh Iya, aku hampir melupakannya, kontrak kerja ya, aku belum menandatanganinya, bukankah aku juga berhak atas keuntungan dari kontrak ini !?", kata Abiyyu.


"Jangan berkata merendah Tuan abiyyu, ini adalah urusan milik anda dan kami hanya mengikuti anda saja dalam pekerjaan ini, anda yang memiliki kontrak kerja ini !", kata pria berpenampilan maskulin itu sambil tersenyum.


"Baiklah aku akan mengurus pekerjaan ini dengan sebaik mungkin, dan aku sudah sepakat untuk menjalin kerja sama ini, tuan-tuan. Dan maaf telah menunggu kalian semuanya tetapi, apakah Tuan Ivander Liam sudah menyetujui isi surat kontrak kerja ini ?", kata Abiyyu.


"Mmm..., aku sudah melihatnya dan membacanya, aku rasa tidak ada yang dirugikan dalam surat kontrak kerja ini, dan sebaiknya kita segera menyelesaikan urusan penting ini agar tidak menundanya lagi untuk mengerjakan kerja sama ini", jawab Ivander Liam tersenyum lalu menyerahkan surat dokumen kontrak kerja itu pada Abiyyu.


"Bagaimana tuan-tuan, apa kalian sudah puas dengan penjelasan dari Tuan Ivander Liam akan isi surat kerjasama ini ?", kata Abiyyu sambil mengangkat kedua alisnya. "Adakah yang kalian tanyakan lagi ?"


"Tidak, Tuan Abiyyu, kami rasa sudah sangat jelas sekali untuk kami semua, dan kami bisa menyelesaikan urusan penting ini secepatnya, pembangunan akan segera terealisi bulan depan !", kata pria berpenampilan maskulin itu.


"Bagaimana Tuan Ivander Liam ? Ada yang ingin anda sampaikan ?", tanya Abiyyu.


"Aku rasa tidak, ini sudah lebih dari cukup ! Dan kita bisa memulai pembangunan bulan depan !?", kata Ivander Liam dengan sikap santainya sambil bersandar tegak ditempat duduknya.


"Syukurlah Tuan Ivander Liam langsung menyetujuinya dan bersikap bijaksana sekali, sehingga kita tidak perlu menunggu lama disini serta bisa segera melakukan pembangunan resort di wilayah pantai Kota B-One !", kata Abiyyu.


"Benar sekali, aku juga ingin segera menyelesaikan pembangunan resort itu dengan cepat karena waktu yang diberikan oleh pihak bank adalah tiga bulan dan itu bukan waktu yang lama, itu sangat singkat tuan-tuan, karena itu kita harus segera merampungkannya sekitar 99 persen !", kata Ivander Liam.


"Apa kalian semua sudah setuju atau ingin menundanya ? Atau ingin adanya revisi ulang dari bank dengan menambah waktu ?", kata Abiyyu.


"Kami rasa tidak ada yang perlu di komplain atau kami keluhkan lagi, karena semuanya sudah jelas dan pembangunan akan dilaksanakan mulai bulan depan !", kata pria maskulin itu mewakili yang lainnya untuk berbicara.


"Baiklah kalau demikian, mari kita berjabat tangan sebagai tanda awal kerjasama kita ! Bagaimana ? Aku tidak ingin memaksa jika tuan-tuan tidak menyukainya, kita bisa langsung pergi dari kantor ini !", kata Abiyyu.


Semua akhirnya sepakat dan saling melontar senyuman sambil saling berjabat tangan erat sebagai tanda kerjasama di antara mereka di awali, mereka tampak puas.


Pria itu memang berbeda jauh dengan pria-pria yang ada di dalam ruangan tersebut, ia selalu wangi dan terlihat sangat berpenampilan rapi serta modis, apalagi di tambah dengan wajahnya yang sangat tampan.


"Pria itu sedikit lebih menarik dibanding pria-pria yang ada di ruangan ini dan ia sangat tampan sekali !?", kata Rebecca Menfez.


Wanita berkacamata bening dengan penampilan modisnya itu, terlihat sangat mengagumi Ivander Liam meskipun ia telah memiliki seorang kekasih yaitu Abiyyu Elmar Kuota. Dia sangat penasaran untuk mendekatinya.


"Aku harus dapat mengenal pria berambut pirang itu dan merebut hatinya, ini adalah kesempatan terbaik bagiku untuk mendekatinya, siapa tahu ia dapat menunjang karir modelku dan menjadi sponsor utamaku", kata Rebecca Menfez sambil senyum-senyum sendirian di pojok sofa kantor.


Acara telah selesai dan semuanya pergi meninggalkan ruangan kantor, tapi wanita berkacamata itu tidak segera pergi dan meminta kekasihnya untuk pergi terlebih dahulu dengan alasan menerima telepon dari atasannya.


"Sayang, aku terima telpon dulu ya, kamu pergi dulu ke mobil karena aku agak lama telponnya !?", kata Rebecca Menfez genit.


"Mmm..., baiklah, kalau begitu aku ke mobil dulu ya, jangan lupa untuk segera menyusul kesana dan aku tunggu di dalam mobil, ya !", kata Abiyyu lalu melambaikan tangannya.


Rebecca Menfez berpura-pura untuk segera menerima telpon agar Abiyyu pergi meninggalkannya dan tidak mengganggu rencananya untuk mendekati Ivander Liam.


Dia menunggu agak lama di depan pintu kantor dengan memastikan jika pria bernama Abiyyu itu benar-benar telah pergi meninggalkan ruangan kantor di lantai atas, ia melihat sekelilingnya yang tampak langgeng.


"Sepertinya ia sudah pergi keluar dari tempat ini !? Aku rasa ini adalah kesempatan baik untukku mendekati pria berambut pirang itu", kata Rebecca Menfez tersenyum puas.


Wanita berkacamata serta berpenampilan modis dan seksi itu segera menjalankan aksinya untuk mendekati Ivander Liam.


Dia langsung melangkah masuk ke dalam ruangan kantor Ivander Liam tanpa mengetuknya terlebih dahulu, dengan langkah percaya dirinya yang tinggi sebagai seorang model terkenal, ia menemui sang pria pujaan hati.


Sayangnya wanita yang bernama Rebecca Menfez tidak tahu benar, siapakah yang sedang ia hadapi sekarang.


Seorang pria bernama Ivander Liam, yang terkenal sangat dingin dan tidak memiliki perasaan kasihan pada seorang perempuan manapun selain tunangannya. Pria tanpa memiliki ampunan kepada lawan-lawannya.


Tidak pernah memberi celah kepada siapapun yang mengusik ketenangan hidupnya dan tidak pernah memberi kata maaf pada masa lalu yang memberi luka. Pria yang paling disegani di dunia dan kalangan petinggi kerajaan.


"Maaf, aku langsung menerobos masuk ke dalam ruangan kantormu !?", kata Rebecca Menfez.


"Ada apa ini ? Kenapa tante masuk ke ruanganku tanpa memberi salam ? Ada kepentingan apakah yang membuat tante ke ruangan kantorku ?", tanya Ivander liam mengerutkan alis.


"Mmm..., aku sedang mencari kunci mobilku yang hilang, mungkin terjatuh di dalam ruangan ini, apakah kamu bisa memantuku ?", kata Rebecca Menfez sambil mencari-cari kunci tersebut.


"Kunci mobil !?", tanya Ivander Liam.


"Benar, aku mungkin menjatuhkan kunciku di ruangan ini, aku harap tidak menggangumu...", kata Rebecca Menfez setengah menggoda.


"Silahkan, jika kamu hendak mencarinya dan aku tidak merasa keberatan sama sekali. Silahkan, mencarinya !", kata Ivander Liam lalu mengalihkan pandangannya.


"Mmm..., baiklah !? Tapi jika memakan waktu lama, aku harap kamu tidak marah padaku !", kata Rebecca Menfez.


Tidak ada jawaban dari Ivander liam yang terlihat sangat sibuk memperhatikan lembaran-lembaran kertas yang ada di atas meja kerjanya, tanpa memperdulikan ucapan Rebecca Menfez padanya.


Wanita berkacamata bening itu tampak sedikit marah kepada pria berambut pirang yang ada di hadapannya yang sama sekali tidak melihatnya.


Rebecca Menfez merasa harga dirinya terinjak-injak dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ivander liam, ia merasa tertantang untuk menundukkan pria taman itu. Dan tekadnya sudah bulat untuk menaklukkan Ivander Liam serta bermaksud memilikinya.


"Memiliki dua pria dalam hidup, aku rasa bukan sebuah ide yang buruk dan menurutku itu adalah kesempatan yang langka, aku harus dapat mendekatinya serta memanfaatkan kedekatan Abiyyu yang sering bertemu denganya di kantor", kata Rebecca Menfez dalam hatinya.


Rebecca Menfez diam-diam memperhatikan Ivander Liam, ia benar-benar sangat terpesona dengan ketampanan pria itu dan mulai mengidolakannya.


Beberapa menit telah berlalu dan Rebecca Menfez masih berada di ruangan kantor Ivander Liam sambil berpura-pura mencari kunci mobilnya yang tertinggal.


Tiba-tiba Ivander Liam berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar sambil melewati Rebecca Menfez yang membungkukkan badannya untuk mencari kunci mobil miliknya, pria itu berjalan tanpa berbicara pada wanita berkacamata itu.


"Eh..., kamu mau kemana !? Apakah kamu mau pergi dari kantormu !?", tanya Rebecca Menfez bengong.


"Aku harus pulang ke rumahku karena urusan di kantor sudah selesai, jika kamu belum menemukan kunci mobilmu, aku akan mengijinkanmu untuk mencarinya sampai ketemu tapi maaf, aku harus pergi dahulu", kata Ivander Liam santai.


"Eh..., apa yang kamu bicarakan ?", kata Rebecca Menfez gelagapan.


"Aku pergi dulu ! Selamat sore dan semoga berhasil !", kata Ivander Liam berjalan dengan langkah panjang dan cepat lalu masuk menghilang ke dalam lift.


Dia pergi dengan cepat meninggalkan Rebecca Menfez yang berdiri kaku dan terbengong tak berdaya sendirian di ruangan kantor, wanita berkacamata itu melihat pria berambut pirang pergi dari pandangnnya tanpa memberinya kesempatan sedikitpun.